
"Raga ke kantor dulu ma, Assalamualaikum!!" ucap Raga setelah sarapan, ia meraih tas kerja miliknya kemudian mencium punggung tangan mamanya. Andin mengangguk.
"Iya sayang, kamu tapi beneran ga kecapekan apa? Kamu bisa kok nyuruh asisten papa aja buat ngurusin meeting itu." tanya Andin tak yakin. Raga menggeleng santai.
"Enggak apa-apa ma, Raga sekalian mau ketemu Vano. Ada yang mau dibicarain." jawab Raga santai tapi justru membuat Andin langsung syok dan kaget disaat bersamaan.
"Loh Vano? Vano anaknya Ethan?" tanya Andin panik sendiri. Raga mengangguk.
"Iya. Om Ethan bilang, Vano yang mewakili meeting Axellio Group hari ini. Sekalian aja mau ada yang aku bahas sama dia." jawab Raga santai yang hampir membuat jantung Andin copot.
'Waduh jangan-jangan Raga tau kalau aku menipunya tadi malam? Bisa gawat kalau Raga ngamuk terus ga ngerestuin Vano sama adiknya. Bisa gagal besanan sama Irma nanti!!' gerutu Andin panik.
"Mama kenapa panik gitu? Aku yang mau meeting, kok mama yang nervous?" tanya Raga mengeryit heran. Andin menggeleng kikuk.
"Enggak papa kok sayang, mama biasa aja."
...****************...
"Ini udah cukup buat berlima kali ya?" ucap Qia bermonolog. Ia masih sibuk dengan masakan nasi gorengnya. Ada sosis dan telur sebagai topingnya. Qia hanya memanfaatkan bahan-bahan di kulkas Vano saja. Apa saja yang ada, ya itu yang ia pakai.
Suara gemuruh berisik penuh tawa itu mulai terdengar. Qia menoleh sebentar untuk memastikan kalau itu adalah Vano dan kawan-kawannya.
Dan benar!
Vano dan yang lain datang ke dapur saat Qia masih sibuk memasak. Hanya tinggal beberapa saat lagi sebelum nasi gorengnya matang sempurna!
Perusuh SMA Airlangga itu langsung duduk dengan mandiri, duduk mengelilingi meja makan.
"Eh?" pekik Qia kaget karena ada sesuatu yang menyentuh kulit punggungnya.
Vano! Cowok itu adalah pelakunya. Vano mengenakan jas kerja berwarna navy miliknya di bagian belakang tubuh Qia hingga punggung putih mulus yang tadinya terekspos nyata, kini jadi tertutup rapat tanpa celah.
Bingung? Tentu saja Qia bingung. Apa maksudnya? Dan untuk apa?
"Pake dulu, punggung lo diliatin tuh sama buaya-buaya jelalatan!" ucap Vano menekankan kata 'pakai' agar Qia tidak melepaskan jasnya. Qia mengangguk, ia tersenyum tipis. Sangat tipis.
"Belum aja tuh gua colok mata lu satu-satu!" ancam Vano lagi.
"Dih?" celetuk Bagas merasa tersindir.
"Salah kita apa ya kak?" sahut Bintang mendengus malas. Ia padahal hanya melihat sebentar dan sedikit, tapi kena sindir juga.
Meskipun cuma sedikit itu juga sama aja ngeliat ya Bintang tolong!!!
"Ah Vano mah pelit!! Ngeliatin punggung doang diitung bray!! Itung-itung vitamin lah." cerocos Adam 18+ mode on.
"Vitamin matamu Dam!!" semprot Vano. Vano sudah meninggalkan Qia yang masih sibuk, ia memilih duduk di sebelah Sammuel yang menurutnya paling waras.
"Gue aduin lu ke Ratu." ancam Bagas ikutan. Ini semua gegara Adam, Adam yang matanya terlalu aktif. Tapi mereka semua yang kena pukulan telak dari Vano.
"Cepu lu!!" sembur Adam singkat dan padat.
"Lagian ya Gas, sok suci lu anying!! Kek sok iye wleeee." ledek Adam menye mode on.
"Kalo gue sih udah biasa liat gituan ya, kakak gue, sama Manda kan sering pake dress punggung kebuka gitu haha." jawab Bagas jujur.
