DEVANO

DEVANO
44. Vano mulai posesif



"Deeva? Ngapain tuh anak sama Valdo?" tanya Vano pada dirinya sendiri.


"Samperin ah, curiga gue."


"DEEVA!!" panggil Vano keras. Deva dan beberapa anak yang ada di sekitarnya ikut menoleh.


"Kak Vano? Ada apa kak? Nyari Qia? Udah di kelas sama Amanda." cerocos Deeva tanpa jeda. Vano menggeleng.


"Tadi.... Valdo ngapain?" tanya Vano kepo. Deeva menoleh ke arah kanannya dimana Valdo sedang berjalan menaiki tangga.


"Oh itu tadi dia minta nomor Qia." jawab Deeva apa adanya. Vano membulatkan matanya.


"Kak Vano kenapa?" tanya Deeva bingung melihat komuk Vano yang tak biasa ini.


"Terus lo kasih?" tanya Vano tanpa menjawab pertanyaan Deeva. Deeva mengangguk polos.


"Iya."


"Tolol lo dev!" pekik Vano lalu pergi begitu saja.


"Lah kenapa sih tu anak?" tanya Deeva terheran-heran. Tak mau ambil pusing, Deeva langsung pergi juga menuju kelas.


...****************...


Vano langsung buru-buru mencari Qia, ia tak mau Valdo menchating Qia tanpa sepengetahuannya. Tapi apa maksudnya? Vano bukan siapa-siapa tapi ia merasa tak suka kalau ada laki-laki lain yang mendekati Qia. Aneh!


"Manda!!" panggil Vano yang masuk ke dalam kelas, tepat di sebelah Manda yang sibuk menyalin tugas. Cewek itu pun menoleh.


"Loh Kak Vano? Ada apa Kak?" tanya Manda.


"Itu tas Qia?" tanya Vano menunjuk tas putih di belakang kursi Manda. Manda mengangguk.


"Iya."


"Terus anaknya mana?" tanya Vano lagi.


"Kenapa sih Kak? Aneh banget pagi-pagi." tanya Manda balik. Vano memutar bola matanya malas.


"Ya kemana dulu Qia nya." ulang Vano dengan nada yang sama seperti tadi.


"Tadi sih katanya mau ke toilet." jawab Manda.


"Baru aja keluarnya." sambung Manda lagi. Vano mengangguk.


"Thanks." setelah mengatakan terimakasih Vano langsung pergi lagi.


"Itu cowok satu kenapa si?" tanya Manda heran, ia lalu kembali fokus pada buku tugas nya.


"Eh Kak Vano di sini.... Udah ketemu sama Qi-"


"Belum!" potong Vano cepat lalu pergi. Vano bersimpangan jalan dengan Deeva yang baru saja sampai di depan kelas.


"Buset banyak bicaranya pas butuh doang!!" gerutu Deeva kesal.


...****************...


"Gue chat sekarang? Atau gue temuin dulu anaknya?" tanya Valdo pada dirinya sendiri.


"Widihhhh buka wasap mulu ada gerangan apa nih? Tumben lo buka-buka aplikasi ijo." celetuk Rino, sahabat Valdo di dunia osis. Kedua cowok itu sedang berada di dalam ruang osis karena ada beberapa tugas yang harus mereka selesaikan.


"Cerewet!" semprot Valdo.


"Qianne.... Qianne teh saha bang?" tanya Rino kepo.


"Anak 11 IPA 5." jawab Valdo singkat. Rino tampak berfikir mengingat-ingat siapa nama perempuan itu.


"Anak baru yang kemarin di hukum bareng anak Osther itu ga si?" tanya Rino agak ragu. Valdo mengangguk.


"Iya."


"Lo mau pdkt in dia Val? Bukannya dia tuh ceweknya Vano ya?" tanya Rino makin cerewet.


"Tau darimana lo?" tanya Valdo balik. Rino nyengir.


"Ya nebak aja sih, ya habisnya kan si Vano ga pernah sedeket itu sama cewek. Coba aja cari tau sono!" suruh Rino enteng. Wakil kedua osis itu memang sangat cerewet dan suka nyuruh-nyuruh orang seenak jidat. Padahal Valdo adalah ketua nya, tapi justru seperti berbalik. Rino malah yang sering ngomel nyuruh sana nyuruh sini.


"Ya ini juga baru mau gue tanya Onir!!! Cerewet lu ah." gerutu Valdo kesal. Rino tertawa.


"Kalo beneran dia ceweknya Vano, gue ga ikut-ikutan lo rebutan tuh cewek deh. Ogah gue!" ucap Rino lagi. Valdo menaikkan sebelah alis.


