DEVANO

DEVANO
47. Roof top



"Lo nyindir Deeva pak?" tanya Bintang peka. Sammuel mengendikkan bahunya acuh.


"Tergantung siapa yang ngerasa aja si." jawab Sammuel enteng.


"Kak Sam mah gitu, gue kena mulu perasaan." gerutu Deeva yang tumben berani bicara sepanjang ini apalagi setelah Sammuel memojokkannya.


"Gue kan bicara fakta. Biar lo ngerti!" jawab Sammuel enteng.


"Ngerti apanya?" tanya Deeva polos. Qia dan Manda menepuk jidat mereka masing-masing secara bersamaan tanpa janjian. Mereka berdua sama-sama heran dengan kepolosan Deeva yang hanya terjadi saat berada di dekat Sammuel.


"Udah gede, pikir sendiri!" suruh Sammuel singkat. Deeva malah benar-benar memasang tampang berfikirnya, ia sedang mencerna habis-habisan maksud kata-kata Sammuel padanya tadi.


"Btw, temen lo yang satu kemana Dev?" tanya Gabby memecahkan keheningan Deeva di sampingnya.


"Ga tau tuh si Ratu aneh, ngilang dia." jawab Deeva apa adanya.


"Lah kok sama? Member kita juga ilang satu." celetuk Bintang.


"hah?" tanya Manda dan Deeva bersamaan. Bintang mengangguk. Qia yang pertama kali sadar.


"Kak Adam? Lah iya juga, kemana dia?" tanya Qia peka.


"Ga tau." jawab Bintang polos. Qia memutar bola matanya malas.


"Ga jelas ni anak." gerutu Qia. Bintang tertawa. Sepertinya para jagoan Ghosterion sudah semakin akrab dengan Oster's girl.


Oster girl adalah sebutan untuk empat cewek yang seringnya selalu berada di dekat keenam pentolan Ghosterion. Beberapa hari yang lalu, Adam dan Bagas yang pertama kali mencetuskan nama itu untuk keseluruhan geng Qia, Manda, Deeva dan Ratu. Dan mereka semua menyetujuinya.


"Sama Ratu kali." celetuk Bagas enteng.


"Nah iya, kan tadi dia bilang sempet telponan sama Ratu." sahut Vano membenarkan.


"Wah bahaya nih mainnya diem-diem." celetuk Bintang kompor.


"Apa kita pergokin aja mereka yuk!!" ajak Bagas semangat.


"Heh gitu banget ganggu mulu!" omel Manda.


"Ya kan takutnya nanti kelewatan beb." jawab Bagas polos.


"Kemana? Emang lo tau mereka kemana?" tanya Vano tertarik untuk menggerebek Ratu dan Adam kalau memang mereka berdua.


"Pasti roof top. Gue yakin seribu persen." jawab Bagas dan langsung di setujui oleh kawan-kawannya.


Ghosterion boy dan Oster Girl nyusul Adam dan Ratu ke roof top. Mereka memilih bolos bersama saja sampai jam pulang sekolah nanti.


...****************...


"Zal Rizal Zal!!" pekik Devan heboh. Cowok yang masih berseragam sekolah RISHS itu tampak tergesa-gesa saat memasuki sebuah ruangan khusus di dalam markas DS Boys.


Rizal yang sedang mengendurkan dasinya langsung menoleh.


"Apaan sih lu heboh amat!" semprot Rizal malas.


"Ada kiriman aneh tuh di luar. Gue curiga ini buntut dari masalah yang kemarin." ucap Devan memberitahu apa yang terjadi di luar setelah Rizal pamit masuk ruangan tadi.


Rizal membulatkan matanya kaget.


"Kiriman isi apaan?" tanya Rizal. Devan menggeleng.


"Ya ga ada yang berani buka tanpa perintah lo lah. Makanya ayo ke bawah, kita buka bareng-bareng." jawab Devan.


"Kan lo sama aja kek gue, lo bisa kali buka sendiri tadi sebelum ngasih tau gini." ucap Rizal menatap Devan malas. Ah iya, dua manusia langganan BK di RISHS ini sedang bolos sekolah.


