
"Sepi amat kantin segede ini. Ga ada yang doyan bolos kali ya?" gumam Qia bermonolog. Segelas jus jeruk di hadapannya sudah tandas separuh karena kehausannya sejak tadi.
Sudah sekitar lima menit yang lalu ia duduk di kursi panjang ini, tapi benar-benar tak ada tanda-tanda kehidupan selain dari bapak-ibu penjaga kantin.
Perlu diacungi jempol ga si?
"Vano and the geng, tumben ga nongol. Biasanya langganan kan?" tanya Qia lagi. Setelah beberapa detik, ia tersadar dan bergidik.
"Dih? Ngapain gue nyariin mereka. Astaga sadar Qia sadar!!" pekik Qia geleng-geleng kepala. Mencari titik kewarasannya.
"Tapi, tumben juga ga bawel di wasap? Apa ngambek kali ya gegara gue ga mau dijemput tadi? Eh tapi ngapain ngambek. Emang dia siapa, gue siapa?"
"Kenapa juga namanya muter-muter di kepala gue terus oh god!!" pekik Qia memukul-mukul pelan kepalanya. Hampir ia merasa frustasi karena nama cowok rese itu terus gentayangan menghantui ingatannya.
"Neng Qia teh kenapa?" tanya mang Dadang menghampiri Qia yang duduk sendirian. Qia menoleh lalu menggeleng.
"Ehhe ga kenapa-napa kok mang. Cuma lagi pusing aja dikit." jawab Qia terkekeh kecil.
"Pusing kenapa? Neng Qia sakit?"
"Enggak mang, cuma ini tumben kantin sepi ga ada yang bolos. Biasanya kan ada gengnya kak Vano!" jawab Qia keceplosan. Ia menutup mulutnya rapat setelah menyebut nama Vano.
'Duh kan pake keceplosan segala. Awas aja kalo mang Dadang cepu nanti!' umpat Qia dalam hatinya.
"Oalah neng Qia nyari mereka toh? Tunggu aja neng. Bentar lagi pasti datang kok!" jawab mang Dadang manggut-manggut. Qia mengeryitkan alis heran.
"Kok mang Dadang yakin banget?"
"Udah jadi langganan-"
Drtt drtt
Hp Qia yang terletak di meja bergetar dan berkedip beberapa kali, ada beberapa pesan yang masuk. Qia pun meraih iPhone itu untuk melihat siapa pengirimnya.
"Kalo gitu mamang pergi dulu ya neng, tunggu aja sebentar pasti mas Vano dan yang lainnya datang kok." ucap mang Dadang yang langsung undur diri setelah Qia mengangguk.
📩Rayhanesse
Qia?
Kmn aja si ga bisa dihubungin dari semalem?
Gw mau ngomong.
Reply please!!
Read.
Qia berdecak malas. Pertama karena ia teringat kembali dengan kejadian kemarin, kedua adalah karena di dalam sudut hatinya yang terpencil itu ia mengharapkan Vano yang memberi notice. Dan salah!
"Gue masih ga bisa terima gitu aja sih, dia udah kelewatan. Omongannya ke gue selama ini cuma full of the ****!!" lirih Qia mengurungkan niat untuk membalas pesan dari SAHABATNYA itu. Oh ralat! Atau mungkin sudah bisa disebut mantan sahabat?
Tentu tak akan mudah bagi Qia untuk memaafkan kesalah Rayhan. Seerat apapun hubungan mereka sebelumnya, kepercayaan Qia sudah terlanjur hancur lebur. Perlu waktu lama untuk membuatnya utuh kembali seperti sedia kala!
Prok prok prok
"Widih ada mba pendekar bray!!" celetuk suara toa yang sudah sangat familiar di telinga Qia yang langsung menoleh.
Menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan unfaedah yang sejak tadi memutari otaknya. Suara itu berasal dari Adam, Vano and the geng benar-benar datang ke kantin seperti yang dikatakan oleh mang Dadang tadi.
"Hilang sudah keheningan indah ini." keluh Qia memutar bola matanya malas.
