
"Loh Qia? Ngapain kesini?" tanya Rizal saat melihat Qia memasuki ruang utama di markas DS Boys. Rizal sedang duduk berunding bersama Devan dan beberapa anggota lain yang sudah datang pagi ini. Devan juga adalah salah satu aset terpenting di DS Boys, karena ia juga adalah orang kepercayaan Raga.
"Lah kan gue capo nya? Gue juga anggota bos!! Emang harus izin dulu buat masuk markas sendiri hah?" tanya Qia sengit berkacak pinggang. Ia agak kesal dengan Rizal yang tak memberitahunya kalau sedang ada masalah di dalam geng mereka, bukan nya memberitau Rizal malah menghilang beberapa hari ini.
"Bener juga sih apa kata Qia, jahat lu nanya nya Zal." bisik Devan membenarkan.
"Kak Devan juga sama aja! Kenapa ga ngasih tau kalo lagi ada masalah hah?" omel Qia sekarang beralih menatap tajam ke arah Devan.
"Loh loh kok jadi gue juga Qi yang kena?" tanya Devan menunjuk dirinya sendiri. Qia lalu mendekat dan menepis Rizal dan Devan yang duduk bersisian, ia lalu duduk di antara dua cowok seumuran itu. Rizal dan Devan lalu berinisiatif sendiri untuk sedikit bergeser agar tempat duduk Qia jadi lebih luas, maklum lah Qia adalah Capo rasa princess di DS Boys. Satu-satunya anggota cewek di sana.
Alvino Devan Sanjaya
Akrab dipanggil Devan. Satu sekolah juga satu angkatan dengan Rizal di RISHS. Fighter andalan DS Boys, juga bertugas sebagai pengganti ketua saat Rizal dan Qia tak ada di tempat. Ganteng, humble dan bos jokes. Hobi nya motoran keliling jakarta.
"Hallah kalian berdua sama aja! Pelit info!" ketua Qia kesal.
"enggak gitu maksudnya Qiaaaakk... Emang lo ga sekolah hah?" tanya Rizal berusaha mengalihkan. Bisa gawat kalau Qia terus mengungkit masalah ia dan Devan yang sama-sama belum memberitahu Qia.
"Enggak. Bosen! Mau pindah, tapi ga dibolehin sama abang." jawab Qia malas.
"Jangan pindah dulu kali... Baru aja pdkt sama Vano masa iya udah di tinggal lagi haha." ledek Rizal menaik turunkan alis nya. Qia memutar bola mata nya malas.
'Kenapa sih ini anak jokes nya ga tau tempat bener astaga!!' batin Qia mendengus pasrah karena tuhan telah memberikan dirinya saudara sepupu separah Rizal. Mau protes ke tuhan pun percuma, sudah terlanjur jadi segede ini!
"Vano teh saha?" tanya Devan kepo. Devan sedikit memajukan dirinya agar bisa menatap Rizal yang posisi nya berbatasan karena Qia duduk di antara mereka.
"Ck. Siapa lagi kalo bukan Vano Ghosterion pea!!" jawab Rizal memutar bola mata nya malas.
"Yeee kan nama Vano ga cuma satu lol!" ketus Devan.
"Cieee si bontot udah ada crush!" ledek Devan beralih menyenggol-nyenggol lengan Qia. Qia melirik Devan dengan sinis.
"Apaan si? Ga usah ngadi-ngadi!!" ketus Qia sebal. Devan malah tertawa.
"Nih biasanya kalo demen ngamuk, berarti emang ada something hahahah." ucap Devan lagi.
"Emang udah ada something Dev..... Kemarin mereka keciduk tuh pulang sekolah bareng, terus juga gue denger dari Raga. Semalem habis dinner romantis gitu uhuuuyyy." sahut Rizal makin kompor. Devan geleng-geleng kepala sambil bertepuk tangan heboh.
"Cihuyyyyy DS Boys sama Ghosterion bakal besanan doang awok awok!!" celetuk Devan makin ngakak. Kemudian Devan dan Rizal pun bertos ria, mereka sama-sama puas setelah membully Qia.
