
"Ganteng." refleks Qia mengucapkan kata berbau pujian itu. Qia adalah cewek normal yang bisa menilai mana yang benar-benar ganteng dan mana yang ganteng nya biasa saja. Apalagi jika di lihat dari bawah. Dagu tegas, alis tebal, bibir lumayan tipis berisi, dan hidung mancung nya menambah tinggi kadar ketampanan nya.
Perlu kalian ketahui, Qia adalah tipe orang yang sulit memuji seorainng laki-laki. Jadi bisa di simpulkan kalau ia memuji Vano, berarti memang ketampanan cowok itu bisa di perhitungkan.
Vano tersenyum tipis mendengar lirihan penuh puji yang pasti saja di tujukan kepada nya.
"Iya, gue tau gue ganteng." celetuk Vano membuat senyuman halu di wajah cantik Qia langsung luntur. Ia tersadar dari lamunan yang menjurus ke halu hanya karena terbius ketampanan Vano.
"Dih GR!!" sahut Qia ketus. Vano tersenyum kecut.
"Cih udah ketahuan juga masih aja ngeles! Dasar mak emak kontrakan!" ketus Vano malas. bertepatan dengan itu pula, mereka telah sampai di pintu ruangan UKS bernuansa full putih susu cerah itu. Qia memilih diam saja dari pada ia akan makin terpojok nanti.
"Diem lu!" suruh Vano saat ia merasa Qia bergerak-gerak dalam gendongan nya. Bukan apa-apa, tapi Vano hanya ingin menjaga diri mereka dengan membatasi gerakan Qia yang bisa saja berpotensi buruk pada si Vano 'junior'.
"Kenapa?" tanya Qia takut sendiri melihat tampang dingin Vano. Vano menggeleng lalu menurunkan Qia dari gendongan nya dan meletakan tubuh nya di atas bangkar UKS.
"Masih sakit?" tanya Vano setelah Qia duduk. Qia mengangguk.
"Ya kalo nggak sakit, udah gue tendang elu yang main gendong kek tadi!!" sungut Qia sewot. Vano mengerutkan kening.
"Di tolongin malah ngamuk! Emang cewek aneh." gerutu Vano sambil berbalik dan berjalan menjauh dari Qia. Qia yang mengira kalau Vano akan meninggalkannya sendirian di ruangan serba putih yang sepi ini pun jadi ngeri sendiri.
"Eh eh mau kemana kak?!!" pekik Qia sedikit berteriak. Vano pun kembali ke arah nya dengan menenteng sebuah kursi merah. Ternyata Vano memang tak berniat meninggalkan Qia, ia hanya ingin mengambil sebuah kursi untuk dirinya duduk.
"Ga usah jerit-jerit! Gue enggak tuli." omel Vano sambil mendudukkan diri di kursi yang tadi ia ambil, tepat di bawah Qia duduk. Qia nyengir.
"Hehe ya kan kirain lo bakal ninggalin gue sendirian kak, gue jadi ngeri." ucap Qia membela diri.
"Bilang aja lo takut gue tinggalin ye kan?" sahut Vano santai. Vano tiba-tiba meraih kaki Qia. Qia refleks menabok tangan Vano dengan satu tangan lagi memegangi rok nya yang lumayan pendek.
Plak
"Ah ah aissshh lo apaan si?!!" sungut Vano kesal mengelus bekas tabokan Qia yang lumayan panas.
"Heh elo yang ngapain kak?! Geli tau!!" omel Qia balik.
"Gue mau ngurut kaki lo! Punya tangan nyelekit amat!!" semprot Vano kesal. Ia lalu mengambil kembali kaki Qia, sementara Qia menggaruk belakang telinga nya yang tak gatal karena salting.
"Gue ga bakal macem-macem! Gue tau batesan gue." ucap Vano sambil mengurut perlahan kaki Qia. Cowok tampan berwajah dingin dan angkuh itu kini sedang larut fokus dalam prosesi urut mengurut di kaki jenjang Qia.
'Care juga nih anak, meskipun galak sama nyebelinnya amit-amit!!' batin Qia tersenyum tipis. Sepertinya rasa kagum yang selama ini terpendam yang terbungkus rapi dengan semua sifat judes dan galak itu kini kian memuncak. Tak bisa di pungkiri kalau Vano memang baik meskipun tampang nya sangat menyebalkan.
"AAAAA auuuuhhh sakit heh!!" pekik Qia berjingkat. Vano sedikit mengendurkan pijatan nya.
"Namanya juga kesleo! Ya emang sakit kalo di urut." celetuk Vano masih melanjutkan urutan tangan nya dengan santai. Seolah ia menuli tak memperdulikan jeritan berisik dari Qia.