Mba Qia maunya apa ya? Tadi nyariin, giliran udah nongol malah ngeluh. Dasar cewek!
"Lo bolos?" tanya Vano yang sudah gercep duduk lebih dulu di samping Qia. Di satu kursi kayu panjang.
"Nggak! Cuma nyari laler doang." jawab Qia ngawur.
"Terus ngapain di sini? Kan masih jam pelajaran?" tanya Vano lagi. Sebenarnya tidak ada yang aneh, semuanya normal-normal saja.
Tapi pertanyaannya adalah sejak kapan Vano jadi doyan bicara dan perhatian? Sebuah mukjizat ga si ini?
"Lo sendiri ngapain di sini kak? Ga ngaca dulu heh?" sahut Qia memicingkan mata tajam. Vano malah tertawa receh.
"Boleh juga nyali lu Qi, bolos sendirian doang lo? Kelas lagi ada guru kan?" tanya Bintang yang duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Qia. Qia mengangguk tipis.
Adam dan Bagas disebelahnya, sementara Gabby dan Sammuel di sebelah kiri Vano.
"Iya Qi, lo sendirian aja nih?" tanya Adam mengulangi pertanyaan Bintang tadi. Qia menggeleng.
"Enggak."
"Terus lo bolos sama siapa?" tanya Bagas yang auto jadi celingukan. Ia mengira kalau pacarnya juga ikut bolos.
"Perasaan ga ada orang, temen lo pada ngumpet?" tanya Adam nyahut. Lagi-lagi Qia menggeleng.
"Enggak. Pada kelihatan kok!"
"Ya terus mana? Katanya ga sendirian. Gimana sih anjrit ga paham gue!!" keluh Adam frustasi karena jawaban Qia yang berbelit.
"Kan ada kalian. Itu namanya gue ga bolos sendirian kan?" jawab Qia bertanya balik.
Krik krik. Semua manusia di meja itu melongo mendengar jawaban tak terduga ini. Tentu saja kecuali Sammuel, cowok itu ikut nyimak tapi ia sama sekali tak merubah ekspresi wajahnya sejak tadi. Tetap datar dan tak berekspresi.
"Ya ga salah juga sih jawabannya." ucap Vano memecah dunia ngebug.
"Jawaban Qia ga salah kok bray, yang salah mah pertanyaannya Adam." celetuk Bintang tersenyum fake. Dibalik senyum paksanya, ingin sekali rasanya Bintang menelan Qia bulat-bulat.
"Iya dong jelas! Cewek kan ga pernah salah." jawab Qia mengacungkan jempolnya ke Bintang.
"Salah nanya gue!" keluh Adam menghembuskan nafas kasar
"Leh ugha jokesnya kakak Qia." celetuk Bagas meng-alay. Syndromnya kambuh lagi!
"Baru Qia doang nih yang bisa ngelawan jokesnya Adam ahahaha." sahut Bintang tertawa ngakak.
"Plot twist, Qia adalah badut berkedok bidadari?" celetuk Adam enteng. Mendengar sebutan berlebihan dari Adam, Vano mengarahkan tatapan datarnya ke Adam. Gede juga nyalinya si kang lawak!
"Ngawur!!" sentak Vano refleks. Qia menoleh heran.
"Kenapa jadi elu yang sewot?"
"Waduh mon maap Van lupa deh gue sumpah!! Ga lagi deh iya enggak, ga bakal gue godain lagi cewek lo." pekik Adam panik melihat tatapan mematikan penuh arti dari mata elang Vano.
"Bwahahaha mamp*s! Hajar aja Van, Adam emang ga punya kapok. Bisa-bisanya cewek lo juga mau diserepet." celetuk Bintang kompor.
"Ga usah kompor b*ngke!" kesal Adam menjitak kepala Bintang yang malah nyengir tanpa dosa.
"Lagian elu sih Dam, udah ada Ratu juga masih aja jelalatan lu!" tutur Bagas sok miris. Sementara mereka sibuk julid ke Vano dan Qia, Gabby dan Sammuel larut dalam dunianya sendiri. Entah apa yang mereka bahas hingga keduanya tampak sangat serius.