"Tapi gue ga pernah liat Manda pake dress begitu?" tanya Adam polos.
"Karena gue ngebiarin dia pake gituan cuma pas jalan sama gue doang!! Kalo di pesta, ga ada yang keliatan kek gitu." pungkas Bagas sok iye. Adam mendengus sebal.
"Yee si bucin pelit amat!!"
"Dih cewek gue, kesukaan gue, ya terserah gue lah!!"
"Yee isi otak lu gitu amat Gas!!" pekik Bintang menoleh ngeri karena ia duduk di kursi yang ada di sebelah Bagas. Bagas terkekeh.
"Itu si karena gue cowok normal aja, lo gay kalo ga suka liat gituan!" sahut Bagas membuat Bintang mendelik.
"Gue juga masih normal tolong!! Gue masih doyan lobang woeeeeee." balas Bintang mendengus kesal. Bagad tertawa mengejek.
"Ahahaha lo bilang doyan, emang lo udah pernah?"
"Ya belum sih." jawab Bintang nyengir. Mereka kemudian tertawa lagi.
"EKHEMMMM!!! Ada gue di sini woeeeee, ga ada topik lain kali ah." sahut Qia yang sudah kesal dengan kupingnya yang makin lama makin memanas.
Vano menatap Bintang dan Bagas dengan tajam.
"Lu berdua sih sembarangan ngomongnya!!" semprot Vano.
"Udah Qi, lo masak aja. Ga usah dengerin nih dua setan." ucap Vano mengibaskan tangannya agar Qia kembali berbalik.
"Dijaga banget ya pak?" sindir Sammuel menaik turunkan alis. Vano menatap Sammuel lurus.
"Diem lu Sam! Bacot!!" ketus Vano, Sammuel memutar bola matanya malas.
"Ini dia nih kenapa gue lebih suka diem dari pada ngomong, diem jarang ngomonv aja masih kena. Apalagi kalo gue berisik kek Adam!" keluh Sammuel malas. Vano tertawa.
"Pasrah banget pak haha."
Wiiiinggggg.......
Angin liar dari jendela dapur yang terbuka itu membuat jas Vano yang awalnya nangkring cantik di punggung Qia langsung terhempas jatuh karena memang Qia juga tidak memeganginya. Kedua tangannya fokus menuangkan nasi goreng ke lima piring bergantian.
"Eh?" cicit Qia.
Semua mata jantan langsung mendelik melihat kejadian sekelebat mata ini, kecuali Sammuel. Cowok itu tampak fokus dengan iPhonenya. Vano melotot dan langsung berdiri menghampiri Qia.
Baru saja Qia hendak menunduk mengambil jas navy itu, Vano sudah lebih dulu mengambilnya untuk Qia.
"Anginnya lebih liar daripada Adam huh." gerutu Vano sambil menutupi kembali punggung Qia menggunakan jas nya.
"Thanks kak." ucap Qia lirih. Vano mengangguk dengan kontak mata yang tak sengaja saling terkunci dengan Qia yang juga menatapnya lamat-lamat. Vano berdehem kecil untuk menetralkan situasi.
"Udah lo lanjut aja tuh!" suruh Vano. Qia salting tapi tetap mengangguk.
"Dam!!" panggil Vano. Adam yang tadinya cengoh langsung terjingkat kaget.
"Hah?"
"Mata lu dijaga tuh! Ga usah ngeliatin Qia kalo otak lo lagi bogrek. Atau gue colok beneran tuh mata!!" sarkas Vano berkacak pinggang dengan garang.
Adam berdecak. Sepertinya gara-gara ungkapan cintanya semalam, otak Adam jadi agak gesrek.
"Yaelah buat Vitamin doang pak!! Qia, ga papa kan ya Qi? Ngeliatin doang busettt!!" Qia hanya memutar bola matanya malas.
Qia sebenarnya lumayan terbiasa dalam situasi seperti ini karena tiap kali Devan dan Rizal bermain ke rumahnya bersama Raga. Pasti yang dighibahkan adalah hal-hal menyebalkan semacam ini.
"Tapi jangan Qia juga!! Cari aja sono cabe-cabean di perempatan. Ambil juga ga papa kalo yang itu!" semprot Vano lagi. Cowok itu masih berdiri berkacak pinggang di sebelah Qia yang menatapnya dalam diam.
