
"Sial bisa-bisanya jam segini ada macet!" gerutu Raga kesal.
"Ck. Jalan tikus ga ada nih?" tanya Vano tak sabaran. Ia yakin pasti BB geng sudah tiba di SMA Airlangga.
"Mata lu tikus! Ini pake mobil bukan motor." sembur Raga ngamuk. Vano bergidik, Qia dan Raga memang benar-benar saudara. Sifat dan kebiasaan ngegas nya saja sama.
"Kelihatan banget gobloknya." sindir Qia. Vano menonyor kepalanya yang menyembul di sebelah kirinya.
"Nyaut mulu!" sembur Vano. Qia melotot lalu merengek, mengadu pada abangnya. Setelah sekian purnama jadi korban penonyoran kepala oleh Vano, akhirnya Qia sekarang bisa mengadukan hal ini pada Raga. Si algojo pelindung.
"Bang Agaaaaa nih liat sendiri kan? Ini anak kerjaannya menganiaya jidatku." ucap Qia manyun. Raga menoleh, jalanan masih macet. Sepertinya ada kecelakaan di depan sana.
"Dih aniaya apaan? Ini sih nyenggol doang Qi." elak Vano menggeleng.
"Nyenggol itu sekali dua kali! Nah elu udah berpuluh-puluh kali tau. Itu namanya penganiayaan yang disengaja!" semprot Qia galak. Vano menye-menye, pemandangan super langka nih seorang Vano bisa jadi menye.
"Iyi niminyi pinginiiyiin ying disingiji."
"Ih kak Vano mah nyebelin! Awas aja lu, gua tandain muka lu!"
"Tandain aja, mau dimana? Pipi, jidat, atau dimana?"
"Lo berdua kalo mau berantem, gue ada pisau kecil nih dua. Mau pake ga?" tanya Raga memutar bola matanya jengah. Perdebatan yang tak ada habisnya.
"Ya udah sini!" ucap Qia menegadahkan tangan. Vano juga melakukan hal yang sama.
Raga mengeryitkan alis, menatap Qia dan Vano secara bergantian.
'Gue yakin mereka saling suka, tapi egonya sama-sama kegedean ga si?' batin Raga pusing.
Drtt drtt
"Hp tuh!" tunjuk Raga mengalihkan. Sebenarnya ia tak punya dua pisau kecil, ia hanya punya satu. Pisau lipat kecil yang selalu ia bawa kemana-mana, hanya untuk jaga-jaga kalau ia bertemu musuh yang banci. Alias yang tak berani maju dengan tangan kosong.
Raga bukan tipe yang suka membawa senjata, ia lebih suka tangan kosong. Tapi ya kalau musuhnya bawa senjata tajam, ia juga tidak akan tinggal diam lah! Ya kali. Raga juga ogah mati muda.
📞Kak Rizal is calling....
"Kak Rizal." ucap Qia membaca nama pemanggil yang tertera. Ia menarik tombol hijau.
Rizal : Halo Qi! Lo dimana?
Qia : Di bumi.
Rizal : Seriusan Qiak!!
Qia : Di mobil.
Rizal : Lo ga sekolah kan ya?
Qia : Enggak. Kenapa? Lo mau ngajakin nongki?
"Lah malah mau nongki?" celetuk Vano heran. Raga memberi kode kepada Vano agar diam saja.
"Diem dulu lu! Emang agak aneh anaknya." ucap Raga pelan. Qia mendengarnya, ia menatap abangnya dengan sangat-sangat super datar. Raga meringis ngeri sementara Vano memutar bola matanya malas.
Badan doang yang kekar! Sama adik sendiri takutnya bukan maen.
Qia : Ada apaan woy?
Rizal : Lo tau ga? Ada gengnya sohib lu nih di depan SMA Airlangga.
Qia melotot. Jadi Rayhan dan BB sudah sampai? Mereka benar-benar datang?
Qia : Maksud lo Rayhan?
Rizal : Iya lah! Emang siapa lagi sohib lu yang tukang bikin onar? Nih udah pada berhadapan sama anak-anak Airlangga.
