DEVANO

DEVANO
58. Bintang berulah lagi



"Loh Raga?!" pekik Vano kaget saat bertemu dengan teman sepermotorannya itu. Cowok itu memakai kemeja putih dengan jas hitam.


Yang dipanggil menoleh.


"Hmm iya Van."


"Ngapain lo di sini? Bukannya lo baru pulang ya?" tanya Vano heran.


"Kenapa emang? Kan udah janjian meeting." jawab Raga santai. Vano dan asisten pribadinya kemudian dipersilahkan duduk oleh Raga begitu juga dengan asisten Raga. Keempat lelaki berjas rapi itu duduk memutari meja meeting di ruangan CEO Rollex Group.


"Om Antoni mana?" tanya Vano masih terheran. Ekspetasinya adalah ia meeting dengan calon mertua eh- canda mertua wkwk.


"Di NY, gua yang ngewakilin Rollex Group. Kenapa lu? Ga terima hah?" tanya Raga menatap Vano datar. Vano balas menatapnya tak kalah datar. Dua asisten pribadi mereka pun tertekan.


Asisten Vano dan Raga be like : Gini amat punya bos triplek batu. Raga mengkode asistennya agar mengajak asisten Vano keluar ruangan, karena Raga ingin membicarakan beberapa hal tentang Qia bersama Vano.


"Enggak gitu Ga.... Tadi Qia baru aja pulang, katanya dia buru-buru mau nemuin lo. Eh ternyata yang dia cari ada di sini." ucap Vano memberitau. Satu alis Raga terangkay heran.


"Kok lo tau Qia baru pulang?" tanya Raga memicingkan mata kepo.


'Mampus lo Van!' batin Vano gelagapan karena kebodohannya hingga bisa keceplosan seperti tadi.


"Adek gue habis sama lo?" tanya Raga lagi.


"Ng-enggak sih, cuma tadi sempet telfonan bentar sebelum kesini. Dia otw pulang dari rumah Deeva." jawab Vano ngeles. Bukan ngeles Van! Tapi bohong. Vano memutar pandangannya ke beberapa sudut ruangan untuk menetralisir detak jantungnya yang hampir keceplosan tadi.


"Oh gitu, semalem kalian dinner beneran?" tanya Raga lagi. Vano kembali menoleh pada cowok yang berusia satu tahun diatasnya itu.


"Eh hah?"


"Mama gue yang bilang."


"Oh, iya. Semalem gue sempet dinner sama Qia sebelum tau ayahnya Deeva meninggal."


"Berdua doang?" tanya Raga kesekian kali. Vano mengangguk dengan sebal.


"Ya iya lah, yakali sekomplek!"


Raga manggut-manggut.


"Tumben adek gue mau di ajak dinner berduaan sama cowok selain gue sama Rizal." lirih Raga bermonolog, tapi Vano mendengarnya perlahan.


"Emang sebelumnya ga pernah?" tanya Vano menaikkan sebelah alis. Raga menggeleng.


"Dia ga pernah mau berduaan sama sembarang cowok, katanya biar jaga-jaga aja dari bisikan setan. Sepercaya itu dia sama tampang modelan triplek kek elu haha." jawab Raga meledek si triplek. Vano berdecak.


"Yee sialan ga punya kaca lu Ga!" sembur Vano kesal.


"Mmm btw, Rayhan itu......" tanya Vano menggantung. Raga sudah tau maksud pertanyaan Vano sebelum ia menyelesaikan katanya sekalipun.


"Sering sih Rayhan ngajak jalan berduaan, tapi Qianya selalu nolak. Tapi makin kesini karena ga enak terus-terusan nolak, akhirnya dia bilang mau tapi dari jauh dia minta di awasin sama Rizal atau enggak ya Devan kalau gue lagi ga ada." jawab Raga.


Vano manggut-manggut.