"Waduh kalo udah kek gini gue ga ikutan deh!! Mending gua tidur aja, biar ga resiko." cicit Bintang menepuk-nepuk seragam bagian atasnya.
Bagas mengeryit.
"Lo mau tidur? Ga berangkat ke sekolah lu?" sahut Bagas.
"Ya berangkat, tapi nanti masuk ke UKS aja langsung. Sekalian bayar utang!" jawab Bintang santai. Ia memainkan tangannya di atas meja, mengetuk-ngetukannya tak jelas. Menciptakan suara tak tik tuk yang berisik.
"Utang apaan?"
"Utang tidur lah! Semalem gue jam 2 baru tidur, terus jam 5 udah bangun lagi. Itu artinya gue baru tidur 3 jam... Sedangkan lo tau, manusia normal itu butuh waktu setidaknya 8 jam untuk tidur. Berarti gue hutang 5 jam ya kan?" cerocos Bintang cerewet. Sepertinya separuh jiwa Adam telah berhasil merasuki raga Bintang.
"Terserah aja apa kata Star!!" sembur Qia nyeletuk. Bintang nyengir.
"Woalah Tang Bintang!!" celetuk Sammuel angkat bicara. Ketika Sammuel angkat bicara, berarti orang itu memang sudah kelewatan hiyaaaaa!!
"Yee dasar demit penunggu UKS!" semprot Adam ikutan.
"Itu hasil didikan lo Dam!" ucap Bagas menonyor kepala Adam. Mereka semua tertawa.
Vano menjentikkan jarinya dua kali untuk menarik perhatian mereka semua.
"Udah pokoknya mulai sekarang nih, terkhusus buat lo Dam!" ucap Vano memberikan sedikit jeda. Adam mendongak dan menunjuk dirinya sendiri.
"Awas aja lu pada kalo habis ini masih berani ngeliatin Qia pake mata jahat yang naudzubillah itu. Gua kulitin lu saat itu juga!!" ancam Vano sarkas. Adam menghela nafas sebal.
"Gue lagi gue lagi!!" keluh Adam.
Plak
Bagas melakukan hobinya lagi, menabok kepala Adam.
"Emang mata lu jahat banget Kodam!!!!"
"Ini bukan sekedar ancaman doang ya, gue serius! Gua kulitin semua mata yang berani liar kek tadi." sarkas Vano sekali lagi.
Semua temannya bergidik ngeri, mereka tau kalau gertakan Vano ini bukan hanya sekedar ancaman. Nada bicara dan ekspresi Vano saja sangat serius dan kelewat menohok!
"Wah ngeri. Ga jadi deh pak!! Dah ah gua mau godain Ratu aja, kalo godain Qia bahaya!! Pawangnya ngeri semua. Enggak elu, enggak Raga, enggak Rizal juga sama aja. Hiiiii ngeri kang cabut udel eh nyawa!!" pekik Adam bergidik ngeri. Bukan akting, tapi emang asli ngeri.
"Nah good!"
Vano mengangguk puas kemudian kembali duduk di samping Sammuel. Diam-diam Qia kagum dengan sikap Vano yang seperti ini. Sudut bibir Qia tak bisa menolak untuk tertarik ke atas. Untung saja posisinya masih membelakangi kelima jagoan Oster, jadi aman dari hujatan dan julid menjulid!
'Bener kata mama, Kak Vano ga seburuk kelihatannya. Meskipun luarannya cuek adem tapi dalemnya asik dan baik, sifatnya hampir memyamai abang gue bangett!! Udah ganteng, baik, bertanggung jawab, gentle man, suka melindungi ceweknya dari mata jahat pula. Reymoragaable banget ga tuh!' batin Qia yang tanpa sadar menyebut dirinya sebagai 'ceweknya' Vano.
Qia memang selalu mencari cowok yg sesifat dan sesikap dengan kakaknya. Mencari seorang laki-laki yg sebaik Raga itu susah, makanya dia jomblo sampai sekarang. Karena semua laki-laki yang mendekatinya tak pernah memenuhi kriterianya.
