DEVANO

DEVANO
110. Seratus sepuluh



"Jadi karena perusahaan saya akan saya berikan kepada putri saya di masa depan, saya ingin dia mulai belajar bisnis dari sekarang pak Ethan." ucap seorang laki-laki yang nampaknya berusia beberapa tahun di atas Ethan. Ethan mengangguk dengan senyuman antusias.


"Oh ya? Bagus itu pak Saka. Vano juga sudah saya terjunkan ke dunia bisnis sejak kelas satu SMA yang lalu, ya itung-itung biar dia bisa menguasai materi dan trik-trik bisnis lebih cepat." sahut Ethan.


Saka, laki-laki itu mengangguk senang. Menatap Vano yang duduk di sampinf papanya dengan bangga, ada sesuatu yang tersembunyi dibalik tatapan tenang Saka.


"Wah bagus dong om! Jadi saya bisa minta diajarin dikit-dikit sama Vano hehe." sahut Sarah tersenyum lebar. Sarah adalah putri tunggal Saka yang merupakan investor bertahan di Axellio Group sejak beberapa tahun terakhir.


"Boleh dong nak, Vano juga pasti ga bakal keberatan berbagi ilmu." jawab Ethan santai menyenggol pundak anaknya yang diam membisu sejak pembahasan inti meeting selesai beberapa menit yang lalu. Ethan merasa aneh kenapa anaknya ini hanya mengeluarkan suaranya saat mereka sedang membahas soal kerja sama, itupun hanya kata-kata penting tanpa basa-basi.


Vano mendengus, ia hanya menyimak perbincangan bisnis berbau modus itu tanpa minat. Bibirnya seperti terkunci rapat. Meski jiwa dan raganya di lingkup meeting, tapi angan dan fikirannya terbang ke tempat Qia berada. Hanya Qia dan selalu Qia.


"Dih males banget gua." lirihnya tanpa ekspresi.


"Kenapa heh?!" omel Ethan menyikut perut Vano. Vano belum sempat menjawabnya karena Saka lebih dulu memotong dan pamitan untuk pulang.


Setelah Saka dan Sarah pulang, Vano menghembuskan nafas panjang. Ekspresinya tampak lega tanpa beban sedikitpun.


"Kamu kenapa sih Van? Tumben ga asik diajak meeting." tanya Ethan meregangkan otot tangan. Vano mendengus malas.


"Papa kenapa ga bilang sih kalo meetingnya sama papanya Sarah? Tau gitu Vano ga bakal ikut tadi! Mending juga pulang terus ngapelin rumahnya om Antonni."


"Wait wait wait!! Sarah itu siapa? Papa aja ga kenal kok. Tadi itu Saka Adinata, CEO ADN group." tanya Ethan tak mengerti. Ia memang belum tau nama anak perempuan yang diperkenalkan oleh Saka.


'Nama papanya Saka Adinata, tapi kenapa Sarah ga make marga Adinata di namanya?' batin Vano salfok.


"Hey malah ngelamun! Sarah itu siapa?"


"Ck. Cewek aneh yang ngejar-ngejar aku di sekolah pa! Anaknya pak Saka tadi tuh, namanya Sarah." jawab Vano setengah kesal. Moodnya sudah jelek seharian karena tak bertemu dengan Qia bahkan tanpa kabar, ditambah lagi ia bertemu Sarah di meeting kali ini.


"Ya terus apa hubungannya?"


"Vano kan udah sama Qia pa. Bisa keluar tanduk si Qia kalo tau beginian!"


"Ga bakalan, Qia pasti ngerti konsep profesional kerja kok." elak Ethan santai. Vano tetap merasa bersalah.


"Tapi-"


"Papa tau kamu cintanya cuma sama Qia, tapi urusan kerja harus tetap dijalanin dengan seprofesional mungkin Vano! Ini aturan dan kamu ga boleh melanggar. Emangnya kalian udah jadian ya?" tanya Ethan kepo. Vano membeku seketika.


"Hah?"


"Kalian udah jadian?"


'Kalo gue bilang belum, si papa bakal makin menjadi-jadi ngebahas profesional kerja. Mending gue boong aja ah, ucapan kan adalah doa.' batin Vano.


"Udah, kemarin."


...****************...


"Duh gue jadi kepikiran Rehan deh." keluh Qia mondar-mandir di balkon kamar. Keceplosannya tadi tentu tidak akan berakhir baik, entah pada dirinya sendiri ataupun Rayhan. Dan Rizal tentu akan segera melaporkan kejadian malam itu pada Raga.


Besok saat Raga pulang dari bisnis trip-nya, Qia yakin akan ada sesuatu yang meledak. Emosi Raga misalnya.


"Gua sih masa bodo kalo Rehan kena amuk, masalahnya disini gue! Gue pasti bakal kecipratan lavanya bang Aga." paniknya kemudian.


Drtt drtt


📩+6289000130800 : 📷Send 1 photo


"Nomor siapa?" lirih Qia mengeryit. Meski berasal dari nomor tak dikenal, ia tetap membukanya. Siapa tau penting kan?


Mata Qia membulat saat melihat foto itu. Foto yang didalamnya memuat dua orang manusia yang sangat familiar di matanya. Vano dan Sarah.