Qia : Terus ini kok lo bisa-
Rizal : Gua sama Devan lagi bolos. Lewat sekolahan lo eh ada rame-rame, ya gue berhenti dulu lah nyari popcorn sekalian nonton drama baku hantam.
Qia : Kalo udah tau gitu bantuin dong! Bukan malah nelpon gue.
Rizal : Lah ngapain? Airlangga udah punya Vano sama Sammuel. Gue jadi penonton aja, mereka pasti udah bisa ngatasin sendiri.
Qia : Masalahnya kak Vano ini ada sama gue, baru mau otw kesana sama bang Raga juga!! Jumlah Ghosterion lagi nipis, Gabby juga ga ada. Lo bantuin sana kak!
Rizal : Seriusan?
Qia : Iya hm.
Rizal : Oke kalo gitu. Gue sama Devan ikut terjun. Tapi-
Qia : Tapi apa lagi?
Rizal : Gua mau ngabisin popcorn dulu, tanggung. Kan sayang kalo dibuang.
Qia : Lo beneran lagi makan popcorn?
Rizal : Ya beneran lah! Di depan sekolah lo kan ada minimarket, gua beli tadi.
Qia : Tau ah frustasi gue punya kakak begini.
Rizal : Ahahaha kenapa? Asik ya punya gue?
Qia : Bodoamat! Pokoknya ntar bantuin.
Rizal : Oke.
Tut tut....
"Rizal bilang apa?" tanya Raga. Vano nyimak.
"Dia ngeliat BB udah ada di depan SMA." jawab Qia meletakan hp nya di kursi mobil. Mobil sudah kembali berjalan normal, hanya tingga beberapa menit saja untuk sampai ke SMA Airlangga.
"Kok Rizal bisa tau?" tanya Vano heran.
"Dia katanya lagi bolos sama kak Devan terus lewat Airlangga, ya gitu deh."
...****************...
"Oalah spesialis abu bakar alsengkuni ternyata!" celetuk Bagas yang baru saja datang. Ia, Bintang dan Adam berdiri di dekat Sammuel tapi agak sedikit berada di belakangnya.
Sammuel kini tengah bertatapan sengit dengan Rayhan. Dua kubu yang saling bermusuhan sejak dulu. Apalagi riwayat SMA Airlangga dan SMA Garuda yang memang dari dulu tidak pernah bisa didamaikan.
Sebenarnya di jamannya Vano dan Ghosterion, SMA Airlangga perlahan mulai bisa mengerti kalau tawuran hanya membuang waktu. Mereka juga sudah bosan dengan pertikaian itu. Mereka juga sebenarnya sudah tak mau lagi adu bacot maupun baku hantam, tapi SMA Garuda yang notabennya berada di bawah Rayhan itu terus saja mencari masalah.
Akhirnya ya karena sama-sama terdiri dari banyak anak motor, akhirnya kekerasan tetap menjadi pilihan dan jalan tengah bagi mereka.
Prinsip Airlangga : Anda jual, saya beli!
"Main fair bro jangan keroyokan! Lo cowok atau emak arisan?" celetuk Bintang.
"Fair? Dikira merk skincare kali ah." bisik Adam ke telinga Bagas. Bagas mengeryit.
"Hah? Skincare apaan?" tanya Bagas heran. Ia juga berbisik.
"Itu yang iklannya sekali putaran, setengah putaran, bersihkan sel kulit mati dan kotoran. Tar putar di waj-"
"Diem goblok! Itu mah sabun. Jokes lu salah tempat salah waktu anjing ah!!" potong Bagas menggerutu kesal.
"Ya kan gue nanya."
"Ssttt!!"
"To the point, mau lo apa kesini?!" tanya Sammuel dingin dan datar seperti biasa.
"Tanpa gue jawab, lo pasti udah tau apa mau gue kan Sam?" tanya balik Rayhan. Sammuel masih berada dalam mode santainya. Ia masih ingat pesan Vano : Jangan memulai duluan, tunggu saja musuhmu menyombongkan dirinya, buat dia emosi hingga menyentuhmu. Kemudian sama ratakan dia dengan tanah!
"Iya gue tau, lo kesini karena mau dikalahin lagi. Kan?"
