
"Van!" panggil Gabby dan kawan-kawan saat sampai di pertigaan yang sudah ada Vano yang telah menunggu mereka. Motor Gabby dan ketiga motor lain nya berhenti bersamaan di dekat samping Vano.
Vano tak menjawab tapi langsung kembali memakai helm nya dan menyalakan motor untuk kemudian pergi di ikuti yang lain.
Brum brum
Lima motor sport dengan 9 orang yang memekakkan telinga itu melaju beriringan membelah jalanan sepi menuju markas Classio. Markas geng motor baru itu memang berada agak jauh dari jalan raya.
Tin tin tin tin
Brum brum
Tiiiin
Keributan yang di buat oleh Vano and the geng di depan bangunan berlantai satu markas motor itu lantas membuat penghuni nya berhamburan keluar.
"Apa-apaan ini? SIAPA KALIAN HAH?!!" teriak salah satu dari gerombolan di depan pintu itu. Vano dan teman-teman nya lantas melepas helm mereka dan turun satu persatu untuk berhadapan langsung dengan anak-anak Classio.
Prok prok prok
"Wah wah ada tamu pembuat onar!!" sapa orang yang sama tadi. Anak-anak Classio tampak memandang Remeh kepada 9 anak geng motor sebelah yang berani-berani nya mendatangi markas mereka dengan tidak sopan.
Dari segi jumlah, geng Vano memang visa di katakan cukup berani dengan nyali nya mendatangi markas itu karena jumlah anak-anak Classio 5 kali lebih banyak dari jumlah Mereka.
"Maksud lo apa neror markas gua?" tanya Vano to the point. Ketua dari Ghosterion itu berdiri tegap di barisan tengah paling terdepan dari kawan-kawan nya.
"Lo waras? Harusnya gue yang nanya maksud lo apa dateng ke markas orang kayak gini hah?!!" bentak balik orang itu. Diketahui nama orang itu adalah Desta. Vano bisa membaca tulisan kecil di dada jaket bagian kiri milik orang itu.
"Ga usah menye! Elo duluan kan yang udah nyerang markad Ghosterion HAH?!!" sentak Vano makin panas dengan tangan dan emosi nya yang sudah siap meledak.
"Maksud lo apa nuduh gitu? Mau ngajak ribut?" tanya Desta lagi. Vano tersenyum remeh.
"Udah salah ga mau ngaku salah!" ketus Gabby sudah tak sabaran. Aura algojo tak sabaran dari Sam sepertinya sedang merasuki tubuh dari wakil ketua itu.
"Gue emang ga tau apa-apa!! Lo pada mau ngajak duel sekarang aja?" tanya Desta yang masih tak mau mengaku. Ketua Classio itu sudah maju berhadapan dengan Vano dan Gabby sejak tadi.
"Lo pikir gua takut?" tanya Gabby balik. Tak mau berlama-lama membuang waktu dan emosi nya, Gabby langsung membogem keras pipi kiri Desta hingga si empu nya terhuyung ke belakang. Melihat ketua nya di pukul mundur, semua anggota Classio lantas menyerang anak-anak Ghosterion. Perkelahian sengit antar dua kubu itu pun tak bisa di hentikan lagi. Sengit dan saling memukul. 1 Vs 5.
Bugh bugh
Arghh krak
Bugh
Meski kalah jumlah, bukan berarti Ghosterion kalah pukul. Mereka masih bisa mengimbangi serangan lawan karena skill bagus nan jago yang mereka miliki. Satu persatu anak Classio mulai bertumbangan ke tanah. Kemenangan telak ada di tangan Ghosterion meski jumlah mereka hanya segelintir.
Dari satu lawan lima, menjadi satu lawan tiga, hingga akhirnya semua nya berhasil mereka robohkan. Apa aku bilang? Bagaimanapun keadaan nya, Ghosterion selalu bisa menemukan cara untuk mengatasi semuanya. Satu point kemenangan telak jatuh lagi di tangan Ghosterion.
Hanya tinggal satu orang, Desta. Ya, Desta dan Vano masih saling menyerang sampai sekarang. Gabby hendak membantu tapi Vano melotot tajam ke arah nya.
"Biar gue aja!" ucap Vano saat pertarungan nya dan Desta berhenti sejenak. Tampak Desta sudah babak belur dan kuwalahan tapi mungkin karena ia adalah seorang ketua, dia gengsi kalau harus terjatuh di depan semua anak buah nya. Sampai akhirnya.....
Krak
"Arghhh ampun!! Tangan gue!!!" pekik Desta berteriak kesakitan saat Vano berhasil menarik dan menekuk tangan Desta ke belakang.
"Ngaku kalah atau gua patahin nih tulang?" tanya Vano datar. Desta meronta-ronta.
"Arghh i lose okay? Lepasin tangan gue bangs*t!!" pekik Desta masih kesakitan. Vano makin menekan tangan Desta karena meras di umpati oleh orang itu. Jeritan penuh sakit dan nyeri kembali terdengar keras dari mulut Desta.
"Katakan dengan benar!!" ucap Vano masih dalam mode datar nya.
"Iya gue kalah! Lo menang." ulang Desta penuh penekanan. Vano lalu melepaskan tangan nya dengan satu hempasan kasar.
