
"Gue sama Bintang mau keluar dulu." ucap Sammuel yang tiba-tiba berdiri. Kelima orang di sekelilingnya menoleh.
"Mau kemana pak?" tanya Adam.
"Lo ga bisa denger tadi gue bilang mau keluar? KELUAR!!" jawab Sammuel menekankam kata keluar. Adam bergidik ngeri.
"Ngeri amat bosku!!"
"Tapi emang bener sih yang dikata Sam." celetuk Bagas manggut-manggut. Adam memutar bola matanya malas, bukannya belain malah njerumusin!
"Ayo Tang!" ajak Sammuel menarik lengan seragam Bintang. Bintang berdiri.
"Tapi mau kemana?"
"Bacot mulu lo! Ikut aja udah." sahut Sammuel tak sabaran dan langsung menarik Bintang pergi. Adam, Bagas, Manda dan Ratu geleng-geleng kepala. Bisa-bisanya ada manusia batu sedingin dan sekeras Sammuel. Kalo kata Deeva 'Untung aja cakep' wkwk.
...****************...
"Kak Vano?" panggil Qia. Vano yang duduj di kursi samping kemudi menoleh, sementara Raga yang sedang nyetir hanya mengintip mereka dari pantulan spion depan.
Qia duduk di belakang.
"Apaan?"
"Lo pake jas?" tanya Qia heran. Vano menatapnya malas.
"Enggak. Pake daster!" bantah Vano ngawur. Qia berdecak malas.
"Ck. Seriusan!!"
"Gue duarius."
"Ishhh gue serius kak!! Lo ini seriusan make jas hah? Lo mau berantem apa mau meeting?" tanya Qia tak habis pikir dengan outfit Vano. Padahal sudah jelas 80% kemungkinan adalah ribut.
Disaat Qia dan Raga memakai outfit tersantuy dan casual dengan jaket geng motor sebagai pelengkap, Vano malah dengan santainya masih memakai kemeja dan jas kantor. Serah yang punya judul aja deh wkwk.
"Lagian kan belum tentu juga berantem, lo udah yakin banget kalo SAHABAT lo itu beneran nyerang sekolah kita?" jawab Vano menyindir dengan penekanan ekstra pada kata SAHABAT.
Tentu saja Qia merasa tersindir. Ia mengumpat kesal di dalam hati, kalau saja membunuh manusia berkedok kadal seperti Vano ini tidak dosa, sudah dapat dipastikan Qia mencekik leher Vano saat ini juga.
Menyebalkan!
"Dih kita? Bukan sekolah kita ya, sebenernya kan cuma Oster doang yang jadi target!" sahut Qia berusaha mengalihkan tapi percuma, Vano tak menggubrisnya.
"Intinya gegara SAHABAT lo itu kan?" kekeuh Vano makin menekankan kata SAHABAT.
'Sialan nih bocah, niat banget mau bikin gue disindir sama abang.'
"Ada bagusnya juga nih Qia ikutan Van, biar di tau sebaik apa sifat asli SAHABATNYA." celetuk Raga ikutan julid. Baru saja Qia menduga kemungkinan abangnya connect dalam kata SAHABAT, eh udah terjadi langsung.
"SAHABAT SEHIDUP SEMATI GA AKAN TERGANTI." seru Vano tersenyum meledek.
"Sahabat sejati bentar lagi mati. Ahahaha." sahut Raga tertawa puas. Qia cemberut. Belum juga ada bukti, udah kena mental aja.
"Cowok rempong lu pada! Berisik." umpat Qia menonyor dua kepala di depannya. Vano dan Raga kembali tergelak puas.
"Ahahaha ngamuk dia."
"Ga sabar banget pasti mau gelut lawan SAHABAT sendiri." sahut Vano makin menyebalkan. Kalau Indonesia bukan negara hukum, nama Vano hanya akan tinggal nama dan jasad.
Huh!
"Udah deh please!! Sahabat mulu yang di bahas dari tadi. Gue nanya pekara jas doang malah jadi kemana-mana."
"Biar sekalian two in one." celetuk Raga yang sangat mewakili Vano. Haha vibesnya udah kek adik sama kakak ipar ga tuh!
"Udahlah Qi! Daripada mempermasalahkan jas gue, mending lo lacak lagi tuh Rehan SAHABAT udah dimana!" suruh Vano yang sepertinya benar-benar tuli ataukah memang ia sengaja mengabaikan kekesalan Qia dan justru makin gencar menyebut kata laknat berkedok SAHABAT terus menerus tanpa jeda.
Sumpah demi apapun ingin sekali rasanya Qia menyumpal mulut Vano yang hari ini sangat menye. Sejak dari tadi bangun tidur hingga sekarang, cowok itu benar-benar sangat menyebalkan dengan terus menguji kesabaran Qia.