"Dark jokes bet anjirr!! Gue kesini mau bantu pecahin masalah, bukan malah jadi boomerang buat pecahin emosi gue. Kalo ga mau di bantu ya udah, mending gue pergi aja bye!!" gerutu Qia kesal karena terus menerus di ledeki oleh dua kakak nya itu. Ia sudah berdiri dari duduk nya dengan raut wajah menahan emosi ingin membenturkan dua kepala di samping nya ke arah tembok agar tidak berisik.
"Eitsss kita butuh dong!!" elak Rizal dengan bersamaan menarik masing-masing tangan Qia bersama Rizal.
"Awas aja kalo lu pada berulah lagi! Gua bakar motor lu!" ancam Qia menunjuk kedua manusia rese itu dengan garang.
"Iye iye ampun... Jadi gimana Dev, lo udah dapet info ga mereka siapa?" tanya Rizal kembali ke mode serius.
"Heh kok langsung ke inti! Jelasin dulu lah ini ada apaan kak, gue kan baru gabung!" potong Qia saat Devan hendak membuka mulut untuk menjawab.
"Jadi beberapa hari yang lalu ada anak-anak dari kita yang mendadak di serang sama gerombolan ga jelas. Kali ini bukan anak BB, mereka juga neror salah satu orang dari kita dengan dalih taruhan balap. Pokoknya ga jelas tapi cukup mengganggu banget." jelas Rizal.
"Gue yakin 100% pasti mereka anak geng baru, masih mode caper Zal! Hidup mereka masing tentang cari sensasi doang." celetuk Rizal seolah tau sesuatu.
"Kok lo bisa yakin gitu?" tanya Rizal, Qia menyimak.
"Soalnya mereka ga nyerang anak DS Boys doang, anak Ghosterion juga di sikat tadi." jawab Devan enteng.
"Dari mana lo tau Dev?" tanya Rizal kepo.
"Tadi sebelum kesini gue liat ada anak Ghosterion di serang, satu lawan tujuh bro!! Kelihatan nya sih itu anak SMA Airlangga kalo dari seragam nya." jawab Devan yang ternyata melihat kejadian tadi pagi yang juga di alami oleh Qia.
"Di daerah jalan lama?" tanya Qia nyahut. Devan mengangguk.
"Iya, tepat di samping pohon besar sebelum pertigaan." jawab Devan mengangguk benar. Qia menepuk jidat nya sendiri.
"Kenapa?" tanya Rizal mengeryit heran melihat tingkah adik sepupu nya.
"Itu kak Sammuel."
"Kok lo tau?" tanya Rizal lagi.
"Pantes aja jago banget, ternyata tukang pulul yang di serang. Haha emang geng baru tolol! Bisa-bisa nya nyerang orang langsung ke figther nya haha." sahut Devan yang malah tertawa terpingkal-pingkal.
"Ini temen gue kenapa sih? Receh nya kelewatan bener." ucap Rizal heran sendiri.
"Terus kalo lo tau kenapa enggak lo tolongin heh?" tanya Qia memutar bola mata nya malas.
"Enggak, gue masih mager gelut kalo pagi begitu. Sam itu udah cukup jago Qia..... Lagian juga tadi udah ada anak motor lain yang nolongin, ya udah gue langsung jalan aja kesini." jawab Devan santai tanpa dosa.
"Masalahnya itu gue kak! Woi tolong bet itu gue woilah please help!! Punya kawan begini banget, pengen gue sentil amandel lu sumpah!!" keluh Qia menunjuk-nunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuk.
"Hah? Seriusan?" tanya Devan melongo. Ekspresi tengil nya langsung hilang bergitu saja.
"Lihatlah, apakah wajahku terlihat seperti sedang berbohong atau akting?" tanya Qia sambil mengacungkan jari telunjuk nya dan memutari wajah nya dengan jari itu. Devan nyengir.
