DEVANO

DEVANO
83. Who is Jendra?



"HEH APA-APAAN INI?!!!"


Vano dan Qia refleks menoleh, pak Bambang dengan kumis garangnya sudah berdiri bersidekap di ambang pintu.


"Eh adapak Bambang. Ngapain pagi-pagi kesini pak? Rematiknya kumat lagi pak?" sapa Vano tersenyum tanpa dosa. Atau lebih tepatnya mengejek tanpa dosa?


Tak menghiraukan ledekan dari muridnya itu, mata pak Bambang lebih tangkap dalam menangkap siluet kaos putih polos yang belum ditutup seragam. Matanya membulat sempurna.


"Kenapa kamu tidak memakai seragam Devano? Habis apa kalian berdua di tempat seperti ini hah?! Mana cuma berdua." omel pak Bambang garang. Vano menggaruk belakang kepalanya, basa-basinya ternyata tidak mempan.


"Mamp*s." lirih Qia berdecak.


"Kenapa tidak menjawab? Sedang apa kalian di tempat seperti ini!!" tanya pak Bambang lagi.


"Jangan suudzon pak! Dosa." tutur Vano segera memakai seragamnya, dengan buru-buru ia mengancingkan satu persatu kancing seragamnya.


"Kak Vano sih disuruh make baju dari tadi ngeyel mulu!" gerutu Qia sebal.


"Ya maap! Mana gue tau kalo bakal kecyduk gini." jawab Vano berbisik.


"Malah bisik-bisik! Jawab saya."


"Weisss sabar kali pak, emosian banget." gerutu Qia.


"Dah siap. Mau bapak sekarang apa pak?" tanya Vano setelah ia selesai memakai seragamnya dengan baik. Cowok itu juga sudah berdiri tegak di sebelah Qia.


"Saya mau kalian pilih, kembali ke kelas atau lari keliling lapangan?"


"Lar-"


Plak


"Pala lu lari! Ga mau gue." potong Qia menolak mentah-mentah jawaban ngasal Vano. Vano mengelus-elus lengannya yang terasa panas karena terkena hantaman kasar Qia.


"Iya iya bercanda kali ah."


"MALAH BERANTEM!! AYO BALIK KE KELAS!!" suruh pak Bambang panas telinga mendengar mereka adu mulut. Tak mau punya masalah pagi-pagi dengan kepala BK itu, mereka berdua langsung ngibrit pergi keluar dari UKS.


....................


"Ini seriusan kita bolos?" tanya Marvel sambil memainkan gitar yang ia pangku sejak ia sampai di dalam kamar bernuansa abu-abu putih milik Rayhan.


"Hm."


"Asik ga jadi ikut ulangan ekonomi linjur." sorak Dika bersuka cita. Cowok berseragam SMA dengan setelan abu-abu atas bawah dengan jas hitam itu duduk di sofa kamar Rayhan, bersebelahan dengan Marvel.


"Sayang banget, padahal ini hari pertama gue setelah dua minggu ngilang." sahut Marvel tapi ia masih fokus juga pada gitarnya. Rayhan mendengus malas, ia kembali merebahkan tubuhnya di kasur empuk miliknya.


"Gue belom nafsu buat ngejalanin hidup lagi." ucapnya singkat. Marvel saling pandang dengan Dika, sudah jelas ini pasti karena kejadian semalam.


Rayhan ditolak lagi dan kena hajar Vano, double kill.


"Lagian lu juga sih ngeyel mulu! Pindah haluan aja kenapa si? Perasaan banyak cewek-cewek Garuda yang ngantri di elo deh Re." tutur Marvel realistis. Menurutnya untuk apa Rayhan terus-terusan mengejar cinta yang sudah jelas tidak akan bisa menjadi miliknya?


"Kali ini gue setuju sih sama Marvel, skip aja lah si Qia! Masih ada banyak kok cewek yang lebih cantik dari pada Qia." sahut Dika membenarkan.


"Udahlah Re fix! Ini lo harus mulai jalan maju dong. Lupain si Qia! Ntar gue ajak lo ke tempat yang banyak ceweknya oke? Gampang bro! Urusan cewek ga usah dibikin pusing." ucap Marvel menaik turunkan alis. Rayhan memutar bola matanya malas, ia tentu tau apa hal kotor yang ada diotak temannya itu.


Rayhan lalu menggeleng kuat.


"Nggak mau! Gue ga doyan cewek, selain Qia." ketus Rayhan penuh penegasan. Marvel memutar bola matanya malas.


"Segitu cinta matinya lo ke cewek yang bahkan cuma nganggep lo sohibnya doang? Ga lebih. Lo bener-bener ga dianggap lebih sama Qia Re." sungut Marvel emosi menghadapi kebucinan ini.