"Ya udah kalo gitu ga usah di urut! Gue ga betah." sahut Qia berusaha menepis tangan kekar Vano dari kaki nya. Tapi Vano tak menggubrisnya dan masih melanjutkan aktivitas nya.
"Ihhh kak Vano denger ga si? Ga usah di urut udah ga papa. Gue ga betah tau sakit gini arrghhh assshhh ah!!" pekik Qia lagi. Vano mendongak dengan tatapan datar.
"Bisa diem ga? Bentar lagi selesai kok!" ucap Vano sebal.
"Gue aduin abang gue lu! Udahan ih ga betah sakit gue ga papa kok!!" cicit Qia makin bawel.
"Diem bentar ga usah bawel bisa ga? Kan lo sendiri yg pernah bilang kalau luka tuh diobatin, bukan nya bilang gapapa!" omel Vano yang teringat ucapan Qia beberapa hari yang lalu saat mengobati luka di kening nya.
"Tapi ini sakit beneran kak!" ucap Qia memelas.
"Tahan dikit! Capo geng motor kok lemah." sindir Vano melirik tipis.
"Tau dari mana?" tanya Qia agak panik. Pasalnya selama ini ia selalu memakai masker dan kaca mata hitam tiap ada acara geng motor yang melibatkan geng motor mereka bertemu, tapi bagaimana Vano bisa tau?
"Gue tau semuanya." jawab Vano berbohong padahal sebenarnya ia juga baru tau tadi. Qia memicingkan mata nya curiga.
"Aroma kebohongan yang sangat pekat ahh ssss." celetuk Qia tak percaya. Sesekali cewek itu masih meringis kesakitan tiap pijatan Vano sampai di titik pusat kesleo nya. Vano tertawa kecil.
"Dari gantungan kunci lo!" jawab Vano yang akhirnya jujur. Qia melotot teringat kunci mobil nya.
"Heh mana kunci gue?! Gara-gara kunci sialan itu gue kena hukum, kesleo pula." gerutu Qia menegadahkan tangan nya di depan Vano.
"Apaan nih?" tanya Vano polos.
"Ya kunci gue mana? Gue mau balik." jawab Qia. Vano menggeleng.
"Nggak. Lo pulang sama gue!" sahut Vano enteng. Qia mengeryit heran.
"Heh emang gue udah bilang mau?" tanya Qia lagi. Vano mengendikkan bahu nya acuh.
"Gue ga minta persetujuan, gue cuma mau bilang doang! Mau ga mau, gue tetep bakal nganter lo pulang." jawab Vano tegas tak mau di bantah lagi. Qia mendengus pasrah.
'Untung aja cakep lu! Kalo bukan lo yang nolongin gue, udah gue headshoot nih.' gerutu Qia kesal.
"Wah Sar, tuh anak baru emang ga punya takut deh." bisik Dewi kompor. Wulan mengangguk setuju.
"Iya sih ga ada tunduk nya samsek." sahut Dewi.
"Arghh sialan tuh cewek!! Awas aja gue bakal bikin Vano jijik sama dia." ucap Sarah mengepalkan tangan nya geram.
...****************...
"Ya gitu." celetuk Adam ngasal. Ratu memutar bola mata nya malas.
"Udah aman. Kan udah dibawa ke UKS sama Vano." sahut Sammuel. Seketika pula seluruh kegiatan teman-teman nya berhenti, entah itu sedang makan, minum, atau berbincang. Semuanya langsung berhenti seketika saat Sammuel menjawab pertanyaan Ratu tadi.
"Sam tumben lo mau ngomong?" tanya Adam heran. Sementara Bintang yang duduk di sebelah Sammuel langsung gercep menempelkan punggung tangan nya ke jidat Sammuel.
"Lo nggak sakit kan Pak?" tanya Bintang polos. Sammuel memutar bola mata nya malas.
"Salah lagi gue." gerutu Sammuel sebal.
"Kayaknya nanti bakalan turun hujan deh, biasanya tiap Sammuel mau buka mulut. Itu artinya langit juga mau turunin hujan." celetuk Adam sok iye.
"Bisa ngomong juga lu Sam." sahut Bagas.
"Gue cuma males, bukannya bisu anj*ng!" ketus Sammuel kesal. Mereka tertawa melihat wajah yang biasa nya datar itu kini jadi super kesal penuh ekspresi. Kecuali Deeva! Ya, cewek itu malah menunjukkan ekspresi terpana nya. Entah mengapa segala sesuatu tentang Sammuel memang selalu menarik perhatiannya.
