
"Halah palingan juga Qia lagi ngapel sama Vano." jawab Adam santai. Ratu tadi menanyakan kemana perginya Qia dan Vano.
"Mereka udah jadian apa belum si?" tanya Bagas kepo.
"Ya mana kita tau Gas. Tanya ke mereka sendiri lah." jawab Bintang.
"Nah bener tuh." celetuk Gabby.
"Beb kamu ga tau?" tanya Bagas beralih pada Manda di sampingnya. Ratu, Manda, Deeva, Bagas, Adam, Bintang, Gabby dan Sammuel kini sedang duduk bersama hadap-hadapan di meja panjang kantin yang jadi tempat langganan anak Ghosterion.
"Enggak. Tapi keknya belum deh." jawab Manda.
"Ya kan Rat?" tanya Manda pada Ratu. Ratu mengangguk.
"Jadinya si Qia sama kak Vano, kak Valdo, atau sama yang biasanya nganterin dia?" tanya Deeva menggaruk belakang telinganya.
"Maksud lo anak Garuda itu?" tanya Manda. Deeva mengangguk.
"Rayhan?" sela Adam. Manda dan Deeva mengangguk.
"Lah itu anak naksir beneran sama Qia? Gua kira cuma bercandaan." tanya Adam kepo.
"Bocil juga pasti peka kali kalo Rayhan naksir sama Qia, ya cuma Qia nya aja yang terlalu biasa aja." celetuk Ratu.
"Tapi gue yakin pasti jadiannya nanti sama Vano. Meskipun kenalnya kalah cepet sama tukang onar tuh." sahut Gabby ikutan nimbrung. Tumben!
"Habis ini bakalan hujan bledek nih." cicit Adam.
"Lah kok?"
"Ini tumben nih si kulkas part dua, ikutan ngomong." jawab Adam meledek Gabby.
"Sialan lo Dam!"
"Btw Qia boleh juga ya Man." ucap Deeva pada Manda di sampingnya.
"Boleh gimana?"
"Cadangan banyak anjir... Daebak buaya baru kita!!" pekik Deeva heboh. Selalu saja heboh dalam hal seperti ini.
"Qia deketnya sama kak Vano doang kali Depaaaaa.... Kak Valdo udah jelas di hempas, Rayhan juga cuma di anggep ga lebih dari sekedar temen." bantah Ratu tak setuju. Manda manggut-manggut.
"Tetep ga ada saingan buat elu Dep, tenang aja. Diantara geng kita nih, ga ada yang punya cowok lebih dari satu selain elu!" omel Manda polos. Sepertinya ia lupa kalau ada gebetan pusat Deeva di antara mereka, siapa lagi kalau bukan Sammuel.
"Wee bukan gitu Man! Bukannya banyak cowok, tapi ini tuh namanya perbanyak cabang perkuat pusat. Berhubung gua juga belum dapet pusat yang gua mau, ya ga papa dong?" sahut Deeva yang seperti sama lupanya dengan kehadiran Sammuel.
Ratu memilih untuk diam saja karena ia masih sadar akan keberadaan Sammuel si gebetan pusat yang di maksud oleh Deeva.
"Ekhemmmmm."
Deheman itu berasal dari Bagas dan Adam bersamaan. Selaku team sukses Deeva dan Sammuel. Deeva dan Manda menoleh bersamaan, dan JLEDAR.
"Mamp*s!" pekik Manda lirih.
'Aduh gue lupa lagi kalo ada kak Sam di sini, ah dia juga sih ga ngeluarin suara dari tadi. Kan gue jadi kelupaan.' gerutu Deeva dalam hatinya.
"Buaya teriak Buaya." tiga kata yang menjadi kalimat pertama yang terlontar dari bibir Sammuel hari ini.
"M*mpus lu Dep!" bisik Ratu terkikik. Deeva auto kelagapan.
"Eh loh bukan gitu kak Sam, gue ga buaya kok." elak Deeva. Satu alis Sammuel terangkat.
"Terus apa? Predator?" tanya Sammuel. Kini semua orang diam menyimak perdebatan ini.
