
"loh elo?!!" pekik Qia kaget melihat tampan tanpa dosa Vano yg malah menaikkan sebelah alis dengan sangat santai. tubuh nya bahkan dengan posisi enak nya bersandar di bahu tembok sambil bersidekap dada yg juga sedang menatap pantulan wajah Qia di cermin.
"apa?" tanya Vano.
"heh lo ngapain disini kak?" tanya Qia yg kemudian berbalik menghadap Vano dan menirukan gaya berdiri Vano, bersidekap dada.
"tangan lo udah sembuh?" tanya Vano balik. Qia mengeryit heran.
"sejak kapan lo jadi care gini?" tanya Qia. Vano menatap bola mata Qia lurus.
"lo naksir ya sama gua hm?" tanya Qia setengah meledek. ia sedikit memajukan wajah nya mendekat pada Vano yg sedang memperhatikan punggung tangan nya yg masih terbungkus plaster. Vano mendongak malas.
"ga usah GR bawel!!" ucap Vano menonyor jidat Qia agar sedikit menjauh dari nya. Qia tertawa.
"bercanda! yakali gue kegatelan jadi cewek haha" sahut Qia enteng.
"tapi kenapa tiba-tiba lo nanya gitu?" tanya Qia lagi. Vano kemudian berjalan maju mendekat dan memojokkan Qia hingga terhantuk dudukan wastafel. bukan mesum ya, dia hanya ingin menanyai seputar mama nya yg ia tolong tempo hari dengan sedikit gaya wkwk.
"thanks ya" ucap Vano sambil meraih jemari tangan Qia yg sakit itu. Qia makin heran tak mengerti dengan semua ini.
'ini anak maksud nya apaan dah mepet-mepet? dikira gue truck yg lagi stop di lampu merah apa gimana?' batin Qia menggerutu.
"lo kenapa si kak? sakit lu?" tanya Qia sambil menempelkan satu tangan nya lagi ke jidat Vano. Vano memutar bola mata nya malas.
"gue ga sakit!" ketus Vano menyingkirkan tangan Qia dari jidat nya.
"gue serius mau bilang makasih" ucap Vano lagi.
"makasih buat apaan?" tanya Qia.
"tangan lo"
"tangan gue kenapa?"
"lo dapet luka ini karena nolongin ibu-ibu yg hampir di begal kan?" tanya Vano. Qia mengangguk.
"terus apa hubungan nya?" tanya Qia lagi.
"yg lo tolongin itu mama gue, gue mau bilang makasih aja sama lo yg udah bantuin mama" ucap Qia menjelaskan. Qia mencoba mengingat-ingat nama orang yg ia tolong waktu itu.
"maksud lo, tante irma itu...."
"mama gue! one more, thanks" potong Vano berterimakasih lagi untuk kesekian kali nya. Qia mengangguk-angguk.
"oh gitu... tapi kok bisa ya mama nya lemah lembut begitu, tapi anak nya kasar bin galak" lirih Qia manggut-manggut. pikiran nya tiba-tiba mengingat perlakuan baik irma waktu mengobati tangan nya dan di bandingkan dengan kelakuan Vano yg selalu saja ngegas bin galak.
"apa lo bilang?"
"eh engg enggak... gue ga bilang apa-apa kok" elak Qia gelagapan karena ternyata Vano mendengar apa yg ia katakan. perhatian Vano kini teralih pada wajah cantik yg ada di depan nya. ia menatap lamat setiap inci wajah Qia. kenapa? kenapa dia jadi seaneh ini?
'dia pasti lebih cantik kalo kelakuan nya kalem enggak bar-bar' batin Vano memuji Qia tanpa sadar. tak sampai disitu, Vano kini terpaut pandangan dengan bibir tipis Qia yg berkedok pink soft agak kemerahan di sisi dalam. entah model lipstik yg bagaimanapun Vano tak tau. karena yg tau hanyalah Qia, Author dan readers cewek wkwk.
"lo cuma mau bilang makasih kan? ya udah sana pergi.. ngapain lama-lama di toilet begini" usir Qia mendorong tubuh Vano. Vano masih enggan beranjak, ia justru makin terpukau menatap bibir tipis Qia yg sedang bergerak-gerak karena mengomeli nya.
"kak?" panggil Qia curiga dengan tatapan Vano. menyadari kemana arah pandangan Vano, Qia lalu menabok lengan Vano dengan kasar.
plak
"WOII LIATIN APAAN HAH?!!" pekik Qia sebal. Vano yg baru saja tersadar dari lamunan gila nya itu pun merintih kesakitan karena tabokan Qia bukan sembarang tabokan. jangan lupa pake hastag #BUKANMAEN!!
"ISHH AUUUUH sakit kali!!! lo jadi cewek kasar banget sih?!" ketus Vano mengomel sambil mengelus-elus bekas tabokan maut Qia tadi.
"eh elo tuh jadi cowok mesum amat!! ngeliatin apaan lo tadi hah?!" balas Qia tak kalah galak. Vano mengalihkan pandangan nya setelah sadar hal kotor apa yg terlintas di benak nya tadi.
"ya tapi ga usah nabok juga kali... lo kasar si jadi cewek, makanya lu jomblo ga ada yg mau" sungut Vano tak mau kalah.
