
Brum brum brumm
Brummm ckiiittttt
"WUUUUUUUUUUUUUU."
"YAAAAAAA!!!!"
"YEAH OSTER THE WINNER!!!!"
Sorak ramai penonton terdengar sangat bergembira melihat dua pebalap memasuki garis finish hampir bersamaan. Bukan hanya anak-anak Ghosterion melainkan juga anak-anak DS Boys ikut senang merayakan kemenangan Vano malam ini.
"Anjay Raga kalah." cicit Rizal hampir tak percaya. Sepertinya terlalu lama berada di London membuat sepupunya yang berdarah balap itu kehilangan banyak skill.
"Si Qia kalah taruhan dong?" bisik Devan. Rizal mengangguk kecil.
"Biar kapok dia."
"WUHUUU VANO RACING!!!" pekik Adam paling heboh di seberang kubu. Sammuel menyumpal telinganya sendiri karena teriakan full energi dari Adam.
"Pulang dari sini, langsung ke dokter THT gue." keluh Sammuel sebal.
PROK PROK PROK
Seruan tepukan tangan kompak dan saling bersahutan itu menyambut Vano yang kini melepas helm full face nya, di susul dengan Raga.
"Makin jago aja skill lo Van!" ucap Raga menghampiri Vano yang masih berada di atas motor. Badannya memang diam ditempat, tapi matanya terus berputar kesana kemari seolah sedang mencari keberadaan seseorang.
"WOY!!"
"Eh hah??" cicit Vano kaget. Raga memberi satu tonjokan ringan di lengan atas Vano.
"Ngelamun mulu, nyari apaan lo?" tanya Raga. Vano terkekeh kecil lalu menggeleng.
"Nggak nyari apa-apa Ga."
'Kok Qia ga ada? Dia kemana?' batin Vano bertanya-tanya.
"Btw lo tadi nanya apa?" tanya Vano mengulang.
"Skill lo, makin cakep!" jawab Raga santai. Vano tertawa sambil geleng-geleng.
"Keknya bukan skill gue yang nambah, tapi skill lo yang berkurang! Kebanyakan belajar di luar negeri tanpa healing balapan ya kaku gini nih jadinya haha." ledek Vano tertawa sambil menepuk-nepuk pundak Raga.
Raga tersenyum miring nan tipis.
"Sialan lo!" maki Raga, Vano hanya tertawa.
"Bisa-bisanya skill lo jadi mentah njir!!" pekik Rizal heboh. Agak aneh menurutnya saat melihat Raga kalah seperti ini.
"Udah hampir setengah tahun ga balapan, tangan gue aja pegel tadi." sahut Raga.
"Momen langka sih ini, kapan lagi denger Raga ngeluh capek naik motor hahahha." celetuk Devan.
"Remaja jompo!" ketus Rizal meledek.
"Sialan."
......................
"Makin hebat juga tuh orang." puji Marvel geleng-geleng. Cowok berambut cokelat itu sampai geleng-geleng kepala karena saking terpukaunya. Seorang Vano mengalahkan Raga setelah sekian lama tak pernah bertemu di lintasan.
"Halah biasa aja." sahut Dika sewot. Marvel mengeryit malas.
"Biasa aja matamu! Rehan aja belum tentu bisa ngalahin Raga."
"Buset congor lu Vel! Lu temennya siapa dah sebenernya?"
"Gue temen Rehan lah, tapi gue lebih jujur daripada lo!" jawab Marvel enteng. Dika memutar bola matanya malas.
"Tau ah! Mending kita ke motor aja duluan sambil nunggu Rehan balik dari bucinnya."
...****************...
"Widih brader gue menang!!" pekik Adam Menepuk-nepuk kepala motor Vano. Ghosterion dan DS Boys kini sudah terbelah menjadi dua gerombolan berbeda meskipun masih berada di satu area.
"Master racing nyetak rekor lagi nih, udah 3 kali dia menang dari Raga." sahut Bagas.