Sebenarnya tidak aneh melihat Sammuel dalam mode seriusnya, tapi ini menjadi sebuah pertanyaan dan pertanda khusus bagi Gabby. Karena cowok itu biasanya juga lumayan receh, 11-14 sama Bagas. Kalo perbandingan Sammuel sih ga usah ditanyain lagi, bisa sampek 11-35 soalnya wkwk.
"Vano kan jarang-jarang bisa kepelet sama auranya cewek, Qia ini cewek pertama yang nakhlukin hatinya Dam. Jadi yodahlah lu jangan asal ganggu!!" ucap Bintang masih sibuk kompor. Jiwa julidnya benar-benar meronta kuat. Qia masih nyimak dengan anteng sementara Vano mendengus malas.
Tak pernah bisa ia menemukan harga dirinya tiap kali teman-temannya sudah buka mulut. Apalagi saat mereka berada di mode julid seperti ini.
"Bener apa kata Star, kemarin di markas aja sampek linglung kek orang kena pelet." ucap Bagas ikutan julid. Adam mulai cengengesan, mengaktifkan mode tengilnya untuk ikut masuk ke dunia perjulidan.
"Linglung?" tanya Qia heran. Bagas mengangguk.
"Iya Qi, nih si Vano kek orang kesambet."
"Lebih tepatnya kena pelet sih."
"Pelet apa? Dari siapa?" tanya Qia kurang connect.
"Ya dari elo lah!" sahut Adam gemas dengan kemelotan Qia. Qia menunjuk dirinya sendiri dengan bingung.
"Kok gue?"
"Ya iya! Nih ya jadi kemarin habis tawuran kan kita semua balik ke markas Oster ter-"
"Terus?" potong Qia tak sabaran.
"Dengerin dulu cantik!!!" omel Adam sebal. Qia nyengir.
"Oke lanjut!"
"Terus si bapak leader ini bengong mulu ga ada nimbrung sama sekali. Eh sekalinya buka mulut, dia langsung teriak ngegas kek gini 'QIA CAKEP BANGET WOYYYY!!!' gitu Qi!" jelas Adam menirukan nada tinggi dan ngegas dari Vano kemarin sore. Tanpa disadari, sudut bibir Qia tertarik ke atas. Bisa dikatakan dia sedang terbang tinggi saat ini!
Sementara Vano langsung refleks membuang mukanya ke kiri, ia menutup separuh wajahnya dengan telapak tangan. Malu ga? Ya malu banget lah. Bisa-bisanya Adam ngebuka kartu as di depan orangnya langsung.
Tuhan menutup aibmu rapat-rapat, tapi temanmu adalah Adam.
Adam bilek : Maaf bro, saya sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi congor ini punya jalan pikirnya sendiri!
"Nah tuh nah salting anaknya!!" seru Bagas menunjuk Vano dengan heboh. Qia melirik Vano, rupanya bukan hanya dia yang salting. Tapi juga Vano.
"Cie bapak leader jatuh cinta cieeeeeee." seru Bintang meledeknya puas.
"Kalo suka mah langsung gas in aja Van, jangan kelamaan! Spek kayak Qia gini banyak yang nyari. Telat maju entar baru ngamuk lu!" pesan Adam setengah julid. Vano menatapnya datar.
Sumpah demi apapun! Hatia tak pernah segemetar ini apalagi jantungnya yang berdetak tak karuan membuat sekujur tubuhnya terasa panas.
Arghhh.
"Yang di depan mata aja udah kelihatan Rehan sama Valdo. Belum yang lain lagi loh!" sahut Bintang.
"Jodoh emang ga kemana pak, tapi tikungan itu real!" celetuk Bagas. Qia diam, nyimak. Takut salah bicara dan berujung salah tingkah nantinya.
"Paan si? Berisik anj-"
"Tuh kan neng Qia, apa saya bilang tadi? Pasti mas Vano sama teman-temannya bakal datang." celetukan mang Dadang menghentikan umpatan toxic dari seorang Devano.
