
"Enghhhh hoamm!!"
Seorang gadis cantik melenguh penuh kantuk di dalam dekapan hangat selimut tebal berwarna abu-abu putih, senada dengan bantal guling ranjang.
Matanya mengerjap kecil, berusaha menyesuaikan dengan silau mentari pagi yang masuk melalui celah lubang jendela bertirai putih abu-abu juga. Kamar yang sangat asing! Warnanya serba abu-abu, putih dan hitam.
Oh tunggu!! Ini kamar siapa? Qia tidur dimana semalaman ini?
"Kok gue bisa di kamar orang? Kamar siapa nih?" tanya Qia berubah menjadi super panik setelah menyadari kalau ia tidak sedang berada di dalam kamarnya.
Qia memutar pandangan kesana-kemari, memperhatikan desain interior kamar yang gentle man parah. Dan ini dia jawabannya!! Qia menemukan sebuah foto yang terpajang di atas nakas.
Foto Vano bersama kedua orang tuanya.
Sontak raut wajah Qia berubah menjadi panik, ia kalang kabut sendiri. Buru-buru ia membuka selimut yang menutupi tubuhnya. Terdengar helaan nafas lega saat ia mendapati dressnya masih utuh tak kurang apapun. Qia tobat lu! Suudzon mulu jadi orang.
"Oke gue masih pake baju, berarti gue ga di apa-apain sama kak Vano." desis Qia mengelus dadanya lega.
Kriet
"Semalem gue ketiduran ya?" tanya Qia begitu ia melihat Vano masuk. Ada segelas susu putih di tangannya. Sepertinya Vano baru saja selesai mandi, rambutnya masih lumayan basah
"Iya. Berat banget gendong elu! Badan kecil tapi berat banget, pasti dosa lo udah over load tuh." jawab Vano menyebalkan.
Qia menatapnya datar tapi malas.
"Terus kenapa di bawa ke sini? Kenapa enggak anter ke rumah aja?" tanya Qia lagi.
"Mama lo yang nyuruh." jawab Vano seraya meletakan segelas susu tadi di atas nakas samping ranjang. Vano mendudukkan diri di tepian ranjang, tepat di samping Qia.
"Hah? Seriusan?" pekik Qia sedikit bergeser, hanya untuk memberi jarak untuk wajahnya dan wajah Vano.
Vano mengangguk santai sementara Qia berdecak.
"Ck. Mama sembarangan aja ngasih anak gadisnya ke cowok. Astaghfirullah emang random banget emak gue." keluh Qia mendengus sebal.
"Bukannya tante Andin gitu, lagian juga lo aman kali sama gue. Gini-gini juga gue bukan predator ya! Gue masih SUCI." jawab Vano menekankan kata suci.
Qia menaikkan sebelah alis.
"Ya terus?"
"Jadi tuh ceritanya Raga pulang semalem, mama lo takutnya entar gue sama lo kena semprot sama dia. Terus mama lo alasan kalo lo tidur nginep di rumah Deeva yang habis berkabung, Makanya tante andin nyuruh gue nganterin lo ke apartemen lo aja." terang Vano panjang lebar.
'Yes bang Raga pulang!!'
Qia manggut-manggut.
"Tapi ini bukan apartemen punya gue tuh?" tanya Qia lagi.
"Ya kan gue ga tau apartemen lo dimana." jawab Vano enteng.
"Kenapa ga nanya?"
"Kan lo ketiduran di mobil."
"Kenapa dibangunin aja?" tanya Qia lagi. Sumpah demi apapun ingin sekali Vano menyumpal mulut cerewet di depannya ini dengan sesuatu yang bisa membuat gadis bawel ini diam.
"Gue ga tega. Muka lo kusut banget semalem. Dah ah nanya mulu!!" semprot Vano memutar bola matanya malas.
Qia manggut-manggut saja.
"Jadi abang gue pulang nih?"
"Iyaaaaaaaa Qiaaaaaaaa." jawab Vano memanjang karena malas.
