
"Sayang banget kita ke kantin tanpa Qia." celetuk Deeva karena ia hanya pergi bertiga bersama Ratu dan Manda hari ini.
"Ini juga gegara lo udah kelaperan kali! Gue sama Ratu mah oke-oke aja sebenernya kalo mau nunggu Qia habis dihukum." elak Manda membangkang.
"Heh markonah sumandut! Elu pada udah makan sandwich gue tadi ya, lah gue?" semprot Deeva galak mode.
"Ya salah sendiri lo yang nyuruh abisin!" balas Manda sengit.
"Ah berisik lu pada! Ga usah didebatin, Qianya juga bilang gapapa tadi." lerai Ratu jengah.
"Kok-"
"Hai Dev!" panggil seseorang dari arah belakang. Manda, Deeva dan Ratu yang duduk di satu kursi yang sama-sama membelakangi pun menoleh bersamaan.
Kevin.
"Ngapain lo disini?" tanya Deeva auto panik. Sedangkan Ratu dan Manda hanya bisa saling pandang tak mengerti.
"Mau ketemu lo lah." jawab laki-laki berkumis tipis itu dengan enteng.
"Ya tapi kenapa sekarang? Kan gue udah bilang temui gue jam 12! Bukan sekarang Vin." omel Deeva menggerutu. Kevin menghela nafas panjang.
"Gue ada dispensasi futsal mendadak, jadi gue mau ngomong sekarang aja.
"Tapi gue yang ga bis-"
"Bisa pasti. Come on Deev gue cuma minta sedikit aja waktu dari lo kok! Setelah ini terserah lo mau gimanapun juga itu hak lo."
"Ck." decak Deeva.
'Ini anak kalo ga gue turutin dulu, ga bakal bisa diem ngebiarin gue hidup tenang!' batin Deeva.
"Rat, Man, gue pergi bentar sama Kevin. Kalo lo mau ke kelas, kabarin gue!" pesan Deeva sebelum ia berbalik pergi bersama Kevin.
"I-iya Deev." jawab mereka serempak dag dig dug merasakan aura berbeda dari sahabatnya itu.
"Auranya Deeva bisa langsung dingin gitu njir!" cicit Manda menghela nafas setelah punggung Deeva menghilang dibalik tembok kantin.
"Iya, tu anak emang kadang suka nyeremin."
Drtt drtt
Drtt drtt
Dua handphone yang tergeletak di atas meja itu berdering bersamaan. Sang pemilik saling pandang kemudian sama-sama meraih handphone masing-masing.
"Notice lo dari kak Bagas Man?" tanya Ratu menebak. Ia fokus menatap layar iPhonenya.
"Iya nih. Kalo lo dari siapa Rat?"
"Kak Adam." jawab Ratu singkat. Manda manggut-manggut, kemudian mereka membaca isi chat itu bersama-sama.
📩Bagasayang💓
Beb udh dikantin blm?
Bareng yuk! Aku mau kesana.
📩ADAM
Gw mau ke kantin Rat, bareng ga? Ayo!
Read.
Setelah sama-sama selesai membaca isi chat, mereka sama-sama menoleh dan saling menatap. Sepertinya apa yang ada difikiran mereka ini sama.
"Rat isi chating lo apa?" tanya Manda.
"Jangan bilang kalo isinya sama?" tebak Ratu. Mereka sama-sama mengangguk lalu panik seketika.
"Aduh mamp*s gengnya Oster pada otw kesini! Pasti ada kak Sam kan? Terus Deeva gimana sama Kevin?"
"Ck. Bakal ga baik nih buat jalannya Deeva sama kak Sam."
...****************...
"Shibal. Gue kena lagi kena lagi." umpat Qia kesal melemparkan kain lap ke tembok toilet. Vano tertawa terbahak-bahak, puas sekali rasanya melihat wajah sebal Qia.
"Nyengir lu!" omel Qia melotot pada cowok di samping kirinya itu.
"Tuhan udah ngasih jalan Qi, kita tinggal jalanin aja ngeluh mulu lo!"
"Alah bac*t! Gue tau ini pasti kerjaan lu kan? Sengaja kan lu ngebikin gue ikut dihukum kek gini hah?" sungut Qia menebak-nebak.
"Emang iya, sebenernya tadi pagi gue lupa minta sopir rumah buat bawain gue buku. Nah karena gue ga mau dihukum sendirian, suka berbagi, dan pengen berduaan sama lo, ya udah lo aja yang gue umapanin ke bu Friska." jelas Vano membenarkan tebakan Qia tadi.
Qia mendengus.
"Laknatullah! Orang-orang mah kalo pengen berduaan diajak ke cafe atau ke taman gitu kek, ini malah bersih-bersih toilet!"
"Gue kan berani beda dalam...." ucap Vano menggantung. Qia menaikkan sebelah alis.
"Dalam?"
"Usaha ngerebut hati lo." jawab Vano cepat diakhiri cengiran ganteng. Qia salting! Pipinya bersemu merah tapi ia dengan cepat menyembunyikan perasaan aneh itu dengan ledekan andalannya.
"Dih? Mulus banget buaya jantan kalo lagi ngomong!"
"Orang gue bukan buaya."
"Gue manusia biasa yang ingin dicintai oleh anak kesayangannya om Anton." jawab Vano enteng. Ia kembali membersihkan keramik toilet dengan senyum tipis yang masih tak hengkang diterpa waktu.
