DEVANO

DEVANO
115. Seratus lima belas



"Qi." panggil suara berat dari samping kirinya. Qia yang sedang memasukan peralatan tulisnya pun menoleh, sedikit melirik Valdo yang sedang menatapnya dengan lamat.


"Hm?"


"Bawa mobil nggak?"


"Enggak."


"Serius?" ulang Valdo memastikan.


"Iya, ngapain juga bawa mobil? Kan berat tuh besi gede." jawab Qia ngelantur. Valdo menghela nafas, Qia memang lugu atau hanya menguji kesabarannya saja?


"Pffttt tertolak sebelum nembak." celetuk Rino polos sebelum mata elang Valdo membuatnya terdiam. Qia melirik ke kanan, melihat Rino yang tampak panik karena dipelototi oleh Valdo. Mereka bertiga telah selesai dengan bimbingan Kimia hari ini, mereka sedang bersiap untuk pulang.


"But gue ga bawa mobil beneran btw." lerai Qia sebelum Valdo ngamuk ke temannya sendiri.


"Pul-"


"Tapi gue bareng Devano." potong Qia. Ia tau apa yang akan dikatakan Valdo, jadi ia segera memotong untuk memperkecil kemungkinan kecewanya Valdo.


"Ck."


"Eum gue duluan ya kak Rin, Kak Val, udah ditungguin Devano soalnya." pamit Qia langsung pamit pergi. Qia lebih dulu keluar dari labolatorium kimia meninggalkan kedua partner olimpiade sains nya tadi.


"Tuh kan apa gue bilang dari kemarin Val! Udahlah lo sama Gita aja mending, emang apa kurangnya si Gita sih? Tuh anak cakep, pinter, jago ngedance, dari keluarga yang jelas, dan yang penting adalah dia mau sama lu!" cerocos Rino segera setelah punggung serta bayangan Qia hilang di balik pintu laboratorium.


"Ah cerewet lu." ketus Valdo malas mendengar ceramah Rino yang tidak ada habisnya.


"Ah elu mah batu banget anaknya! Udah bener tuh Qia sama Vano aja, biar lo ngelirik Gita aja. Kasian kali tuh anak orang udah ngejar lu dari jaman PLS sampe sekarang tetep-"


"Rin diem! Gue bilang lu diem."


"Ogah. Gua ga bakal berhenti ngomong sampek lu mau melek buka mata Val! Gua tanya deh, Gita kurang apa sih dimata lo hah? Apa yang lo mau, yang ga ada di diri dia coba bilang!" kekeuh Rino ngeyel ingin membuat mereka dekat.


"Lo mau tau apa yang gua mau dari Gita dan ga ada di dia?" tanya Valdo menatap Rino serius. Rino mengangguk antusias.


"Apaan?"


"Diri sama jiwanya Qia. Gua maunya Qia, bukan Gita." ketus Valdo sebelum akhirnya pergi keluar dari laboratorium. Rino melongo, tak habis pikir dengan sahabatnya itu.


Selama ini ia juga tau kalau Valdo adalah si ambis yang selalu ingin mendapatkan semua yang ia mau, tapi sepertinya ia akan gagal dalam hal cinta. Alasannya cuma satu, Valdo tidak akan dihargai oleh Qia karena menurut Rino ini adalah hukum karma dari sikap acuhnya pada Gita yang jelas-jelas mencintainya.


"Keknya emang cuma karma yang bisa bikin lo ngerti Val."


...****************...


"DEPAAAAA AYO WOY BURUAN LU JADI NEBENG SEKALIAN APA KAGAK?!!!" teriak Ratu dari depan pintu. Deeva mengangguk dengan tangan telunjuk menunjuk bangku pojok, tepat di kursi Gabby dan Bintang yang juga sedang beberes untuk pulang.


"Tunggu aja di mobil lo Rat."


"Tapi mau ngapain lo nyamperin Gabby sama Bintang?" tanya Ratu kembali mundur beberapa langkah hingga mendekati daun pintu. Deeva memberi kode kedipan mata.


"Ada urusan dikit."


"Ya udah gue tunggu di mobil aja ya? Soalnya si Manda sama Qia nanti ke Quqi cafe dianter cowok-cowoknya."


"Iya ayang atuuuu...."


"YODAH BYE!!" pungkas Ratu lalu pergi bersama Manda dan Qia yang sudah berjalan melewati kelas sebelah.


"Ada apa gerangan penangkar buaya kemari?" sambut Bintang sambil menenteng tasnya di salah satu pundaknya. Deeva meletakan jari telunjuknya di bibir agar Bintang menutup mulutnya dan diam.