'lah ini kenapa dia cerewet banget sih? perasaan kata Deeva, Ratu sama Amanda kak Vano orang nya cuek dikit bicara. tapi ini? oh why god!! bikin kepala puyeng aja' gerutu Qia dalam hati nya.
"eh berani banget ya mbak nya?" tanya Vano menyindir. ia menatap Qia tajam, bisa-bisa nya cewek rese itu menonyor kepala nya seenak jidat.
"kenapa? ga terima lo?" tanya Qia balik. ia memajukan diri nya serta wajah nya untuk menantang cowok rese dan menyebalkan di depan nya.
"apa? kalo ga terima emang kenapa?" sahut Vano yg juga sama nantang nya.
"ya udah maju sini! one bye one secara gentle!!" ketus Qia.
"selain bawel dan rese, ternyata lo kasar juga ya" ucap Vano bergidik ngeri.
"dih.. HEEEEE NGACA BRADERRRR!!! elu juga udah galak, kasar, mesum, hidup lagi lu!! bikin susah hidup gue aja" balas Qia tak kalah sengit. Vano benar-benar merasa Wow dengan mental dan nyali Qia yg asli patut di acungi jempol. Vano kembali maju pada Qia sambil menunjuk tampang songong itu dengan telunjuk nya.
"lo kalo bukan cewek udah gue-"
"ASTAGAAAAAAA MATA SUCIKUUUU!!!" pekik suara perempuan dari arah pintu. orang itu kaget melihat ada sepasang adam dan hawa di dalam toilet, apalagi posisi nya yg lumayan dekat. Vano dan Qia pun menoleh bersamaan.
"eh m-maaf mba Qia... saya ga jadi pipis deh kalo gini, permisi" pamit Diana lagi yg langsung buru-buru keluar padahal dia baru saja masuk.
"siapa dia?" tanya Vano kepo. Qia menginjak kaki Vano secara brutal.
"ah auuuuu sakit woii!!!" pekik Vano berjingkat-jingkat karena kaki nya nyeri seketika.
"rasain tuh! ngapain sih masuk kesini segala!! karyawan gue jadi salah paham kan tuh huh!!" ketus Qia kesal lalu keluar dari toilet dan meninggalkan Vano sendirian dengan kesakitan nya.
"sialan tuh cewek bener-bener aja ajaib, dua kali remuk badan gue" keluh Vano yg kemudian ikutan keluar dari kamar mandi.
...****************...
"nah itu dia tuh anak kesayangan nya pak bambang udah balik" ucap Bintang menunjuk Vano yg baru saja kembali dari arah toilet tadi.
"lama amat pak" sahut Gabby tanpa mengalihkan pandangan nya dari iPhone yg bermode game. Ya! seperti biasa, Sam dan Gabby main game lagi. tidak ada kata kumpul tanpa mabar bagi kedua manusia pelit bicara itu. sedangkan Bintang? kali ini dia tidak ikut mabar karena Adam melarangnya. alias Adam ga mau ngoceh sendirian.
"widihhh pak bos balik-balik jalan nya kek kesakitan begitu? abis ngapain aja di toilet?" tanya Adam heran memperhatikan langkah Vano yg berbeda dari tadi saat sebelum pergi ke toilet.
"mana sama cewek lagi ah, bikin otak gue ambigu aja" sahut Bintang mengompori. Adam dan Bintang saling pandang karena isi otak mereka ternyata sama, sama-sama kotor.
"pala lu sempit amat!! lo pikir gue habis ngapain hah?!" omel Vano menyempatkan diri menonyor kepala Adam dan Bintang secara bersamaan dengan masing-masing tangan nya sebelum ia kembali duduk.
"ya menurut lo? yakali di toilet khusus, cuma berduaan, pas balik jalan nya aneh, masa iya lo di toilet bersih-bersih?" sahut Adam nyerocos panjang lebar.
"ya kagak mungkin lah tuan muda kita, bapak Vano Axellio masa iya cosplay jadi cleaning servise" celetuk Bintang makin menyulut mood bully Adam.
"berisik lu pada! otak mesum semua dih najis!!" ketus Vano kesal.
"ya terus itu kenapa pak? coba jelasin ke kita" tanya Adam menaik turunkan alis.
"kaki gue di injek anj*ng sama si Qia... parah bener tuh cewek, tenaga nya kolot banget ngalah-ngalahin cat woman" keluh Vano menunjukkan kaki nya yg terasa sakit. duo julid, Adam dan Bintang tertawa ngakak dan puas.
"bwahahahah mamp*s!!"
"adiknya Raga bos, wajar lah" sahut Sam. biasalah, tiap ada topik bicara tentang baku hantam, mulut nya udah otomatis nyahut.
"yee elu tiap ada adegan kekerasan aja nyahut tuh mulut" cibir Adam. Sam hanya memeletkan lidah nya bodoamat.
"sekarang jam berapa?" tanya Vano.
"9 lebih" sahut Bintang.
"ntar jam 10 kita pulang..... gue ada perlu sama nyokap" ucap Vano yg di angguki oleh mereka.
"nggak ke markas dulu pak?" tanya Bintang lagi.
"nggak, besok malem aja ke markas. tapi kalo lo mau kesana sama yg lain ya gapapa" jawab Vano sambil meminum cappucino nya.
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