DEVANO

DEVANO
74. Ketahuan



"Kenapa teriak rame-rame tadi?" tanya Raga tepat saat kakinya berhenti melangkah. Ia dan Rizal berhenti tepat di depan anak-anak Ghosterion.


"Hah?" sahut mereka cengoh. Tentu saja cengoh! Mereka masih terkaget-kaget karena Raga tiba-tiba mendekati mereka saat Vano baru saja pergi.


"Tuh si Bagas tadi. Ada masalah? Cerita aja. Kita sharing problem bareng biar lebih cepet selesai, itu juga kalau ada sih."


"Enggak ada apa-apa Ga. Bagas emang kadang suka mendadak cosplay jadi tarzan." jawab Adam menengahi. Raga manggut-manggut sementara Bagas memutar bola matanya malas.


"Terus itu helmnya Vano? Vano nya kemana Gas?" tanya Raga mengalihkan topik.


"Kesono noh dia." tunjuk Bagas pada lorong gelap yang semakin minim pencahayaan lampu karena malam semakin larut. Bagas si polos is come back!


Adam menepuk jidatnya sendiri sedangkan Bintang, Gabby dan Sammuel tampak menatap jengah ke arah si kang bocor itu.


"Ngapain? Buang air?"


"Enggak, dia lagi nyari Qia." jawab Bagas geleng-geleng.


Pasrah, keempat kawannya hanya bisa menghela nafas pasrah dengan kejujuran seorang Bagas yang tak punya rem.


"Oh nyari Qia......" jawab Raga manggut-manggut santai.


Satu detik


Dua detik


Tiga detik


"Eh APA?!!! NYARI QIA LO BILANG?!!!" pekik Raga sadar. Bagas mengangguk.


"Ebuset kaget gue woy!!" pekik Adam terlonjak refleks menutup daun telinganya karena Raga berada tepat disampingnya.


"Iya." jawab Bagas masih menolak sadar.


"Tadi pas kalian balap, Gabby sama Sam liat Qia jalan sendirian ke sana. Terus Vano nanya tadi, langsung di susul sendirian kesana." tutur Bagas.


"Zal! Adek gue mana?" tanya Raga beralih ke Rizal. Rizal menggeleng, sama terkejutnya. Ia baru sadar kalau Qia menghilang dari pandangannya.


Raga lupa kalau Qia ikut datang kesini bersamanya. Karena biasanya, ia melarang Qia untuk datang ke arena balap. Maka dari itulah ia tak menyadari ketidakhadiran Qia.


"Lah iya juga. Gue baru sadar kalo Qia ga ada sejak tadi." jawab Rizal ikut celingukan. Raga berdecak.


"Tolol banget sih lo?" umpat Raga kesal. Tak membuang waktu, ia segera berlari ke arah yang ditunjuk oleh Bagas dan Gabby tadi.


"Lah lah tungguin gue woy!!!" teriak Rizal menyusul Raga.


"Kita ikutin yuk? Perasaan gue ga enak nih." celetuk Gabby. Bagas, Adam dan Bintang mengangguk setuju. Sudah lama juga Vano pergi dan tak kunjung kembali.


"Ng-"


"Sam lu nolak lagi, gue sembelih lu!" ancam Adam langsung to the point menyeret tangan Sammuel.


"PUTRA LU JAGAIN NIH MOTOR-MOTOR!!!" teriak Adam sebelum mereka semakin berlari menjauh.


...****************...


"Qia udah jadi cewek gua kalo lo ga dateng ke hidup dia bangs*t!!" maki Rayhan nyalang.


"Qi." panggil Vano.


"Apa kak?"


"Lo beruntung banget bisa ketemu gue." ucap Vano singkat. Qia mengertit tak mengerti.


"Hah?"


"Ini cowok brengs*k bilang lo pasti udah jadi ceweknya kalo ga ada gue. Itu artinya lo beruntung udah terselamatkan karena kehadiran gue!" jawab Vano menjelaskan, Qia manggut-manggut.


'Bener juga.' batin Qia.


"Ga usah banyak bacot lo Van! Balikin sini Qia, dia punya gue. Bukan lo!" potong Rayhan tak sabaran. Tangannya hendak meraih lengan Qia yang bersembunyi di belakang Vano, tapi Vano menepisnya kasar.


"Jauhin tangan kotor lo, jangan sentuh dia!"


"Lo siapa berani ngat-"


"Apa? Gue lagi ga pengen ngebonyokin muka lu, mending lo pergi aja sekarang!" usir Vano malas.


"Lo pikir gue takut hah?!"


Dug


"Lo nantangin?" tanya Vano bersimrik. Auranya lebih pekat dan dominan sekarang.


'Auranya kuat banget ni anak, dingin parah!!' cicit Qia menggigil kecil.


Bugh bugh bugh


Dug krak arghhh


Bugh bugh


Hanya dengan beberapa kali serangan dan tangkisan saja Vano sudah bisa menjatuhkan Rayhan ke aspal.


"Daripada lo malu karena kalah. Mending sekarang lo pergi, dan jangan berani munculin muka lo lagi!" ucap Vano berjongkong tepat didepan Rayhan yang memegangi wajah lebamnya.