"Kak Sammuel lucu imut ya kalo lagi marah-marah?" tanya Deeva polos. Ratu dan Manda menoleh bersamaan dan sama-sama menepuk jidat masing-masing.
Plak
'Duh polos banget temen gue!' batin Ratu menggerutu malu. Padahal bukan dia yang berulah, tapi dia juga yang ikut malu.
'Ini Deeva jujur apa b*go si?' batin Manda heran.
"Cielah widiiihh mbak nya jujur amat mbak!!" sindir Gabby menyenggol lengan Saudara ipar nya. Gabby memang duduk di sebelah Deeva dan Ratu juga Adam sedangkan Sammuel, Bintang, Bagas dan juga Manda ada di bangku seberang.
"Sam udah kode keras tuh! Lo gerak lambat banget anying!!" gerutu Adam gemas ingin segera menggerakan kaki Sammuel yang masih saja diam di tempat padahal lampu hijau sudah di depan mata.
"Biasa aja." sahut Sammuel mengendikkan bahu nya acuh. Barulah saat itu Deeva tersadar dan menatap Sammuel dengan intens.
"Kok?" tanya Deeva tak mengerti. Kubu cowok dan kubu cewek sama-sama diam menyimak saja. Mereka ingin tau reaksi Sammuel si batu kutub saat berdebat dengan Deeva si cewek friendly yang korban nya bertebaran dimana-mana.
'Ini cowok yang gue taksir emang asli batu berjalan atau apaan?' batin Deeva berbisik.
"Lo bilang gitu ke semua orang juga, itu namanya biasa aja kan?" tanya Sammuel balik. Deeva menggaruk kepala nya yang tak gatal.
"Kena lagi gue." lirih Deeva dengan pandangan lurus pada Sammuel. Sammuel juga menatap Deeva balik, sebuah senyum simpul terbentuk di bibir nya.
"Not bad, but not good!" ucap Sammuel lagi. Deeva cengoh. Yang lain sama-sama saling pandang, perdebatan macam apa ini? Kenapa sulit sekali di tebak?
"Hah?" tanya Deeva lemot. Sammuel hendak menjawab tapi keburu Hp nya berdering.
Drtt drtt
Sammuel tanpa aba-aba atau pamit, langsung berdiri agak menjauh dari meja rusuh itu untuk mengangkat telepon nya.
"Guys kita ga jengukin Qia?" tanya Manda yang hendak berdiri. Ia masih khawatir dan tak bisa tenang begitu saja sebelum bisa melihat keadaan Qia secara langsung. Bagas mencekal lengan putih Manda.
"Haiss jangan ganggu mereka fall in love lah beb... Biarin aja dulu, nanti kita nyusul mereka kalau udah bel masuk." usul Bagas mencegah pacar nya. Manda menghembuskan nafas nya pasrah lalu beralih menatap Ratu dan Deeva.
"Gimana girls?"
"Nanti ga papa sih, tapi gue kepo." jawab Ratu menaikkan sebelah alis. Deeva manggut-manggut.
"Gue juga sama Rat." sahut Deeva.
"Ga usah ke UKS!" ucap Sammuel saat ia kembali duduk di sebelah Bintang. Semua pandangan lagi-lagi mengarah padanya.
"Kenapa?"
"Qia udah di bawa pulang sama Vano." jawab Sammuel apa ada nya.
"Jadi yang nelpon tadi Vano?" tanya Bagas. Sammuel mengangguk.
"Lah terus motor nya gimana? Ga mungkin kan motor nya Vano di iket di atas mobil Qia?" tanya Adam dengan bodoh nya. Asli pertanyaan yang sangat bodoh!
"Nyuruh gue yang urus." jawab Sammuel lagi.
"Emang lo bisa bawa motor sekaligus dua Pak? Panjang juga kaki lo?" tanya Adam lagi. Ratu yang berada di sebelah nya sudah tak tahan lagi. Ia menonyor kesal kepala Adam.
"Lo bego apa lemot sih kak? Mana ada kek gitu!!" semprot Ratu kesal. Adam mengelus bekas tonyoran Ratu.
"Kasat banget si lo?!" ketus Adam sebal.
"Nanti gue suruh Putra aja biar ambil, sekalian bawa ke markas bareng kita." jawab Sammuel. yang lain mengangguk mengerti.
Drtt drtt
📞Andimas is calling.....
Adam mengintip layar display iPhone Ratu yang menyala.
"Cih 2021 masih aja telponan sama mantan." sindir Adam remeh. Ratu menatap nya tajam.
"Sembarangan!!"
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