DEVANO

DEVANO
111. Seratus sebelas



"Thank you." ucap Qia menyerahkan helmnya pada Vano lalu berbalik cepat. Vano mendelik kaget kenapa Qia pergi begitu cepat? Buru-buru Vano melepas helm full face nya lalu menatanya bersama helm Qia di atas jok motor.


"Eh eh tunggu dong!" pekik Vano setelah berhasil mengaet tangan Qia yang sudah melangkah beberapa meter dari tempatnya memarkir motor.


"Paan si?" sungut Qia menghempaskan tangan Vano dengan sedikit kasar. Sebelah alis Vano terangkat naik, ia heran kenapa Qia jadi menyebalkan seperti ini padahal kemarin pagi hubungan mereka masih baik-baik saja.


"Lo kenapa si? Sensi mulu dari tadi." tanyanya sedikit menunduk untuk menjangkau tatapan mata Qia.


"Lo kenapa hah?!"


"Ga papa."


"Gua ada bikin salah?"


"Enggak."


"Kalo emangbada gua minta maaf deh, tapi lo bilang dulu kenapa lo jutek banget sama gua pagi ini?" seru Vano mengaetkan jemari tangannya dengan jemari tangan Qia.


"Gua bilang enggak ya enggak!" ketus Qia melepas paksa tautan tangan mereka.


"Queensha...."


"Nggak."


"Gua tau lo lagi marah karena sesuatu yang gua sendiri ga tau kenapa. Tapi please ngomong ke gua, lo kenapa?"


"Sejak kapan hotel Axell pindah ke hayam wuruk?" tanya Qia memalingkan wajah. Vano mengeryit, jelas-jelas hotel milik keluarganya itu ada di jalan Merpati blok 3A jakpus, bukan di hayam wuruk.


"Maksud lo?"


Qia merogoh saku seragam, mengeluarkan ponselnya lalu menunjukkan sebuah foto. Foto itu, Qia tau betul foto yang dikirim Sarah itu diambil di cafe Cizen karena cafe itu adalah cafe yang sering dikunjungi oleh anak-anak DS Boys.


Vano membulatkan mata beberapa detik saat melihat dirinya ada di dalam foto itu, kemudian melirik Qia dengan simrik tipis.


"Lo cemburu?" tanyanya.


"Dih."


"Alah ngaku aja kali."


"Nggak."


"Gua suka kok kalo lo cemburu." ledek Vano senyum ganteng. Qia menatapnya datar, sedikit terpana tapi gengsi tetap nomor satu!


"Suka aja sono sama si Sarah!" ketus Qia yang langsung kabur begitu saja meninggalkan Vano yang masih tersenyum tipis-tipis menatap kepergian sang pujaan hati.


"Makin gemesin kalo lagi marah. Jadi bingung gue mau ngebujuk dia atau enggak, ahahaha bener kata Adam! Cinta lo udah ngebuat gue gila setiap waktu, Queensha." lirih Vano salting. Baru saja ia hendak melangkah meninggalkan area parkir, deruman motor berbondong-bondong menuju tempatnya berdiri.


Brum brum brum


"TINGGAL TEROSSSSS!!" teriak Adam dari balik helm full face. Vano menatap satu persatu temannya yang datang beramai-ramai dengan santai.


"Murid ga teladan! Berangkat yang pagi dong." ledek Vano. Syndrom cemburu dan marah Qia sepertinya membuat moodnya sangat bagus hari ini.


"Dih kagak punya kaca lu!" sungut Bagas. Vano tertawa.


"Dahlah yuk!"


"Kuylah!" sahut yang lain. Keenam pentolan ini pun berjalan beriringan menuju kelas mereka di lantai tiga. Vano bersama Bintang di depan, Gabby dan Sammuel di belakang dan Bagas bersama Adam di tengah.


"Van btw kapan sih kita bisa berangkat berenam lagi? Meskipun berlima udah rame, tapi tetep aja kerasa banget ada yang kurang!" tanya Adam di tengah perjalanan. Vano menoleh sebentar lalu tertawa renyah.


"Kan lo pada sendiri yang maksa gue buat berdua doang sama Qia. Salah gue dimana?"