"Setan!"


"Oke, kalo gitu biar gue aja yang pergi sama Qia." finally Vano berubah pikiran. Tanpa menghiraukan apapun Vano langsung menarik lengan Qia untuk pergi dari tempat sesat itu.


Entah apa maksudnya, tapi Vano tidak membawa Qia kembali melewati jalan awal yang ia lewati saat mencari Qia tadi. Vano memilih jalan lain yang memutar agak jauh.


'Ini anak mau kemana sih? Perasaan tadi ada jalan yang lebih deket deh.' batin Qia heran sampai akhirnya ia berhenti melangkah di ujung pertigaan kecil.


"Ngapain lo narik-narik gue? Lo pikir gue kambing hah!" oke, Qia mode galak is come back.


"Dih? Ditolongin bukannya makasih malah ngamuk." omel Vano memutar bola matanya malas.


"Ga ikhlas? Yodah makasih!"


"Dih nyinyir banget mak rentenir!!" tonyor Vano. Qia mengerucutkan bibirnya sebal, kebiasaan Vano ini sepertinya memang sudah tak bisa dihilangkan.


"Nyebelin."


"Btw gue mau nagih janji lo! Gue menang balapan, artinya gue yang menang taruhan kan?" tagih Vano pindah topik.


"Taruhannya belakangan aja sih? Gue masih dag dig dug nih ah." tolak Qia dengan nafas terengah-engah.


"Lagian lo juga! Biasanya jago berantem gitu, kenapa tadi diem aja? Untung aja gue datengnya tepat waktu. Kalo enggak gimana coba?" ucap Vano yang malah mengomeli Qia. Qia menghela nafas pasrah, memang salahnya juga sih meskipun ia tak tau dimana letak alasan mengapa Vano mengomelinya? Lah memang dia siapa? Abang juga bukan.


"Ya maap! Mau sejago apapun gue, gue tetep cewek kak. Kelemahan gue ada di hal-hal sensitif kek gitu tau!! Lo tau ga? Gue tadi beneran mati kutu tau! Kaget campur takut gue." adu Qia bersidekap dadi dengan mengerucutkan bibir, manja seperti saat ia mengadu pada abangnya.


Hati Vano seketika melunak melihat gadis yang tampak murung itu. Tangan Vano langsung terulur mengelus puncak kepala Qia.


"Iya iya sorry, gue ga maksud nyalahin lo juga. Lain kali jangan sembarangan mau diajak ketemuan di tempat sepi kek tadi!" tutur Vano lembut. Qia sedikit mendongak, mempertemukan pandangan mereka lalu mengangguk kecil.


"Gue juga mana tau kalo Rehan bakal berani kek gitu sampek megang-megang gue."


"Dipegang? Apanya hah?" tanya Vano terkejut, elusan tangannya di kepala Qia sontak berhenti mengambang di udara.


"Heh jangan nething! Dipeluk maksudnya, Gue kaget. Soalnya sebelum ini gue kan ga pernah tuh dipeluk cowok selain abang sama kak Rizal, ya gue tadi langsung ga bisa berkutik lah." jelas Qia membuat Vano menghembuskan nafas lega, bayangan kotor di otaknya tadi langsung menghilang begitu saja.


"Ya kalo gitu kenapa ga ngehindar? Tonjok atau tendang kan bisa."


"Ya gue ga nyangka aja kak!! Tadi awalnya gue udah mau balik pas denger suara derum motor kalian, eh tiba-tiba ditarik langsung dipeluk." jawab Qia lagi. Vano manggut-manggut, ya wajar juga sih namanya juga cewek.


'Ga bakal lagi gue ninggalin lo kek tadi Qi. Mulai sekarang gue ga bakal biarin lo lepas dari pandangan gue, apalagi kalo sendirian.' batin Vano merutuki kebodohannya yang membiarkan Qia lolos dari pandangan matanya.


"Untung aja ya kak, lo datengnya cepet tadi. Kalo enggak, wuih bisa ilang first kiss gue yang berharga ini nih. Bisa gagal gue ngejaga aset masa depannya calon gue nanti." keluh Qia kemudian.


Vano tersenyum tipis, entah mengapa ia salting sendiri karena ucapan Qia barusan. Ia berdehem lalu memasukan kedua tangannya ke dalam saku jaket.


"Kalo gitu makasih ya?" ucap Vano tiba-tiba. Qia menoleh dengan satu alis terangkat.


"Hah? Buat apaan?"


"Udah bersedia ngejaga aset gue." jawab Vano enteng.


"Hah?"


Qia lemot 2G is back!


"Hah heh hoh mulu!! Ayo balik ke arena, abang lo pasti udah nyariin dari tadi." alih Vano menarik lengan Qia untuk pergi dari tempat sepi ini.


"Gue udah disini Van." celetuk suara berat saat Qia baru saja akan melangkah.


"Mamp*s gue." lirih Qia menggigit bibir bawahnya dengan mata terpejam. Jelas ia tau suara familiar milik siapa itu.


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK