DEVANO

DEVANO
108. UWWU



Di tepian danau yang rindang dan sunyi sepi, seorang laki-laki berkaos basket lengkap dengan jaket kebanggaannya masih melamun sedari satu jam yang lalu. Ia bahkan tak merubah posisi duduknya sejak awal hingga sekarang.


Sammuel. Yap! Hanya tangannya yang sesekali bergerak melempari danau menggunakan batu kerikil kecil, dibalik diamnya ada banyak sekali tekanan di dalamnya. Rasa marah, kesal dan tentunya rasa ingin membalas semua perbuatan Rayhan atas Ghosterion dan teman-temannya selama ini.


Dan yang paling membuat api dalam dirinya semakin tersulut adalah saat ketua geng Bloody Bat itu hampir menikam Adam menggunakan pisau lipat.


"Kak Sam?"


Sammuel menoleh. Siapa yang berani mengusik sepinya yang sedang mencoba berdamai dengan dirinya sendiri? Orang berani itu adalah Deeva.


"Ngapain lo?" tanya Sammuel kembali membelakangi Deeva.


Sementara Deeva langsung mendudukkan dirinya tepat di samping Sammuel, ikut menatap hamparan air danau yang tenang tanpa aliran.


"Harusnya aku yang nanya, kak Sam ngapain disini? Sendirian pula."


"Duduk doang."


Deeva menoleh seketika, menatap Sammuel malas dengan hembusan nafas lelah.


'Emang dasarnya gue yang salah nanya, jawaban dia tetep bener meskipun ngeselin.' batin Deeva heran pada sifat 'apa adanya' Sammuel yang kelewat batas.


Meratapi sifat menyebalkan Sammuel sambil mencari topik lain, Deeva akhirnya menemukan sesuatu. Kenapa bisa ada luka lebam di punggung tangan Sammuel? Deeva bisa melihatnya dengan jelas karena Sammuel menggunakan kedua tangannya sebagai tumpuan.


"Tangannya kok gitu? Lebam." tanya Deeva menatap Sammuel. Sammuel menoleh ke samping, sepersekian detik mata mereka saling memaku dalam.


"Coretan seni." jawab Sammuel singkat dan padat seperti biasa.


"Ni anak ga bisa serius dah." decak Deeva.


"Siapa juga yang bercanda? Ga ada." kekeuh Sammuel tak mau mengalah, biasalah. Bertatapan seperti ini membuat Deeva menyadari ada luka lebam lain di wajah bringas Sammuel.


"Ini juga nih bonyok begini! Habis ngapain aja sih hah?!"


"Habis buang tenaga sama emosi."


"Kak...." cicit Deeva menghela nafas. Satu alis Sammuel terangkat sebagai respond.


"Paan?"


"Tunggu disini bentar!"


"Mau kemana lo?" tanya Sammuel mengeryit heran karena Deeva berdiri tiba-tiba dan langsung berlari pergi begitu saja tanpa menjawab pertanyaannya.


"Bisa-bisanya dia nyuekin gue." gerutu Sammuel. Pentingnya punya kaca:')


...****************...


"Psstt psstt ada cewek cantik jalan kemari woi!" bisik seorang laki-laki pada temannya yang lain. Ia bersama beberapa temannya yang lain sedang duduk-duduk santai di luar markas, dibawah pohon mangga yang rindang.


"Buset cakep bener."


"Mata gue minus 0,4 juga langsung bening kalo begini."


"Tomboi tapi tetep bisa cantik+++ beuh idaman gue banget bro!"


"Tipe ideal gue sebenernya cewek feminim, tapi kalo tomboinya model begitu mah gue ga bakal nolak."


"Lo pada ga usah maju, biar gue yang ambil."


"Mata lo! Lu pikir lu doang yang doyan? Gua juga mau kali."


"Gue juga mau cok!"


Tapi sebagaimana hukum alam selalu berjalan sesuai arus. Dibalik semua mata yang melongo takjub, pasti akan selalu ada sepasang mata yang menyadarkan mata yang lain.


"Bagus! Maju aja sono kalo lu pada mau di remukin sama si Vano." lerai Putra, anak Ghosterion yang juga bersekolah di SMA Airlangga dari kelas 12 ips.