"Ogah! Kalo isinya bom gimana? Gue ga mau mati konyol sendirian" elak Devan bergidik ngeri. Entah mengapa sosok tinggi tegap yang biasa cool dan pemberani itu kini jadi seperti seseorang yang nyali nya sangat ciut.


"Terus maksud lo, lo mau mati konyol ngajak gue gitu?" tanya Rizal mendengus malas. Devan terkekeh tengil.


"Hehe kan kita brother sehidup sejalan semati Zal, kalo mati sendiri gue ga berani. Kalo berdua sama lo, apalagi bertiga sama Raga, gue siap deh ngadep malaikat maut saat itu juga!" jawab Devan membuat Rizal memutar bola matanya malas. Tak ada habisnya ulah aneh Devan ini.


"Gue sih ogah mati sekarang. Gue belum kawin! Anak bokap cuma gue doang lagi tuh." ucap Rizal berlalu pergi.


"Mau kemana?" tanya Devan polos.


"Lo jadi ngajak buka paketnya apa enggak?" tanya Rizal balik. Devan mengangguk cepat.


"Wohoo ya jadi dong!!"


...****************...


Jreng jreng


Andai dulu kau tak pergi dari hidupku


Takkan mungkin kutemui cinta


Yang kini kumiliki.


Cinta yang menerima kekurangan


Dan merubah caraku memandang dunia


Andai dulu kupaksa kan terus bersamamu


Belum tentu kisah kita berdua


Berakhir bahagia


Kisah yang mendewasakan kita berdua


meski lewat luka.....


Jreng.


"widihhh lumayan juga ya suara lo." puji Adam bertepuk tangan setelah meletakkan gitar di pangkuan kakinya.


"Ya iya dong... Ratu agnesia gitu loh!" sahut Ratu bangga menepuk bahu kirinya dengan sombong.


"Hmm iya iya suara lo enak banget pokok nya Rat, kenapa lo ga jadi tukang parkir aja?" tanya Adam bersungguh-sungguh hingga mendekatkan dirinya ke arah Ratu.


Plak


Ratu menggeplak jidat Adam dengan kesal.


"Yee ngeledek gue lu!!" ketus Ratu bersungut-sungut.


"Ashh sakit anjim!!" omel Adam mengelus jidatnya yang panas karena geplakan Ratu bukan maen!


"Ulululuuu sakit ya?" tanya Ratu sok perhatian menarik wajah Adam dan mengelusnya lembut.


"Sakit lah masa enggak. Gilak kekuatan lu super amat!" ketus Adam.


"Ya udah sini biar gue tampol lagi gimana?" tanya Ratu julid. Tangannya yang tadi mengelus lembut kini sudah terangkat ke atas, siap menerjang jidat Adam lagi.


Adam langsung refleks menarik wajahnya menjauh.


"Hiss kasar amat!" gerutu Adam. Ratu tertawa puas.


"Sekarang aja nyengir lu! Tadi aja mewek mewek mulu." cibir Adam. Ratu auto manyun lagi.


"Sial-"


Prok prok prok


"Widihhh enak bener ye berduaan disini?" celetuk suara rese dari belakang. Ratu dan Adam menoleh bersamaan.


"Yang jelas pacaran gue sama Manda, yang sibuk ngapel malah kalian." sahut Bagas meledek.


"Atau jangan-jangan kalian udah jadian ya?" tanya Deeva antusias menyimpulkan sendiri. Ratu mendelik.


"Heh ngawur!!" semprot Ratu. Delapan cowok cewek itu pun berjalan mendekat. Qia yang paling rese langsung nimbrung duduk di tengah-tengah antara Ratu dan Adam. Adam sedikit bergeser karena menurutnya tidak baik duduk terlalu mepet dengan perempuan apalagi itu sengketa milik temannya sendiri wkwk.


"Gue ngusel ga papa yee." ucap Qia polos berkedip-kedip mata pada Ratu dan Adam secara bergantian.


Adam dan Ratu mengangguk.