'Tuhkan bener firasat gue tadi! Mang Dadang pasti cepu nih.' gerutu Qia.
"Emangnya kenapa mang?" tanya Bintang heran.
"Ini tadi teh si neng Qia nyariin kalian." jawab mang Dadang apa adanya.
"Nyari kita atau Vano doang mang?" celetuk Adam melirik Qia dengan tengil. Niat awalnya cuma untuk julid, tapi tak disangka kalau mang Dadang malah mengangguk dengan sangat polosnya.
"Nyebut namanya sih emang cuma mas Vano doang tadi."
"Cie Qiaaaa UHUYYYYY" pekik Adam heboh.
"Ah cepet jadian lah woy!! Gue udah ga sabar pengen ngeliatin bapak leader ngebucin." seru Bintang mengacak rambutnya frustasi karena gemas dengan semua ini.
"Gue pengen cepet-cepet makan gratis." celetuk Gabby yang langsung connect tiap ada kesempatan makan gratisan.
"Gue makin yakin kalo Vano normal sekarang." ledek Bagas menaik turunkan alis. Tak mau menghiraukan ledekan teman-temannya yang tak akan berujung, Vano lebih memilih untuk meledek Qia saja. Lebih mantap dan sedap untuk asupan hatinya.
"Oh jadi lo udah mulai nyariin gua nih? Kangen lo? Salah sendiri mau dijemput tadi nolak!" tanya Vano menaik turunkan alisnya.
"Tanda-tanda getaran cinta udah keliatan." celetuk Bagas bangga. Sebentar lagi akan ada pasangan bucin selain dirinya dan Manda.
"Perlu kita adain sidang isbat buat mastiin nggak nih?" sahut Adam ngelantur mode on.
Cukup lama dengan perdebatan ini, mang Dadang lantas mengubah topik sebentar. Tujuannya datang adalah untuk menanyakan menu apa yang akan dipesan oleh anak-anak langganannya ini.
"Menu biasanya enam berarti ya?" tanya mang Dadang memastikan. Mereka semua mengangguk.
"Oke siap! Tungguin ya."
"Biar saya bantuin sama Bagas aja mang!!" ucap Adam menawarkan diri. Ia lalu menarik Bagas untuk diajak ke kedai mang Dadang dan membantunya menyiapkan makanan mereka.
"Ngapain ngeliatin gue mulu si?" tanya Qia menjauhkan tubuhnya beberapa centi dari tempat awalnya. Bagaimana ia tidak canggung? Vano dengan pedenya menopangkan dagu ditangannya dengan pandangan lurus tanpa berkedip.
"Emang ga boleh?"
"Ya ga gini juga! Tengsin gue jadinya."
"Ga papa, santai aja. Belum akan gue makan!" tutur Vano ambigu.
Drtt drtt
Benda pipih di depan Qia, tepatnya di samping jus jeruk itu kembali berdering. Lagi-lagi nama Rayhan yang muncul di layar displaynya. Nama itu juga tak luput dari Vano yang memang sengaja membacanya karena ingin tau.
📞Rayhanesse is calling.....
"Udah sengaja diemin chat, malah nelpon. Huh!" gerutu Qia malas.
"Angkat aja sih siapa tau penting!" celetuk Vano. Qia meliriknya sejenak, mengangguk kemudian mengangkatnya. Qia tak berniat untuk mengangkat telepon dari Rayhan tapi entah mengapa saat Vano menyuruhnya ia langsung refleks begitu saja. Sementara Vano malah tampak kaget melihat Qia yang justru menurut.
'Sialan disindir malah dilakuin beneran. Nyesel gue asal bunyi tadi!' gerutu Vano menarik nafas dalam-dalam. Ia menatap kesal ke arah punggung Qia yang berjalan sedikit menjauh dari kursi mereka.
Dari QiaNo, kita bergeser ke Bintang.
"Widih ada sirkus!!" pekik Bintang tiba-tiba. Gabby merebut iPhonenya untuk melihat apa yang sedang ditonton oleh teman sebangkunya itu.