"Jangan lupa hastag #Vanobukanmaen!!" ucap Bintang si paling hastag.
"Jadi menang taruhan dia woi." celetuk Gabby.
"Lah bener juga! Mamp*s si Qia kena batunya tadi ngajak taruhan segala hahahha." sahut Adam tertawa kecil.
"Secara logis, sebenernya Vano si yang ngajak taruhan tadi bukan Qia." potong Bagas.
"Alah mereka berdua mah sama aja! Terlalu gampang oka-oke."
"Ya jelas sama lah! Namanya juga jodoh, ahahahha."
"AHAHAHHAHA."
Merasa ada yang kurang dari suara tawa mereka, Adam menoleh pada Vano yang benar saja tak ikut larut dalam topik. Cowok tampan itu tampak celingukan mencari keberadaan seseorang.
"Woy pak ngapa sih lu celingukan mulu?" tanya Bintang menyenggol Vano. Vano menoleh dengan sok cool padahal kegugupannya masih sangat terlihat.
"Iye, sejak nyopot helm tadi mata lo kelenjotan mulu. Nyari apaan sih lu?" sahut Gabby kepo.
"Lo liat Qia ga si? Batang hidungnya ga keliatan dari tadi." tanya Vano entah sadar atau tidak.
"Qia?" sahut Adam. Vano mengangguk.
"Iya."
"Cieee pdktnya makin ngegas aja pak." ledeknya menaik turunkan alis. Vano berdecak, bukannya dapat jawaban ia malah dapat ledekan.
"Ketahuan banget kalo lagi khawatir yagesya." tambah Bintang memancing ricuh.
"Ck. Apaan si lu bedua? Gue cuma mau nagih taruhan doang!" sungut Vano sebal.
"Doang kok sampek panik gitu dah?" ledek Bintang lagi.
"Panik atau takut?" tambah Adam.
"TBL TBL TBL, takut banget loh." jawab Bintang si anak paling tau trend.
"Emang ga pernah berguna nanya ke elu-elu pada!" ketus Vano makin sebal. Apa dosa yang pernah ia buat dimasalalu hingga tuhan mengirimkan teman-teman tanpa otak dan akhlak seperti mereka?
"Tadi gue liat dia ke belakang." ucap Sammuel setelah sekian lama bertapa. Vano menoleh. Melihat sifat asli dan keminimalisiran bicaranya Sammuel, tentu saja ia akan sangat mudah mempercayai sahabatnya yang satu itu.
"Hah? Gimana-gimana Sam?"
"Tadi gue sama Gabby ga sengaja ngeliat Qia jalan ke arah belakang sono noh." tunjuk Sammuel pada jalanan sepi nan lenggang di belakang gerombolan DS Boys.
"Sendirian lagi tuh pak, logatnya agak aneh sih kek dia ga mau ketahuan gitu sama si Rizal. Jalannya juga ngendap-ngendap." sahut Gabby menambahkan info.
"Sendirian?" ulang Vano. Gabby dan Sammuel mengangguk bersamaan.
Kembali, dua paket kulkas itu mengangguk.
"Kalo tau gitu kenapa ga lo ikutin tolol!! Kalo ada apa-apa gimana hah?!!" sembur Vano menghembuskan nafas kasar. Rasanya seperti benar-benar frustasi, feelingnya sudah tak enak sejak tadi.
"Lah?"
Tanpa babibu lagi, Vano langsung berlari pergi meninggalkan helm yang ia lemparkan ke sembarang arah. Untung saja tangan Bagas dengan sigap terulur menangkap helm hitam full face yang menjadi korban kekhawatiran majikannya.
"PAK WOI MAU KEMANA LO?!!!" teriak Bagas kencang. Vano tak menoleh sedikitpun.
"Ga bakal dijawab lah ege! Dianya aja udah jauh gitu." ucap Adam.
"Kita ikutin yuk?" ajak Adam bersemangat. Sammuel, si algojo penjunjung tinggi nilai 'one by one' pun berdecak.