"Geboy....." panggil Deeva merayu mode on.


"Paan?"


"Eumm keknya gue mau mundur aja deh."


"Lo mau mundur? Ya udah sini." sahut Bintang menarik pundak Deeva ke belakang. Deeva menatap tajam ke arah Bintang yang memasang wajah polos tanpa dosa.


"Apa? Bener kan lo jadi mundur sekarang?"


"Tang lu bener-bener dah!! Lo di kasih makan apa sih sama emak lo hah?" tanya Deeva frustasi. Kenapa di dunia ini harus ada makhluk bernama Bintang yang bahkan kelakuannya tak lebih baik dari guntur? Shibal.


"Tongseng besi sama sekrup."


"Pantesan otak lu karatan!"


"Ahahaha boleh juga jokes lu buat ndampingin Sammuel yang selera humornya buruk banget alias garing."


"Tang diem dulu lu nyet! Gue ada perlu sama Deeva." lerai Gabby mendengus malas. Bahkan satu bab novel pun tak akan cukup kalau digunakan untuk menunggu Bintang selesai bicara.


"Oke By." ucap Bintang nurut, ia mengunci mulutnya lalu memasukan kunci gemboknya di saku celana dan mempersilahkan Gabby melanjutkan percakapannya dengan Deeva dengan kibasan tangan.


"Mundur gimana maksud lo?" alih Gabby ke Deeva yang mendudukkan dirinya di atas meja, diikuti dengan Gabby yang duduk berhadapan dengan Deeva. Bintang berdiri di tengah-tengah sekat meja mereka.


"Gue jadi takut ngedeketin Raja, ntar kalo ketahuan Sammuel gimana? Mana tuh manusia kutub baru aja mau leleh, lo kan tau dia kakunya kek gimana. Apalagi dia ga tau kan soal rencana ini?"


"Yaelah pura-pura doang Dev."


"Tau tuh! Lo biasanya ngandangin buaya lima puluh tiga ratus juta empat ribu dapet tiga aja santuy banget." sahut Bintang memulai ketidak jelasannya. Gabby sudah memberitahunya tentang misi mereka terhadap Raja dengan menggunakan Deeva.


"Ya kan itu dulu Bintanggggg.... Sekarang posisinya beda, gue udah hampir berhasil dapetin Sammuel tau!" jawab Deeva berkacak pinggang malas.


"Aelah hampir doang, belum tentu dapet beneran." celetuk Bintang yang langsung mendapat geplakan double kill. Bukan hanya dari Deeva tapi juga dari Gabby.


"Congor lu nyet!" omel Gabby. Sebagai sepupu yang setengah baik dan setengah jahanam, Gabby tetap 100% memihak ke hubungan Deeva dengan Sammuel.


"Congor kalo ga pernah di aqiqah jadinya gini nih." gerutu Deeva.


"Arah humor yang sulit dimengerti apalagi diikuti." keluh Deeva ngebug.


"Pokoknya terlepas dari apapun alasan lo Dev, gue sama Ghosterion butuh bantuan lu. Butuh banget!" pungkas Gabby.


"Tapi kenapa harus gue sih? Kenapa ga cewek lo aja?" tanya Deeva pusing. Awalnya ia setuju untuk mendekati Raja dan mengorek informasi, tapi setelah mengingat bagaimana kerasnya watak Sammuel yang sudah mulai bisa ia gapai, Deeva jadi sedikit ragu.


"Lo lagi ngeledek gua?" tanya Gabby balik.


"Pffttt jomblo abadi kena roasting." celetuk Bintang menahan tawa.


"Diem lu!"


"Siap paduka."


"Ah iya gue lupa, ya udah kan tapi bisa lo make cewek lain gitu pokoknya jangan gue. Masih banyak yang lebih cakep dari gue kali!"


"Ya tapi Raja sukanya sama lo! Kalo aja dia sukanya sama Bintang, gue ga bakal minta bantuan ke elu kali!" jawab Gabby masih berusaha membuat Deeva yakin. Bintang yang merasa terpanggil melotot seketika.


"Gue masih normal sorry."


"Please Dev! Kali ini aja. Gue yang bakal ngomong ke Sammuel soal rencana ini, dia juga pasti ga bakal keberatan kalo demi Oster. Gue ga bisa bawa cewek lain sembarangan masuk ke wilayah Oster, lu kan temennya Qia jadi Vano juga ga keberatan pas gue bilangin rencana ini ke dia." jelas Gabby panjang lebar. Saat si pelit bicara jadi banyak bicara, maka dunia tidak akan baik-baik saja.


"Tapi kalo-"


"Kalo Sammuel marah, gue yang tanggung jawab sama Bintang."