'Dan gue udah dua kali bisa ngajak dia dinner berduaan, ya meskipun pake pemaksaan sih haha. Mana semalem tidur di kamar gue juga. Ck sialan! Gua menang banyak amat.' batin Vano tersenyum tipis. Sorot matanya menunjukan rasa puas karena bisa mendapatkan waktu berharga Qia selama beberapa kali.


Sudut bibir Raga tertarik, ia tau kalau partner perdamaiannya ini menyukai adiknya. Sangat tau dan sangat jelas!


"Biar gue tebak, lo naksir kan sama Qia?"


Jleb.


"Eh hah?"


"Ck ck. Gua kira patung es kayak lu ga bisa jatuh cinta sam cewek bawel, apalagi yang model ga bisa diem kayak Qia." cibir Raga geleng-geleng.


"Ya justru karena bawelnya itu eh-" sahut Vano keceplosan lagi dan langsung menutup mulutnya rapat dengan telapak tangan. Raga tertawa receh.


"Ahahaha susah amat tinggal ngakuin doang! Gelut aja digampangin, masa iya ngakuin perasaan sendiri disusahin." ledek Raga menye. Vano berdehem beberapa kali untuk menetralkan keadaan.


"Beda masalah brother!! Dahlah langsung mulai aja meetingnya." elak Vano mengalihkan. Raga masih saja tertawa.


"Siap laksanakan bapak kandidat bucin haha."


"Sialan!"


...****************...


"Qia ga masuk Rat?" tanya Manda celingukan. Bel sudah berbunyi lebih dari sepuluh menit, awalnya mereka mengira kalau Qia telat. Tapi nyatanya sampai sekarang ia belum muncul. Rasa bosan Manda muncul karena hari ini jamkos pagi tapi tim ghibah mereka hanya ada dirinya dan Ratu saja.


"Kayaknya enggak deh Man, kondisi tuh anak kan sama kek Deeva semalam." jawab Ratu manggut-manggut.


Manda melotot.


"Maksud lo bokapnya Qia juga meninggal? Kok lo ga bilang sih? Terus kita takziah kapan dong?" pekik Manda kaget bercampur panik. Ratu melotot, bukan itu juga maksudnya.


"Husssstt!! Bukan itu maksud gue! Om Antoni masih sehat walafiat woee!!" pekik Ratu mendengus malas.


"Ya terus apanya yang mati?"


"Hati batunya Qia. Bukan bapaknya Mandutttt!!" jawab Ratu mendengus sebal. Manda 3G come back! Otaknya ngebug parah pagi ini.


"Hah? A-apanya si?"


"Semalem lo ga nyadar apa? Kak Vano sama Qia nempel terus woy! Apalagi lo tau sendiri kan kak Vano jadiin foto Qia insta story tuh." ucap Ratu membuat Manda langsung connect seketika.


"Lah iya juga. Sampek sekarang juga masih saling post di snap instagram!! Mereka udah jadian ya?" tanya Manda kepo. Ratu mengendikkan bahunya.


"Ga tau, semoga aja segera haha."


"Aamiin paling serius buat Qia sama kak Vano!! Btw Rat, bosen nih berdua mulu di kelas. Keluar yuk nyari udara yuk?" ajak Manda menaik turunkan alis. Ratu memutar bola matanya malas.


"Jangan bilang mau ngapel lu? Sekarang kan 12 IPA 2 ada jam olahraga sama pak Munir." tebak Ratu suudzon. Manda menggeleng.


"Ayang Bagas telat kayaknya, jam 7 tadi baru bilang otw bareng yang lain. Gue seriusan nih pengen jalan-jalan sama elu Ratuuuuuu ngelilingin sekolahan kek atau ngapain gitu yang penting gue ga bosen." rengek Manda memelas.


'Kodam juga berarti telat dong? Eh husss ngaapin juga gue pikirin buaya darat itu dih.' batin Ratu bergidik sendiri. Manda mengeryit.


"Ngapa lu?"


"Nggak papa, ayok jalan ke UKS. Ngantuk mweheeee."


"Gaskeun!!"


...****************...