"Heh bukan! Ini tuh namanya proses, koleksi, seleksi, eliminasi tau." sangkal Deeva membela diri. Sammuel memutar bola matanya malas.
"Emang susah ngomong sama lo!" ucap sammuel.
"Gue cabut duluan!" pamitnya kemudian.
"Eh Pak mau kemana?" tanya Bagas heran melihat Sammuel berdiri lebih awal.
"Praktikum kimia." jawab Sammuel singkat. Adam melirik jam tangannya.
"Lah iya udah jam 11 aje." cicit Adam.
"Gas ikut balik yuk! Dari pada kita ga ikut praktikum nanti bisa-bisa di cekokin pake asam nitrat sama pak Rojak." ajak Adam bergidik ngeri. Sammuel sudah pergi beberapa langkah. Bagas mengangguk setuju untuk pergi.
"Beb aku duluan ya. Tang, Gab, jaga nih cewek-cewek dari titisan fakboi." pesan Bagas sebelum pergi.
"Buset udah kek jadi sengketa aja pake dijaga haha."
...****************...
Drtt drtt
📩Rizal
Uyy Qiak!!
Pulang jam brp?
📤Qianne
G tau kak.
Ntar gw balik sama Vano.
📩Rizal
Iya deh percaya sama yg makin nempel.
📤Qianne
Nyolot lu kak.
📩Rizal
Lagian jg gw g blg mau jemput
Gw mau lo ke markas nanti sore pulang sekolah
📤Qianne
Ngapain?
📩Rizal
Pokoknya datang aja dulu
📤Qianne
Hm yodah iya
📩Rizal
Selamat berPDKT ria Qiak haha.
📤Qianne
Gw santet nanti mampus lu
📩Rizal
Haha
read.
"Loh Qia?" sapa seseorang yang datang. Qia mendongakkan pandangannya dari Hp. Butuh cukup waktu untuk Qia dapat mengingat wajah cowok di depannya ini.
"Ehmm Kak Valdo yang kemarin ya?"
Valdo mengangguk.
"Ngapain di sini sendirian?" tanya Valdo.
"Duduk-duduk doang sih kak. Nyari angin." jawab Qia.
"Gue boleh duduk kan?"
Qia menganggguk sambil sedikit menggeser badan nya ke samping.
"Boleh lah. Kan sekolah ini bukan punya gue doang." jawab Qia dengan santainya. Rupanya Qia tidak tau kalau ada sepasang mata elang tajam yang sedang mengawasinya.
"Lo, habis olahraga ya?" tanya Valdo mulai menggali topik. Awalnya ia ke roof top karena mencari tempat sunyi untuk mengerjakan tugasnya. Tapi malah bertemu dengan Qia, sosok cewek idamannya.
"Iya."
"Terus kenapa langsung kesini? Bukannya ganti baju dulu." tanya Valdo lagi dan lagi. Qia manggut-manggut.
"Oh ini gue lagi-"
"Eh ada bapak besar ketos!!" celetuk Vano yang muncul di balik punggung lebar Valdo. Qia mengeryit heran.
'Katanya praktikum? Ngapa nongol lagi?' batin Qia bingung dengan kelakuan Vano yang seperti sedang cosplay jadi jelangkung sejak tadi. Datang tak di jemput, pulang tak di antar. Nyelonong mulu dari tadi!
"Lah katanya tadi praktikum?" tanya Qia mengeluarkan uneg-unegnya.
"Iya, tapi nanti setelah lo gue amanin dulu." jawab Vano.
Bohong! Alasan palsu. Sebenarnya itu karena Vano merasa tak nyaman saja kalau ia meninggalkan Qia di atas roof top bersama Valdo yang jelas-jelas menyukai Qia.
Readers be like : Kenapa ga langsung jujur aja sih Van? Lama amat!
Vano be like : Sabar dong! Lu kira ngungkap perasaan tuh sama kek ngungkap maling ayam heh?!
"Hah? Amanin apaan si?" tanya Qia tak mengerti.