Rupanya Bintang sedang scroll tiktod dan menemukan sebuah video tentang sirkus dan dunia hiburannya itu.
"Lo suka sirkus?" tanya Gabby. Bintang mengangguk.
"Gue dari dulu pengen banget nonton sirkus apalagi badutnya. Tapi ga pernah kesampean sampai sekarang!"
"Lah kenapa? Rumah lo jauh dari peradaban?" tanya Si mulut pedas. You know lah!
Satu. Sammuel mulai mengeluarkan jurus savage andalannya.
"Pffttt ngakak!!" pekik Gabby.
"Bener yang dibilang Sam Tang? Rumah lo jauh dari jangkauan kah?" tanya Vano ulang. Bintang berdecak. Sammuel memang selalu bisa menjatuhkan mental seseorang.
"Bukan gitu pak! Rumah gue dari dulu udah di komplek, kan satu daerah sama Bagas!" bantah Bintang sebal.
"Ya terus kenapa ga pernah nonton? Bukannya ada daerah situ banyak ya acara kek gituan?"
"Karena gue takut, makanya nyokap bokap ga pernah bawa gue." jawab Bintang polos.
Jleb.
Arghhhh
Gabby menginjak kaki Bintang dengan bebas dan keras karena saking kesalnya.
"Terus kenapa pengen liat tolol? Takut ya takut aja kali ah, ngeribetin hidup mulu!" sembur Gabby gemas.
"Tau tuh ribet idup lo!" sahut Vano.
"Ya namanya juga phobia waktu bocil." sanggah Bintang membela diri.
"Sampek sekarang juga lo masih tetep bocil! Cemen! Sama topeng monyet aja lu takut apalagi badut."
Dua. Sammuel makin bersemangat membantah dan menjatuhkan mental Bintang.
"Ah iya tuh waktu di lampu merah itu ya Sam? Ahahaha iya iya inget banget gue. Bintang sampek ngeluh ngompol gegara dideketin sama topeng monyet!!" seru Vano ngakak. Kejadian yang dimaksud itu terjadi beberapa minggu yang lalu.
"Ahahaha kalo gue jadi lo Tang, udah gue robek muka gue dari pada dipermalukan gegara topeng monyet."
"Sialan!"
"Ga usah sok teraniaya! Hidup emang keras. Kalo mau mulus empuk, pulang sono ke tukang kasur!" usir Sammuel sebelum Bintang sok manja dengan kekiyowoan.
Bintang berdecak. Harus bagaimana sih dia meluluhkan mulut savage dan jahat milik Sammuel? Rasanya lebih sulit daripada mendekati bu Yuyun.
...****************...
"Udah kelar?" tanya Vano setelah Qia duduk kembali di sampingnya. Qia mengangguk kecil.
"Ada masalah apaan?" tanya Vano lagi.
"Biasalah. Masih yang kemarin." jawab Qia. Vano manggut-manggut.
"Rayhan ngajak ketemu nanti malam." celetuk Qia tiba-tiba. Entah angin apa yang mendorongnya untuk memberitahu Vano soal ini.
Vano mengeryit, memperhatikan wajah berekspresi Qia dengan teliti. Tampak sekali kalau cewek itu sedang bingung.
"Terus lo mau?" tanya Vano agak was-was. Qia mengendikkan bahu.
"Ga tau, tergantung mood atau enggak aja nanti."
"Mau gue temenin?" tanya Vano menawarkan diri. Qia menatap bola mata Vano tanpa sengaja. Tatapan yang anehnya langsung menjadi tali erat yang saling mengikat kuat.
Qia menggeleng.
"Thanks tapi ga usah dulu deh, bukannya menyelesaikan masalah nanti malah makin runyam. Kan gue udah tau sendiri gimana kalian berdua!" tolak Qia halus.
Tumben nih gaya bicara mereka berdua termasuk pelan dan kalem, biasanya kan ngegas terossssss!!
"Kalo ada apa-apa, jangan sungkan. Call me!" ucap Vano lagi. Qia mengangguk.
"Iya."