"Ga usah ikut campur! Lo mau pacaran ber-"
"Bertiga sama Vano sama Qia. Pak lu beneran deh ngeselin! Gue sampe hapal sama dialog lo." potong Gabby mendengus kesal. Sammuel tetap stay cool dengan wajah songongnya.
"Bodoamat!!"
"Btw kalo nanti Raga nanyain Qia, kita jawab gimana?" tanya Adam pada Sammuel, si paling bisa bersikap dewasa.
"Bakal bahaya pastinya, semoga aja dia ga sadar dan ga nanya ke kita." jawab Sammuel enteng. Adam menghela nafas panjang.
"Tapi masalahnya dia udah on the way kesini pak." jawab Adam yang membuat keempat laki-laki itu menoleh bersamaan. Benar saja, Raga dan Rizal kini tengah berjalan menghampiri mereka.
...****************...
"Please! Kali ini aja, kasih gue kesempatan ya? Gue bener-bener pengen memulai hubungan serius sama lu." pinta Rayhan entah untuk yang keberapa kalinya.
"Gue ga bisa Re, gue ga mau boongin diri gue sendiri. Lo jangan berharap lebih ke semua hal yang gue kasih oke?" tolak Qia. Rayhan malah semakin mengeratkan genggamannya pada jemari Qia.
"Qi-"
"Sorry, tapi gue harus pergi. Balapannya udah selesai. ga akan baik kalo abang sama sepupu gue tau gue masih keras kepala nemuin lo!" ucap Qia melepaskan tangan Rayhan dari jemarinya.
"Gue pergi."
Bukannya membiarkan perempuan itu berbalik dan pergi, Rayhan justru menarik lengan Qia hingga menubruk tubuhnya dan akhirnya terjatuh ke dalam pelukannya.
Greb
"Gue mau lo nerima gue!" tegas Rayhan memeluk Qia erat. Qia meronta ingin dilepas, tapi tetap saja badan kekar Rayhan jelas lebih kuat daripada Qia yang mungil.
"Re lepasin! Gue pengap heh." rengek Qia berusaha melepaskan tautan tangan Rayhan. Rayhan menggeleng, kepalanya menelusup keantara helaian rambut panjang Qia yang lurus.
"Enggak akan sebelum lo nerima gue." kekeuh Rayhan.
"Re please jangan bikin gue sesek." ketus Qia mulai emosi. Rayhan masih menggeleng keras kepala, tapi akhirnya Rayhan mau melepaskan pelukan eratnya karena Qia terus meronta.
Rayhan memutar tubuh Qia agar saling berhadapan dengannya.
'Kenapa Rehan jadi kek gini? Berani-beraninya nyentuh gue.' batin Qia was-was.
"Lo makin gila tau ga?!" maki Qia marah. Rayhan menggeleng dengan senyum lebar, entah apa arti dibalik ekspresi gilanya ini.
"Gue ga bakal segila ini kalo bukan karena lo Qi."
"No! Lo bukan Rehan yang gue kenal, lo tau ga? Barusan itu lo jadi brengs*k banget." umpat Qia lagi. Sejujurnya ia sangat takut tadi, baru kali ini ada laki-laki asing selain papa, Raga dan Rizal yang berani menyentuhnya bahkan sampai memeluk.
"Ini juga karena elo!"
"Lo setress!! Ga waras."
"Itu pun karena lo juga Qi, emang apa sih susahnya nerima cinta gue hah?" tanya Rayhan menangkup kedua bahu Qia. Qia menghempas tangan kekar itu dari dirinya.
"Yang susah disini gue ga mau bohongin diri gue sendiri kalo gue emang ga bisa sama lo Re! Gue disini nganggep lo udah kek saudara sendiri tau ga? Atas dasar apa lo jadi ngutarain kedekatan kita menjadi cinta hah?!" gertak Qia.
"Ga usah bertele Qi, gue udah tau jawabannya."
"Tau apa?"
