
Di depan pagar rumah bernuansa putih keemasan, berdiri seorang laki-laki yang sedang memperhatikan sebuah jendela kamar yang meremang di lantai dua.
Sammuel. Yap! Dia sangat tau sekali kalau kamar yang ia perhatikan sejak tadi adalah kamar milik Deeva karena ia pernah sekali diberitahu letaknya oleh Gabby saat melayat waktu itu.
"Tapi kenapa gua harus cemburu? Deeva bebas terbang kemanapun, dia bebas milih sama siapa aja dia mau deket. Cih goblok lo Sam!" monolog Sammuel memukul tembok gerbang di depan tubuhnya. Setelah pikirannya jernih, Sammuel memutuskan untuk pergi pulang.
"Lagian ngapain juga gua di sini? Gila namanya kalo gua mau marah ke dia." ucapnya tersenyum kecut. Setelah itu, tanpa menunggu lama ia segera menancap gas dan pergi dari area rumah Deeva.
Brum brum
...****************...
Brum brum
"Siapa Gab?" tanya Deeva mendongak dari laptop yang sedang gunakan untuk menonton drakor. Nah sekarang kalian tau kan kenapa Deeva sangat ahli dalam hal cinta dan bermain?
Gabby yang sedang mencari sumber suara dari balik gorden jendela itu menggeleng dengan mengendikan bahu. Samar-samar ia mendengar deruman motor dari bawah, tapi saat mengintip dari jendela ia tidak menemukan apapun di bawah sana.
"Ga ada siapa-siapa, orang kebetulan lewat kali."
"Oh.... Ya udah sono lu pulang! Diamuk nyokap lo baru tau rasa ntar." usir Deeva karena ia sudah lelah direcoki oleh Gabby sedari tadi. Ia tidak bisa menonton drama favoritnya dengan tenang karena Gabby terus mengajaknya bicara seputar Raja dan rencana mereka selanjutnya.
"Siapa bilang habis dari sini gue bakal pulang?" tanya Gabby yang malah mendudukkan dirinya lagi di sofa kamar. Deeva memutar bola matanya malas, kenapa hidupnya selalu seperti ini? Kakak kandungnya sebelum menikah juga suka menganggunya, sekarang ia juga mendapatkan ipar seperti Gabby pula.
"Terus mau nge-gembel kemana lo?"
"Ngeramein markas."
"Gila kali. Udah jam 9 tuh! Ntar tante nyariin." omel Deeva.
"Udah biasa gue dicariin. Dahlah cerewet lu! Balik aja gue."
...****************...
"Gua cabut dulu ah." pamit Jendra berdiri dari kursi. Dika yang sedang duduk di sampingnya memutar bola mata malas.
"Lo udah tiga kali bilang mau cabut, tapi masih aja di sini!" ketusnya. Jendra nyengir.
"Kali ini gue serius Dik-"
BRAK
"RAYHAN WOY RAY GILAK!!!" pekik Marvel heboh setelah menendang pintu hingga terbuka. Rayhan yang sedang berdiri di daun jendela ruangan atas itu menoleh tanpa minat sementara dua temannya yang lain tampak antusias menunggu kabar apa yang dibawa oleh Marvel.
"Kenapa Vel?" tanya Rayhan kembali membelakangi temannya itu. Marvel tampak menunjuk-nunjuk ke arah bawah, karena mereka berempat sedang berada di ruangan khusus milik Rayhan maka itu artinya ada sesuatu di lantai satu.
"Ada siapa di bawah?" tanya Dika.
"Barusan gue liat Qia dateng. Udah masuk sini juga." jawab Marvel, Jendra melotot kaget sementara Rayhan tampak melongo tak percaya. Tapi untuk apa Qia kemari? Sejak kesalahan kecilnya malam itu, gadis itu bahkan selalu mengabaikan chat darinya.
"Mampus gue masih disini." cicit Jendra yang langsung buru-buru berdiri dan ingin pergi keluar dari ruangan Rayhan, tapi terlambat! Pintu kayu itu sudah lebih dulu diketuk dari luar sebelum Jendra berhasil mencapainya.
Tok tok
"MASUK!!!" suruh Marvel refleks. Jendra makin panik dibuatnya, ia masih di dalam sana dengan penyamaran sebagai Raja tapi Marvel malah seenak jidat.
"Sialan lo Mar-"
Cklek
Tak sempat memaki sepupunya, Jendra segera menarik dirinya untuk bersembunyi di balik pintu yang dibuka oleh Qia. Benar-benar Qia!
"Eh? Rame nih, kalian lagi sibuk?" tanya Qia pada Marvel. Segera saat ini Jendra berjinjit pelan untuk kabur, dan berhasil!
"Enggak kok, lo sini aja. Tuh si Ray-"
"Ngapain lo kesini?" sinis Dika memotong Marvel. Qia kini beralih menatap kearahnya. Ini bukan hal yang aneh bagi Qia, sedari dulu ia sudah tau betul perangai Dika yang keras.
"Psssttt." suruh Marvel meletakan telunjuknya di bibir. Dika tak menggubrisnya.
"Puas lo liat temen gue kek gini hah?!" ulang dika lagi. Ia menunjuk wajah Rayhan yang penuh oleh luka lebam, yang baru ia dapatkan dari kakaknya Qia tadi siang.