"Kan lo tau, Vano and the geng itu juga temen gue anjir. Sekelas pula! Nah elu juga temen gue, gue ga mau ikutan kalo ada dua pihak kek gitu hiiii ngeri!!" cerocos Rino lagi.


"Iya iya bawel lo ah!"


...****************...


Vano berjalan cepat menyusuri koridor lantai dua, hanya ada satu toilet di lantai itu. Jadi Vano yakin, Qia pasti ada disana. Tas punggungnya bahkan masih nangkring cakep di punggung lebarnya.


Saat Vano sampai di persimpangan belok menuju toilet, ia melihat punggung perempuan yang berjalan membelakanginya. Postur tubuh ideal yang sudah sangat dihafal oleh seorang Devano. Dia adalah Qia.


Vano mempercepat larinya sebelum Qia lebih dulu masuk ke dalam toilet.


Plakk


Vano membenturkan telapak tangan kirinya ke dinding tembok yang berada tepat di depan Qia. Ya, cowok itu sudah berhasil memotong jalan Qia hingga mangsanya itu menghentikan langkahnya.


"Eh..... Hallo selamat pagi Kakak kuyang!!" Qia lebih dulu menyapa Vano. Awalnya ia kaget, siapa yang berani menghentikannya dengan cara tak sopan seperti ini. Memang siapa lagi yang bisa seenak jidat lagi selain Vano?


Sepersekian detik setelah keterkagetan itu, posisi keduanya lumayan dekat hanya terbatas beberapa inci saja. Hingga akhirnya Vano lah yang agak memundurkan jangkauan.


"Nyengir mulu lu mentang-mentang udah dapet martabak manis! Bukannya bilang makasih dulu, malah ngatain yang enggak-enggak." omel Vano menggerutu. Qia mengeryit soal martabak manis, bagaimana Vano bisa tau?


"Loh kok lo tau sih gue habis dapet martabak manis?"


"Kan gue yang ngasih. Kemarin gue kasih ke ART lo!" jawab Vano bersidekap dada dengan menyandarkan badannya pada dinding yang tadi ia bentur. Tampangnya masih


"Lah emang itu dari kak Vano ya?" tanya Qia polos. Vano mengangguk.


"Hmm.. Menurut lo dari siapa lagi hah?"


"Tapi kata Rayhan tadi dari dia? Terus sekarang lo bilang itu dari lo. yg bener yang mana sih." jawab Qia menggerutu pusing.


"Semalem gue bilang ngidam manis cuma ke elo sama Abang gue doang. Kalo yang nganter abang gue, pasti ART gue tau dong." ucap Qia makin bingung.


"Jadi intinya?"


"Rayhan ga mungkin tau dong!!" sahut Qia ngegas setelah menemukan jawaban yang membingungakn ini.


"Nah smart girl!" ucap Vano mengetok jidat Qia pelan. Qia mengelus bekas ketokan Vano dengan bibir kanyun.


"Sehari ga usah rese bisa ga si?!!" gerutu Qia malas. Vano mengendikkan bahu acuh.


"Ga bisa."


"Terus kenapa Rayhan bilang itu dari dia ya?" tanya Qia terheran.


"Ya ga tau lah, kenapa lo nanya gue?" tanya Vano balik.


"Ya terus kenapa lo nganterin martabak itu ke gue?" tanya Qia balik, lagi.


Readers be like : Ini kenapa malah jadi lempar-lemparan tanya woeee wkwk.


"Kan lo yang bilang, lo mau." jawab Vano apa adanya.


"Kan gue bilang mau doang, bukannya minta di beliin?" bantah Qia lagi.


Vano mematung, tak mungkin juga ia mengatakan kalau itu murni keinginannya untuk membuat Qia senang. Bisa besar kepala dia! Bahkan disaat ia sudah mengakui perasaannya pada Qia didalam hatinya, Vano tetap mengedepankan ego dan gengsi. Ia harus tetap terlihat menyebalkan di depan Qia meskipun hatinya sedang kampanye dag dig dug derr.


"Hufftt jadi gini, bokap gue punya outlet segala jenis martabak di Mall deket perumahan lo, ya udah gue beli aja sekalian gue habis dari rumah Sammuel." ucap Vano berbohong. Padahal malam itu ia sedang tiduran santai di kasur nya sampai pada saat Qia bilang pengen yang manis-manis, dan Vano langsung melesat pergi nyari martabak manis. Demi seorang Qia, cewek rese dan bawel yang berhasil mengobrak-abrik tatanan kehidupannya yang lama menjadi lebih hangat dan serasa lebih hidup dalam semangat.