"Jawabannya ada di Vano kan? Hati lo udah kebuka buat dia sampai lo ga mau sedikitpun nyoba buat balik mencintai gue. Gitu kan?" tanya Rayhan tersenyum kecut.
"Dari dulu, dalam hal apapun, Vano emang selalu jadi penghalang tujuan gue!" sambung Rayhan lagi.
Qia menggeleng.
"Ini semua ga ada hubungannya sama kak Vano Re. Gue nolak lo emang karena gue ga cinta sama lo, bukan karena dia." ucap Qia penuh penekanan.
"Ya udah kalo gitu buktiin Qia!! Sekali aja lo coba buat cinta sama gue bisa kan? Kita mulai hubungan yang serius."
"Sesuatu yang diawali dari paksaan, ga bakal berakhir baik Re. Kenapa sih lo ga mau ngerti hah?!"
"Lo tanya kenapa? Jawabannya adalah karena tujuan gue cuma satu, ngemilikin elo!" jawab Rayhan enteng. Ia ingin kembali merengkuh tubuh Qia, tapi Qia dengan cepat menangkisnya.
"Jangan sentuh gue! Lo ga waras. Setress berat!!" sentak Qia tak habis pikir. Rayhan tersenyum miring, entah setan apa yang merasuki otak kosongnya itu.
"Jangan nolak gue malam ini aja please!!" tutur Rayhan dengan tatapan memaku pada bola mata Qia. Qia gelagapan gugup karena Rayhan tiba-tiba melangkahkan kakinya maju, untuk mendekat.
"Re lo apaan si? Mundur nggak? Jangan bikin gue parno." pinta Qia panik. Ia sudah tak bisa mundur menjauh karena punggungnya sudah menghantam tembok, sementara Rayhan masih terus menambah langkahnya.
'Sial gue harus gimana tuhan? Mana sepi banget disini.' batin Qia was-was. Pikirannya tak bisa sejernih sebelumnya lagi.
"Nggak akan. Karena gue mau lo malam ini!"
"Re......" cicit Qia memejamkan mata karena takut. Ia sudah bisa menebak apa yang akan terjadi setelah ini, tapi haruskah ini terjadi karena kebodohannya sendiri?
"Gue cuma minta first k-"
Dug
Tepat saat Rayhan baru saja meraih dagu tirus Qia dan mulai mendekatkan kedua bibir mereka, tepat saat itu juga seseorang tiba-tiba datang dan langsung menendang wajah Rayhan hingga terpental jatuh.
"BRENGS*L LO PENGECUT!!!" maki cowok yang menjadi penyelamat Qia tersebut. Qia tampak kaget melihat Vano yang datang menyerang Rayhan dengan sepasang mata nyalang yang memerah. Mungkin karena marah? Tapi kenapa?
"Kak Vano?!!" pekik Qia. Akhirnya ia bisa menghembuskan nafas lega.
"Lo kesini." ucap Vano menarik Qia kebelakang badannya. Menjadikan dirinya sebagai perisai untuk Qia, perempuan yang ia cari sejak tadi.
"S**t!" umpat Rayhan menyapu sudut bibirnya yang tergores dan pipinya yang terasa panas lebam.
"Kotor banget cara lo setan. Pengecut banci najis!!" umpat Vano memaki Rayhan sepuas hatinya.
Qia sudah tak bisa berkata-kata. Kalau biasanya ia pasti akan menjadi penengah, maka saat ini ia tak akan melakukan itu atau bahkan tak akan melakukan hal itu lagi karena trauma dengan Rayhan yang terlalu nekat itu.
"Oh ini pahlawan kesiangan perebut cewek orang." sindir Rayhan tersenyum miring.
"Cewek lo? Maksud lo Qia? Mimpi kali lo!" ketus Vano skakmat. Dengan sangat polosnya Qia refleks mengangguk-angguk.
'Bener lu kak! Gue kan jomblo, mana ada punya-punyaan.' bela Qia dalam hati.
"Qia udah jadi cewek gua kalo lo ga dateng ke hidup dia bangs*t!!"
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