"Eh Sam!" panggil Bintang setelah hening beberapa saat di antaranya dan Sammuel. Vano dan Qia ikut menoleh bersama dengan Sammuel dan Gabby.
Pasukan nyimak!
"Paan?" sahut Sammuel singkat dan jelas.
"Lo mantan bocil bahagia nggak?" tanya Bintang lagi.
"Hah?"
"Maksud gue, lo pernah nonton sirkus atau semacamnya apa enggak?" tanya Bintang memperjelas ucapannya. Rupanya ini masih tentang impian masa kecil Bintang yang belum terwujud sampai sekarang karena phobia yang dideritanya.
"Hm, terus?" jawab Sammuel berdehem singkat.
"Berarti lo pernah liat badut dong?"
"Pernah, tiap hari malah." jawab Sammuel santai. Bintang membulatkan matanya, woah daebak!
"Hah? seriusan?!!"
"Iya." jawab Sammuel mengangguk santai. Vano, Qia dan Gabby ikut nyimak karena mengira kalau Sammuel ini juga terobsesi dengan sirkus hingga menonton pertunjukannya tiap hari.
"Setiap hari pak?" tanya Bintang memastikan sekali lagi. Sammuel sampai kesal dibuatnya
"Ck. Iya!"
"Dimana? Kok lo ga ngajak gue? Gue pengen dong sesekali uji nyali ngeliat badut. Ajak gue!!" pekik Bintang antusias.
"Serius lo mau?" tanya Sammuel. Bintang mengangguk dengan gelora semangat 45.
"Mauuuuu!!!"
"Oke."
"Kapan kita ngeliatnya pak? Nanti pulang sekolah kah?" tanya Bintang masih bersemangat. Sammuel menggeleng.
"Langsung sekarang aja."
'Jawabannya ngelantur, pasti Sam ngadi-ngadi lagi nih.' batin Vano curiga.
"Perasaan gue ga enak kak." bisik Qia pada Vano di sampingnya. Vano mengangguk setuju.
"Sama."
"DAM ADAM BURUAN KE SINI LO!!" teriak Sammuel kencang. Kepala Adam menyembul dibalik gerobak bakso mang Dadang.
Sementara Qia, Vano, Bintang dan Gabby saling pandang kemudian menatap Sammuel dengan heran penuh tanda tanya.
"Ada apaan Sam?" sahut Adam yang mendekat dengan nampan berisi bakso ditangannya. Bagas juga di sebelahnya dengan membawa nampan berisikan minuman.
"Nih si Bintang pengen ngeliat lo!" ucap Sammuel dengan watadosnya.
Qia yang pertama kali connect, ia tertawa ngakak. Sementara Gabby, Vano, dan Bintang masih ngebug tak mengerti.
"Dari kecil belum kesampean, kasian dia!" sambung Sammuel. Barulah mereka bertiga bisa nyambung!
Ternyata yang disebut badut oleh Sammuel tadi tak lain adalah Adam. Pantas saja dia bilang sering melihatnya tiap hari.
"Bwahahhaha anj!!"
"Kak Sam bisa aja ahahaha."
"Boleh juga jokes lu pak!"
"Ahahaha ngakak sampek ngik-ngik."
Disaat empat manusia itu tertawa terpingkal-pingkal oleh kelakuannya, Sammuel malah diam tak berekspresi sama sekali. Seolah ia menganggap candaannya itu biasa saja.
"Lo pada ketawa kenapa si?" tanya Adam yang tak tau apa-apa.
"Ga ada apa-apa Dam! Ga usah dengerin mereka bertiga, btw bakso gue mana?" jawab Gabby yang awalnya sok membela Adam, tapi ujungnya ketahuan niat bulusnya! Cuma demi makanan lah ia berhenti menertawakan jokes Sammuel tentang Adam tadi.
"Giliran makan aja lu gercep!" semprot Adam ngegas.
"Ga makan, kita mati bos!!" jawab Gabby tanpa beban.
Ingat selalu motto Gabby : Di manapun tempatnya dan apapun keadaannya, jokes itu nomor satu tapi makan tetap prioritas pertama.
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