"Hah?"


"Apa hubungannya sama pak ketua?"


"Tuh cewek anak Airlangga, ceweknya Vano. Jadi kalo lo udah bosen makan nasi, ya udah sono aja ambil tuh cewek!" suruh Putra enteng memasukkan kedua tangannya ke dalam jaket seolah mempersilahkan teman-temannya melakukan apapun yang mereka mau. Sesekali matanya melirik ke atas pohon mangga, entah apa yang sedang ia beri kode.


"Seriusan lo?!!"


"Hm."


"Buset!!"


"Seleranya Vano oke juga."


"Selain pinter ngehajar orang, pinter nyari cewek juga dia." salut yang lain lagi.


"Ck ck ck ternyata judesnya Vano cuma topeng buat dapetin spek bidadari woi!"


"Apa hubungannya tolol."


"Ya ga tau sih, tapi ya hubung-hubungin aja kali ah."


"Agak lain memang temen gue yang satu ini."


"AHAHAHAHA."


"Eumm permisi?" ucap Qia menghentikan perghibahan diantara mereka. Yap! Qia sampai datang sendirian ke markas motor Ghosterion untuk mencari Vano karena cowok itu tidak bisa dihubungi sejak tadi.


"Eh ada si cantik milik si pemberani, aya naon teh?" tanya Roni, triplle lawaknya Adam dan Bintang.


"Jangan genit lu buaya!" senggol salah seorang temannya memperingatkan. Roni memang suka jelalatan. Meskipun niatnya bercanda, tapi menggoda cewek yang sudah diklaim atas nama Vano jelas tidak akan berakhir baik untuk kelangsungan hidupnya.


Btw inget ya kalo kalian ketemuu cowok yang inisial R, run aja bestie run!!


"Kak Vano ada disini ga?" tanya Qia to the point.


"Cieeee uhuyyy!!!"


"Piuwwitttt...."


"Pada kenapa sih?" heran Qia lirih.


"Nah elu!" tunjuk Qia pada seorang laki-laki yang menurutnya tak asing di matanya.


Putra yang merasa terpanggil pun menunjuk dirinya sendiri.


"Gue?" tanyanya. Qia mengangguk.


"Lo anak Airlangga kan?"


"Iya, terus kenapa?"


"Kak Vano mana? Temen-temen lo aneh, pada sorakan ga jelas."


"Di atas." jawab Putra enteng.


"Maksudnya di lantai dua?" tanya Qia menatap bangunan markas berlantai dua di depannya. Putra menggeleng.


"Perasaan tadi dia di sini juga deh, tapi kapan dia masuk ke dalem?" celetuk Roni. Ia baru ingat kalau tadinya Vano gabung di meja mereka, tapi sekarang entah kemana perginya.


"Bukan didalem, tapi di atas." ulang Putra.


"Lo ngomong apaan sih Put?"


"Kak gue serius! Kak Vano mana? Urgent ini." pekik Qia hampir frustasi. Tidak Vano, tidak teman-temannya, semuanya sama saja! Hobi memancing emosi.


"Ck. Kalo gue bilang atas, berarti lu harus ngedongak!" suruh Putra menunjukkan tangannya ke arah atas.


"Hah?"


Baru saja Qia, Roni dan yang lain ingin mengikuti perintah Putra, suara sesuatu terjun jatuh dari atas mengejutkan mereka.


Gedebuk


"Gue udah di bawah." ucap Vano setelah ia terjun dari langit. Oh ralat! Ia melompat jatuh dari pohon mangga yang berada tepat di atas kepala teman-temannya.


Qia melongo heran sama seperti anak-anak Ghosterion lain yang sama bingungnya kecuali Putra karena ia sudah tau sejak tadi kalau Vano sedang duduk di atas ranting pohon sambil memakan mangga yang mulai ranum.


"Lo? Dari atas sana?" tanya Qia dengan mulut masih ternganga lebar. Vano manggut-manggut santai.


"Lagi pengen makan mangga muda."


"Udah mirip monyet." lirih Qia pelan.


"Apa?"