"Lama-lama gue ngerasa kehilangan separuh nyawa gue tanpa lo Van."


"Najis banget anj*ng alay!!" maki Bagas menonyor kepala Adam yang makin menggerutu.


"Orang gue emang kangen vibes kita berenam ye!!"


"Tapi ga usah alay juga Kodam!" sahut Bintang membela Bagas.


"Tuh dengerin tuh!"


"Bac-"


"Besok lo pada ikutan jemput Qia aja kalo gitu." lerai Vano memotong. Adam yang paling antusias.


"Seriusan lo?"


"Iya lah. Qia juga ga bakal keberatan kita berangkat bareng-bareng."


"Yes! Gue bakal ketemu calon om sama tante gue." seru Adam mengepalkan tangan dengan bangga. Bagas mengeryit


"Hah?"


"Gua udah jadian sama Ratu bray!!!" pekik Adam menaik turunkan alis. Bagas dan Bintang yang paling melongo.


"Buset. Gercep amat?"


"Serius lo? Gimana ceritanya?"


"Lebih tepatnya gimana caranya si." koreksi Bintang mengingat sesuatu yang sulit ditembus dalam hidup seorang Ratu, si dewi gamon abadi.


"Pada kepo gak nih?" tawar Adam. 2B mengangguk bersamaan. Adam berdehem untuk memulai ceritanya.


"Alkisah disebuah tempat yang-"


"UDAH HOP! Ga asik ngedengerin tukang bual ngomong." potong Sammuel skakmat. Adam mangap tak berdaya.


"Sammuel being Sammuel." ucap Bagas menepuk-nepuk pundak Adam. Adam mendengus malas.


"Seekali nyaut langsung ngelahap temennya njir haha." sahut Bintang tertawa ngakak.


"Masih mending ngedengerin guru fisika ngedalil dari pada dengerin Adam." tambah Sammuel.


Plak


Vano menepuk jidatnya sendiri, ia baru teringat sesuatu.


"Kenapa lo?" tanya Bintang heran.


"Gue lupa kemarin bu Friska nyuruh gue nemuin dia sebelum upacara cok!!" pekik Vano panik. Selain mata pelajarannya yang killer, bu Friska sendiri juga killernya minta ampun.


"Mamp*s lo di geprek bu Fris."


"Haha hayo haha gua ga ikutan!" seru Adam bersenandung ngawur. Vano berdecak lalu pergi meninggalkan gerombolan teman-temannya tanpa sepatah kata. Mereka sudah sampai di lantai dua, tapi Vano harus kembali turun untuk menuju ruang guru.


"Tapi ngapain bu Friska nyuruh Vano nemuin dia?" tanya Bintang lemot.


"*****-***** yang diatas umur mah kerjaannya Bintang kali!" koreksinya. Adam terkikik.


"Karena pesona bu Yuyun sayang banget buat ditolak cokk!!!" cicit Bintang geleng-geleng.


"Predator kakap!"


"Vano join tim olimpiade Fisika." celetuk Sammuel tiba-tiba. Keempat temannya menoleh padanya secara serempak dan sama-sama bingung.


"Buset ga ada basa-basinya banget kakak kita ini!" cicit Bintang takjub.


"Tanpa intro bisa langsung ngerapp, emang bapak algojo ini ter the best banget!!" puji Adam mengacungkan jempol. Sammuel mendengus.


"Hai guys! Gue mau ngasih info, Vano ngechat gue dia bilang bu Friska masukin dia di line anak-anak fisika bareng Gabby sama Shinta anak 12 IPA." ucap Sammuel panjang lebar penuh penjelasan. Lagi-lagi karenanya, teman-temannya kembali melongo.


"Si anjir beneran basa-basi dong!!"


"Salah lagi?" tanya Sammuel datar. Bagas meringis dengan gelengan.


"Enggak kok, lo mah selalu bener Sam!"


"Btw baru sadar gue... Gabyku sayang kenapa kamu tidak bersuara hm?" celetuk Bintang ngewink, membuat siapapun yang melihat ekspresinya akan merasa geli.


