
Vano menyandarkan kepalanya ke pinggiran sofa, sesekali ia memijit pelipisnya untuk saat ini dia benar-benar merasa pusing. Arsya masih setia memijit kaki Tuanya.
"Apa Tuan sakit?" Arsya menatap Tuanya, tidak ada jawaban darinya, mungkin dia tertidur, pikirnya. Dirasa Tuanya tertidur pulas ia berniat memindahkan kakinya ke sofa.
"Mau apa kau?" Arsya terkejut, rupanya ia hanya berpura-pura tidur, dia meletakan kembali kaki Vano ke pangkuanya.
"Maaf Tuan saya pikir anda tidur, jadi saya memindahkan kaki anda agar tidurnya lebih nyaman"
"Antarkan saya ke kamar" Titahnya, Arsya bangkit dan memapah tubuh Tuanya.
"Hati-hati Tuan" Arsya memeluk pinggang Tuanya lalu mengantarkanya ke kamar. Lagi lagi ia heran dengan sosok Vano.
"Ternyata kamarnya juga dicat sama dengan ruang kerjanya, Apa dia ini pria berhati wanita? atau bagaimana baru kali ini ia menemukan pria sedingin es berhati barbie. apa apa serba pink" gumamnya.
"Tuan istirahatlah, saya akan membuatkan Tuan bubur ayam" Namun,Vano mencekal tangan Arsya.
"Ada apa Tuan? Apa Tuan butuh sesuatu?" Arsya memegang tangan Tuanya,entah dapat keberanian darimana ia memegang tangan Vano.
"Temani saya Sya" Lirihnya, namun masih bisa Arsya dengar, Arsya mengangguk. Arsya mengambil kursi dan duduk disamping ranjang Vano.
"Tuan, mau makan buah?" Tawarnya pada Vano, namun Vano menggeleng.
"Dingin Sya" Bibir Vano bergetar wajahnya pucat pasi, Arsya menarik slimutnya hingga ke leher Vano, dan mematikan AC.
"Tuan saya akan panggilkan dokter ya tunggu sebentar" Arsya berlari ke meja keluarga.
"Ada apa Nona?" Laks muncul tiba-tiba didepanya.
"Tuan Vano sakit, saya akan panggilkan dia dokter" Laks segera naik ke atas menuju kamar Vano.
"*Halo dokter, bisa ke tempat bapak Devano Rega Pratama?"
"Baik, segera ya dok! Terima kasih*!"
Arsya berlari kedapur menemui beberapa pelayan agar membuatkan Vano bubur dan jus jambu.
"Tuan kau sakit apa?" Laks mendekat ke Vano, dilihatnya Vano yang terkulai lemas tak berdaya.
"Cuacanya sangat dingin Laks, dimana Arsya apa dia sudah memanggil dokter?"
"Sudah Tuan, mungkin sebentar lagi dokter datang"
"Tuan, dokter akan datang dalam 10 menit bersabarlah!" Arsya muncul dibalik pintu membawa segelas jus jambu.
"Anda bisa lihat Tuan, ini susu" arsya tersenyum sinis.
"Apa anda tidak pernah sekolah Nona?" Laks mulai geram dengan lelucon Arsya.
"Apa Anda juga tidak pernah sekolah Tuan? jelas jelas ini jus jambu kenapa anda masih bertanya" Arsya terkekeh pelan bagaimana bisa Vano mencari asisten seperti ini.
"Laks pergilah, Atur jadwal pertemuan besok dengan perusahaan Adi Wangsa!" Arsya tersentak, Adi Wangsa adalah perusahaan milik Kakeknya yang sedang naik daun, Perusahaanya memenangkan beberapa tender tahun ini.
"Baik Tuan" Laks segera pergi dari hadapan Vano, dan menjalankan perintah dari sang majikan.
Gawat! Kalau sampai aku besok ikut dan bertemu ayah bisa berabe! Arsya gelisah sekaligus khawatir.
"Kau kenapa?" Vano menangkap gelagat aneh dari Arsya saat membicarakan perusahaan Adi Wangsa.
"Tidak apa Tuan, ini diminum dulu jusnya" Vano bangun dibantu Arsya, kini Vano bersandar dikepala ranjang.
Arsya menyodorkan jus jambu ke mulut Vano dengan hati-hati. diminumnya hingga setengah lalu berhenti. Arsya meletakan kembali ke nakas.
"Permisi Tuan dan Nona" Arsya menoleh lalu bangkit dari duduknya.
"Silahkan Dokter" Dokter Leo memeriksa Vano dan meracik obat untuknya.
"Tuan Vano hanya kelelahan dan tekanan darahnya naik. Saya harap Tuan jangan banyak pikiran. Ini obat dari saya" Arsya meraih obat dari tangan Dokter Leo.
"Terima kasih dokter"
"Saya permisi Nona, Tuan" Arsya mengangguk, didekatinya Vano.
"Tuan sekarang minum obat dulu ya" Vano hanya diam, Arsya membantunya minum obat.
"Segera sembuh Tuan, sekarang Tuan istirahat ya" Vano mengangguk lalu mulai memjamkan matanya.
Arsya menatap iba Tuanya, meskipun sifatnya yang dingin dan angkuh ia tetap tidak tega.