Plak


Dika menabok punggung Marvel yang suka asal nyeplos itu.


"Lo bisa ga si liat-liat situasi Vel? Rehan lagi patah hati, lu tambahin pula." gerutu Dika sebal. Marvel menonyor kepala Dika sebagai balasan.


"Gue cuma realistis b*go!!" ketus Marvel.


Rayhan menghela nafas berat, matanya memejam karena pusing. Pusing karena keributan dua sahabatnya itu, masih mending sahabatnya yang satu lagi sedang tidak ada.


Drtt drtt


📩Jendra


📷send a picture.


"Ada laporan apa dia." lirih Rayhan sambil jemarinya membuka isi chat dari satu lagi sahabatnya yang sementara waktu harus berpisah dengan mereka.


Marvel dan Dika saling pandang, sepertinya mereka bisa menebak siapa si pengirim pesan itu.


"Sialan! Makin kesini makin lengket aja mereka. Semalem aja sok suci sok mau ngejagain! Sekarang dia malah lebih modus dari pada gue." gerutu Rayhan menahan emosi.


"Arghhhhhh!!!"


"Siapa Re?" tanya Dika ketar-ketir melihat perubahan raut wajah Rayhan yang berbeda 180 derajat dari semula.


"Lo dapet info dari siapa hah?" sahut Marvel ikutan nimbrung.


"Dari Jendra, mereka berduaan."


...****************...


"Mau pesen apa bestie? Biar gue yang mesenin." tanya Manda merangkul Ratu yang kebetulan berdiri di sebelahnya. Mereka bersama Deeva dan Qia kini sudah berada di kantin, jam pelajaran ke tiga kosong jadi mereka memutuskan untuk ke kantin saja dari pada diam di kelas.


"Kek biasa aja lah Man." sahut Qia.


"Nah setuju gue! Jangan lupa jus jeruk gue." sahut Deeva membenarkan. Manda manggut-manggut. Ia sudah hafal dengan menu langganan teman-temannya.


"Lo ikut gue atau mau gue pesenin Rat?" tawar Manda. Ratu berfikir sejenak lalu mengangguk.


"Gue ikut lo aja deh, orang galau ga boleh ditinggal sendirian. Takut bunuh diri!" jawab Ratu terkekeh. Manda memutar bola matanya malas.


"Kalo bukan bestie, udah gue lempar lo ke lapangan."


"Ahahahaha."


......................


"By." panggil Bintang menyenggol lengan Gabby. Gabby menoleh dengan tatapan datar dan malas.


"Lo bener-bener pengen gue injek leher lu ya?" tanya Gabby hampir kehabisan kesabaran. Bintang hanya nyengir.


"Gue haus by, ke kelasnya Kodam yuk!" ajak Bintang. Gabby menghela nafas pasrah, memang sebaiknya ia menggunakan cara bodoamat saja dalam menghadapi Bintang yang tidak waras ini. Lebih baik membiarkan mulut Bintang bergerak sesuai keinginannya saja dari pada harus lelah menghadapinya.


"Kalo haus ya minum, ngapain lo ke kelasnya mereka? Lo pikir ada air gratis hah?!"


"Ya kan maksudnya kita ajak mereka bolos By, baru deh kita ke kantin bareng-bareng." jawab Bintang menjelaskan alasannya. Gabby menggeleng-geleng.


"Gue ga akan ke mereka sebelum misi gue berjalan." jawab Gabby berdiri dari duduknya. Bintang auto mendongak karena ia masih duduk.


"Mau kemana dulu lo? Nyari yang namanya Raja itu?"


"Untuk sekarang ada yang lebih penting dari pada ngurusin Raja."


"Apaan?"


"Deeva." jawab Gabby singkat dan mulai otw mendekati tempat duduk Deeva. Sepertinya anak itu tidak tau kalau Deeva dan teman-temannya sudah pergi.


"DEV DEEVA DEV!!!" panggil Gabby dengan teriakan surpernya. Bintang mengeryitkan alis heran, Gabby ini tidak tau atau tidak lihat tadi? Jelas-jelas gengnya Deeva tadi pergi saat ketua kelas menyampaikan kabar jamkos.


"Deeva kemana? Kok ilang semua berempat?" tanya Gabby bermonolog. Ia menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.


"Lo lupa atau buta By?" tanya Bintang. Gabby menoleh dengan satu alis terangkat.


"Kenapa? Lo tau Deeva dimana?"


"Lah kan Deeva and the geng udah ke kantin sejak tadi."


"Kapan? Kok gue ga inget?"


"Ah banyak tanya lu! Makanya nurut ke gue. Kita jemput anak-anak dulu, habis itu kita susul Deeva ke kantin." ajak Bintang tak sabaran dan langsung menarik lengan Gabby keluar kelas.


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