"Ga usah mulai Tang! Atau gua tikam congor lo." ketus Gabby. Sementara Sammuel hanya mengangguk samar disampingnya.


"Dua-in."


"Tuhkan udah gue duga nih!"


"Ketika lu punya dua temen pelit ngomong dan lu ga sengaja ngebiarin mereka berdiri sampingan. Ya gini jadinya nih! Kicep."


"Bac*t mulu heran." ketus Gabby lagi.


"Dua." sahut Sammuel mengiyakan lagi.


"Sam Sam...." cicit Adam geleng-geleng prihatin. Sammuel membalasnya dengan tatapan kejam yang dingin.


"Paan?"


"Ga jadi."


"Dua-in"


...****************...


"Lo yakin ini ga papa Sar?" tanya Wulan ragu melihat Sarah menusukan paku pines diatas papan mading dengan dua lembar foto sekaligus. Sebuah foto gelap yang menyisakan dua bayangan wajah yang cukup jelas diantaranya.


Sarah menyunggingkan senyum.


"Sekolah ini milik om Ethan, papanya Vano. Dia temen baik bokap gue Lan!"


"Tapi agak ngeri tau! Gimana kalo nanti-"


"Ga bakalan, lo tenang aja Lan! Gue punya kunci kok."


"Ah lagian si Wulan emang penakut anaknya! Santai bestie, gue setuju sama lo kok." sahut Dewi menepuk-nepuk pundak Sarah yang mengangguk.


"Ini demi bikin Vano ilfeel sama anak baru songong itu! Habis ini, halangan terbesar gue buat dapetin Vano bakal ilang dengan sendirinya." ucap Sarah culas.


"Biar dia tau dia berurusan sama siapa."


...****************...


"Lo kenapa senyam-senyum gitu?" tanya Qia melirik Ratu yang berlogat hyper happy hari ini. Biasanya Ratu selalu mengisi hari-harinya dengan kejudesan dan amukan pedas, tapi vibesnya kali ini benar-benar berbeda 180 derajat.


"I did it my sist!"


"For what?


"I can forget all about him, cintanya, kenangannya, janji palsunya, semuanya udah gue lupain Qi."


"Siapa? Apa? Kenapa si? Lo kebiasaan banget deh masuk ke inti tanpa intro!" gerutu Qia susah connect. Ratu berdecak gemas lalu menunjukkan sebuah kalung liontin yang ia pakai.


"Nih!"


"Kalung?" tanya Qia menaikkan sebelah alis. Ratu mengangguk.


"Terus apa hubungannya sama ngelupain 'dia'?"


"Ck. Duh Qiaaaakkkk.... Ini kalung dari kak Adam tau!"


"And than?"


"Gue, udah jadian sama dia!!! Yahahahha...." pekik Ratu kegirangan. Qia melongo.


"Seriusan lo?"


"JINJA?!!!!!" pekik Deeva yang entah sejak kapan sudah stand by di bangkunya. Sementara bangku Manda masih kosong, sepertinya dia kesiangan lagi hari ini.


"Eum...."


"Kemarin pas lo ketemu gue itu, lo udah jadian?" tanya Qia mengingat pertemuan tak sengaja antara Ia, Rizal dengan Adam dan Ratu.


"Belum. Kemarin habis dari cafe gua diajak ke-"


"WOY WOY WOY HOT NEWS WOY!!!" teriak Aldi yang berlarian memasuki kelas. Lebih tepatnya menuju tempat duduk Qia dan kawan-kawan.


"Paan si tu anak buset." keluh Ratu geleng-geleng.


"Pagi-pagi lo ngenapa dah Al?" tanya Deeva pada Aldi, si ketua kelas paling heboh sejagad Airlangga. Cowok berambut cepak rapi itu ngos-ngosan setelah sampai disebelahnya.


"Itu woy Dev bahaya banget sohib lu!"


"Sohib gua yang mana satu?"


Qia menoleh ke kanan dan kiri, menghitung jumlah mereka berempat yang ternyata kurang. Manda dimana?


"Maksud lo Manda?"


Aldi mengangguk.


"Iya.... M-Manda ngelabrak gengnya kak Sarah!!"


"APA?!!!"


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA😻