"Habis ini lo ikut gue pulang ke rumah gue Van!" ucap Raga sambil masih membolak-balikan lembaran berkas. Vano mendongak dengan satu alis terangkat.


"Ngapain?"


"Ada flashdisk yang gue kelupaan bawa tadi, lo nanti sekalian ngambil ga papa kan? Soalnya habis dari sini, gue mau langsung pulang."


"Dih tumben lo gugup pekara waktu Ga?" tanya Vano heran. Raga mengutarakan pandangannya ke arah Vano.


"Kan lo sendiri yang bilang kalo Qia nyariin gue?" tanya Raga balik. Vano mengangguk agak ragu.


"Ya terus apa hubungannya sama flashdisk?"


"Habis meeting ini gua mau pulang nemuin adek kesayangan gue. Dan gue mau ngajak dia jalan-jalan, jadi gue ga bakal balik ke kantor lagi. Ngerti ga sih lu?" cerocos Raga panjang lebar. Vano ber-oh ria.


"Oh, oke."


'Yes! Ketemu Qia lagi.' seru Vano heboh dalam hatinya yang kembali merasakan jedag-jedug lagi. Padahal dari luar, Vano tampak sok cool agar Raga tak meledeknya lagi.


...****************...


"Asyik bakal ketemu bu Yuyun!!" seru Bintang kegirangan karena gerbang sekolah sudah di tutup. Bahkan pak satpam tak ada di tempat, mungkin sedang berkeliling ke pagar belakang. Takut kalau ada anak yang lompat lewat situ.


"Lah malah kesenengan si bocil." ucap Bagas heran.


"Dikasih tongseng aspal sama kecap." jawab Bintang ngawur bin ngelantur.


"Emang cuma Bintang doang yang paling doyan telat minggu-minggu terakhir ini, gegara guru BK baru tuh." ucap Adam lagi. Bintang menjentikkan jarinya setuju, ia melepas helmnya setelah itu.


Keempat cowok tampan dengan jajaran motor sport cakepnya itu berhenti tepat di tengah-tengah gerbang hitam tinggi menjulang bertuliskan SMA Airlangga dengan santai. Seperti biasa, mereka akan menunggu diam di sana selama sepuluh menit. Kalau nanti dalam waktu itu, gerbangnya di buka ya mereka masuk. Kalau enggak dibukain ya mereka pulang ke markas Ghosterion. Biasalah!


"Bu Yuyun kan cakep woi! Masih muda lagi tuh, baru 22 tahun. Lo ga minat Dam? Biasanya lu suka barang mulus." cerocos Bintang sambil mengacak-ngacak rambut hitam lurusnya agar makin berantakan dan mengembang.


Adam menggeleng sambil mengibaskan tangan.


"Ga dulu deh, mager!!"


"Ya tapi kan dia guru BK woeee!!! Tukang skors, lu ga takut apa? Point telat lu paling banyak di antara kita semua lol!" sembur Bagas geleng-geleng tak bisa memahami cara berpikir seorang Bintang.


"Lah itu urusan belakangan Gas, yang penting dia sedap dipandang aja dulu." jawab Bintang enteng tanpa beban.


"Real goblok!" sembur Sammuel singkat, padat, jahat dan juga bangs*t.


"Ga papa deh gue goblok, asal dapetnya spek bidadari kek bu Yuyun mmmmmmhh." sahut Bintang tersenyum-senyum sendiri. Adam dan Bintang yang posisi parkirnya di samping kanan kiri Bintang pun bergidik ngeri. Sementara Sammuel hanya meliriknya dengan malas. Ngomong sama Bintang tuh ibarat ngomong sama Adam, kalo udah terlanjur ngawur udah ga bakal ada habisnya.


"Dih bocil seleranya tante-tante dih." cicit Adam ngeri.


"No father bosku!! Its okay. Im fine!" sahut Bintang mengacungkan jempol. Ketiga cowok itu menatap bersamaan ke arah Bintang.


"Hah? Apaan no father?" tanya Adam cengoh.