Pada intinya, Raga selalu dijadikan patokan oleh Qia dalam menjatuhkan hati. Dan sekarang untuk pertama kalinya, Qia dibuat kagum oleh sifat sikap Vano! Mungkinkah Qia mulai jatuh hati kepada Vano?
Qia dari kecil sudah terbiasa di treat like a Queen oleh Raga, jadi wajarlah dia juga mencari laki-laki yang bisa memperlakukannya seperti bagaimana kakaknya kepadanya.
'Kalo emang bener, semoga aja kak Vano adalah orang paling tepat yang udah gue cari selama ini.' batin Qia yang entah sadar atau tidak sudah meletakan sebuah harapan besar kepada seorang Devano Ethan Boo Axellio.
Kalau kalian tanya, kenapa tidak Rayhan padahal mereka sudah lama saling mengenal bahkan Rayhan sudah dua kali menyatakan perasaannya pada Qia? Jawabannya adalah karena Rayhan bukan termasuk kriteria cowok idaman versi Qia.
Rayhan memang baik kepadanya, tapi tidak kepasa Raga dan Rizal. Pada dua laki-laki itu adalah garda terdepan kesayangan Qia!
Qia tau kalau Rayhan hanya baik kepada orang-orang yang ia suka saja, kebaikannya tidak berlaku untuk umum. Itulah yang membuat Qia menolak menjalin hubungan berdua. Qia tau ia bukan perempuan yang baik, tapi ia tetap mencari lelaki baik untuk mendampingi dirinya.
"Spadaaaaaa fried rice ala koki cantik, dah siap!!" ucap Qia membawa kelima piring secara bersamaan.
"Lo ga sarapan Qi?" tanya Vano. Qia menggeleng.
"Lagi males."
"Widihhh yang bikin cakep, yang dibikin juga pasti lebih cakep nih." ucap Bintang memuji harum masakan Qia yang bukan maen.
"Tang kok gue jadi ambigu ya?" celetuk Adam polos. Bagas malah tepuk tangan, siap ikut andil dalam mengompori.
"Sama Dam! Gue juga jadi nething gegara omongannya Bintang barusan."
"Wah Van, Bintang nyari penyakit Van!!" seru Adam makin panas. Vano mendelik tajam, Bintang kelagapan.
"Tang...."
"Enggak bos enggak!! Sumpah dah maksud gue tuh masakannya mantep." cicit Bintang panik karena mendapat pelototan mata tajam dari Vano. Vano menghela nafas.
"Dasar elu ye duo sengkuni, kompor mulu kerjaan lu!!" sembur Bintang menunjuk Bagas dan Adam yang malah tertawa puas dan saling bertos-ria.
"Berisik woy bac*t lu pada!! Gua mau makan enak aja susah amat." gerutu Sammuel mengeluarkan kata-kata pedasnya.
"Bahaya nih kalo bapak algojo udah ngamuk!!"
"Btw kok lo pake kemeja gini Van? Mau kemana lu?" tanya Adam beralih topik.
"Lah kenapa?" tanya Vano balik.
"Enggak."
"Jadi lo ga sekolah nih?" tanya Adam memastikan sekali lagi.
"Enggak!! Bosen gua ketemu Munir mulu tiap hari Kamis." sahut Vano malas.
"Pak Munir lagi diem di rumahnya juga tetep aja kena imbas." keluh Sammuel geleng-geleng. Bintang sebagai murid kesayangan pak Munir, manggut-manggut membenarkan keluhan Sammuel.
"Pray for Munir binti mumun." celetuk Bintang.
"Nama bapaknya Mumun Tang?" tanya Bagas.
"Ya ga tau juga si, gue ngawur doang." jawab Bintang polos. Bagas berdecak malas.
Mereka semua sudah memangsa nasi goreng buatan Qia. Memang benar, rasanya sangat enak!
'Enak banget masakan calon makmum pilihan mama.' puji Vano dalam hati. Gengsi lah dia mau bilang langsung ke Qia. Ngomong-ngomong soal Qia, cewek itu sekarang sedang sibuk dengan ponselnya.
"Sejak kapan lo bawa Hp?" tanya Vano. Qia mendongak sejenak, pandangan mereka kembali bertemu.
"Sejak tadi."
Beberapa saat kemudian, ritual sarapan pagi mereka selesai. Sudah pukul 06.50 tapi anak-anak kesayangan pak Bambang, si andalan pengisi buku skors terbanyak ini masih sibuk berceloteh dengan santai.