Jleb.
Seperti bisasa, Sammuel selalu savage! Menjatuhkan mental orang memang adalah keahlian khusus yang dimiliki oleh cowok sangar bernama Sammuel Atmajaya itu.
"Jiaaakhhh makan tuh pedesnya panglima tempur Airlangga!!" celetuk salah seorang dengan heboh.
"Ahaha biar tau rasa dia."
"Bukan Sammuel kalo ga bisa jatuhin orang HAHA!!"
"Mana masih muda lagi."
"Ayo Sam lanjut!!"
Sorak ramai dari empat pilar Airlangga itu menggema ricuh. Wajah Rayhan memerah menahan marah, kedua tangannya terkepal kuat.
"Tangan lo kenapa? Udah tremor? Takut lo?" cibir Bagas.
"Ketua lo mana? Ga nongol? Takut?" balas Rayhan masih mencoba mengontrol diri, ia mencari keberadaan Vano. Rayhan tau kalau semalam Vano sudah berani mengajak Qia kencan berdua, padahal selama ini Rayhan selalu ditolak mentah-mentah.
Prok prok prok
"Wuiissshhhhh ada bang jago nih!" celetuk suara berat dari arah belakang samping. Semua orang menoleh ke arah itu. Dua orang laki-laki berseragam atas bawah putih abu-abu dengan jas almamater sekolah berwarna navy senada itu berjalan mendekat ke kubu Airlangga.
Badge Rollex International High School terpampang nyata di bagian kanan atas jas. Mereka adalah Rizal dan Devan.
Anak-anak dari pihak Sammuel maupun dari pihak Rayhan sama-sama bingung. Mengapa bisa anak RIHS nyantol di sini?
"Congkak." jawab Rizal ngawur.
"Ngapain lo ikut campur?" tanya Rayhan sarkas. Rizal mengendikkan bahunya acuh.
"Preman-preman di belakang lo itu juga bukan anak Garuda kan? Kalo mereka bisa ikut. Kenapa gue enggak?" tanya Rizal membalik keadaan.
Rahang Rayhan mengeras mendengar pertanyaan bernada ejekan ini.
"Oh iya lo nyari Vano? Dia masih on the way ke sini. Tunggu aja kalo lo mau!" ucap Rizal lagi. Ia sengaja tak menyebut nama Raga dan Qia, biarlah hal itu menjadi sebuah kejutan besar untuk Rayhan. Rizal sudah lama menanti hari ini. Hari dimana Qia akan melihat kebusukan laki-laki yang selama ini dianggap sahabat karena sifatnya yang terlalu manis terhadap Qia.
"Saran gue ga usah nunggu, ntar lo kalah telak loh?" sahut Devan kompor. Dia ga ikut punya Airlangga, tapi dia ikutan geram sendiri.
"Bener nih apa kata sohib gue. Ayo sekarang aja yuk Re? Ga usah banyak babibu lagi!" sahut Rizal tersenyum miring.
"Sial!"
Tin tin tin tin
Semua perhatian kini beralih kepada sebuah mobil pajero sport berwarna hitam yang melaju cepat dan berhenti di sebelah kanan tepat di antara dua kubu yang sedang beradu sengit.
Kedua pintu depan terbuka lebar. Kepala Vano dan Raga menyembul keluar mobil. Raga dengan kaos dan jaket Dragon Sword Boys sedangkan Vano dengan setelan kemeja dan jas kerjanya tadi.
'Sial! Kenapa bisa ada Raga? Arghhh gue udah ga bisa mundur lagi. Gue harus balas dendam ke Vano hari ini juga.' batin Rayhan terkejut melihat kehadiran Raga yang datang bersama Vano.
"AIRLANGGA SERANG!!"
Hanya dua kata tapi langsung bisa mengendalikan seluruh teman-temannya. Perkelahian tak dapat dielak lagi, Airlangga dan Garuda saling serang dan menjatuhkan.
"Lah lah apa-apaan tuh bocah baru dateng udah maen serang aja." pekik Qia melotot karena Vano langsung main sikat hajar. Padahal dia baru saja gabung.
