
"permisi mas, mau pesan apa?" tanya seorang perempuan yg datang menghampiri meja tempat geng Vano.
"kek biasa nya ya mba" jawab Adam sebagai perwakilan teman-teman nya. Adam sudah hafal dengan wajah waiters yg setiap mereka datang, selalu dia yg melayani. yups, dia adalah asisten Qia yg selalu berparas jadi waiters tiap malam minggu, itupun hanya untuk melayani geng Vano yg datang. selain mereka, Diana selalu menyuruh anak buah cafe yg lain.
"oh oke mas, tapi ini kok tinggal 5? biasa nya kan enam" tanya Diana basa-basi.
"yg satu kencan sama cewek nya mba" jawab Bintang nyeletuk.
"oh... harap di tunggu pesanan nya ya mas" ucap Diana sebelum pergi.
"eh lo masih belum jawab loh Van, kemaren waktu kita main basket kan lo telat tuh? yg luka di perbaiki sama Qia itu sebenernya lo kenapa si? lo berantem sama siapa hah?" tanya Adam mengalihkan pada topik yg ia bahas kemarin di markas tapi Vano belum sempat menjawab nya.
"buset di perbaiki... lo pikir jidat Vano mirip jalan berlubang kali" celetuk Bintang geleng-geleng kepala.
"biasalah sama Rehan, ga tau juga kenapa tiba-tiba ngajak duel" jawab Vano.
"Rayhan SMA GARUDA pak?" tanya Sam nyahut, ingat? batu es itu selalu cepat connect setiap membahas tentang semua hal yg berbau baku hantam. Vano mengangguk.
"ck. kenapa lo diem aja? harusnya langsung kita hajar balik" decak Sam kesal mengepalkan tangan nya gatal ingin menonjok.
"wih ngeri juga bapak panglima tempur nih" ucap Adam bergidik ngeri.
"tukang pukul Ghosterion nih bos awok awok" sahut Gabby sambil menepuk-nepuk pundak Sam dengan tawa nya.
"udah lah ga usah terlalu di pikirin... bosen gua sama BB geng mulu" sahut Vano malas.
"btw lo ketemu Qia dimana dam?" tanya Vano to the point setelah menyetop topik pembicaraan soal Rayhan tadi. Adam mengeryitkan alis.
"dih masih di bahas... lo masih kepikiran bos?" tanya Adam heran.
"tinggal jawab aja susah amat lu" gerutu Vano kesal.
"di indomaret depan itu loh... pas gue lagi gabut sendirian, eh di samperin dong sama Qia" jawab Adam jujur apa ada nya.
"tukang nyuri kesempatan!" ucap Vano mendengus malas.
"dih pak bos cemburu pak?" tanya Bintang meledek karena melihat tampang Vano yg nampak kesal dengan keberuntungan Adam yg di hampiri oleh Qia.
"waduh maap pak, besok-besok ga di ulangin lagi deh. ampun ashhahah" ucap Adam di akhiri tawa ngakak.
"ihhiiiii ada yg fall in love nih" ledek Gabby menaik turunkan alis nya.
"dua" sahut Sam membenarkan ucapan Gabby tadi. Vano, Adam, Bintang dan Gabby langsung spontan menoleh bersamaan ke arah Sam yg balik menatap mereka dengan satu alis terangkat.
"kenapa?" tanya Sam polos.
"elo yg kenapa! dua dua mulu" sahut Vano memutar bola mata nya malas.
"enggak keyboard, enggak mulut. sama-sama error ya pak?" tanya Adam mendengus malas. Bintang tertawa.
"udah pak lo kalo ada masalah mending cerita aja sini ke kita... jangan di pendem sendiri! takut nya lo jadi setress" ucap Gabby merentangkan tangan nya karena posisi duduk nya dan Sam bersebelahan kursi.
"mata lu setress!" ketus Sam galak. mereka semua lalu tertawa melihat ceolosan mulut Sam yg jarang ngomong tapi sekali nya ngomong ngegas.
"loh eh itu bukan nya Qia ya? celetuk Adam menunjuk ke arah belakang Vano. Vano menoleh. dan benar saja, ada Qia disana.
"ngapain dia di area khusus pegawai gab?" tanya Bintang kepo.
"tanya ke dia lah, ngapain lo nanya ke gua?" sahut Gabby malas. sedangkan Vano tanpa basa-basi lagi langsung berdiri dan mengejar Qia yg juga tampak sedang berbalik hendak pergi.
"eh eh Van mau kemana nyet!!" pekik Adam.
"bentar!!" jawab Vano tanpa menoleh.
"mau ngejar pujaan hati kali tuh" ucap Sam menunjuk ke arah Vano yg jelas-jelas sedang mengejar Qia di depan nya.
"terus lo kapan ngejar ipar gue pak?" celetuk Gabby menaik turunkan alis. Sam yg sudah mengerti arah bicara Gabby itu hanya memutar bola mata nya malas.
"apaan si lu" ketus Sam. Sam sebenarnya adalah tipikal cowok yg peka, tapi dia terlalu cuek dan dingin untuk merespond setiap kode yg datang pada nya. singkat nya adalah, dia peka tapi dia ga peduli. alias males ribet!
"loh itu mas nya mau kemana mas? kan toilet pengunjung ada di kiri?" tanya Diana sambil menyuguhkan pesanan Adam dan kawan-kawan.
"pujaan hati?" tanya Diana tak percaya. cowok tampan itu berlari ke arah kawasan karyawan Cafe? masa iya cowok seganteng Vano tertarik dengan waiters. bukan nya bagaimana, tapi Diana sulit percaya saja.