"Maksudnya enggak bapak? Yaemang lah! Bu yuyun kan perempuan. Lu gimana si?" sahut Bagas ikutan ngebug. Sammuel memilih diam dan nyimak, feelingnya mengatakan kalau Bintang sedang berada dalam mode ngawurnya yang pasti sangat sesat.


Bintang berdecak. Ini teman-temannya yang bego atau ia yang terlalu pintar sih?


"Bukan gitu goblok! Lu pada jadi senior tapi bego banget. No father itu artinya tidak papa!!" semprot Bintang garang. Adam, Bagas, dan Sammuel sampai melongo meratapi kebodohan haqiqi ini.


Jleb.


Bagas menginjak kaki Bintang yang salah satunya berada di sebelah motor. Ya itung-itung Bagas sedang menggantikan tugas andalan Gabby ketika Bintang sedang ngelantur aneh.


"Auuuu ******!!" umpat Bintang kelejotan di atas jok motornya. Bagas memutar bola matanya malas.


"Enggak gitu konsepnya mister!!"


"Mister Star makin jago aja bahasa inggris ya? Hehe besok-besok ga usah dipake lagi, takut temennya pada pusing tujuh keliling!!" ucap Adam dengan tersenyum tapi tiap inci katanya mencerminkan kebalikan dari aslinya. Ya emang bukan Adam namanya kalau ga suka ngeledek temennya.


"Udah gue duga." ucap Sammuel malas.


"Kalian lagi kalian lagi!! Ini lagi Bintang, bosan saya ketemu kamu terus!" celetuk suara berat dari balik pintu gerbang tempat mereka berceloteh ria sejak tadi. Satpam!


"Saya juga bosan kok pak ketemu bapak terus tiap hari." jawab Bintang polos.


"Bukain pak! Panas nih." ucap Adam sok kepanasan. Padahal salah sendiri ia tak mau melepas helmnya sejak tadi. Padahal Bagas, Sammuel dan Bintang sudah melepaskan helm masing-masing.


"Buka aja itu helm kamu!" suruh pak Satpam.


"Ya nanti sekalian kalo udah parkir motor!"


"Ini mau dibukain apa enggak pak? Kalo enggak, gue mau pulang." tanya Sammuel langsung to the point.


"Ya dibuka lah! Hukuman dari pak Bambang sudah menunggu kalian sejak tadi." jawab pak Satpam membukakan pintu gerbang. Keempat motor itu melaju memasuki area parkiran dengan diikuti oleh satpam di belakang mereka.


Keempatnya parkir di tempat langganan mereka, parkiran yang paling strategis dan dekat dengan gerbang. Ini dia nih tipe murid yang agak gesrek, berangkatnya suka telat tapi maunya pulang paling cepet di awal.


"Pak panggilin bu Yuyun aja ya pak? Jangan pak Bambang dong." pinta Bintang setelah memarkirkan motornya. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam masing-masing saku celananya. Satpam sudah berhadapan langsung dengan Bintang, sementara tiga Oster lainnya masih duduk di atas motor. Ada yang sibuk mau nyopot helm, ada yang menata rambut, ada pula yang malah mengacak rambutnya.


"Lah si bocil malah request Dam." celetuk Bagas sambil merapikan anak rambutnya yang bandel.


"Dahlah serah bintang aja, mau Yuyun atau Bambang juga tetep lari-lari nanti." jawab Adam santai sambil melepas helm hitamnya.


"Pake pak sama bu kali Dam, main sebut nama aja. Lu pikir mereka anak lu kali ah." protes Bagas mendengus malas. Adam nyengir receh.


"Gue kan inovatif, harus beda dari yang lain."


"Berbeda itu indah." celetuk Sammuel. Adam yang mengira kalau Sammuel ada di pihaknya pun tersenyum penuh kemenangan. Sombong amat lu! Hidup lagi lu.


"Tuh bapak algojo kita aja tau." jawab Adam bangga. Bagas berdecih malas.