"Ga apa-apa, ayok gue anter lo ke kelas!" sahut Vano meraih lengan Qia. Qia menggeleng.
"Tapi gue mau nganter lo! Udah ah jangan ngebantah mulu." omel Vano galak.
"Maksa amat!" ketus Valdo menyindir seseorang yang pasti Vano. Vano tertawa garing.
"Dih gue ga maksa elu, jadi lu diem!!" jawab Vano datar. Qia tak mau ada keributan, jadi ia menurut.
"Oke fine! Kak Valdo, gue balik duluan ya." pamit Qia. Valdo mengangguk.
"Iya Qi, hati-hati."
"Basi lu Val!" ketus Vano sebelum benar-benar menarik Qia untuk pergi.
Sesampainya di depan 11 MIPA 5.
"Udah lo ganti baju sana, belajar yang pinter. Jangan ngelamun mulu!!" tutur Vano melepaskan genggaman eratnya kepada Qia tadi. Di sepanjang koridor yang mereka lewati tadi, semua mata tertuju hanya pada mereka tapi Vano dan Qia sama-sama bodo amat.
"Ihh kak Vano mah gitu! Padahal gue masih mau nenangin diri di roof top." gerutu Qia sebal.
"Lo boleh nyari ketenangan di roof top, tapi lo ga boleh disana berduaan sama Valdo. Gue ga suka!" sahut Vano menepuk pundak Qia dan membiarkan tangannya diam nyaman di sana.
"Lah kenapa?" tanya Qia mengerutkan kening.
"Karena gue suka sama lo! Dan gue ga suka lo deket-deket sama cowok lain." jawab Vano refleks. Sebenarnya ia tak pernah berfikir untuk mengungkap perasaannya secepat ini, tapi apa mau di kata? Mulutnya seolah punya jalan fikir sendiri.
"Hah?" cicit Qia. Ia bisa mendengar pengakuan Vano tadi dengan sangat jelas, tapi ia ragu. Siapa tau juga kalau senior resenya ini hanya bercanda?
"Gue cabut dulu! Nanti pulang sekolah tunggu gue di parkiran." ucap Vano menurunkan tangannya dari pundak Qia. Tapi tak berhenti di situ saja, tangan Vano malah kembali terangkat lagi untuk mencubit gemas pipi Qia yang sedikit mengembang gemoy.
"Inget! Jaga jarak dari Valdo, atau gue one by one sama dia." pesan Vano sebelum akhirnya berlari pergi. Ia sudah terlambat praktikum kimia siang ini.
"Dia serius ga si?" tanya Qia yang masih diam mencoba mencerna ucapan Vano yang tadi. Suka? Suka? Oh god! Seriuskah atau ngelawak? Terlalu banyak candaan, humor dan pertengkaran yang terjadi diantara mereka hingga sangat sulit sekali membedakan mana serius dan bercanda.
Satu detik
Dua detik
Tiga detik.
"Cieeee Qia ditaksir sama prince ice!!" pekik Deeva heboh. Rupanya Deeva mendengar semua yang dibicarakan oleh Vano dan Qia. Deeva langsung menghampiri Qia yang masih syok di depan pintu.
"Cieee bentar lagi ngedate romantis nih." goda Deeva mencolek dagu Qia. Qia berdehem untuk menetralkan hati dan jantungnya.
"Apaan sih Depaaaaa." cicit Qia langsung berbalik masuk ke dalam kelas. Untung saja Manda dan Ratu tidak melihat kejadian tadi, entah kemana pula perginya mereka.
...****************...
"Lo ada acara ga?" tanya Vano sambil mengenakan helm ke kepala Qia. Qia mengangguk.
"Ada."
"Kapan? Dimana?"
"Kepo!"
"Ck. Seriusan gua!!" omel Vano menggerutu. Qia terkekeh.
"Ngambekan!"
"Jadi ada ga?" tanya Vano mengulang pertanyaan yang sama.
"Ada, gue mau ke markas DS Boys habis ini." jawab Qia sejujurnya. Vano manggut-manggut.