"iya, tuh yg pake hoodie merah maroon celana hitam" tunjuk Adam pada Qia yg sedang berjalan dan diikuti oleh Vano di belakang nya.
"oalah pacar nya mba Qianne... pantes aja orang sama-sama cantik dan ganteng" seru Diana manggut-manggut sambil memeluk nampan bekas tempat kopi dan minuman pesanan Adam.
"mba kenal sama yg cewek?" tanya Adam kepo. memang Adam adalah yg paling bisa di ajak ghibah dan berinteraksi dengan orang-orang di tempat umum. sementara tugas teman-teman nya yg lain hanyalah diam dan menyimak.
"oh ya jelas kenal dong mas.... mba Qianne itu pemilik Cafe ini. bos saya" ucap Diana tanpa beban. padahal Qia sudah sering mengingatkan Diana untuk tidak mengatakan kepada siapapun kalau QuQi cafe adalah milik nya. Adam dan Gabby melongo kaget, Sam masih dalam mode datar dan biasa saja. sementara Bintang, cowok yg sedang menikmati latte hangat itu harus bernasib buruk karena saking terkejut nya.
Brushhh
"uhuk uhuk" Bintang tersedak latte.
"nah mamp*s aja lo tang!" ketus Sam tersenyum puas melihat Bintang tersedak kopi latte yg baru saja ia seruput. Bintang menabok lengan Sam di samping nya dengan kesal karena di sumpah mamp*s oleh cowok es itu.
"seriusan mba?!" tanya Adam.
"iya mas, QuQi Cafe itu kependekan dari nama nya mba Qia sendiri" jawab Diana mengangguk-angguk berusaha meyakinkan pelanggan nya yg super manis dan suka bicara ini.
"Queensha Qianne ya? wah hebat juga itu cewek galak" puji Gabby setelah mengeja nama Qia seingat nya.
"loh kok mas nya tau nama mba Qia?" tanya Diana kepo.
"dia temen sekelas gue mba" jawab Gabby jujur. Bintang ikut angkat tangan dan mengangguk-angguk.
"sekelas sama saya juga" sahut Bintang.
"dan adik kelas saya di sekolah mba" celetuk Adam ikutan.
"dih sok asik lu pada! giliran ada barang aja lu pada ngaku-ngaku temen" cibir Sam mendengus malas. mendengar pengakuan dari cowok-cowok ini bahwa mereka mengenal Qia boss nya, Diana pun menepuk jidat nya kasar dengan refleks.
plak
"waduh!! keceplosan... bisa mati aku kalo mba Qianne tau" lirih Diana merutuki kebodohan nya yg selalu saja terlalu jujur di depan cowok ganteng.
"mbak nya kenapa mbak?" tanya Bintang mengeryit heran. Diana menggeleng gugup.
"emm ga papa mas, ya udah ya saya permisi... selamat menikmati malam minggu di Cafe kami" ucap Diana lalu buru-buru pergi meninggalkan Adam dan kawan-kawan yg heran melihat perubahan sikap waiters itu.
......................
"lo serius ga salah liat?" tanya Rayhan pada Dika, teman satu geng motor nya.
"iya han gue beneran liat mereka di QuQi cafe tadi. gimana kalo kita ngajak mereka duel balapan?" tanya Dika mengusulkan. Rayhan sedang berada di Markas Bloody Bat bersama teman-teman nya yg lain.
"iya bos, gue juga bosen nih nongki kita damai terus sekarang ga ada rusuh nya sama sekali" celetuk salah satu yg lain. Bloody Bat memang sudah dikenal sebagai geng motor paling rusuh dan biang kerok di dunia permotoran se Jakarta - Bandung.
"oke, kita cegat mereka di jalan sepi yg biasa. sekalian nantangin balapan, gue juga udah lama ga duel sama Vano" ucap Rayhan menyabet jaket geng motor nya di kursi sofa.
"berangkat!!" ajak Rayhan dan semua anak-anak Blood Bat yg ada di sana pun ikut berdiri untuk segera melancarkan misi mereka.
...****************...
sementara Vano masih sibuk mengikuti Qia sampai masuk ke sebuah toilet khusus. tunggu! ada papan kayu bertuliskan 'khusus Manager dan Direktur' di atas pintu toilet nya.
"lah terus kenapa dia masuk ke toilet khusus?" tanya Vano heran. setelah nya Vano celingukan tengok kanan dan tengok kiri untuk melihat situasi sekitar. merasa situasi sedang sepi dan posisi nya aman terkendali, Vano menekan knop pintu dan ikut masuk ke dalam toilet. satu tujuan nya, ia hanya ingin memastikan luka di tangan Qia sudah membaik. bagaimanapun juga, Vano sudah berhutang nyawa dengan Qia karena sudah menolong mama nya.
kriettt
"loh mba Diana udah selesai ngelayanin cowok-cowok yg mba bilang ganteng tadi? cepet banget mba?" cerocos Qia menghujani Vano yg baru saja masuk. Qia sedang fokus mencuci tangan di wastafel dalam toilet, dan ia mengira kalau yg masuk adalah Diana karena toilet ini memang khusus untuk dirinya dan Diana saja. bahkan tanpa ia menoleh ke belakang terlebih dahulu.
"cowok ganteng yg mana? gue?" celetuk Vano dalam mode GR tingkat tinggi nya. mendengar suara berat seorang laki-laki yg tidak asing di telinga nya, Qia lantas mendongak menatap ke arah pantulan cermin di depan nya. Qia kaget bukan main saat sepasang mata nya menangkap pantulan bayangan tubuh Vano di cermin. sial! bagaimana dia bisa disini?
"loh elo?!!"
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