*Bugh bugh krak
Bugh arghh krak*
Qia hanya bisa menggigit jarinya dengan gemas saat melihat perkelahian sengit ini. Dua kubu yang saling menjatuhkan dan dijatuhkan.
Jeritan-jeritan ngeri terdengar dari lantai atas, beberapa siswi yang ngotot ingin melihat tawuran ini malah ketakutan sendiri. Bodoh! Kenapa cuma saling jerit? Kenapa tidak ada yang memanggil polisi sih? Lalu juga kemana perginya dewan guru SMA Airlangga. Kenapa mereka semua diam saja!
Awalnya tadi Qia syok. Benar-benar syok! Karena Rayhan yang ia kenal, bukan dia yang ia kenal.
Bagaimana bisa Rayhan jadi sejahat ini? Jahat dan licik. Sifatnya benar-benar berbeda 180 derajat jika dibandingkan dengan saat hanya bersamanya. Baru setelah melihat keaslian seorang Rayhan, Qia percaya pada Raga dan Rizal. Rayhan bukan Rayhan!
"Gue ga nyangka lo bisa sebusuk ini di belakang gue Ray.... Padahal gue fikir lo itu baik dan sodara gue cuma salah faham doang. Sekarang sudut pandang gue bener-bener berubah! Mata gue udah dibuka selebar ini untuk tau semua kebusukan lo. Untung aja gue dibolehin ikut tadi." gumam Qia bermonolog. Melampiaskan kekecewaannya dengan memukul-mukul kursi mobil di depannya.
Arghhh!!
"Duh ah mana jumlah BB banyak banget lagi tuh! Abang gue mana tadi? Ah itu dia aman sama kak Rizal sama kak Devan juga."
Kalau bukan karena Raga mengancam akan menyita seluruh fasilitas yang ia dapat dari papanya, Qia pasti sudah akan turun tangan sejak tadi. Mana bisa dia diam saja melihat teman-temannya seperti ini.
Vano!
Kemana perginya cowok rese itu? Mata Qia langsung berkeliling aktif dan cepat untuk mencari keberadaan Vano. Katakan saja ia peduli dan khawatir saat ini.
"Nah itu dia anaknya!" ucap Qia menghela nafas. Ia menemukan Vano berada di ujung, melawan tiga orang preman berbadan gede kekar. Sepertinya tiga musuh besar itu masih masalah sepele bagi Vano, terbukti jelas karena Vano tampak santai dalam setiap pukulan dan tendangannya.
Qia menjadi agak rileks melihat hal itu. Raga, Vano, Rizal dan anak-anak Airlangga lainnya tampak santai aman terkendali meski mereka kalah jumlah dan persiapan yang sangat minim.
Hingga akhirnya, karena merasa aneh dan janggal telah kehilangan seseorang dari pandangannya. Qia memutar bola matanya kesana-kemari, mencari Rayhan! Sejak dari perlawanannya dengan Rizal tadi, cowok itu menghilang.
"Kemana dia? Ga mungkin dia pergi sebelum lawannya ngaku kalah." tanya Qia celingukan. Ia tau betul perangai Rayhan yang satu itu, bahwa sekali ia bertindak maka ia tak akan berhenti sebelum keinginannya tergapai.
Feeling Qia yakin bahwa target utama Rayhan pasti adalah Vano. Ya! Sontak Qia memutar kepalanya ke arah Vano. Vano yang masih sibuk ribut dengan preman tadi.
Deg!
Mata Qia membulat besar saat ia menangkap siluet Rayhan yang berjalan mengendap tak jauh dari belakang Vano. Ada balok kayu di tangannya, tatapan mata elangnya menajam dan hanya fokus tertuju ke satu arah. Qia mengikuti arah tatapan menyeramkan itu, dan hal buruk itu mengincar Vano!
Sial. Benar dugaannya kalau Rayhan mengincar Vano.
"Gue ga bisa biarin kak Vano mati muda!" ucap Qia panik yang tanpa pikir panjang langsung membuka pintu mobil dan segera turun dari sangkar amannya. Cukup sudah ia hanya menjadi penonton! Qia tak mau tinggal diam. Tujuannya hanya satu, menyelamatkan Vano yang bahkan sampai sekarang tidak sadar dengan bahaya yang mengancamnya dari arah lain.