"Hehe ya sorry, elo tadi ga buruan buka helm sih. Makanya gue ga tau." ucap Devan mengacungkan dua jari peace.
"Lo yakin mereka orang yang sama Dev?" tanya Rizal. Devan mengangguk.
"Lo tau mereka siapa Qi?" tanya Rizal beralih pada Qia. Qia mengendikkan bahu nya acuh.
"Nggak tau! Pas gue buka helm, mereka langsung kabur." jawab Qia.
"Pasti mereka tau lo adik nya Raga." celetuk salah seorang anggota lain. Qia menoleh dan manggut-manggut.
"Ya bisa jadi juga sih."
"Awas aja kalo semua ini ada hubungan nya sama Rayhan. Gue sikat beneran tuh anak! Ga ada habisnya bikin onar. Capek gue." gerutu Rizal kesal. Qia menoleh dan mengeryitkan alis.
"Lah kok jadi Rayhan lagi? Dia udah diem juga masih aja kena senggol." tanya Qia.
"Dih orang dia biang rusuh. Semua orang juga udah tau Qia!! Segala kemungkinan bisa aja terjadi." jawab Rizal.
"Dia ga seburuk itu juga kali!! Orang sejauh ini dia baik-baik aja kok." elak Qia yang masih membela Rayhan. Karena memang tak bisa di tepis, kalau saat di depan Qia memang Rayhan selalu baik dan manis tanpa sedikitpun cacat di mata Qia. Cowok itu telah berhasil membuat kesan baik tanpa minus di mata seorang Qia.
"Itu kalo ada lo doang, pas di belakang lo kelakuan nya langsung beda 180 derajat! Ga cuma DS Boys doang, Ghosterion juga selalu dicariin masalah tuh sama dia." ucap Rizal mendengus malas. Memang sudah biasa terjadi, Qia susah percaya kalau Rayhan adalah biang kerok.
"Masa?" tanya Qia mengeryit.
"Qiaaaaaa loh elo beneran mau bolos?" tanya Manda saat Qia memasuki pagar rumah Deeva. Manda dan Deeva rumahnya searah, jadi mereka sering berangkat bareng.
"Iya, sehari doang. Besok gue masuk lagi kok" jawab Qia santai.
"Eh katanya Bagas, cowok yang kemarin jemput lo itu namanya Rayhan ya Qi?" tanya Manda memulai aksi. Qia mengangguk.
"Kenapa emang?"
"Ya ga papa sih, cuman katanya dia itu sering ada bentrok sama kak Vano. Terus kok lo bisa sih ada di antara dua cowok yang saling sengit?" tanya Manda heran. Qia mengeryit tak mengerti.
"Darimana lo tau?"
"Kata ayang gue lah..... Malah beberapa kali sering duel tuh cowok berdua. Masa lo ga tau sih?" tanya Manda balik. Qia diam sejenak.
'Masa iya sih? kalo antar geng sih gue tau, tapi kalo masalah pribadi kira-kira kenapa ya? Arghh tau ah pusing!!' batin Qia kesal.
"Dahlah bodoamat sama mereka, gue mau balik duluan... Titipin tuh jangan lupa flashdisk nya kasihin ke Deeva." titip Qia sebelum pergi meninggalkan Manda.
"Wah temen gue ternyata adalah seorang joki cakep." ucap Manda geleng-geleng melihat Qia ngebut dengan motor brebet nya.
Flashback off
"Yee malah ngelamun!!" ucap Rizal menjentikkan jari di depan Qia.
...****************...
"Lah Sam muka lu kenapa?" tanya Bagas saat Sam datang dengan motor nya. Yang aneh adalah kenapa Sam babak belur?
"Kok bonyok? Lo habis berantem apa jatuh ke parit?" tanya Adam ikutan panik.
"Jatuh ke hati nya Deeva kali ah." ledek Bintang tak tau situasi wkwk. Sam memutar bola mata nya malas.
"Dark jokes!" ketus Sam.