"Woishh nggak mau gue ah! Lo aja sendiri yang ngadepin Sammuel, ga usah ngajakin gue." pekik Bintang menggeleng panik.


"Cih ini yang lu bilang temen?"


"Ya asal bukan tentang Sammuel aja By, kalo urusannya sama dia mah, gue ogah temenan sama elu! Mending gue temenan sama tembok." tolak Bintang mentah-mentah. Sampai kapanpun ia tak ingin berurusan dengan kemaran Sammuel, karena menurut Bintang itu terlalu menyeramkan untuk hidupnya yang sudah seram sejak lahir.


"Anj-"


...****************...


"Jangan marah lagi, gue minta maaf." pinta Vano menoel hidung mancung Qia. Qia buru-buru mengusap bekas tangan Vano dengan kesal.


"Ga ada yang marah."


"Lah itu tuh! Jutek mulu, biasanya enggak."


"Nggak mood."


"Padahal seharian ditemenin fans berat, masa iya badmood?" tanya Vano menaik turunkan alis. Qia yang sudah memakai helm menatapnya sinis.


"Lo kali yang banyak fans!" balasnya ketus.


"Lo kali tuh ditaksir ketos."


"Ngawur sekali lagi, gue copot nih helm terus minta dijemput Rizal." ancam Qia sebal. Vano buru-buru menggeleng dan menahan helm di kepala Qia agar tidak di lepas.


"Iya iya enggak."


"RAT AYOK JADI APA ENGGAK SIH?!!" teriak Qia ngegas. Ratu yang berada di jajaran motor paling pojok mendongak. Anak-anak Ghosterion kecuali Gabby dan Bintang berjajar di parkiran motor mereka bersama Qia, Ratu dan Manda.


"Nunggu Deeva, Gabby sama Bintang dulu woi!" jawab Ratu. Awalnya hanya geng cewek yang akan pergi ke cafe, tapi karena Adam yang mengganti acara untuk traktiran pajak jadiannya dengan Ratu, akhirnya anak-anak cowok akan diajak serta ke Quqi cafe.


"Rat ayo! Malah pacaran lagi lu, katanya mau ke Quqi!" celetuk Deeva yang entah muncul darimana. Gadis itu meletakan sikunya di pundak Ratu dengan santai diikuti dengan Gabby dan Bintang yang bergabung bersama mereka.


"Ini juga kita semua lagi nungguin elu bege!!" omel Ratu mendengus. Deeva nyengir, ia tau ia yang telah membuat teman-temannya menunggu lama.


"Iya iya sorry.... Ya udah ayok cabut!" ajak Deeva menarik lengan Ratu tapi Ratu tetap kokoh di tempatnya.


"Tapi gue dibonceng Kodam."


"Iya Deev, cowok-cowok pada ngikut nongki. Kak Adam yang mau nraktir." tambah Manda. Deeva melongo, merasa tersakiti.


"Lah si anying.... Terus gue sama siapa ngep?"


"Sopir gue masih nungguin tuh."


"Dih? Ya kali gue berduaan naik mobil bareng sopir."


"Ya terus lo mau sama siapa hah?" tanya Manda. Deeva memutar bola matanya kesana kemari, memperhatikan semua orang di sekelilingnya. Perhatiannya tertuju pada Sammuel yang masih setia dengan mediasinya di bawah pohon beringin rindang, wajah datar dan dingin itu tampak sangat menyejukkan sore ini.


Meski Deeva ingin, tapi ia tau Sammuel adalah salah satu wujud balok es yang anti dengan makhluk lain bernama perempuan. Jadi ia tak akan mengemis kali ini, ia lebih baik memilih Gabby atau Bintang saja.


"Malah ngelamun." celetuk Bintang bosan.


"Gue sama Gab-"


"Lo sama gue." celetuk Sammuel menghentikan ucapan Deeva. Gadis itu kini melongo menatap Sammuel, lalu saat tatapannya terbalas ia segera membuang muka dengan senyum salting yang tak ingin diperlihatkan ke yang lain.


"Buruan atau gue tinggal!" tambah Sammuel lagi. Deeva buru-buru melangkah mendekati motor Sammuel yang berada di sebelah Vano dan Qia. Diikuti dengan yang lain, Ratu bersama Adam, Manda bersama Bagas, Qia dengan Vano sedangkan Gabby Bintang masing-masing sendiri.


"Salting brutal gue." lirih Deeva saat Sammuel mengulurkan helm untuknya.


"Ada yang mau lo sampein?" tanya Sammuel tiba-tiba. Deeva menggeleng panik.


"Enggak ada."


"Oh."


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA🤗