"Van seriusan dong, lo mau kemana hah?" tanya Adam masih mempermasalahkan outfit Vano yang berbeda darinya.
"Gue mau ke kantor bokap."
"Lah? Kenapa ga ngomong dari semalem monyet!! Tau gitu ga usah mampir kesini." omel Adam ngegas.
"Lah elu juga ga nanya." jawab Vano kelewat santai.
"Ngeselin emang."
"Tapi ga papa dam, itung-itung numpang sarapan haha enak banget masakan Qia." celetuk Bintang sesudah meminum segelas air putih.
"Yee ga ada Gabby, sekarang jadi elu yang doyan makan!!" senbur Bagas. Bintang melet acuh.
"Ga makan, kita mati bos!!"
Qia mengambil satu persatu piring dari depan kelima cowok itu. Kemudian ia cuci sekalian di waatafel yang letaknya tak jauh dari meja makan.
Lebih mirip seperti ibu yang telah selesai memberi makan anak-anak bujangnya.
"Vibesnya tuh kek Qia sama Vano pasutri ga si?" celetuk Bagas mancing perkara.
Adam dan Bintang mengangguk semangat. Mungkin mereka harus telat hari ini demi membully Vano dan Qia.
"Iye, Qia jadi emaknya." jawab Bintang setuju. Qia menoleh dan menatap tajam ke arah Bintang. Bintang meringis ngeri dengan dua jari peace terangkat.
"Vano jadi bapak kita, dan kita berempat adalah anak-anaknya ahahahha." sahut Adam membenarkan. Sammuel mengangguk mengiyakan.
"Gue anak paling waras." ucap Sammuel singkat penuh sindiran. Adam berdecak.
"Lo pasti mau bilang gue paling setress kan?" tebak Adam kelewat peka.
"Bagus kalo udah bisa ngaca!"
Singkat dan pedas.
"Pemanasan ngurusin empat anak ya pak mak?" ucap Bagas menoleh bergantian pada Vano dan Qia.
Qia memutar bola matanya malas sedanglkan Vano malah merespondnya dengan wow!
"Aamiin."
"Widih di aamiin dong bos!! Udah mulai serius nih kek nya." goda Adam heboh.
"Kalo gitu gue kasih aamiin juga deh. AAMIIN!!" sahut Bagas menekankan kata aamiin.
"Dua." sahut Sammuel.
"Aamiin brother!!" seru Bintang dan Bagas bersamaan.
"Ngadi-ngadi lu pada!" omel Qia yang sudah kembali duduk bersama mereka.
"Aamiin!" ucap Vano malah ikut mengaminkan ucapannya sendiri. Qia geleng-geleng.
"Lo pada ga sekolah apa hah?"
"Nanti dulu lah, baru juga selesai sarapan. Emak udah ngusir aja, ini kan rumahnya bapak kita mak!!" keluh Adam melas. Qia memutar bola matanya malas.
"Gua bukan emak lu kak!"
"Rumah bapak rumah emak juga dong Dam! Kalo udah nikah kan, semuanya jadi milik berdua." celetuk Bintang halu mode on.
"Star, lo dari tadi ngelantur mul-"
Hachimm.
"Kak Vanoooo!!!" pekik Qia ngamuk setelah bersin. Satu alis Vano terangkat sebagai jawaban.
"Apaan?"
"Ini gegara kakak ya! Ga mau tau pokoknya lo harus tanggung jawab nih pasti gegara semalem-"
"Waduhh tanggung jawab apaan nih? Emang semalem ngapain aja?" tanya Bintang menaik turunkan alisnya.
"Jangan-jangan Vano junior udah coming soon?" tebak Adam berbinar semangat.
"Jangan-jangan yang lo bilang di DM itu bukan sekedar jokes ya pak?" sahut Bagas teringat isi DM komennya pada insta story Vano semalam.
"Ngawur!" sembur Vano. Lagian Qia juga sih! Ngomongnya pake bahasa ambigu.
"Maksud gue ini nih pilek! Ngadi-ngadi mulu otaknya bocah jantan." keluh Qia merasa terdzolimi.