"Aaaaa kak Vano anterin gue pulang sekarang ayok!!!" pekik Qia bersemangat dan langsung menyingkap selimutnya. Kakinya bersiap turun dari ranjang tapi tangan kekar Vano lebih dulu mencekal kaki mulus itu.
"Haisss tidak semudah itu!" ucap Vano sedikit menekan kaki Qia agar tak bergerak.
"Apa lagi? Gue kangen tau sama bang Raga!!" tanya Qia ngomel.
"Iya gue tau." jawab Vano singkat kemudian melepaskan kaki Qia dan beralih mengambil susu yang ia letakan tadi.
"Nih tapi minum dulu susunya." suruh Vano menyodorkan gelas berisikan susu putih pada Qia.
Qia memicingkan matanya curiga.
"Ini ga ada obat biusnya kan?"
"Curigaan mulu lo sama gue!"
"Hahaha santai bos, marah-marah mulu dari tadi!! Udah kek bapak-bapak yang ngasih minum anaknya aja." ledek Qia dengan komuk menyebalkan.
"Lebih mirip suami yang ngasih susu buat istrinya sih." sangkal Vano terkikik kecil. Qia cengoh.
"Hah? Maksudnya gue jadi istri lo gitu?" tanya Qia. Vano mengangguk dengan santainya.
"Iya! Sekarang gue udah ngasih lo susu, entar malem gantian lo yang ngasih gue sus-"
Plak
Qia menabok paha Vano di sampingnya.
"Ngawur!! Otak cabul astaghfirullah." semprot Qia melotot. Vano mengelus pahanya yang panas, padahal sudah terlapisi oleh celana hitam, tapi damagenya masih bisa menusuk masuk hingga tulang.
Qia menarik selimut dan ditutupkan ke dadanya. Matanya menatap Vano dengan tatapan trauma. Vano langsung menonyor kepala Qia setelah tau apa maksud tatapan yang diarahkan padanya itu.
"Maksud gue itu susu boneto Qiaaaa!! Otak lo tuh yang kotor mulu." balas Vano mengomel.
"Boneto? Lo masih kurang tinggi?"
"Iya kurang! Masih belom genep tiga meter." sahut Vano ngawur.
"Hallah alasan!! Cowok emang gitu ya, otaknya masyaallah banget!! Cuma bang Raga doang yang-"
"Sssttttt!!" potong Vano meletakkan jari telunjuknya di bibir Qia.
"Minum ini dulu bawel!! Cerewet banget si." gerutu Vano kesal. Qia menggeleng.
"Ga mau! Lo cabul, gue trauma ah sama lo kak."
"Lo minum atau gue cium?" sergah Vano cepat. Seketika mata Qia membulat, tangannya buru-buru menyambar gelas susu di tangan Vano.
"Iya iya gue minum!! Ngancem mulu!" ketus Qia. Vano tertawa mengejek penuh kemenangan.
"Nah anak pintar!!"
"Tapi habis ini anterin pulang ya?" pinta Qia memelas. Ia telah menghabiskan setengah isi gelas.
"Enak aja! Bikinin sarapan dulu kek, gue laper." tolak Vano merengek.
"Lah? Lo punya apartemen sendiri tapi ga bisa masak?" tanya Qia heran.
Vano menggeleng polos. Qia menghela nafas pasrah.
"Orang gue beli apartemen ini cuma buat nongki sama anak-anak kalo bosen di rumah." jawab Vano dengan polosnya.
Qia beringsut turun dari ranjang, Vano terus menatap Qia yang berusaha turun dari ranjang dengan dress pendeknya ini. Pemandangan yang baru pertama kali ia lihat, seorang gadis bangun tidur dari ranjang miliknya. Dan di depan matanya pula! Arghhh ingin sekali Vano melihat pemandangan indah seperti ini, setiap pagi.
"Mau makan lo boleh?" tanya Vano ngelantur lagi. Sifat cuek dan bodoamat yang selalu terpancar kuat tiap berada di samping perempuan, kini sudah tak berlaku lagi saat dia bersama Qia. Entah mengapa, Vano selalu merasa bisa jadi dirinya sendiri di depan Qia. Vano yang sebenarnya asik, doyan ngomong, dan jadi laki-laki normal yang otaknya suka belok tak karuan.
"Astaghfirullahaladzim, liar banget congornya mas? Lo kira badan gue lontong?!!" semprot Qia.
"Lontong thailand pake sambel kecap sama tahu jepang! Mauuuu Qiii!!" cerocos Vano tak jelas.
"Gue tampol pake gelas mau hah?" tanya Qia balik sambil mengangkat gelas setengah isi di tangannya. Bersiap melayangkannya kepada Vano yang tengah meringis ngeri.
"Hehe enggak jadi. Nasi goreng aja deh." ralat Vano waras kembali.
"Oke." Qia menyerahkan bekas gelasnya kepada Vano, ia kemudian mulai berbalik pergi setelah memakai sandal jepit hitam di dekat ranjang. Pasti itu sandal punya Vano.
Glek glek.
Vano meminum sisa susu di gelas itu dengan suara yang sengaja dibuat nyaring, agar si empunya menoleh. Dan benar saja! Qia langsung menoleh.
"Kak itu kan bekas bibir gue!!" pekik Qia ingin merebut gelas yang di sosor oleh Vano. Telat! Isinya sudah terlanjur habis.
"Arghhhh seger bener!! Ga papa, ini enak kok." jawab Vano sok polos. Padahal ia tau apa maksud Qia.
"Ga boleh woy!! Itu kan sama aja kissing tapi enggak kissing, eh ah tau ah pusing gue pagi-pagi!!" omel Qia lagi.
"Ya dari pada mubadzir Qi." jawab Vano sok polos tanpa merasa bersalah.
'Bekas bibir Qia enak banget anj*ng!! Ga kebayang kalo gue nyosor bibirnya langsung tuh. Astaghfirullah liar banget congor sama otak gue sekarang!!' batin Vano geleng-geleng menepis pikiran kotornya sendiri.
"Huffttt serah deh!! Gue mau masak ke dapur." pungkas Qia menyerah debat dengan Vano.
"Udah kek cosplay jadi istri gue aja dia." lirih Vano menatap kepergian punggung Qia.
Vano menyunggingkan senyuman tampannya. Menertawakan dirinya sendiri! Dia yang selalu sombong menertawakan Bagas yang jadi bucin, kini sepertinya ia telah mendapatkan karmanya. Makin lama, ia makin yakin dengan hatinya. Hanya tentang Qia.
Vano benar-benar tak bisa menyangkal perasaannya kepada Qia, tapi ia juga tak akan mengungkapkannya semudah itu. Ini cinta pertamanya, ia tak mau gagal di first time ini. Vano harus memastikan perasaan Qia padanya terlebih dahulu sebelum Vano mengungkapkan perasaannya. Harus!
Baru saja Qia hendak menuju pintu, pintu terbuka lebih dulu dari luar. Menampakan Adam dan Bintang di ambang pintu.
"Oh god aaaa!" jerit Qia kaget. Vano yang mendengar jeritan Qia pun buru-buru berlari menyusul Qia yang sepertinya suaranya berasal dari arah pintu.
"Qi kenapa?!!" pekik Vano panik menangkup kedua pundak Qia dan mengamati tubuh Qia dari atas sampai bawah. Saking khawatirnya terjadi sesuatu kepada Qia, ia sampai tak menyadari kehadiran Oster CS di ambang pintu.
"Lo kenapa?" tanya Vano lagi. Qia menggeleng kecil dengan dua bola mata mengkode Vano agar menoleh ke samping.
Vano akhirnya mengikuti arah kode Qia dan DORR!!
"Wah wah wah ini maksudnya apaan nih? Kalian udah mulai nyicil?" celetuk Adam geleng-geleng kepala.
"Sekamar gini ngapain nih?" tanya Bintang ikutan nething.