Qia mengambil langkah seribu menuju tempat Vano. Rayhan sudah semakin dekat dengan kepala Vano yang sudah pasti menjadi sasaran empuk dari balok kayu ditangannya.
Kemunculan Qia dengan gaya sangar serba hitamnya itu menjadi perhatian baru bagi siswa-siswi di koridor atas. Murid baru yang bar-bar itu makin terlihat sangar dengan sisi bad girl nya saat ini.
Tepat saat Rayhan bersiap mengayunkan kayu ke tengkuk Vano, Qia menendang balok kayu itu dengan satu gerakan hingga terpental jauh ke ujung samping. Rayhan kaget dengan tangkisan tiba-tiba itu. Dan lebih kaget lagi saat ia tau, tendangan itu berasal dari perempuan yang ia suka. Qia!
Tak berbeda jauh dari Rayhan, Vano juga menoleh kaget setelah ia merasa ada sebuah gerakan pembelaan dari belakang. Ditambah lagi dengan Qia yang menempelkan punggungnya dengan punggung lebar Vano.
"QIA?!!" pekik Rayhan dan Vano terkejut.
"Lain kali jangan cuma fokus yang di depan, jaga-jaga dari belakang juga dong!" omel Qia menatap Vano dengan sengit. Vano mengeryit heran, tiga musuhnya sudah berhasil dirobohkan hingga tak bisa berkutik lagi.
"Marah mulu!" keluh Vano memutar tubuhnya sepenuhnya agar bisa mensejajari posisi Qia. Mata elang Vano melirik ke arah balok kayu yang berada tak jauh dari mereka, kini ia mengerti. Qia sepertinya telah menyelamatkan dirinya dari hantaman balok kayu itu.
'Cewek idaman yang sesungguhnya!' batin Vano yang perasaannya jadi semakin tak terkendali. Oke Vano, tahan! Jangan di sini.
"Qi- lo ngapain di sini?" tanya Rayhan gagap. Qia tersenyum kecut. Di tengah keramaian ini, dua mata orang yang dulunya bisa disebut sahabat ini sekarang jadi sangat berbeda. Situasi yang menurut Qia sangat canggung setelah ia tau kebusukan Rayhan selama ini.
Vano tentu saja jadi orang ketiga dalam situasi ini, ia ingin membantu teman-temannya yang masih sibuk dengan perkelahiannya tapi ia juga tak mungkin meninggalkan Qia sendirian bersama Rayhan dengan kemungkinan terburuk adalah akan terjadi sesuatu pada gadis yang berhasil mengobrak-abrik tatanan hati bekunya ini.
"Harusnya gue yang nanya, lo ngapain di sini? Maksudnya apa hah?" tanya Qia mendengus frustasi. Kecewanya telah mencapai titik ******* tertinggi.
Tentu saja Rayhan kelabakan karena ini.
"Gue cuma-"
"Gua kecewa sama lo Ray! Gua kira lo itu berbeda dari yang dikira orang-orang, gua kira apa yang diomongin sama abang-abang gua itu cuma kesalah pahaman doang. Tapi sekarang gua tau, bukan mereka yang salah, tapi gua! Gua yang udah salah percaya sama lo!" sentak Qia menunjuk-nunjuk wajah pias Rayhan. Sorot mata penuh kekecewaan dan berkaca-kaca mewarnai wajah cantik itu. Bibirnya sampai bergetar karena perasaannya yang kian tak terkendali.
Kepercayaannya benar-benar hancur lebur. Qia kecewa dengan orang yang selama ini ia sebut sebagai sahabat.
"BUSUK!!" bentak Qia sambil meneteskan satu air mata di pipi mulusnya. Qia benar-benar lepas kendali saat ini, ia tak bisa menolak air matanya untuk menetes keluar dari tempatnya. Satu kata yang langsung membuat hati seorang Rayhan mencelos nyeri. Rasanya benar-benar sakit dan perih!
