DEVANO

DEVANO
75. 2 hati 1 gengsi



"Mamp*s gue."


Sebenarnya Vano juga sama terkejutnya, tapi ia tetap bisa stay cool.


"Ngapain main gelap-gelapan sendirian? Habis ketemu siapa lo? Rayhan?" cecar Raga menghujani adiknya dengan rentetan pertanyaan.


Glek


'mamp*s gue mamp*s.'


"Mmm tadi-"


"Enggak kok Ga, dia tadi habis dari toilet. Gue nemuin dia di toilet pom sana tuh!" tunjuk Vano ke ujung gang. Semua orang, Raga, Rizal, dan Adam and the geng menoleh bersamaan. Memang ada sebuah pom bensin disana.


Qia adalah yang terakhir menoleh ke arah yang ditunjuk Vano, awalnya ia mengira kalau Vano hanya asal bicara. Tapi ternyata memang benar, ada sebuah pom berukuran sedang diujung sana.


'Oh jadi ini maksudnya kak Vano nyeret gue ke sini, encer juga otaknya.' puji Qia dalam hati karena ia yakin kalau Vano tau ia memujinya, maka kepala Vano akan lebih besar dari pada badannya.


"Oh dari toilet doang."


"Eh btw Qia tadi boncengan sama lo?" tanya Vano mengalihkan perhatian Raga agar Qia terlepas dari penghakiman ini.


"Iya. Kenapa?" tanya Raga balik.


"Biar dia pulang sama gue aja. Boleh?"


"Nggak boleh!"


"Eh boleh deh. Kebetulan juga gue mau ke markas dulu sama Rizal." ralat Raga buru-buru.


Vano mengangguk.


"Oke, gue bawa adik lo ya."


"Hm."


"Dih dih? Apa-apaan nih woy. Gue belum bilang mau kali!! Main bawa-bawaan aja lu berdua." omel Qia protes.


"Yang penting aman sampe rumah dek." jawab Raga santai. Qia menggerutu sebal.


"Bagian dari taruhan yang lo buat sendiri." ucap Vano santai.


"Hah?"


"Antar jemputnya dimulai dari sekarang." sambung Vano singkat.


"Lah kan? Emang menang sia-"


"Ini lagi ngomongin taruhan apaan? Siapa yang taruhan?" potong Raga mengeryit heran.


"Gue sama Qia, kalo gue kalah gue jadi asisten satpam sekolah Ga." jawab Vano cepat.


"Terus kalo gue yang kalah?"


"Kalo lo kalah berarti Qia juga kalah, Qia harus mau pulang pergi sekolah bareng gue. Lo oke kan?"


"Mmm oke oke aja. pertama karena gue percaya lo, kedua karena Qia harus bertanggung jawab atas ucapannya sendiri." jawab Raga mengangguk. Toh ini cuma Vano, bukan Rayhan. Begitulah kira-kira pertimbangan dari Raga.


"Gara-gara abang nih!! Kenapa harus kalah disaat seperti ini sih hah? Sekarang Qia kan yang jadi bahan taruhan kalahnya." omel Qia menonjok pinggang ramping Raga.


Raga menonoyor kecil kepala Qia.


"Heh bocil gede! Gua mana tau elu pake acara taruhan kek gini? Secara logis, lo yang mertaruhin diri lo sendiri. Jadi lo yang harus tanggung jawab!" tegas Raga memeletkan lidah.


"Hadeh gini amat punya abang." keluh Qia malas.


"Dahlah gua sama Rizal pamit duluan Van, semuanya. Jumpa lagi kapan-kapan haha!!" ucap Raga melambaikan tangan pada semuanya yang ada disitu.


"See you next time brodi!!" sahut Rizal ikutan pamit, kemudian ia pun menyusul Raga pergi.


"Abang ik-" cicit Qia hendak berlari menyusul Raga san Rizal tapi tangan Vano lebih dulu menariknya agar berhenti.


"Ga ada! Lo sama gue." ucap Vano penuh penekanan yang langsung membawa Qia pergi.


Sammuel, Bagas, Adam, Bintang dan Gabby hanya bisa geleng-geleng melihat kebucinan leader mereka itu. Mereka semua seperti tokoh viguran yang tak mendapat jatah dialog, mereka hanya melongo sepanjang waktu tadi.


"Ga nyangka, Vano bisa sebucin itu." ucap Adam geleng-geleng.


"Gue juga kaget nj*ng! Btw lo kapan ngebucinin Ratu?" tanya Bagas.


"Ini juga lagi proses Gas. Ngusir masalalu di hati Ratu yang jadi masalah gede."


"Gue juga lagi berantem sama ayang Manda, bingung cara bikin dia ga ngambek lagi."


"Malah jadi curhat! Ayo pulang ah. Besok kamis, Bambang yang jaga gerbang bareng Oyoy. Gue males dihukum!" tengah Sammuel yang langsung pergi mengikuti Vano yang lebih dulu pergi.


"Setuju pak! Gue juga males kalo yang ngehukum bukan ayang Yuyun." sahut Bintang menyusul Sammuel.


"Bu Yuyun terossss!!!" sembur Gabby.


****************


"Kak?" panggil Qia sedikit memajukan wajahnya agar bisa melihat wajah Vano yang tersembunyi di balik helm full face.


"Hm?" lirik Vano.


"Thank you ya?"


"Buat apaan? Ini aja belum sampek rumah."


"Bukan ini. Tapi soal boongin bang Raga kalo gue ga nemuin Rayhan tadi, sama makasih juga udah dateng tepat waktu tadi."


"Oh." sahut Vano mengangguk kecil.


"Dih sok cuek!" sembur Qia menggerutu sebal.


"Ya emang gue harus gimana? Harus wow?" tanya Vano.


"Ck. Tau ah kesel gue!"


"Btw pertolongan gue itu ga gratis." ucap Vano setelah beberapa saat hening diantara mereka. Qia mengeryit dengan kembali mendekatkan wajahnya.


"Lah? Lo ga ikhlas nolongin gue? Ck. Rugi banget gue mana udah bilang makasih tadi." gerutu Qia.


"No! Gue ikhlas nolongin lo, tapi dosa kebohongan gue tadi harus ada imbalannya lah." elak Vano menggeleng.


"Milih ngasih imbalan ke gue, atau dikurung sama abang lo kalo ketahuan ketemu si brengsek itu?" ancam Vano santai. Qia berdecak, kedua pilihan adalah hal yang sangat merugikan!


"Iya iya milih lo aja. Mau imbalan apaan?"


"Nanti lo juga bakal tau."


"Dih sok misterius!"


"Sssstt diem! Gue mau fokus nyetir. Kalo ntar kita kecelakaan, bisa dicekek sama Raga gue."


"Ahahaha bagus dong kalo gitu. Kecelakaan aja yuk? Biar leher lu diremukin sama abang gue." tawa Qia receh. Vano tertawa kecil lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Istighfar lu mak!" ucap Vano yang teringat nama ledekan pemberiannya beberapa waktu yang lalu.


"Anj-"


"Udah diem! Pegangan yang erat." potong Vano meraih tangan Qia dan melingkarkannya di pinggangnya. Qia spechless kaget tapi kemudian tersenyum tipis.


'Ga tau kenapa gue selalu ngerasa aman ada di deket lo kak. Haha aneh! Udah gila gue.' batin Qia salting mode silent.


"Ga usah senyum-senyum sendiri! Ntar disangka orang, gue lagi ngeboncengin orang gila." celetuk Vano terkekeh melihat bayangan Qia dari kaca spion.


"Yee babi!" sembur Qia menonyor kepala Vano. Vano tersenyum tipis, sangat tipis hingga mata orang biasa tak akan bisa melihatnya.


'Gue mau selamanya ngelindungin lo dan selalu ada buat lo kayak gini Qi. Dukung tujuan gue buat ngedapetin hati lo ya? Gue janji lo ga akan nyesel milih gue nanti.' batin Vano tegas.


'Lo, makhluk paling nyebelin tapi gue asdbhdmfgahdhsb.' batin Qia dengan bahasa alien andalannya.


Qia menyenderkan kepalanya dengan nyaman ke punggung Vano. Mengeratkan tangannya di pinggang ramping Vano dan memejamkan mata, seolah ini benar-benar puncak kenyamanan yang ia miliki saat ini.


"Makin cantik kalo lo lagi kalem gini." lirih Vano tersenyum.


Tak berselang lama, suara bising dari knalpot Vano itu telah memasuki daerah perumahan tempat Qia tinggal. Qia yang sudah tau akan segera tiba di rumahpun menarik dirinya dari punggung Vano, mengucek matanya yang mulai sayu karena mengantuk.


"Udah sampe ya? Cepet banget."


"Emang mau lo kek gimana? Mau pulang ke rumah gue aja biar makin lama nyampenya?" tawar Vano gercep.


Plak


Qia menghantam punggung lebar itu dengan satu tabokan renyah.


"Enteng banget mulut buaya!!" sembur Qia. Vano terkekeh.


"Bercanda doang mak!!"


"Au ah."


Brum brum


Vano agak ngegas di depan gerbang rumah Qia yang menjulang tinggi agar satpam yang bertugas itu segera membukakan gerbang untuknya.


Setelah gerbang dibuka, Vano pun melajukan motornya masuk ke dalam halaman dan pekarangan rumah yang sangat luas itu.


"Mangga mang!" sapa Vano sok akrab. Satpam bernama Budi itu mengangguk dengan melambaikan satu tangan.


"Iya mas, mangga atuh."


"Dih sok akrab!" sinis Qia.


"Lah emang udah akrab." jawab Vano ngasal.


"Serius?"


"Tiga rius malah."


"Kak lo beneran udah kenal sama satpam gue? Sejak kapan?" tanya Qia kepo. Siapa tau kalau mereka memang sudah saling kenal karena Vano juga berteman baik dengan Raga.


"Sejak tadi tuh. Gue aja baru pertama kali nyapa dia." jawab Vano jujur. Qia menggeplak punggung lebar itu lagi.


Plak


"Kebiasaan banget ngebegoin orang!!" ketus Qia kesal. Vano hanya bisa tertawa sambil terus melajukan motornya menuju teras rumah Qia. Lumayan jauh memang jaraknya dari gerbang rumah.


'Gue lama-lama bisa insecure ngedeketin Qia gegaraini halaman dah, luasnya udah kayak mau nyaingin GBK. Lah sedangkan gue? Rumah gue yang lebih luas bangunan daripada halaman kosongnya sih jelas nangis nih kalo diajak saingan sama halamannya Qia." batin Vano terheran mengapa ada orang yang suka dengan konsep rumah yang luasnya hampir sama dengan luas halaman.


Brumm ckit.


Vano menghentikan laju motornya tepat di depan teras rumah Qia. Rumah Qia tetap terang benderang meskipun ini sudah larut malam, sultan emang gitu.


"Jangan lupa besok gue jemput! Jangan kabur, atau gue perpanjang kontrak antar jemputnya sampe sebulan." ucap Vano setelah Qia turun.


Qia menghembuskan nafas pasrah.


"Iya kakak Vano yang terhormat!! Gue ga bakal kabur juga kali ah. Gue gentle girl!!" sahut Qia sombong.


"Heleh, gentle apaan yang nyalinya masih bisa nyiut?" ledek Vano.


"Ck. Malah diingetin!!"


"Bercanda mak bercandaaaaaaa." ledek Vano menepuk-nepuk kepala helm yang masih dipakai oleh Qia. Qia memang masih memakai helmnya dan tak berniat melepasnya sebelum ia masuk rumah.


"Bisa gila gue lama-lama sama lo.... Udah ah sono pergi hussssss!!" usir Qia mengibaskan tangan, sok songong. Vano kemudian menyalakan motornya lagi, ini juga sudah tengah malam kan? Tidak baik bertamu ke rumah seorang gadis tengah malam seperti ini. Itu ilmu dari papanya yang masih ia ingat sampai saat ini.


"Puas-puasin mumpung masih bisa ngusir gue, dua atau tiga tahun lagi juga lo bakal serumah sama gue!" gerutu Vano dibalik helm full facenya. Ia sudah bersiap untuk pergi.


"Apa lo bilang kak?" tanya Qia memiringkan wajahnya dengan sedikit menunduk agar bisa melihat wajah Vano.


Vano menggeleng gugup, belum saatnya Qia tau isi hatinya saat ini.


"Kepo mulu! GOOD NIGHT MAK KONTRAKAN GALAK!!" ketus Vano yang langsung melesat pergi tanpa menunggu jawaban Qia.


Brum brum


"Heran."


"Kok ada manusia ghaib kek dia ya?" tanya Qia bermonolog.


"Dahlah mending tidur daripada mikirin tempat asalnya Depano. Ngantuk berat!!


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