"Heh Qia gimana si? Harusnya biarin aja mereka mepet berdua. Biar cepet prosesnya!!" omel Deeva.


"Ye orang merekanya ga papa." jawab Qia polos. Vano tiba-tiba menarik tangan Qia hingga empunya berdiri tegak dihadapan cowok tampan bertubuh tegap itu.


"Ganggu mulu!" ketus Vano galak. Qia mengeryit.


"Ihh Kak Vano apaan si kak? Astagaaaaa gue capek mau duduk." gerutu Qia sebal. Mereka yang awanya mau ngerecokin Ratu sama Adam malah jadi nonton perdebatan sengit antara Qia dan Vano.


"Lo mau duduk?" tanya Vano. Qia mengangguk.


"Kalo gitu ikut gue!" ucap Vano dan langsung menarik Qia pergi. Qia kali ini tak memberontak, entah kenapa pula tubuhnya seolah punya pikiran sendiri untuk mengikuti kemana Vano membawanya. Manda dan Bagas juga sudah membucin dan menjauh dari kerumunan rusuh ini.


"Widih pak bos gercep juga ya?" ucap Bintang geleng-geleng kepala sambil merangkul pundak Gabby.


"Bukan cuma Vano doang sih sebenernya." jawab Gabby. Bintang melirik Gabby di sebelahnya.


"Kok bisa? Bagas sama Manda? Kan emang udah pacaran bucin dari lama tuh." tanya Bintang tak mengerti.


"Adam udah sama Ratu, si Sam juga udah sama Deeva tuh." celetuk Gabby polos sambil melirik bergantian ke arah empat manusia yang menggerombol di satu tempat. Yang di lirik pun balik melirik Gabby dengan tatapan sinis mereka.


"Ngawur!!" ketus Ratu dan Deeva bersamaan.


"Nih ya mulut kalo ga dibungkem pake rokok ya pasti begini nih, ngasal mulu." semprot Adam malas. Gabby tertawa.


"Nih berempat udah couple an Gab! Tinggal kita doang yang ngejones nih." ucap Bintang geleng-geleng kepala.


"Bener juga." jawab Gabby ikut geleng-geleng kepala meratapi nasib.


"Apa kita berdua ngegay aja gimana?" tanya Bintang polos. Gabby langsung menepis kasar tangan Bintang di pundaknya dan menonyor kepala Bintang.


"Ngawur!! Biar jomblo, gue normal anj*ng!!" semprot Gabby bergidik ngeri. Deeva, Ratu, dan Adam tertawa ngakak sedangkan Sammuel hanya tertawa pelit. Alias ketawa tapi ga ketawa.


Semua orang bebas berekspresi, tapi itu sepertinya tidak berlaku untuk Sammuel yang lebih suka dengan ekspresi datar, senyum tipis, senyuman sinis, dan tawa iblis.


...****************...


"Nih pake!" suruh Vano menyodorkan helm putih kepada Qia. Qia mengeryit.


"Sejak kapan lo bawa helm dua? Biasanya cuma satu." tanya Qia heran. Vano menghela nafas.


'Sialan yakali gue bilang alesan gue bawa helm double buat apaan?' batin Vano memikirkan alasan jitu untuk ngeles.


"Gue tadi pagi udah feeling aja si lo bakal pulang bareng gue." jawab Vano yang jelas sekali berbohong. Qia memicingkan mata curiga.


"Feeling atau emang niat?" tanya Qia julid.


"Ya ga usah GR!" cibir Vano menonyor jidat Qia. Kali ini Qia tidak marah seperti biasanya, ia malah tertawa ngakak.


"Ahahaha ngaku aja sih kak! Lo sebenernya sengaja kan tadi bikin taruhan ngegame biar gue kalah terus mau nurut pulang sama lo? Ngaku lo sekarang. Modus huuuu!!" ledek Qia bersemangat menggoda cowok menyebalkan itu. Vano menatapnya malas.


"Ya udah terserah apa kata lo aja. Nih buruan pake! Keburu anak-anak nyampe sini entar malah berisik." suruh Vano pasrah dengan apa yang dituduhkan oleh Qia karena itu memang benar.