"Iya sih pak, perasaan semalem masih mulus tuh muka." celetuk Gabby mengembalikan topik.
"Lo habis berantem?" tanya Vano langsung to the point.
"Iya"
"Sama siapa? Geng Rayhan lagi?" tanya Bagas mulai emosi. Ia sudah geram dengan geng Rayhan yang suka cari ribut.
"Bukan mereka." jawab Sam menggeleng.
"Terus siapa?" tanya Bagas lagi.
"Classio."
"Geng baru ya kalo ga salah?" tanya Bintang teringat sesuatu. Sam dan Vano mengangguk.
"Cih bocah baru beraninya keroyokan." ucap Adam berdecih.
"Langsung kita cari orangnya?" tanya Gabby.
"Santai aja urus belakangan..... Untung aja tadi di bantuin sama idaman nya Vano." ucap Sam santai.
"Idaman nya Vano?" tanya Gabby kurang peka.
"Maksud lo Qia?" tanya Vano refleks.
"Dih dih ngakuin sendiri dia bray!!" pekik Adam bertepuk tangan heboh.
"Jadi Qia itu beneran cewek idaman lo Van?" tanya Bagas ikutan menggoda Vano.
"Cielah bapak ketua mulai fall in love nih ye." celetuk Gabby.
"Uhuyyy makan besar lah kita." ucap Bintang yang selalu bersemangat tiap ada kata makan gratis.
"Dua." celetuk si kulkas abadi, siapa lagi kalau bukan Sammuel.
'Duh gobl*k! bisa-bisanya lo keceplosan Van!!' gerutu Vano dalam hati.
"Lo inget plat nya Sam? Geng kek begitu harus di bantai sebelum menjadi-jadi." tanya Vano mengalihkan.
"Cielah salting wkwkkkwk." ledek Adam.
"Dam bacot lu dam!" ketus Vano kesal.
"B 2316 SP." jawab Sam yang masing mengingat plat nomor yang mencegatnya tadi.
"Ada stiker Classio gang di body motor, makanya gue yakin mereka pasti anak baru." ucap Sam lagi.
"Udah udah ga usah bahas begituan di sini, nanti kita urus kalo udah ngumpul di markas aja." lerai Vano yang sudah merasa cukup informasi. Gerakan sisanya tinggal nunggu di markas.
"Iya itu urusan geng kita urus di markas aja, sekarang ada yg lebih seru buat di bahas nih." ucap Adam membenarkan.
"Apaan?" tanya Sam dan Gabby bersamaan.
"Ekhemmm kepada Bapak Vano yang terhormat, silahkan speak up. Gimana cerita nya Pak Hp nya bisa ketuker sama Qia hm? Emang lo berdua habis ngapain?" tanya Adam to the point. Vano mendelik.
'Sialan berarti Adam habis telpon Qia dong semalam?' batin Vano menggerutu.
"Nah iya tuh! Kita sidang elu Van. Lo habis kencan kan sama Qia kan uhuyyyy!!" ledek Bagas bersorak senang. Emosi nya yang tadi berangsur menghilang jadi good mood.
"Apaan sih lu kepo!" ketus Vano kesal.
"Cielah jadi beneran nih ahay." ledek Bintang heboh. Mereka semua tertawa kecuali Vano.
"Bodoamat gue mau balik kelas!" ketus Vano langsung berdiri dan berjalan pergi menjauh dari parkiran motor.
"Cielah salting teros sampek kabor ahahahah!!" teriak Adam makin menjadi-jadi. Vano tak menoleh, ia hanya mengacungkan jari tengah nya sambil terus berjalan maju. Semua teman-teman nya tertawa.
Tanpa mereka ketahui, Sarah and the geng mendengar semua pembicaraan mereka sedari tadi. Sarah dan kawan-kawan nya ternyata berada tak jauh dari tempat parkir langganan Ghosterion.
"Sial! Kita harus bikin pelajaran buat anak baru itu!" ucap Sarah mengepalkan tangan nya geram.
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