"Dari rumah kak Sammuel?" tanya Qia. Vano mengangguk.


"Bukannya semalem lo bilang lagi tiduran di kamar ya?" tanya Qia lagi. Skakmat!


'Tuh mampus lu Van. Rasain! Siapa suruh lu boongin makhluk bernama cewek.' semprot Vano kepada Vano dalam dirinya.


"Ya maksudnya tiduran itu di kamarnya Sammuel, kan gue belum pulang ke rumah pas habis dari arena balap semalam." elak Vano berbohong lagi. Dosanya pun bertambah lagi.


"Oh gitu toh." ucap Qia manggut-manggut percaya. Vano menghembuskan nafas lega karena Qia percaya itu hanya sebatas 'sekalian lewat' padahal itu sebenarnya adalah modus pdkt yang tersembunyi.


"Thanks deh kalo gitu, martabaknya emmmm enak!!" ucap Qia mengacungkan kedua jempolnya pada Vano dengan senyum manis.


'Ah sial makin cantik aja nih anak!!' batin Vano heboh sendiri.


"Oke, gue tunggu balasan utangnya ya." ucap Vano yang langsung membuat senyum lebar Qia lenyap dalam sekejap.


"Jadi lo ga ikhlas ngasihnya?" pekik Qia mendelik. Vano menggeleng.


"Enggak gitu, gue ikhlas kok ngasih itu." elak Vano membantah.


"Terus yang dimaksud utang tadi apaan?"


"Lo harus ikut gue ke suatu tempat sebagai bayarannya." ucap Vano enteng.


"Kemana? Lo penculik ya? Perdagangan manusia?" tanya Qia nyerocos. Qia sedang keracunan film action tentang penculikan dan mafia, jadilah otaknya agak geser seperti itu.


"Jangan ngawur!!" sungut Vano menonyor kepala Qia hingga terhuyung ke belakang.


"Terus lo- Ah aduh duh gue kebelet pipis anying!! Nih titip Hp gue bentar ya kak?" cicit Qia meraih telapak tangan Vano dan menyerahkan Hp nya begitu saja.


"Eh terus tadi deal apa enggak??!" tanya Vano setengah berteriak karena Qia sudah sampai di ambang pintu toilet cewek.


"Terserah lo aja!!" pekik Qia lalu menutup pintu. Meninggalkan Vano sendirian di lorong toilet dengan Handphone nya.


Vano tersenyum miring menatap iPhone bercase maroon yang ada di tangannya ini.


"Qia tau aja apa yang lagi gue cari haha." ucap Vano bermonolog. Memang tujuan sebenarnya ia menemui Qia adalah tentang Whatsapp Qia dan Valdo.


Drtt drtt


📩+6282*********


Hai ini Qianne kan?


Gw Valdo ketos, save!


"Nah ini dia nih dalangnya.... Kena lo sama gue Val!! " ucap Vano tersenyum miring. Handphone Qia tak di kunci jadi ia bisa dengan leluasa masuk whatsapp dan mengetikkan pesan balasan untuk Valdo.


📤QueenshaQia


Sorry kak gw udh punya cowok.


Jgn ganggu gw.


Read.


Vano mati-matian menahan tawanya hingga satu pesan lagi masuk dari Valdo.


📩+6282*********


Siapa cowok lo? Vano?


Read.


...You blocked +6282*********....


"Nah sekarang selamat overthingking Val!! Siapa suruh lo main-main deketin Qia. Cuma gue, Devano yang boleh deketin Qia!" ucap Vano lirih setelah memblokir nomor Valdo dan menghapus pesan tadi agar jejak ini tidak diketahui oleh Qia. Mungkin ini memang melanggar privasi, tapi ah yasudahlah daripada nanti Vano jadi tidak tenang kalau Valdo mewarnai whatsapp Qia.


Kriet


Pintu toilet terbuka dan munculah Qia yang sedang merapikan rok nya. Vano menghela nafas untuk mengatur diri agar tak terlihat gugup karena telah melakukan kejahatan online tindak pidana penipuan terhadap ketua osis itu.


"Kenapa lo kaget gitu?" tanya Qia heran. Vano menggeleng.


"Ga ada. Nih Hp lo! Gue mau ke kelas duluan." ucap Vano menyodorkan kembali Hp Qia.


"Makasih." ucap Qia. Vano mengangguk lalu pergi.


'Sorry Qi, tapi gue emang harus selancang itu biar Valdo ga bisa ngechat lo lagi!' batin Vano.


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