"Kenapa lo ngeliatin gue mulu? Cantik kan gue?" sembur Qia pada Adam yang terus melihat wajahnya sejak tadi. Deeva versi cowok ini emang meresahkan! Adam itu buaya, tapi spek idamannya yang setia cinta sampek setengah mati seperti Ratu.
"Iya Qi, emang cantik si. Muka judes lo juga sebelas duabelas sama Ratu." ucap Adam polos.
"Cieeee lo udah naksir sama sepupu gue nih?" ledek Qia heboh.
"Cieeee Adam udah nemuin pawang bang? Cewek sekebon jeruknya udah siap dilepas semua nih?"
"Ihirr Adam fall in love sama musuh sendiri ahaha."
"Akhirnya buaya cap kadal tobat juga!" kalian pasti tau siapa yang kata-katanya sejahat dan sejujur ini.
"Alhamdulillah."
"Heh apaan! Enggak ah b aja." elak Adam salting. Ia mengakui perasaannya pada Ratu semalam, tapi teman-temannya jangan tau dulu sebelum Adam benar-benar berhasil mendapatkan Ratu.
"Halah malu-malu anj*ng!" sembur Vano. Adam melet bodoamat.
"Cieeelah Qiaaaaak... Bentar lagi DS Boys sana Osther jadi ipar nih." goda Adam mengalihkan. Qia bergidik ngeri. Dasar buaya tukang alih topik!
"Kak Vano?" panggil Qia.
"Apa?"
"Lo nemu kak Adam dimana si? Gini amat modelannya?" tanya Qia polos.
"Pasar senayan." jawab Vano ngawur.
"Salah woe!! Kita kan nemuin Adam di bawah jembatan ancol!" protes Bagas membenarkan.
"Laknat!" sembur Adam.
"Pantesan aja otaknya kocak!" sungut Qia.
"Ini pada ga ada yang mau sekolah?" tanya Sammuel.
"Tiga menit lagi lah pak, sekalian jam 7. Biar tepat waktu kita!" jawab Bintang. Adam dan Bagas menoleh serempak, Vano, Sammuel dan Qia juga menatap Bintang dengan pandangan aneh.
"Lah? Tepat jam 7?"
"Iya kita keluar dari apartemen ini tepat jam 7. Kan kita negeri." jawab Bintang polos. Adam menonyor kepala Bintang.
"Heh sekolah kita kan swasta tolol!!"
"Lah yang gue maksud kan apartemennya Vano. Apartemen kalo ikut jam negeri kek PNS, itu kan dinasnya jam 7 pas woeee!!"
Jawaban konyol gila itu membuat semuanya cengoh seketika. Rugi mereka mendengarkan bualan tak bermutu ini!
"Enggak gitu konsepnya tolol!"
"Btw ini apartemen apaan kak?" tanya Qia kepo. Sedari tadi ia memperhatikan setiap desain interior, seperti tidak asing dengan apartemen yang ia miliki.
"Bugenvil." jawab Vano.
"Serius?"
"Iya."
"Kamar nomor berapa?
"Nanya mulu! Emangnya lo tukang sensus penduduk?"
"Atau jangan-jangan Qia punya kerjaan sampingan jadi kang servis kali." celetuk Adam. Bukan Adam kalo tidak ngasal.
"Ngawur!"
"Nomor 23." jawab Vano.
"Lantai lima?"
Vano mengangguk.
"OMG!!"
"Kenapa?"
"Apartemen gua juga di Bugenvil nomor 24." ucap Qia membuat Vano kaget.
"Seriusan?"
"Iya."
"Kamar depan lo?" tanya Bagas teringat kamar nomor 24 di lantai itu. Vano mengangguk.
"Berarti selama ini kita tetanggaan?"
"Widih definisi jodoh emang ga kemana." seru Bintang tepuk tangan.
"Eitsss apakah anda percaya? Kalau saya sih tidak. Pasti lu berdua cuma pura-pura saling kaget biar kita berempat ga curiga ye kan? Ngaku lu pasti lu berdua sering join secelup dua celup." sergah Adam gila, ngawur, ngasal, bin ngadi-ngadi. Lagi!
Plak
"Ngawur sekali lagi gue lempar lu keluar jendela." ancam Vano setelah menggeplak lengan Adam.
"Awww takut!!"
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