DEVANO

DEVANO
103. Seratus Tiga



"Iya bang..." pungkas Deeva mengakhiri sambungan telepon itu.


"Gimana katanya?" tanya Sammuel bersidekap dada. Ia duduk di kursi teras rumahnya sedangkan Deeva berdiri di dekatnya.


"Dia ada lembur mendadak kak."


"Ya udah kalo gitu ayo gue anter! Kalo kemaleman nanti mama lo khawatir." ajak Sammuel beranjak dari duduknya. Ia menyabet kunci motor yang bersebelahan dengan kunci mobil yang sama-sama tergeletak di meja.


Deeva mengangguk tapi terdapat sebuah penolakan dari belakang mereka. Sasa! Wanita berbaju putih biru itu muncul dari balik pintu utama.


"Heh! Jangan bawa motor, pake mobil aja Sammuel...." omelnya garang. Sammuel menatapnya datar.


"Apa si bund, tiap hari juga Sam pake motor kok. Ga usah berlebihan lagi deh bund!" keluh Sammuel jengah.


"Biasanya kan kamu sendirian, kalo ini kan kamu ngebawa Deev-"


"Yayayayaaa iya iya aku bawa mobil. Bunda diem! Ga usah bawel. Oke? Bye!" pungkas Sammuel malas berdebat apalagi harus mendengarkan ocehan sang ibunda. Sasa mendengus, tangannya berkacak pinggang karena kesal.


"Hih dasar anak nyebelin!! Kalo bukan anak satu-satunya bunda, udah bunda kirim kamu ke sekolah asrama."


"Sam udah seratus kali lebih denger bunda ngomong gitu! Udah hafal." jawab Sammuel dengan wajah polos tanpa dosanya. Sasa hanya bisa geleng-geleng pasrah. Ia sudah terbiasa bersabar menghadapi dua manusia dingin yang keras kepala setiap harinya. Yap! Sammuel, anaknya dan suaminya alias ayahnya Sammuel.


"Ayo pulang!! Diem aja lo." ajak Sammuel tak santai. Percayalah! Ia masih uring-uringan tak jelas hanya karena mengingat momen Deeva dan Kevin berduaan di lapangan belakang tadi siang.


Deeva gelagapan dan langsung mengangguk.


"Ya udah tante, Deeva pamit pulang dulu ya? Assalamualaikum." pamit Deeva mencium punggung tangan Sasa. Sasa mengangguk lalu memeluk Deeva.


"Kamu kuat-kuatin mental kalo sama anak bunda ya? Secara fisik kamu bakal aman karena dia paling pinter ngejaga orang, tapi kalo soal mental, dia itu perusak handal!" pesan Sasa menepuk-nepuk pundak Deeva sementara kedua matanya melotot ke Sammuel karena tingkah menyebalkannya.


Sammuel tak merespond, ia memilih untuk berlalu pergi menuju mobil.


"Udah kelar dikomporinnya hah?" tanya Sammuel to the point saat Deeva memasuki mobil. Deeva kikuk.


"Hah?"


"Ga jadi. Pake sabuknya!" suruh Sammuel. Deeva sudah mulai terbiasa dengan versi bawel Sammuel yang seperti ini, yang tak terlihat dipermukaan tapi selalu nampak saat mereka hanya berdua atau dengan bunda.


"Iya."


"Auuuu..." cicit Deeva saat tangannya tak sengaja menghantam pinggang belakangnya. Sammuel yang sedang menatap arah depan sontak menoleh.


"Pinggang lo kenapa Deev?" tanya Sammuel memberi respond. Tangannya meraih tangan Deeva yang diletakan di bagian pinggang.


"Agak sakit..."


"Ya tau gue itu sakit. Maksudnya kenapa? Lo habis jatoh?" tanya Sammuel hampir bertanduk, Deeva mengangguk.


"Iya tadi ditabrak cowok di koridor bawah."


"Kevin?"


"Eh- hah??"


"Ditabrak siapa?"


"Bukan Kevin, tapi anak baru kelas sepuluh."


"Oh kirain... Habis ngadem di lapangan belakang, terus ditabrak-" sindir Sammuel yang fokus menghadap depan karena sudah menjalankan mobilnya entah sejak kapan.