"Tapi juga goblok!" sambung Sammuel sarkas. Senyum lebar Adam seketika runtuh seperti sebuah kaca bening yang dihantam batu keras.


"Pffftt makan tuh apa kata Sam!!" ledek Bagas tertawa puas melihat kegeeran Adam yang dibayar tunai oleh karma.


"Ya ilah Sam Sam!! Sekali aja ga pernah mau bikin gue seneng lu." ucap Adam dramatis.


"Bodoamat!"


Oke back to Bintang.


"Bu Yuyun ada materi di kelas sepuluh. Hari ini jadwalnya pak Bambang. Beliau sudah berada di lapangan utama bersama anak-anak telat yang lain. Kalian sana cepat nyusul!!" suruh pak Bambang. Bintang berdecak kecewa.


"Yah males gue kalo gini."


Melihat Bintang yang melas lantas membuat Bagas berjalan mendekati Bintang dansalah satu tangannya terulur untuk menepuk-nepuk pundak Bintang.


"Sabar ya Tang! Namanya juga rejeki anak kurang sholeh!!"


"Suek lu Gas!"


"HEH KENAPA MASIH RIBUT DI SITU?!! AYO JALAN KE LAPANGAN DAN JALANI HUKUMAN KALIAN." teriak suara keras dan kejam. Siapa lagi kalau bukan Bambang.


"Iya pak iya. Sabar dikit kenapa si!" gerutu Bagas.


"Ck. Rugi gua seneng udah telat, bukannya ketemu bu cantik. Ini malah ketemu algojo benteng takeshi. Apes banget hari ini!!" gerutu Bintang bermonolog kesal. Bagas menahan tawa karena mendengar umpatan kesal Bintang.


"Baru juga dikasih sarapan enak sama Qia, udah di suruh olahraga aja. Ah bakal alamat kelaperan lagi nih perut gue." keluh Adam berdrama.


"Ah ngomel mulu lu kek emak-emak!" sembur Sammuel pusing. Ia berdiri dari motornya dan berdiri.


"Masih bisa berisik kalian ya!!" omel pak Bambangagi.


"Iya pak iya masyaallah ga sabaran amat sih!"


"Orang sabar rejekinya banyak pak, jangan marah mulu dong!!" tutur Adam menggerutu sambil meletakan helm di bagian depan motornya kemudian menyusul Sam di sebelahnya.


"Saya ini guru kamu ya, jangan menggurui saya!" omel pak Bambang lagi dan lagi tanpa bosan.


"Dih dikasih tau kok ngegas." sahut Adam mengerutkan kening.


"Tau tuh nyolot mulu." sembur Bagas.


"MBANG BAMBANG!!" sembur Bintang refleks karena saking kesalnya ia gagal bertemu bu Yuyun. Bukan hanya si pemilik nama, tapi Bagas, Sammuel, Adam dan Satpam juga sampai melotot kaget karena keberanian Bintang ini.


Ralat! Ini sebenarnya dia memang berani atau terlalu bodoh sih?


"BINTAAAAAAANGGGG!!!" pekik pak Bambang garang dengan kumis tebal yang naik turun menahan emosi. Bintang mendongak santai.


"Apaan? Lari sepuluh putaran kan? Udah biasa pak. Bye!!" pungkas Bintang langsung pergi begitu saja tanpa mengajak tiga kawannya yang lain. Bintang udah setress berat karena gagal bertemu dengan guru idola.


"Dih si bocil makin ngelunjak dia, mentang-mentang udah kebiasaan telat." ucap Bagas geleng-geleng.


"Adek gue tuh haha." sahut Adam.


"Pantesan ga waras, ternyata sodaranya Adam toh." celetuk Sammuel. Seperti biasa, simple tapi selalu menohok tajam!


"Ah bapak Sam, kalo ngomong pedes tapi suka bener awwww." cicit Bagas kemudian bertos-ria dengan Sammuel. Adam memutar bola matanya malas.


"Bocah prik!"


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