Vano dan Qia tadi lebih dulu turun dari roof top sekitar lima menit sebelum bel tanda pulang sekolah berbunyi, maka dari itu mereka bisa lebih dulu sampai di parkiran motor.


Vano sebenarnya memang sudah berniat untuk pulang bersama Qia, untuk itulah ia membawa helm double. malah sebenarnya tadi pagi Vano sudah hendak menjemput Qia, tapi lebih dulu bertemu dengan Rayhan saat di gerbang masuk perumahan.


Sial! Tadi pagi ia kalah cepat.


"Ya udah nih." ucap Qia sedikit memajukan kepalanya. Vano menaikkan sebelah alis.


"Ngapain kepala lo?"


"Ya pakein helmnya lah! Ga peka banget." gerutu Qia memutar bola matanya malas.


"Lah?"


"Hufttt emang nih cowok emang susah amat pekanya! Gue tuh udah kebiasaan di treat like a Queen sama Abang, Kak Rizal sama Rayhan. Jadi kalo lo mau bawa gue, ya lo harus kek mereka yang sigap makein helm buat gue nih! Gue mana pernah make helm sendiri." cerocos Qia cerewet.


"Capo kok manja." cibir Vano sambil mengenakan helm putih tadi kepada Qia.


"Beda lagi masalahnya Kuyang!!! Gue tuh pas dibonceng doang manjanya. Kalo di DS Boys ya gue mandiri lah." omel Qia tak terima dikatai manja. Ya meskipun aslinya memang semanja itu. Maklum lah, Qia sudah terbiasa dijadikan ratu oleh Raga dan Rizal sejak ia kecil.


"Ya udah gue bakal ngetreat lo like a Queen seperti yang lo bilang tadi." jawab Vano enteng. Qia terperanggah kaget dengan respond Vano. Padahal tadi niatnya cuma asal bicara karena bercanda.


"Hah?"


Drtt drtt


"Tuh Hp bunyi!!" ucap Vano menunjuk saku atas seragam Qia menggunakan lirikan mata. Qia pun merogoh sakunya dan mengeluarkan benda pipih bernama iPhone itu.


📞Abang Ragacuu is calling.....


Qia : Halo bang? Kenapa?


Raga : Kamu dimana? Udah pulang apa belum?


Qia : Ini baru mau pulang. Kenapa?


Raga : Pulang sama siapa? Dijemput sopir?


Qia : Enggak, ini diajak pulang bareng kak Vano. Abang kenapa sih kek panik gitu?


Raga : Oh sama Vano, ya udah hati-hati!!


Qia : Iya abaaaaaang.


Raga : Ya udah gih sana baik-baik ya.


Qia : Hm jadi cuma mau bilang itu doang?


Raga : Iya.


Qia : Yeee kirain ada apa. Ya udah Qia mo pulang dulu ya bye!


Raga : Oke


Tut tut...


"Udah wawancaranya?" tanya Vano setelah Qia memasukkan Hp nya kembali ke saku seragam. Qia mengangguk.


"Udah."


"Ya ud-"


Drtt drtt


"Malah gantian sekarang Hp lo tuh!" ucap Qia menunjuk Hp Vano di saku celana. Vano merogohnya, ternyata ada beberapa pesan dari Raga.


📩Raga


Lo jagain adek gue!


Jangan langsung bawa pulang, ajak kemana dulu biar dia gaada waktu ke markas DS Boys.


📤Devano


Lah emang kenapa?


📩Raga


Keknya lagi bentrok sama BB


Gua ga mau Qia ikutan berantem


📤Devano


Oke kalo gitu adek lo aman sama gue.


📩Raga


Thx Van.


Read.


"Kita ke mall dulu." ucap Vano setelahnya.


"Lah ngapain?" tanya Qia heran.


"Banyak nanya mulu! Tinggal ikut aja susah banget." omel Vano. Qia memutar bola matanya malas.


"Ya udah deh iya terserah apa kata kakak Devano aja!!" dengus Qia pasrah.


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