"Gue bilang lo diem dulu bangs*t. Sini lo!" gerutu Marvel menyeret Dika keluar ruangan. Meninggalkan rayhan dan Qia di ruangan senyap itu.
"Ada perlu apa lo kesini?" tanya Rayhan menaikkan sebelah alis.
"Gue cuma mau minta maaf atas nama bang Raga."
...****************...
Sesampainya Qia di rumah. Oh ralat! Lebih tepatnya di garasi rumah.
"Huh untung aja bang Aga belum balik dari markas, aman gue." lega Qia saat mencari keberadaan motor kakaknya dan tidak menemukannya, itu artinya ia masih berada di markas motor DS Boys.
Tak membuang waktu karena ini sudah lebih dari jam sepuluh malam, Qia buru-buru menaiki lantai tiga dimana kamarnya berada. Keuntungannya disini adalah orang tuanya masih belum pulang dari luar kota, jadi dua bersaudara itu makin leluasa terbang kesana-kemari. Dasar kembara kembar nakal!
[Send a photo to Bintang]
Gue ngeliat plat motor yg lo blg waktu itu Tang
Di markas BB
[Message from Bintang]
Besok kita bicarain brg Gabby aja Qi.
Read.
"Kalo tadi itu beneran motor Raja, tapi kenapa gue ga ngeliat dia di dalem ya?"
"Tapi tadi pas gue mau pulang, motor itu udah ga ada. Apa mungkin?" monolog Qia lagi. Ia terus bertanya-tanya tentang siapa sebenarnya pemilik motor yang platnya sama persis dengan orang yang ditemui Bintang malam itu.
"Entah gue yang salah liat atau emang itu Raja yang keburu pergi setelah tau ada gue. Dahlah pusing! Tadi panas sekarang puyeng ni kepala." gerutu Qia yang akhirnya kesal sendiri.
...****************...
Brum brum
Brum brum
Dua motor sport menderu nyaring dan saling sahut menyahut. Raga dan Vano!
Keduanya bertemu tepat di depan gerbang rumah yang menjulang tinggi. Raga tau betul siapa orang yang mendatangi rumahnya itu, ia membuka kaca helmnya lalu mematikan motor.
"Ngapain lo malem-malem kemari?" tanyanya setengah ngegas. Vano menjawab dengan tunjukan tangan ke arah kamar paling atas, tepat di kamar Qia yang lampunya sudah meremang gelap. Mungkin karena sudah tidur?
"Matiin motor lo, berisik! Ganggu adek gue tidur." omel Raga menyuruhnya dengan tatapan tajam.
"Oke." Vano langsung mematikan motor, melepas helm dan langsung nyelonong menuju gerbang.
"Eitss mau kemana lo?" sela Raga menarik kerah jaket Vano dari belakang. Vano menghela nafas, pertanyaan macan apa ini?
"Nemuin adek lo lah, masa nemuin mama lo bang."
Raga melirik jam tangannya, sudah hampir jam setengah sepuluh, malam.
"Udah gila lo! Ga ada ketemu Qia jam segini, dimana-mana juga jam jenguk cuma sampek jam 9 malem." sengat Raga. Vano terhenyak karena nada bicara yang tiba-tiba meninggi dari sebelumnya.
"Yailah bang, ini urgent banget please kasih gua masuk bentar lah." pinta Vano menyatukan kedua tangan, memelas.
"Ck. Lo hidup di jaman apaan sih? Sekarang ada handphone bro!! Telfon aja kalo penting." suruh Raga geleng-geleng.
Sepertinya Vano ini adalah ketua geng motor cap primitif.
"Handphone gue ketinggalan di rumah." jawab Vano meraba saku jaket dan celana yang kosong untuk meyakinkan tembok besar pelindung Qia ini.
"Oh kalo gitu cara penyelesaiannya cuma satu Van."
"Paan tuh? Kasih gua masuk kan? Ok-"
"Enggak."
"Terus apaan?"
"Itu artinya.... BUKAN URUSAN GUA!! Lu pulang aja sekarang husss.... Besok aja lu kemari lagi." usir Raga membalikkan badan Vano lalu mendorongnya menuju motor. Vano bersikeras ingin kembali membalikkan diri tapi selalu dihalangi balik oleh Raga.
"Ah bang, please lah!!"
"Gak."
"Bang ayolah...."
"Gue bilang enggak ya enggak."
"Besok gue ajak balapan deh, taruhan pake mobil gue. Gimana? Tapi kasih gue waktu bentar aja buat nemuin Qia." cicit Vano terus berusaha nego. Raga sempat berfikir sejenak, memenangkan sebuah mobil sepertinya menyenangkan tapi adiknya adalah hal yang berbeda.
Tidak sebanding.
"Lo pulang sekarang atau gue cepuin ke papa gue nih? Biar mampus lo dicap cowok ga bener. Milih mana lo hah?!" ancam Raga menggunakan jalan terakhir. Vano auto berhenti mendesak.
"Ck. Ga adil lu bang! Kek bokap gue dikit-dikit ngancem."
"Ssstt itu derita lu Van, bukan derita gue."
"Awas lu ye!"
"Hm, gue tunggu anceman baliknya brother!!"
"Dahlah."