"Ya udah kalo gitu gue anter." ucap Vano menawarkan diri. Qia menggeleng cepat dengan bibir refleks manyun. Percayalah! Wajah cantik blasteran itu tampak sangat imut sekali. Helm sedikit kebesaran, di tambah dengan komuk lucu yang membuat Qia terlihat makin gemas dengan pipinya yang gemoy pula.
'Boleh gue gigit ga si? Pipinya, bibirnya, ah semuanya imut. Gemesin!!' cicit Vano berusaha menahan diri. Bagaimanapun juga dia laki-laki normal ya!
"Kenapa enggak?"
"Gue nanti mau bawa motor sendiri. Lo anterin gue pulang ke rumah aja kak!!" tolak Reyna tapi Vano menggeleng acuh.
"Ga mau! Gue tetep mau anter lo ke markas." jawab Vano kekeuh. Sangat menyebalkan bagi Qia.
"Ngapain ke markas gue, udah ah ga usah. Anter pulang ke rumah aja." rengek Qia menarik-narik lengan Vano yang sudah terbalut oleh jaket hitam khas Ghosterion. Sangat menggemaskan seperti anak kecil yang merengek tak mau diajak pulang dari taman hiburan.
"Gue sekalian mau ke sana sama anak-anak Qia!!" dengus Vano mencubit gemas kedua pipi Qia. Cukup sudah pertahanan dirinya! Vano sudah tak bisa mengendalikan dirinya agar tidak mencubit pipi menggemaskan itu.
Qia mematung mendapat perlakuan seperti ini. Makin hari tingkah Vano makin aneh dan lebih? Hanya perasaannya saja atau memang itu kenyataannya?
"Tapi ngapain?"
"Ada deh pokoknya. Woy udah?" pekik Vano pada lima orang cowok yang berjalan mendekat ke arah Vano dan Qia. Siapa lagi mereka kalau bukan Sammuel dan kawan-kawan. Mereka sama-sama memakai jaket geng motor kebanggaannya.
"Udah. Gue udah bilang ke Manda buat pulang bareng Deeva." jawab Bagas mengangguk.
"Gue juga udah bilang ke mang Jajang buat nutup pintu kantin." celetuk Adam ngawur.
"Goblok lu Dam!" semprot Sammuel menonyor kepala Adam yang malah nyengir.
"Ya udah langsung aja berangkat!" pungkas Vano mengambil helm full face dari atas motor.
"Qia ikut?" tanya Adam polos. Bagas menabok kepalanya dengan gemas.
"Lo amnesia Dam? Qia kan anak DS Boys." pekik Bagas gemas ingin mencubit ginjal manusia pikunan satu ini.
"Hehe iya juga, lupa gue." ucap Adam nyengir.
"Emang ada acara apaan si? Oster sama DS ada meet up?" tanya Qia tak tahan dengan keingintahuan ini.
"Iya. Udah ayo naik Qi!! Entar juga lo bakal tau kalo udah sampek sana." jawab Vano menepuk-nepuk jok belakangnya. Entah sejak kapan pak ketua ini sudah nangkring di atas motor, lengkap dengan helm nya juga.
"Qia ga mau gue bonceng aja? Gue enggak segalak Vano kok." tawar Adam mencari penyakit.
Adam memang berani beda. Disaat kawannya yang lain naik ke motor masing-masing dan memakai helm, dia malah menantang maut.
"Dam, lo mau kuburan bentuk segitiga atau trapesium hah?" tanya Vano dingin. Adam nyengir dengan dua jari peace nya.
"Canda doang pak sumpah!!" cicit Adam langsung kabur ke atas motornya. Qia geleng-geleng kepala lalu naik ke boncengan Vano.
Brum brum
Deruman motor ini sudah bersahutan satu sama lain. Bersiap meluncur ke tempat tujuan mereka. Tentu juga anak-anak Ghosterion yang lain sudah berkumpul di suatu titik untuk menunggu kedatangan pemimpin dan lima anggota yang lain untuk kemudian berangkat bersama-sama ke markas DS Boys.