Arghhhh!!
"Ah bener juga! Tumben otak lo encer." sahut Qia kemudian membuka GPS kembali, Vano memutar bola matanya malas karena dapat savage lagi dari Qia. Raga? Anak itu sedang menahan tawa mati-matian. Bisa-bisanya Qia nyerang balik hanya dengan satu pukulan keras. Haha.
"Ye songong!"
...****************...
"Sammuel sama Star kemana ya Dam?" tanya Bagas heran. Mengapa sejak tadi dua manusia itu belum juga kembali?
"Ga tau." jawab Adam mengendikkan bahu.
"Kak lu mending nyusulin mereka berdua aja deh, takutnya nanti nyasar." suruh Ratu mendorong-dorong bahu Adam di sebelahnya. Sebenarnya ia sudah tak betah lagi kalau harus terus berlama-lama duduk berdekatan dengan Adam, ia panas dingin sejak tadi. Sudah satu jam lebih sejak jam kosong tadi!
#RATU KETAR-KETIR.
Adam hanya menoleh dan menaikkan sebelah alis, ogah? Tentu saja Adam ogak berdiri dan mencari Sammuel maupun Bintang. Mereka memang bestie, tapi mereka bukan anak kecil yang tak tau jalan. Oh tidak! Lebih enak duduk santai di samping pujaan hati yang sedang ia perjuangkan daripada Adam harus capek-capek berjuang mencari Bintang dan Fang, eh Sammuel.
"Males! Mending di sini aja, godain elu." jawab Adam santai. Ratu menghela nafas, oke tahan Ratu tahan! Jangan sampai cowok aneh ini tau kalau dia berhasil membuatmu kalang kabut jedag-jedug. Bisa bahaya GR-nya!
"Yee sembarangan lu Rat! Sammuel itu bukan dora kali yang kemana-mana nyasar mulu nyariin peta." celetuk Bagas mencairkan suasana. Awalnya tadi mereka berempat terpisah topik menjadi dua satuan. Bagas sibuk bucin dengan Manda, sedangkan Adam terus nyocros bersama Ratu.
"Aaa katakan peta katakan peta!!" seru Adam setress mode on. Ratu yang berada di sampingnya pun auto bergidik ngeri.
"Dih kelihatan gilanya dih." ledek Ratu. Adam memeletkan lidahnya, Bodoamat!
"Tapi bener juga sih beb, siapa tau kak Sam sama Bintang salah belok hayoo?" sahut Manda ikut panik karena dua manusia tadi.
"Enggak akan by.... Sammuel itu cuma kena kutukan Frozen doang. Dia emang dingin, tapi dia enggak tolol. Otaknya encer banget, sumpah deh!!" jawab Bagas meyakinkan Manda agar ia dan Adam tak perlu mencari keberadaan Sammuel dan Star, eh Bintang deh.
"Pfffttt humor gue sebatas kutukan Frozen." pekik Ratu ngakak.
"Ngadi-ngadi emang!" sahut Manda geleng-geleng.
"Ah Elsa jangan kutuk dia Elsa ahahhaa!!" seru Ratu ikutan setress. Sepertinya bukan hanya virus cinta yang disebar luaskan oleh Adam, tapi juga virus gilanya.
"Dih kelihatan gilanya dih." ledek Adam membalas Ratu persis seperti apa yang dikatakan oleh perempuan itu tadi.
"Cie cieee jadian bentar lagi aw aw!" seru Bagas bertepuk tangan ria. Manda ikut-ikutan.
"Yes!! Bisa double date." goda Manda merentangkan tangannya ke bangku belakang, menoel dagu Ratu dengan gemas. Ratu tentu saja salting!
"Ngapain lo anak ips masuk kelas ipa?" ucap Adam tiba-tiba. Entah pada siapa ia bertanya, Bagas, Ratu, dan Manda menoleh ke belakang Manda yang duduknya di samping jalan masuk. Rupanya inilah alasan Adam tiba-tiba terdiam tadi.
"Lah lo sendiri ngapain anak kelas dua belas masuk kelas sebelas?" tanya balik orang itu.
"Felix?!!" pekik Ratu hampir tersedak nafasnya sendiri. Untuk apa cowok itu kemari? Oh Ratu mulai mengpede guys! Bukan sekedar GR tanpa alasan sih, ditangan Felix ada sebuah coklat batang. Dan point terpentingnya di sini adalah Felix dan Ratu bisa dikatakan cukup dekat karena beberapa hari terakhir sering chatingan.
"Bacot lo! Gua ngapelin cewek gue. Kenapa? Lo ga terima hah?!" sungut Adam ngegas.