Sarah yang tampak tersenyum puas sementara Vano tak melihat ke arah kamera. Atau mungkin memang tak sadar kamera?


"Shibal." umpatnya refleks.


Drtt drtt


Belum habis dengan kekesalannya, tangan Qia bahkan masih mengepal kuat, tapi satu lagi pesan menyebalkan datang dari nomor yang sama.


📩+6289000130800 : Ups salah kirim b*tch!


📩+6289000130800 : Panas ya?


^^^📤Qianne : B aja. AC gua nyala 23 soalnya.^^^


...You blocked +6289000130800....


"ANJ*NG PANAS BANGET KAMAR GUA BABI KUMIS LELE MAKAN KETUPAT." maki Qia mengumpat sesuka hati. Dinginnya AC tiba-tiba tak bisa mempengaruhi suhu tubuhnya yang kini memanas tak karuan tanpa sebab. Ralat! Dengan sebab yang sudah jelas.


"Si kadal juga sama aja! Semua cowok emang sama aja." gerutunya gemas. Kalau saja laki-laki itu ada di depannya saat ini, ia akan mencabik-cabik wajah dan mulut Vano sekarang juga.


"Awas aja besok! Gua cekik dia dari belakang."


...****************...


"Kadang bikin aku kesal!! Tiba-tiba aku ngang ngeng ngong kebakaran jenggot dua belas jari...." nyanyi cempreng Qia tanpa lirik jelas. Panas hatinya semalam masih memiliki efek samping hingga pagi ini.


Gadis berseragam putih abu-abu dengan rambut di kuncir satu itu sedang berjalan menuruni tangga sambil merapikan dasi yang melingkari kerah seragam sekolahnya.


"Qia sayang!! Turunnya liat jalan dong, jangan nyanyi doang. Ntar kalo jatuh gimana?" omel Andin di sepanjang waktu Qia mendekat. Qia hanya terkekeh kecil tanpa melirik mamanya karena ia masih sibuk dengan dasinya.


"Nih buktinya Qia sampe sini dengan selam- NGAPAIN LO DISINI?!" ketus Qia setelah menyadari kehadiran Vano di meja makan.


Vano hanya nyengir polos tanpa dosa. Ia tetap melahap sarapan sandwich yang disiapkan oleh Andin tanpa memperdulikan nada bicara Qia yang sewot. Sepertinya cowok itu belum tau kalau Qia sedang benar-benar sewot, marah dan tidak bercanda belaka.


"Qia sayang! Papa ga pernah ya ngajarin kamu ngomel-ngomel ke tamu kita." omel Antoni menyeruput kopinya. Qia berdecak.


"Kadal musiman ini bukan tamu."


"Tau nih om, anak cewek om ini lebih galak dari anak sulung om tau!" sahut Vano yang mendapat respond terkikik dari Antoni.


"Dua-duanya nurun gen mamanya, makanya mereka galak sama pedes. Kalo om mah baik Van!"


"EKHEMMMMMM!!!" dehem Andin dan Qia hampir bersamaan. Antoni nyengir dengan dua jari peace diangkat.


"Papa cuma bercanda."


"Sayang ayo buruan sarapan! Nih udah mama siapin." ajak Andin melambaikan tangan tapi Qia cepat-cepat menggeleng.


"Qia lagi ga nafsu makan ma."


"Nafsu lu sama siapa dong?" tanya Vano polos. Andoni menepuk pundak Vano menggunakan kertas koran yang ia tekuk-tekuk.


"Heh Ethan junior!" omelnya. Vano nyengir kuda bersama dua jari peace.


"Bercanda om."


"Awas kamu ya! Dijagain yang baik, kalo mau diapa-apain ya harus nikahin dulu. Cara jadi laki-laki gentle itu gitu!" tutur Antoni menaik turunkan alis. Vano tersenyum bangga dengan besar kepala karena merasa sudah mendapat lampu hijau dari calon mertua, hanya restu dari calon kakak iparnya saja yang masih susah ditembus.


"Siap om!"


"Haisss udah-udah ga usah pada ngelantur pagi-pagi. Kadal! Ayo berangkat." ajak Qia masih setia dengan nada ketusnya.


"Kamu beneran ga sarapan dulu nih?" tanya Andin memelas. Qia tersenyum tipis, menghampiri mamanya lalu mengecup pipinya singkat sebelum mamanya nanti ngambek karena ia tak mau sarapan.


"Qia semalem makan banyak sama kak Rizal. Qia berangkat dulu ya?" pamitnya. Andin mengangguk lalu mencium kening Qia singkat.


"Hati-hati sayang."


"Pa, Qia berangkat ya?" pamit Qia juga pada papanya. Antoni mengangguk lalu menatap Vano.


"Vano! Hati-hati bawa motornya ya? Inget, kamu lagi ngebonceng berliat seratus tiga puluh satu juta ribu karat loh AHAHAHHA." namanya juga humor bapak-bapak yagesya.


"Siap om Anton!!"


"Ayok ah buruan! Siap siep mulu lu dari tadi." gerutu Qia menarik seragam sekolah Vano agar segera bangkit dari duduknya.


"Iya iya buset ga sabaran amat." decak Vano.


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA😻