"Om Anton?" tanya Qia ngebug. Vano mengangguk santai dengan senyum miring.
"Anak kesayangannya? Lah Anton kan bokap gue? Anak kesayangannya itu anak ceweknya, berarti itu gu- eh loh maksud lo gue kak?" tanya Qia memekik kaget. Vano menjawab dengan alis terangkat.
"Ya menurut lo aja siapa."
"Menurut gue ya gue."
"Ya udah. Udah tau kan lo sekarang?"
"Tau apaan?" percayalah! Qia tidak sepolos ini. Ia sudah tau dan mengerti, ia hanya sedang berpura-pura polos untuk menutupi rasa gugup dan saltingnya.
"Sekarang tinggal gue yang harus nyari tau isi hati lo dan mastiin gue yang bakal jadi pemenangnya. Gue ga bakal kalah dari Re-"
"Ga usah dilanjutin namanya atau gue siram lo pake air comberan nih!" ancam Qia memotong. Salah satu tangannya sudah memegang gayung dan siap menyiram Vano kalau masih berani melanjutkan ucapannya tadi.
'Ini kak Vano ngungkapin perasaannya gitu? Sial. Panas dingin lagi gue.' batin Qia ketar ketir.
"Jahat lo bocil!"
"Biarin!"
'Udah ga mau denger namanya karena ilfeel dan ga mau lagi atau cuma ngehindarin memori itu doang ya? Ah bodoamat pekara Rayhan, ilfeelnya Qia bisa jadi bonus buat gue. Jadi sekarang gue cuma perlu ngeyakinin Qia kalo gue serius. Dan gue harus mastiin kalo hatinya juga buat gue, sesimple itu Van! Lo pasti bisa.' batin Vano senyum-senyum sendiri.
"Hello brader HELLOOOOOOO!!!" seru Qia menjentikkan jari tangannya tepat di depan mata Vano yang melamun dengan senyum lebar.
Vano pun menatap Qia dengan sadar.
"Lo masih waras kan kak?" tanya Qia polos.
"Ngeremehin mulu ni anak!"
"Jangan senyum-senyum sendiri disini ah, ngeri gue kalo lu kerasukan setan. Mana cuma berdua doang! Takut tau." tutur Qia entah bercanda atau serius.
"Sekali lagi ngatain gue, lo gue terkam!"
"Aw atutttttt." cicit Qia sok takut. Vano mendengus.
...****************...
"Kalian cuma berdua doang beb?" tanya Bagas sambil mendudukkan diri disamping Manda. Manda mengangguk kaku, ia bingung harus bagaimana karena ada Sammuel diantara kelima pentolan Airlangga itu.
"Iya."
"Emang lain pada kemana?" tanya Adam gantian. Cowok beralis tebal itu mendudukkan diri disebelah Ratu, disusul oleh Bintang, Gabby dan Sammuel yang duduk di seberang kursi mereka.
"Qia lagi dihukum bareng Vano." celetuk Bintang yang menjadi salah satu saksi mata keributan di kelasnya tadi.
"Pekara buku fisika?" tebak Bagas. Bintang manggut-manggut.
"Hm. Katanya lupa dibawa sama Qia."
"Terus yang satu lagi kemana? Si Deeva tuh?" tanya Bagas lagi. Ia melirik Sammuel yang duduk diantara Bintang dan Gabby.
Sammuel membalas lirikan itu dengan tatapan datar.
"Lah iya juga, kosin gue kemana Rat?" tanya Gabby kepo. Ratu auto kicep, harus bagaimana sekarang?
"Mmmmm tadi dia ada kok disini."
"Ya buktinya sekarang mana Ratuuuuu."
"Mmm....."
'Jangan-jangan yg tadi jalan ke lapangan belakang itu beneran Deeva sama anak ips itu ya?' batin Sammuel mengingat sekelebat bayangan dua orang yang berjalan bersisian menuju lapangan belakang.
"Am em am em kenapa sih lu?" tanya Adam mengeryit heran. Ia menyenggoli lengan Ratu yang terlihat gugup.
"Lo kenapa sih Rat? Gugup kenapa hm?" tanya Adam lagi. Ratu menggeleng kikuk.
"Enggak papa, gue cuma-"
"Gue pergi dulu." ucap Sammuel tiba-tiba. Ia berdiri dengan satu kali gerak.
"Mau kemana lo?" tanya Gabby mendongak.
'Sebenernya ada apaan sih? Ratu sama Manda aneh dari tadi. Deeva juga ga ada disini, Sam juga tiba-tiba aneh.' batin Adam aneh.
"Toilet." jawab Sammuel singkat.
"Baru aja nyampe kantin, udah ke toilet aje lu." cibir Bagas. Sammuel masih bertahan dengan muka datarnya.
"Kenapa? Mau ikut lo?"
"Nggak dulu sorry! Lebih enak disini sama ayang Manda daripada mbuntutin elu pak." tolak Bagas bergidik.
"Makanya diem! Nanya mulu." ketus Sammuel langsung kabur.
"Pssstt Man!" panggil Ratu mendesis pelan.
"Apaan?" balas Manda juga berbisik.
"Bahaya ga si kalo nanti kak Sam ketemu Deeva sama Kevin hah?"
"Bahaya sih pasti. Tapi ya mau gimana lagi! Kak Sam bukan bayi yang bisa di remot kan? Semoga aja mereka ga ketemu."