'Ini Adam kenapa jadi beneran ngamuk anj*ng! Bisa ribut besar-besaran kalo kek gini. Harus di cegah sebelum kena semprot sama Bambang lagi!' batin Bagas cemas dan langsung berdiri, mensejajari tempat Felix berdiri. Jaga-jaga saja kalau situasi benar-benar memanas nantinya.
"Maksud lo cewek lo itu..."
"Ratu. Dia cewek gue! Sono lu jauh-jauh ah." usir Adam mendorong Felix hingga mundur beberapa langkah.
Bagas berusaha menengahi dengan menekan dua pundak Adam agar anak Oster yang dikenal paling kocak tapi juga paling emosional di beberapa waktu itu agar tak berulah. Pagi tadi mereka sudah bertemu dengan pak Bambang, ga lucu kalo siang ini harus kelilingin lapangan lagi.
"Lo pergi sana hussss!!" usir Adam mengibaskan tangan. Felix hendak menjawab tapi dipotong lebih dulu oleh Bagas.
"Udah Fel, lo mending pergi aja dari pada nanti ribut. Lo wakil ketos emang ga malu kalo sampek berantem sama biang kerok sekolah?" suruh Bagas ikut mengusir Felix dengan lebih lembut tapi juga lebih menusuk. Menusuk harga diri maksudnya wkwk.
"Rat!" panggil Felix. Ratu mengeryit takut-takut. Apa benar kecurigaan dan kekhawatiran Manda selama ini? Bagaimana kalau Felix benar-benar baper karena selama ini mendapat respond baik darinya?
"Apa?"
"Gue kecewa sama lo! Lo udah bohongin gue." ucap Felix mengepalkan tangannya geram. Terdengar gertakan gigi yang menandakan ia sedang menahan marah. Ratu melirik Adam di sebelahnya yang malah balik menatapnya secara terang-terangan.
"Gue ga bohong Fel, gue-"
"Tapi lo bilang lo ga punya cowok! Terus sekarang dia mengklaim lo adalah ceweknya. Maksudnya apaan? Mana satu yang bener?" tanya Felix to the point ke ujung masalah. Ratu menghela nafasnya berat.
Runyam!
'Arghhh kenapa jadi kek gini dah? Gabut doang malah jadi pekara ah.' batin Ratu merutuki kecerobohannya. Niat awal cuma sekedar deket buat sharing, eh malah jadi begini.
Definisi kegabutan yang membawa masalah!
"Lo-"
"Fel udahlah intinya lo ditolak sama Ratu, daripada lo makin malu nanti... Mending lo pergi jauh-jauh!" usir Adam lagi. Felix yang terlanjur kecewa bercampur marah langsung berbalik pergi, sepertinya ia cukup percaya dengan pernyataan Adam tadi.
"Dih ngaku-ngaku!" omel Ratu menabok lengan Adam setelah Felix menghilang dibalik pintu.
"Dih ya terserah gue!"
"Tau ah depresot gue ngomong sama elu kak!" gerutu Ratu kesal sendiri.
"Elu tuh bikin gue makin ketar-ketir aja. Banyak amat yang naksir!!" balas Adam menggerutu. Ratu menghela nafas, bodoamat!
"Rat lo ga ngejar Felix?" tanya Manda. Ratu menggaruk rambut atasnya yang tiba-tiba gatal.
"Kalaupun gue kejar, gue ga tau musti ngomong apa Man. Kan lo tau sendiri gue chatingan sama dia cuma buat sharing-sharing tipis doang! Kenapa malah jadi gini ya?" gerutu Ratu pada dirinya sendiri.
Adam menonyor kepala Ratu yang tingginya hanya sebatas dagunya.
"Makanya lain kali kalo gabut tuh belajar, jangan nyari buaya!! Kena karmanya kan lu." omel Adam. Ratu menggosok-gosok bekas tonyoran Adam.
Bagas dan Manda saling pandang, sepertinya memang sudah tumbuh sesuatu diantara mereka berdua.
"Ya mana gue tau!!" sungut Ratu kesal.
"Makanya cari tau dulu!"
"Ck. Ya mana bisa!"
"Ya pasti bisa kalo lo cari tau dul-"
PRANGGGGG PYARRRR.
Keempatnya sontak menoleh bersamaan ke arah luar kelas. Wajah-wajah penuh keterkejutan itu mulai bertanya-tanya tentang apa yang terjadi di luar sana.
Ada apa?
"ADA YANG NYERAAAAANGGG!!!" teriak suara keras entah milik siapa itu. Teriakan itu membuat suasana makin menegang dan mencekam, hampir semua anak perempuan menjerit ketakutan sementara anak laki-laki mulai turun dan keluar untuk melihat apa yang terjadi.