"Hah?"


"Hah heh hoh mulu!!"


...****************...


"Mobil gue enak juga ternyata dipake ngebut gini...." monolog Qia memukul pelan stir kemudinya.


"Sejak papa beli ini dua bulan lalu, gue sama sekali belum pernah nyoba nyetir sendiri." ucapnya lagi. Mobil jenis ferarri yang baru beberapa kali keluar dari Garasi mobil itu melaju dengan cepat di lenggang jalanan malam.


Qia baru saja kembali dari markas DS Boys pukul sepuluh lebih. Kenapa dia pulang sendirian? Karena Rizal ada urusan dengan Devan, dan Raga sedang berada di Bandung untuk menyelesaikan pekerjaan papanya sementara papa dan mamanya masih di luar negeri.


"Ini mobil fix bakal gue modif jadi mobil balap, tapi ntar kalo abang udah balik ke US." gumamnya lagi karena selama ini ia memang belum memiliki mobil balap seperti milik Raga, alasannya tentu karena kakaknya itu tak mengizinkannya.


"Wah daebak!! Beneran mantep nih tancap gasnya ah.... Lain kali ngajakin kak Vano balap mobil seru nih pasti!"


"Dih?" pekik Qia menyadari sesuatu. Kenapa harus Vano yang ingin ia ajak? Padahal biasanya, nama yang selalu terlintas di otaknya untuk balapan adalah Rizal dan Rayhan.


"Gua beneran kena peletnya si Kadal ga si? Kayaknya iya deh. Apa-apa sekarang gue kaitin sama tuh kadal satu."


"Apakah ini adalah tanda-tanda per-single-an ini akan berakhir? WOAHHH!!"


'Percaya sama hati lo, turunin ego sama gengsi. Lo emang udah jatuh cinta sama Devano!' batin Qia tanpa sadar. Ia seperti bisa berbicara dengan dirinya yang lain.


"Ciahahahhah bisa-bisanya gue suka sama kadal durhaka kayak kak Vano. Tapi kalo rasa ini beneran ada? Gue harus gimana ke dia?"


"Ck. Tau ah mending gue ikutin alur dari semesta aja kek gimana nanti, hidup ini terlalu singkat untuk menye-menye. Biarkan semesta melakukan tugasnya, bestie!" ucap Qia bermonolog sejak tadi. Senyuman lebar itu tak mau luntur dari wajah cantiknya tiap kali ia mengingat nama dan wajah menyebalkan Vano.


Drtt drtt


Iphone yang tergeletak disamping kemudinya itu bergetar.


🎥Dekadal is calling.....


"Tumben vidcall?" lirih Qia sebelum menarik tombol biru lalu meletakan handphonenya di depan tempatnya mengemudi.


Qia : Debut perdana nih.


Vano tampak cengoh di ujung sana. Kalau dilihat dari tempatnya, sepertinya cowok itu sedang berada di markas motor.


Vano : Hah? Debut apaan?


Vano : Oh... Soalnya baru pertama jauhan dari lo sih, jadi ya baru bisa video call-an.


Qia : Lah emang kita pernah deketan? Tiap hari juga jauhan kaleeeee!!


Vano : Karena sebelumnya kan gue belum secinta ini sama lo. Gue kangen!


"UHUYYYY PAK BOS KASMARAN WOYY!!"


"ADUHDUHDUH JADI DAPET MAKAN GRATIS NIH KITA."


"TEMBAK AJA LANGSONG TEMBAK!!!"


Teriakan-teriakan random itu terdengar oleh telinga tajam Qia. Pasti suara berisik itu berasal dari teman-teman Vano.


"Doain aja dulu! Gue masih usaha buat ngeluluhin putri es." jawab Vano samar-samar. Qia yang mendengar itu tak bisa menyembunyikan ekspresinya.


Qia blushing.


Vano : Cielah lo salting Qi?


Qia : Dih?


Buru-buru Qia memasang wajah datarnya kembali.


Vano : Ngaku aja ga papa. Btw lo lagi dimana atau mau kemana atau darimana? Lo naik mobil?


Qia : Naik onta.


Vano : Ck.


Qia : Ya kalo udah tau ngapain nanya ogeb!