"Van lo tadi denger kan temen-temen terkutuk lo ini pada ngomongin apaan?" pancing Putra kompor. Para cowok yang tadi ikut mengagumi aura Qia dan berkhayal memilikinya auto panik.


"Woy woy jangan kompor woy!!"


"Emang hock banget si Putra." gerutu Roni tak terima dengan bakat cepu Putra ini.


"Nah apalagi elu! Nih dia nih Van, si Roni dari tadi semangat banget godain cewek lu." tunjuk Putra bersemangat.


"Wah parah lu Put! Enggak Van enggak, tuh anak emang kompor hock api nyala paling besar. Jadi ngelantur mulu dia!" elak Roni.


"Ga usah dikomporin Putra juga gue udah liat sendiri Ron." ucap Vano membuat yang panik semakin panik.


"Ng-anu itu kidding doang ketua."


"Alah buaya R mana bisa dipercaya! Pokoknya awas aja kalo lu pada berani nyenggol cewek gue, gue bikin lu cuma bisa makan bubur 7 hari 7 malem."


'Cewek gue? Maksudnya gue? Emang udah masuk kandang buaya gue arghhh....' batin Qia blushing dalam saltingnya.


"Kenapa lo diem?" tanya Vano kembali fokus pada Qia. Qia menggeleng kikuk.


"Hah? Enggak."


"Cielah salting ya? Ahahahhaha."


"B aja! Eh loh? Bibir lo kenapa kak?"


"Lo ngapain kesini? Tumben? Ada mas-"


"Ga usah ngalihin topik! Gue nanya, bibir lo kenapa? Jidat lo juga tuh." potong Qia memasang tatapan datar yang membuat Vano mati kutu.


'Ni anak lama-lama auranya nyeremin juga kek nyokap.' batin Vano ketar-ketir.


"Ciee kang tonjok diperhatiin sama doi bray!!" sorak Roni, si paling buta suasana.


"Kasmaran ihiiii...."


"BUCIN BUCIN."


"Berisik lu pada!" ketus Vano kesal, kemudian menggenggam tangan Qia dan menariknya masuk ke dalam markas tanpa izin.


"Eh mau kemana?" tanya Qia memekik.


"Lo ga ada niatan ngobatin luka gue?" tanya Vano menoleh tapi tetap berjalan. Qia menggeleng santai.


"Udah bosen saking seringnya!"


"Sekali ini aja."


"Alah besok juga bakal diulangin lagi."


"Berperang adalah seni."


"Seni matamu!"


...****************...


"Itu apaan?" tanya Sammuel menunjuk kotak putih yang dibawa oleh Deeva. Deeva kembali mendudukkan dirinya di samping Sammuel.


"Bunda kamu kan dokter, masa kamu ga tau ini kotak p3k?"


"Maksud gue buat apaan lo bawa kemari!" ulang Sammuel jengah. Ia lupa kalau Deeva ini meskipun buaya tapi kadang suka ngelag parah alias lemot. Sangat cocok sekali dengan dirinya yang mudah emosi dan suka ngegas bukan?


"Buat luluran." jawab Deeva ngelantur.


"Dih?"


"Udah ah bawel, diem." omel Deeva langsung sat set menuangkan betadine di kapas untuk dioleskan ke beberapa memar di wajah tampan nan garang khas seorang Sammuel Atmajaya.


"Eh apaan nih.... Ga usah diginiin gue." tolak Sammuel mencekal pergelangan Deeva yang hendak menyentuh wajahnya.


Bukan Deeva kalo nggak suka ngelawan arus!


"Udah ah sini.... Berisik banget!" gerutu Deeva langsung menarik kedua pundak Sammuel agar mendekat. Kalau ia menunggu Sammuel mendekatkan dirinya sendiri, maka sampai besok shubuh pun mereka akan tetap berada disini.


Glek


'Ni cewek bener-bener mau nguji gue apa gimana?' batin Sammuel menelan ludahnya kasar. Bagaimana tidak panik? Jaraknya dengan Deeva saat ini hanya kurang dari satu jengkal saja.


"Aku tau kak Sam ga bakal ngaduin apapun, tapi aku tau pasti kak Sam habis berantem lagi kan? Sekali-kali ga bisa ya nyelesain masalah tuh pake otak adem aja gitu." cerocos Deeva mengomel.


