DEVANO

DEVANO
34. alkisah beruang dan sapi



"Nongki ngapa woy boring kali aku!" ajak Adam pada teman-teman nya yang sama-sama diam termenung. Jam terakhir di kelas hari ini kosong, dan mereka sedang tidak punya rencana apapun. Jadilah mereka semua hanya diam duduk di bangku masing-masing. Entah mereka terkena jampi-jampi macam apa. Bagai tersambar petir di siang bolong, seharian ini Vano, Sam, Adam dan Bagas sama sekali tidak berulah seperti biasa. Bahkan mereka tak keluar kelas sama sekali sejak pagi, mereka seperti anak sekolah normal pada umumnya yang hanya belajar dan tidur bersamaan pas istirahat. Gabby dan Bintang juga sama hal nya seperti itu. Guru yang mengajar mereka sampai terheran dengan pertanyaan yang hampir sama.


'Loh kok kalian masih di kelas? Tumben tidak bolos?'


"Nongka nongki nongka nongki tapi bayar Kas nunggak terus sampek satu semester!!" sindir Aisyah, bendahara kelas 12 MIPA 2.


"Heh bundahara! Nih ya dengerin, kalo duit buat nongki gue selalu ada, tapi kalo buat bayar kas gue miskin!" sahut Adam dengan santai nya.


"Banyak cakap lu dam! Udah susah bayar, banyak alasan lagi lu." ketus Aisyah lagi.


"Iya ya dam, solidaritas nongki kan lebih penting ya dari pada bayar kas." celetuk Bintang yang tiba-tiba masuk ke dalam kelas bersama dengan Gabby. Kedua anak kelas sebelas itu sudah membawa tas nya kesana.


"Ini lagi! Lo anak kelas 11 ikut campur mulu kesini kenapa sih hah? Lo di usir dari kelas lo?" omel Aisyah pada Bintang. Entah kebetulan atau bagaimana, setiap Aisyah nagih kas, Bintang dan Gabby pasti selalu datang ke kelas itu.


"Dih galak banget mbak." ucap Bintang bergidik ngeri. Aisyah memutar bola mata nya malas lalu memutuskan untuk berhenti saja dari pada tiada habisnya nanti.


"Lo kok udah kesini?" tanya Vano pada dua sahabat nya yang notabene adalah adik kelas nya.


"Bawa tas juga. Lo berdua di usir dari kelas?" tanya Adam heran.


"Jamkos, sekalian aja kesini." jawab Gabby. Adam dan yang lain nya manggut-manggut.


Plak


"Aduh lupa gue!!" pekik Vano menepuk jidatnya sendiri. Gara-gara seharian ini sibuk pelajaran di kelas, Vano sampai lupa kalau Hp nya masih tertukar dengan Qia. Bahkan dia lupa kalau semalam Qia sudah bilang untuk menukarkan Hp nya sore saja di rumah.


"Kenapa?" tanya mereka bersamaan.


"Gue mau nukerin Hp. Qia ada di kelas nggak?" tanya Vano hampir saja berdiri, tapi Sam menarik kembali seragam nya agar duduk.


"Qia bolos!" ucap Sam yang memang tau.


"Iya bos, Qia ga ada di kelas." sahut Bintang membenarkan. Vano kemudian teringat dengan obrolan singkatnya bersama Qia semalam.


"Lah iya juga, semalem dia bilang ga masuk. Arghh pikun bener!!" gerutu Vano pada dirinya sendiri.


"Lo kenapa dah? Perasaan sejak ada Qia, lo jadi banyak ngomong Van?" tanya Bagas menggoda Vano.


"dua." celetuk Sam yang sejalan fikiran dengan Bagas.


"Tenang kawan tenang! Jangan emosi, bapak Sam kan emang gitu orang nya, lagi terdua-dua dia." ucap Gabby menenangkan Adam, Bagas, Vano, dan Bintang yang sepertinya ingin menggeplak mulut Sam yang kelewat irit itu.


"Cielah Vano sekarang udah bukan kulkas lagi ya gas." ucap Adam pada Bagas.


"Ya iyalah orang udah nemuin pawang." jawab Bagas membenarkan setuju. Ia dan Adam menaik turunkan alis nya pada Vano.


"Vano jago berantem, Qia juga jago berantem. Vano galak, Qia juga galak. Bayangin aja mereka nikah terus punya anak, anaknya pasti jago bikin orang kena mental tuh." ucap Adam lagi.


"Sebut saja keturunan dewa kematian hahahah." sahut Gabby tertawa ngakak membayangkan anak Qia dan Vano kelak.


"Tapi sekarang beda bray, Vano udah ga segalak dulu pas pertama ketemu Qia. Sekarang mah udah lebih kalem sama nempel terus." celetuk Bagas memulai perjulidan di dunia perkomporan ini.


"Dari buas jadi jinak." sahut Bintang menggambarkan perubahan sikap Vano pada Qia.


"Ibarat beruang yang bertemu dengan marsha di tengah hutan." ucap Adam berandai-andai. kelima teman nya menoleh bersamaan dengan alis terangkat.


"Maksudnya?" tanya mereka bersamaan kecuali Sam dan Vano.


"Marsha and the bear itu lo cokk!! Dari galak dan ganas terus lama kelamaan jadi jinak dan penuh cinta awwww. Vano beruangnya, Qia jadi marsha nya." jelas Adam membuat mereka tergelak bersamaan. Kelas yang tadinya hening langsung jadi ricuh.


"Dam." panggil Vano menatap Adam malas.


"Apa? Lo mau gue bikin film buat lo berdua sama Qia? Ntar ya kalo udah pulang, biar gue ngomong ke bokap." tanya Adam yang malah nyerocos. Fyi, ayahnya Adam memang adalah seorang sutradara film terkenal jadi ia tak bercanda dengan ucapan nya tadi.


"Bacot lu berisik! Bisa ga diem sehari aja ga usah ngerecokin telinga gue Daaaaaammm! Jadi diem hening kek Sammuel kek lu tolong!!" pekik Vano menjintak kepala Adam dengan kesal. Adam meringis kecil sambil mengelus bekas jitakan Vano yang cukup berdamage.


"Iya tuh berisik mulu kerjaan lu!" sahut Sam ketus.


"Heh bayangin aja ya bray!! Kalo di antara kita berenam kagak ada yg kek gua? Terus semuanya nih kayak bapak Sam. Pehh auto garing lu diem semua kek sapi." cerocos Adam mengelak, dan malah membela dirinya sendiri.


'Lah gue udah diem gini juga masih aja kena!' gerutu Sam malas.


"Lah emangnya Sam kayak sapi?" tanya Bintang polos.


"Sejak kapan Sam berkaki empat?" tanya Bagas ikugan.


"Wah Pak, Adam ngajakin ribut nih... Masa iya lo di samain sama sapi berkaki empat." sahut Gabby mengompori. Sementara Vano hanya menahahan tawa nya karena kepolosan Adam dan kawan-kawan nya yang terlalu bodoh cuma pekara sapi doang.


"Gua ganteng gini lo bilang sapi? mata lo katarak Dam?" tanya Sam menaikkan sebelah alis nya sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Najis anj!!" semprot Adam bergidik ngeri.


"Busett kerjaannya diem, sekalinya ngomong langsung mengpede." decak Bintang geleng-geleng kepala.


...****************...


ting tong


"Cari siap- eh kak Vano." ucap Qia yang kebetulan tadi lewat ruang depan jadi bisa mendengar suara bel dan buru-buru membuka nya. Vano mengangguk.


"Lah jam segini masih pake seragam? Lo kesasar ya kak?" tanya Qia menatap Vano dari bawah sampai atas. Ini sudah masuk jam 5 sore dan Vano masih mengenakan seragam SMA Airlangga lengkap. Bahkan tas nya pun masih ia bawa di punggung nya.


"Kalo ada tamu tuh suruh masuk dulu, bukan malah ngeledek!" omel Vano berkacak pinggang. Qia memutar bola mata nya malas.


"Galak teros!! Yodah mau masuk ya masuk aja!" suruh Qia nyolot sambil sedikit bergeser minggir untuk memberikan jalan pada Vano. Vano menonyor kepala Qia lagi.


"Nyolot mulu jadi cewek!" omel Vano lagi. Qia mendelik galak.


"Heh! Kepala gue nih ya-"


"Qia!" panggil suara perempuan dari arah belakang. Qia menoleh sedangkan Vano berusaha mengintip karena ia masih berada di depan pintu.


"Mama!!" pekik Qia saat melihat mama nya. Andin sudah tampak rapi dengan dress pendek se lutut dengan lengan panjang berwarna merah maroon. Dilengkapi dengan tas bermerk Chanel putih yang tampak sangat anggun di tangan nya.


"Eh ada tamu toh. Hallo anak ganteng, kamu teman nya Qia ya?" sapa Andin kepada Vano. Vano lalu mendekat dan menyalami tangan Andin dengan sopan.


"Hehe iya hallo tante. Saya kakak kelas nya Qia!" balas Vano tersenyum tipis.


"Boong dia Ma! Musuh Qia tuh bukan temen." celetuk Qia dalam mode galak nya. Tapi bukannya membela anak nya, Andin justru malah mencubit pinggang ramping Qia yang berlapis kaos putih yang ia pakai.



"Heh galak banget sih sama tamu! Ga baik tau, disuruh duduk dulu lah minimal!" omel Andin.


"Mama ga tau sih!! Nih kak Vano nih lebih galak daripada aku tau!!" balas Qia tak mau disalahkan.


"Dih galakan juga elu Qia!!" pekik Vano bergidik.


"Galakan kak Vano! Gue sih B aja orangnya wleee" elak Qia memeletkan lidah nya.


"Hmm yasudah terserah kalian berdua saja siapa yang lebih galak. Mama mau pergi dulu, kamu yakin nih ga mau ikut?" lerai Andin lalu bertanya pada putri nya. Qia menggeleng.


"Enggak deh ma, next time aja. Kan ini juga ada tamu ngeselin disini, ga enak lah kalo Qia ikut pergi mama." tolak Qia menggeleng. Andin manggut-manggut.


"Iya juga sih, yasudah kalo gitu mama pergi dulu ya? Vano, tante tinggal pergi ga papa kan?" ucap Andin pada Vano. Vano mengangguk.


"Iya ga papa tante." jawab Vano lalu kemudian Andin pun pergi keluar rumah dan masuk ke dalam mobil alphard putih yang telah menunggu nya dibawah sana.


"Mama lo mau kemana?" tanya Vano masih menatap punggung Andin yang makin jauh turun ke bawah.


"Ke rumah temen SMA katanya." jawab Qia singkat, padat dan apa adanya. Vano manggut-manggut lalu beralih kembali pada Qia.


"Nih tadi cowok lo nelpon lagi!" ucap Vano sambil menyerahkan iPhone bercase merah maroon itu. Qia mengeryitkan alis nya.


"Cowok gue yang mana?" tanya Qia bingung. Vano sempat speechless dengan pertanyaan Qia yang ambigu tadi.


"Emang cowok lo ada berapa? Siapa lagi selain Rayhan?" tanya Vano agak kesal dalam hati nya. Entah kenapa pula ia harus sekesal itu.


"Cowok gue sih ada banyak." jawab Qia santai. Vano menatap Qia datar, Qia yang mengerti arti raut wajah itu pun langsung tertawa dan menepuk-nepuk pundak Vano pelan.


"Bercanda doang kak! Cowok gue tuh maksudnya kakak-kakak gue. Bang Raga, kak Beni, kak Rizal, sama kak Devan! Catet!! Rayhan bukan cowok gue, tapi dia temen cowok gue." ucap Qia menjelaskan dengan penuh penekanan di akhir kalimat nya.


Sudut bibir Vano tertarik ke atas secara otomatis setelah hatinya merasa lega dan tenang dengan apa yang ia dengar tadi. Terlebih lagi saat Qia dengan lantang mengatakan kalau Rayhan bukan cowok nya.


'Oke, pelan tapi pasti. Gue ga mau buru-buru menyimpulkan kalau perasaan ini adalah cinta, tapi gue bisa menjamin kalau gue adalah cowok yang bakal selalu ada di deket lo. Bagaimanapun caranya Qi!' batin Vano. Ia mulai bisa menyadari perasaan dan tingkah nya pada Qia, tapi ia juga tak mau terburu-buru menyimpulkan perasaan nya. Sejauh ini yang Vano yakini adalah ia memang nyaman berada di dekat Qia. Meskipun tidak ada waktu terbuang bersama tanpa bertengkar, tapi Vano selalu menikmati waktu itu.


"Woyy malah senyum-senyum sendiri?!! Masih waras kak?" tanya Qia mengibaskan telapak tangan nya di depan wajah merenung Vano. Vano tersadar lalu menegadahkan tangan nya untuk mengalihkan.


"Mana Hp gua?" tanya Vano menagih Hp nya. Qia hendak menepuk jidatnya tapi dengan refleks Vano menahan telapak tangan tipis itu.


"Jangan nyakitin diri sendiri juga kali?!" omel Vano menggerutu. Qia mengedipkan mata nya aneh dengan tatapan tak mengerti.


"What the hell?!! Terus apa kabar elu yang suka nonyorin kepala gue heh?" tanya Qia sengit.


"Yang itu beda! Kalo gue kan masih make perasaan, kalo lo kan enggak." jawab Vano lirih di kalimat terakhir.


"Hah? Apa? Pake apa?" tanya Qia yang tak mendengar lirihan Vano dengan jelas.


"Nggak papa! Buruan ambil, gue mau pulang!" suruh Vano yang lagi-lagi mengalihkan pembicaraan. Qia menggerutu sebal sambil berbalik setelah melepaskan tangan Vano dari pergelangan tangan nya.


"Yee dasar kulkas eror! Ada aja tingkahnya yang bikin gue kesksnsgvdfjdbsgsjam." gerutu Qia yang lagi-lagi tidak jelas. Vano hanya tersenyum tipis dalam diam nya melihat Qia yang naik ke lantai atas dengan raut wajah kesal nya. Membuat Qia kesal dan marah sepertinya sudah menjadi kebiasaan baru dari seorang Devano Ethan. Mungkin terdengar biasa saja bagi sebagian orang, tapi bagi Vano ini adalah hal yang sangat asik dan menyenangkan.


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