Vano : Calon gue ini, habis darimana hm? Kok ga bilang si.


Qia : Dih elu kemana-mana juga ga pernah ngabarin gue. Ngapain gue musti ngabarin hah?


Vano : Oh jadi lo mintanya gitu? Oke, mulai malam ini gue bakal laporan terus.


Qia : Dahlah suka-suka hati lo aja. Gue habis dari markas, ini on the way pulang.


Vano : Gue temenin via video call deh, gue jagain online.


Qia : Ga usah. Gue bis- eh??!!


Qia ngerem mendadak. Ia menghentikan mobilnya tepat dibelakang mobil yang sedang berhenti di tengah jalan dengan beberapa motor mengelilingi disekitarnya.


"Kayak kenal?" gumam Qia memicingkan mata.


Vano : Kenapa Qi? Ada masalah?


"Itu ada orang kek begal atau apaan ya?" tanya Qia bermonolog. Vano mendengarnya lalu panik.


Vano : Woy Qianne lo dimana sekarang? Shareloc biar gue susulin!!


Qia : Gue di jalan ambarawa blok 4C, tapi lo ga usah kesini ga papa.


Vano : Gak bisa gak! Lo tetep di mobil aja, kunci pintu. Gue otw sekarang!


Qia : Ga ah, gue mau nolongin orang itu.


Vano : Qi jang-


Tut tut tut....


"Kalo itu beneran begal dan gue harus nunggu Kadal, bisa mati bonyok tuh orang di depan." ucap Qia berfikir singkat.


"Ah gue turun dulu aja deh, kasian kan dia sendirian dikeroyok gitu." finally gadis berjaket DS Boys itu pun turun dan berjalan mendekati gerombolan yang lumayan jauh dari sinar lampu jalanan.


Bugh


Sayup sayup Qia mulai bisa mendengar suara pukulan yang sangat nyaring. Ia sampai ngilu dibuatnya, Qia bukan tipe fighter yang gegabah. Ia cukup pintar dan teliti dalam hal menyusun strategi.


Disaat seperti ini ia akan memilih untuk mengendap-endap terlebih dahulu, memperhatikan gerakan musuh dari jauh dan mengenali siapa orang yang akan ia lawan sebelum ia menampakkan diri. Karena kemampuan inilah Qia diangkat menjadi capo di DS Boys.


Semakin dekat maka semakin jelas. Qia mengenali salah satu wajah 'jahat' itu, Marvel!


"Marvel? Berarti ada Rayhan dong?" cicit Qia yang langsung refleks menghentikan langkah kakinya.


Sejak malam itu hingga sekarang, ia belum pernah bertatapan kembali dengan Rayhan. Kalau memang itu adalah geng Rayhan? Haruskah ia tetap menolong orang tak berdosa yang sedang menjadi incaran mereka?


"JANGAN BERANI-BERANI NGIKUTIN QIA LAGI BANGS*T!!!"


Gertakan keras itu menyadarkan Qia dari lamunan. Qia mengerjap. Manusia mana lagi yang dimusuhi Rayhan karena mengikuti dirinya?


Qia sudah tidak kaget dengan teriakan yang sudah bisa dipastikan berasal dari mulut Rayhan itu. Karena selama ini diam-diam ia sudah tau kalau Rayhan selalu menyerang semua orang yang menyukainya, Qia tau dan Qia diam karena Qia tidak peduli. Tapi sekarang? Tidak akan.


"REHAN STOP!!"


Kepalan tangan geram itu terhenti di udara, semua orang menoleh tak terkecuali sepasang mata elang yang sedang melampiaskan emosinya terhadap seseorang.


"Q-Qia?" cicit Rayhan langsung menghempaskan laki-laki yang ia pukuli tadi. Cahaya rembulan malam sedikit banyak membuat Qia bisa melihat garis rahang Rayhan yang tengah mengeras. Tampak sangat emosi.


Pelan tapi pasti Qia terus melangkah maju. Masa bodo dengan traumanya malam itu!


"Kali ini siapa lagi yang mau lo jauhin dari gue Re?" tanya Qia datar. Semakin besar kekecewaannya atas sifat arogan lelaki yang pernah ia sebut 'sahabat' maka semakin benci pula ia dengannya.


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