"Eh?" desis Qia kaget karena tangan Vano tiba-tiba meraih tangan putihnya dan melingkarkannya ke pinggang ramping Vano.
"Pegangan, biar ga jatuh." ucap Vano.
"Tapi kenapa? Biasanya juga enggak." elak Qia berbisik heran.
"Karena gue suka." tiga kata yang berhasil membuat hati Qia berdegup.
Qia mencoba menatap pantulan wajah berpenghalang helm itu dari kaca spion. Mata Vano seperti menghipnotis Qia untuk mengangguk.
"Oke."
Deg!
Jantung Vano seolah berhenti berdetak saat Qia tidak hanya mengikuti arahan Vano untuk pegangan, tapi malah memberikan cowok itu bonus. Bonus berupa pelukan erat Qia dari belakang.
'Arghh kenapa jadi adem panas gini anj*ng!!' maki Vano pada dirinya sendiri. Maklumlah, resiko jadi manusia yang punya riwayat super dingin dan anti sama cewek! Harus di akui kalau Qia adalah cewek pertama yang bisa sedekat ini dengan seorang Devano Ethan Boo Axellio.
'Nyaman banget, kek punggungnya bang Raga.' batin Qia makin mengeratkan dekapannya pada pinggang Vano dan menyandarkan kepalanya di pundak Vano dengan sangat damai.
"Kemesraan ini, janganlah cepat berlalu." ucap Adam bernyanyi karena terbawa suasana yang dirasakan oleh Vano dan Qia. Termasuk sebuah mukjizat bisa melihat dua manusia itu akur seperti ini.
"Hatiku damai. Jiwaku tentram di sampingmu." sahut Bagas ikutan melow.
"Anjayyy malah jadi obat nyamuk cap biduan." celetuk Bintang pada Adam dan Bagas yang duel nyanyi di sampingnya. Deruman motor mereka masih terdengar nyaring, tapi mereka tak kunjung menjalankan motor karena Vano si ketua mereka ikutan ngebug.
"Widiih ini sih si Vano menang banyak nyet!!" Sahut Adam geleng-geleng kepala.
"Salut gue." cicit Bagas kagum dan bangga karena Vano akhirnya bisa jatuh cinta.
"Alhamdulillah, bentar lagi dapat traktiran jajan." sahut Gabby yang isi otaknya cuma makan dan jajan.
Jangan tanyakan kemana perginya dialog si Sammuel, kalian pasti sudah hafal kalau kulkas berjalan itu hanya diam dan menyimak.
"Ibarat kata pepatah. Sekali merengkuh dua tiga sosoran terlampaui." ucap Adam lagi. Sammuel mengetok kepala helm Adam dengan malas.
"Pulau tolol bukan Nyosor!!" ketus Sammuel kesal. Adam mengelus sisi helm bekas ketokan Sammuel.
"Seharian gue terdzolimi mulu!" keluh Adam melas.
BRUM
Deruman keras dari Vano itu membuat kelima temannya kaget secara bersamaan.
"WOY!! AYOK JALAN. MALAH NGELAMUN LU SEMUA!" pekik Vano kesal.
"Lah?"
"Ah lama lu pada! Gue yang mimpin di depan aja kalo gitu." ucap Vano langsung melajukan motornya. Qia tadi sempat mengangkat wajahnya saat Vano membunyikan motor sebegitu keras, tapi kemudian Qia kembali menenggelamkan wajahnya lagi.
"Dia yang ngebug, malah kita yang dituduh ngelag." protes Adam geleng-geleng kepala.
"Aura orang kasmaran emang beda brader!!" sahut Bagas.
"Iya deh iya percaya, elu kan tukang kasmaran." semprot Adam ngegas. Bintang tertawa.
"Buruan cabut bac*t!!" semprot Sammuel seperti biasa dan langsung tancap gas pergi menyusul Vano. Untunglah teman-temannya ini bukan lah tipikal orang yang mudah tersinggung, dan anti baperan.
"Tuh diamuk kita sama Algojo." ucap Bintang bergidik ngeri.
"Ya udahlah gaskeun!!"
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