Adam dan Bagas saling bertatapan. Apa karena ini Sammuel dan Bintang pergi tadi? Tapi kenapa mereka malah lostcontact sejak tadi?
"Dam?"
"Gas?"
Mereka saling memanggil disaat yang bersamaan. Kemudian sama-sama mengangguk, seolah sudah bisa membaca isi fikiran masing-masing hanya dengan kontak mata saja.
Manda dan Ratu tentu panik karena teriakan keras tadi, mereka saja tak bisa memahami maksud anggukan kepala dari Adam dan Bagas.
"Kenapa kak?" tanya Ratu memberanikan diri disela ketakutannya.
"Lo diem di sini aja sama Manda! Biar gue sama Bagas turun ngecek." ucap Adam menangkup pundak Ratu yang mengangguk kecil.
"I-iya."
"Beb kamu di sini aja oke? Jangan keluar apalagi turun ke bawah. Aku sama Adam harus turun sekarang!" ucap Bagas berpesan pada Manda. Manda juga mengangguk.
"Iya, tapi kamu hati-hati jaga diri!" pesan Manda yang langsung diangguki siap oleh Bagas.
Setelah itu, Adam langsung berjalan lebih dulu dengan di susul oleh Bagas di belakangnya. Langkahnya tampak tergesa-gesa, ingin segera mendapat jawaban atas semua ini.
"KAK ADAM!!" panggil Ratu melengking. Langkah kaki lebar Adam langsung berhenti seketika. Cowok bertubuh tinggi jangkung itu menoleh.
"Take care!" ucap Ratu dengan senyum yang sangat berbeda dari biasanya. Adam bisa merasakan aura positif penuh ketulusan dari senyum tipis merekah itu. Kalau biasanya hanya ada ejekan diantara mereka, maka saat ini hanya ada rasa khawatir dan cemas yang melengkapi.
Adam mengangguk tanpa menjawab, ini bukan waktu yang tepat untuk GR ataupun untuk menggoda Ratu.
"Mereka bakal baik-baik aja kan Man?" tanya Ratu mendekat dan memeluk Manda. Manda mengangguk sambil mengelus pundak Ratu, berusaha menenangkan sahabatnya yang satu ini.
Wajar sih kalau Ratu takut, ini adalah yang pertama baginya melihat Adam dalam situasi seperti ini. Berbeda dengan Manda yang sudah terbiasa dengan kata 'serang' dan 'lawan' sejak ia pacaran dengan Bagas setahun yang lalu.
"Tenang aja, anak-anak Ghosterion selalu bisa ngatasin semuanya. Mereka pasti baik-baik aja!"
Sementara di koridor lantai dua.
"Sam sama Bintang kemana lagi ah!" gerutu Bagas di sepanjanh jalan. Langkahnya tetap melebar, menyamai Adam di depannya.
"Gue yakin mereka berdua udah lebih dulu tau."
"Kok?"
"Tuh banyak anak Oster dari kelas lain yang udah turun ke lapangan bawah!" tunjuk Adam pada beberapa gerombolan laki-laki yang berdiri siap menghadang dibawah sana.
Bagas manggut-manggut. Sialan Sammuel! Kenapa dia tak memberitahunya sejak tadi heh.
"Gas Dam!!" panggil seseorang yang tergesa-gesa menaiki tangga. Bintang! Bintang berpapasan dengan Bagas dan Adam di perpotongan tangga, tepat akan turun ke lantai satu.
"Lo udah tau?" tanya Bagas. Bintang manggut-manggut.
"Udah, gue tadi dikasih tau sama bapak Sam. BB sama Classio nyerang kita!! Gue sama Sam udah ngumpulin anak Oster dan anak geng motor lain yang ada di sekolah ini." jelas Bintang ngos-ngosan.
"Terus Sammuel mana?" tanya Adam.
"Biasalah, udah mimpin anak-anak di depan!" jawab Bintang. Posisi Sammuel memang selalu berada di paling depan dalam hal seperti ini, selalu Sammuel dan Vano yang memimpin. Karena hari ini Vano tak ada di sekolah dan Gabby juga tak ada, maka sudah jelas hanya Sammuel yang berdiri di garda terdepan Airlangga.
Hari ini, empat kubu geng motor yang berada dibawah sekolah ini bersatu menjadi satu untuk membela almamater sekolah kebanggaan mereka.
Tak ada satuan nama Ghosterion, Mata Elang, Xegestro, dan Rajawali. Hanya ada satu nama yang akan berdiri kokoh, AIRLANGGA!
Empat pilar utama penyangga kejayaan SMA Airlangga akan bergabung menjadi satu demi melindungi dan mempertahankan apa yang memang menjadi hak dan milik mereka.
"Ayo cabut!"
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰
BB benar-benar datang, Rayhan berulah lagi.