Vano refleks mengulurkan tangannya untuk merengkuh tubuh rapuh Qia, membawanya dalam ketenangan. Ia tau kehancuran Qia, rasanya memang sakit dan sesak saat orang yang kita percaya menghianati kita.
"Jauhin tangan lo dari-" bentak Rayhan tak terima melihat Vano berani menyentuh Qia di depan matanya. Tangannya hendak menangkis tangan Vano yang memeluk Qia dari samping tapi Qia lebih cepat menangkal geragakan Rayhan.
"Lo yang jauhin tangan dari gue! Jangan deket-deker lagi, Ray!" potong Qia dengan mata tajamnya.
"Qia, sorry Qi. Gue beneran tadi cuma-"
"Percuma! Karena ga akan ada kepercayaan lagi setelah penghianatan." ucap Qia dengan tatapan kosong. Ia menggeleng-gelengkan kepala, prihatin dengan dirinya sendiri.
"Bisa-bisanya gue percaya terus sama lo selama ini. Gue bodoh, bodoh ga bisa bedain mana yang bener dan busuk." sambung Qia lagi.
"Gue harap ini yang terakhir kalinya kita ketemu. Gue ga mau berhubungan sama penipu!" pungkas Qia finally. Mungkin memang tak akan mudah meninggalkan orang yang sudah terlanjur dekat, tapi ini adalah jalan keluar paling tepat. Qia tak mau terus-terusan terjebak dalam fake zone ini. Cukup sekali ini dan tak boleh terulang lagi.
"Qi-"
Wiu wiu wiu
Sirine polisi yang semakin mengeras dan makin mendekat itu berhasil menghentikan tawuran. Semuanya terlonjak kaget, mereka tentu tak mau berakhir mendekam di penjara.
"POLISI WOY KABUR!!" teriak salah seorang anak BB. Rayhan masih mematung sampai salah seorang temannya menarik tangannya.
"Re ayo kabur bodoh! Lo mau ditangkep?"
"Tapi gue belum-"
"Arghhh ayo kabur aja dulu!!" kekeuh temannya yang langsung menarik Rayhan menjauh. Kedua mata Rayhan masih terkunci pada Qia yang mengusap sisa air matanya.
Mereka duluan yang nantang, mereka juga yang kabur.
"Lo ga papa Qi?" tanya Vano menundukkan pandangannya. Qia menggeleng, menepis tangan kekar itu dari bahunya.
"Ga usah modus pegang-pegang gue!"
"Dih? Baru sekarang lo protes? Tadi aja kesenengan dipeluk." cibir Vano. Qia melotot tajam.
"Diem lu!"
Setelah perginya perusuh, anak-anak Airlangga saling cek keadaan satu persatu temannya. Untung saja tidak ada yang terluka parah. Hanya memar.
"Sekarang lo tau kan kalo lo itu salah. Lo salah karena lebih percaya orang lain! Lebih salah lagi karena lo ngelanggar perintah Raga tadi, udah dilarang turun eh masih aja ngeyel!" celetuk Vano melirik Qia.
"Apa? Lo juga salah ya kak! Hampir aja lo kena pukul dari belakang tadi. Harusnya lo berterimakasih sama gue, udah datang tepat waktu!" sembur Qia kesal. Vano tersenyum simpul.
'Harus gue akuin, ini anak manis banget anjir! Eitss Qia sadar Qia. Cowok rese kek gini jangan dipuji, entar dia makij songong.' pesan Qia pada dirinya sendiri.
"Kenapa nolongin gue? Lo mantau ya?"
"Dih?" cicit Qia bergidik geli. Vano tertawa receh.
"Kalo khawatir bilang aja, ga usah sembunyi dibalik tembok ego! Ya kan? Ngaku lo!"
"Dih?"
PRIIIIIITTTTTTT
Ketika peluit pusaka milik pak Munir berbunyi, maka keadaan tidak akan baik-baik saja.
"KALIAN SEMUA TEMUI SAYA DAN PAK BAMBANG DI LAPANGAN UTAMA!!" teriak pak Munir garang. Personil tukang gelut ini sama-sama menelan ludahnya masing-masing. Sudah terbayang apa yang akan terjadi setelah ini.
"Habis tawuran, terbitlah hukuman."
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