Vano langsung melepaskan tangkupan tangannya pada Qia.
"Ngawur!!" semprot Qia salting.
"Bagas, Sammuel, sama Gabby mana?" tanya Vano mengalihkan.
"Gabby bolos, Sam sama Bagas ada tuh di lantai bawah." jawab Bintang. Apartemen Vano punya dua lantai.
"Alah mengalihkan! Ngapain lo berdua sekamar gini hah? Ada apakah gerangan?" tanya Adam masih kekeuh dengan kecurigaannya.
"Iya, habis apa lo berdua? Ada apa diantara kalian hayoooo!!!" seru Bintang juga.
"Ga ada." jawab Vano dan Qia bersamaan. Keduanya jelas sama-sama salah tingkah. Ini seperti kasus tertangkap basah meskipun mereka tak melalukan apa-apa.
"Cielah salting!!"
"Ihirrrrr jadian jalur nyicil."
"Kak Vano gue langsung ke dapur aja deh, bisa setress gue ngadepin kak Adam sama bapak Star." lerai Qia langsung ngibrit pergi.
"Vano anakku"! Ayo nak, bilang sama bapak. Kamu habis ngapain sama cewek cantik di dalam kamar berduaan hm? Kalo kamu pengen cepet kawin, enggak gini caranya. Kan bisa rundingan dulu baik-baik sama keluarganya si cantik!!" tutur Adam sok tua. Seperti ayah yang menasehati anak lelakinya.
"Sistemnya sat set sat set banget bang!!" celetuk Bintang takjub.
"EH WOY WOY WOY!!!" teriak Bagas melengking menghampiri tiga sahabatnya bersama Sammuel.
"Qia ngapain di sini Van?" tanya Sammuel to the point.
"Iya woy!! Parah amat lu Van. Gue yang pacaran sama Manda, eh elu yang duluan start sama Qia." sahut Bagas ikutan kepo. Bukan kepo! Tapi udah selevel sama Negative thingking.
"Ssttt bawel lu semua!! Jangan di ledekin mulu si Qia, dia malu entar." omel Vano kesal.
"Makanya jawab dulu nyet!!"
"Lo berdua habis ngapain? Habis praktek pelajarannya bu Diah ya?"
"Lah kok bu Diah pake dibawa-bawa Gas?"
"Bu Diah biologi Tang!! Kemarin habis materi bab perkembang biakan manusia, jangan bilang lo langsung praktekin itu sama Qia?!!" cerocos Bagas cerewet. Adam menjentikkan jari.
"Ah that right!! Kita cuma bisa materi, Vano langsung di gas praktek sama Qia cantik pula. Argghhh gue di salip mulu." sahut Adam takjub.
"Gobl*k!!" maki Sammuel menjitak kepala Adam.
"Otak lo pada kenapa si? Gue sama Qia ga ngapa-ngapain." kesal Vano.
"Bohong!!"
"Terus ngapain sekamar?"
"Qia tidur doang. Gue semalem tidur di kamar sebelah. Gegara semalem nyokapnya nyuruh bawa Qia pulang dulu, Raga pulang dari New York. Takutnya entar Raga marah gegara pulang kemaleman. Tante Andin bilangnya Qia nginep di rumah Deeva, padahal mah disuruh bawa sama gue."
"Sial!! Lo udah dapet lampu ijo nih?"
Prok prok prok.
"Selamat ya pak atas lancarnya restu!!"
"Berisik gue mau makan!!" pungkas Vano berjalan melewati keempat sahabatnya.
"Makan apaan?"
"Makan Qia haha." jawab Vano ngawur.
"DEVANO GARIS KERAS!!" pekik Adam heboh.
"Qia tadi mau kemana pak?" tanya Bintang kepo.
"Mau masak." jawab Vano singkat.
"Masak apaan?" tanya Bintang lagi.
"Masak aer!!!" sahut Adam heboh lagi dan lagi.
"Biar mateng!!!" sahut Vano, Sammuel dan Bagas bersamaan.
"Ahahahahah."
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