"Ga bisa lah, kalo bisa pake otot ngapain pake damai?" sahut Sammuel enteng. Deeva melotot tajam, sejenak menghentikan olesan betadine di wajah Sammuel sebelum akhirnya menekannya dengan sangat kuat.


"Ah ah auuu sakit woy!! Pelan aja bisa kali, lo mau ngehajar gue Deev?" pekik Sammuel gelenjotan karena lukanya jadi semakin perih saat ditekan dengan sengaja oleh gadis di depannya ini. Tapi Deeva tak peduli, ia masih memasang tatapan tajam.


"Kalo bisa pake otot ngapain harus pelan-pelan?" sahut Deeva meniru-balikkan ucapan Sammuel yang tadi.


Sammuel menghela nafas.


"Dasar cewek!"


"Apa?"


"Nggak ada. Lagian lu kenapa bawel banget sih hah?! Gue ga pulang ke rumah karena males diomelin bunda, lah elu malah mampir kesini segala! Pake ngomel-ngomel mulu lagi dari tadi." tanya Sammuel setengah kesal.


"Bunda kamu marah ya karena bunda takut anaknya kenapa-napa! Wajar lah kalo ibu mengkhawatirkan anaknya." jawab Deeva masih dengan nada mengomel.


"Terus lo? Gue anak lo juga?"


"Ayahnya anak-anak gue sih." lirih Deeva refleks.


"Apa?"


"Hah? Ng-nggak.... Nggak jadi."


"Gue rasa lo sempet bilang sesuatu tadi." bukan Sammuel kalo nggak ngeyel. Laki-laki itu memicingkan mata curiga.


"Nah udah beres!! Habis ini jangan dipake aneh-aneh lagi. Sayang banget tau muka ganteng gini dibonyokin mulu." ucap Deeva mengalihkan topik.


"Biasa aja."


"Sayang banget kan?" tanya Deeva tiba-tiba. Sammuel mengeryit aneh.


"Apanya?"


"Ya itu muka kamu kak, sayang banget kan kalo dibonyok-bonyokin mulu?"


"Iya, terserah lo aja deh."


"Iya apanya?"


"Iya sayang."


"Aku juga sayang kok." sahut Deeva gercep dengan blushing dan salting yang ia rencanakan sendiri.


"Lo sakit ya?" tanya Sammuel meletakan telapak tangan kekarnya ke jidat Deeva yang terhalang poni. Percayalah! Sammuel tidak sepolos dan secuek itu, sebenarnya ia tau dan mengerti apa yang dikatakan oleh Deeva. Hanya saja mengingat kejadian Deeva dan Kevin kemarin membuat jiwa balas dendamnya meronta, makanya dia sengaja membuat Deeva kesal dengan 'sok tidak dengar'.


"Enggak ih!!"


"Ya udah kalo gitu ayo balik! Udah mau gelap." ajak Sammuel berdiri. Deeva mengangguk.


Sesampainya di tepi jalan.


"Itu sopir lo kan?" tanya Sammuel saat menemukan mobil putih terparkir bersebelahan dengan motornya.


Deeva mengangguk.


"Hm."


"Ya udah sana masuk! Pulang gih." suruh Sammuel mengkode Deeva menggunakan jari telunjuk. Deeva melongo, ini tidak seperti yang ia harapkan sebelumnya woy!


"Kenapa? Lo berharap gue bakal nawarin diri buat nganterin lo pulang ya? Ga bakalan gue lakuin hari ini. Gue lagi sibuk, gue bukan tukang ojek dan gue harus jemput nyokap di rumah sakit sekarang." ucap Sammuel menjelaskan secara rinci bahkan tanpa ditanya oleh Deeva.


Ternyata benar kata orang, jangan pernah berharap pada dzat selain allah:')


"Kalo ga mau juga biasa kali! Ga usah jutek gitu." gerutu Deeva manyun. Entah sejak kapan gadis itu jadi lebih berani berekspresi saat bersama sang pujaan hati.


"Setelah gue emang udah gini dari pabriknya."


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK😍