"Sekarang jawab pertanyaan gue, maksud lo apa teror Ghosterion hah?" tanya Vano kembali ke topik awal mengapa ia kemari.
"Gue udah bilang, Classio belum pernah datang langsung ke markas Ghosterion!" jawab Desta masih tak merasa bersalah.
"Udah kalah gelut masih aja ngelak!" cibir Adam.
"Ngaku aja bro, kalo emang iya ya bilang iya! Berani berbuat harus berani tanggung jawab dong." sahut Bagas membenarkan cibiran Adam tadi.
"Gue udah bilang gue enggak ada sangkutan sama teror yang kalian maksud!" sahut Desta masih kekeuh.
"Kalo ada Sam, udah di gebukin nih mulut sampek mau kebuka jujur!" ketus Gabby yang sudah geram dan hendak menyerang Desta lagi. Vano menahan tubuh Gabby agar tidak gegabah karena Vano melihat memang ada keganjalan disini.
"Van lepasin! Biar gue kasih paham dia." ucap Gabby mencoba melepaskan diri.
"Gab sabar dulu!!" ketus Vano memberi kode pada Bintang agar menarik Gabby mundur.
"Lo serius ga tau apa-apa soal teror itu?" tanya Vano memicingkan mata nya pada Desta. Mencoba mencari kebenaran di dalam sana.
"Serius! Ngapain juga gue kesana!" ketus Desta sambil menyeka sudut bibir nya yang terasa perih. Vano kemudian merogoh saku jaket nya dan mengambil benda pipih dari dalam sana.
"Terus ini nomor siapa?" tanya Vano menunjukan nomor yang tadi menelepon nya. Desta mengambil alih Hp Vano untuk memastikan nomor itu.
"Tadi nomor ini nelpon gue dan bilang kalo Classio baru aja neror markas Ghosterion." ucap Vano lagi. Desta menggeleng.
"Ini bukan nomor anak Classio." ucap Desta.
"Lo semua ga percaya?" tanya Desta. Kesembilan orang itu menggeleng bersamaan dengan tampang datar nya.
"Classio! Nyalain semua Hp kalian!!" intruksi Desta. Semua anak buah nya membuka Hp dan menyalakan mode data seluler lalu di hadapkan ke arah Desta.
"Sekarang telpon nomor ini lagi, anggota gue hari ini semua lengkap ada disini. Kalau ada dari mereka yang ternyata pelakunya, silahkan bakar markas ini!!" ucap Desta pada Vano sambil mengulurkan kembali Hp nya. Vano pun menuruti apa kata Desta, Desta juga ikut mengeluarkan Hp nya dan menunjukkan layar display nya pada Vano. Sedangkan delapan teman nya memperhatikan semua Hp yang di tunjukkan oleh anak-anak Classio.
Nothing!
Nihil!
Tak ada yang berdering?
Vano mengerutkan kening nya bingung. Apa maksud dari semua ini? Kenapa tak ada deringan panggilan yang masuk pada mereka semua? Dari 50 lebih, kenapa tak ada satu pun?
"Ga ada kan? Sekarang percaya?" tanya Desta tersenyum sinis.
'Terus siapa yang telpon? Sial! Pasti adu domba lagi.' gerutu Vano dalam hati nya.
"Berarti ada geng motor lain yang ngadu domba kita Van." ucap Gabby menyimpulkan. Vano mengangguk setuju dengan pemikiran Gabby.
"Huffttt" Vano menghembuskan nafas nya kasar.
"Sorry Des! Gue sama temen-temen gue yang ngaku salah, ini pasti ada ikut campur dari geng lain yang mau ngadu domba Ghosterion." ucap Vano mengulurkan tangan nya untuk berjabat tangan dengan Desta.
"Iya gue maafin kali ini! Lain kali pastiin dulu, jangan asal nyerang geng orang." ketus Desta tapi tetap menjabat tangan Vano.
"Anak geng lo juga tadi pagi gangguin Sammuel, jadi wajar kalo kita percaya sama telpon tadi." celetuk Bagas.
"Mungkin geng gue emang rese, tapi main belakang kek begitu bukan tipe gue sama temen-temen gue!" jawab Desta.
"Udah Gas udah. Sekali lagi gue minta maaf sama kalian semua. Guys kita cabut!!" ajak Vano pada teman-teman nya. Mereka pun berpamitan dengan saling berjabat tangan sesama semua anggota lalu pergi.
'Terus ini kelakuan siapa jingan?!!' gerutu Vano kesal dalam hati nya.
...****************...
Brum brum
ckit
Motor hitam dengan plat nyolot bin kasar, 'S 1 KAT' itu memasuki area halaman markas Ghosterion. Cowok berjaket hitam dengan kaos dan celana panjang hitam sobek itu pun melepas helm full face hitam yang ia pakai. Dari motor, helm sampai outfit semua serba hitam. Ini anak motor apa anak takziah? Ehhe canda.
"Kok sepi? Anak-anak yang lain pada kemana Bud?" tanya Sam pada salah seorang teman nya yang sibuk memperbaiki kabel bawah motor.
"Ini kenapa motor di sini semua? Rusaknya massal janjian?" tanya Sam lagi. Budi memutar bola mata nya malas.
"Elu Sam Sam!! Sekalinya buka mulut, banyak tanya pasti." gerutu Budi.
"Jawab makanya! Kenapa? Yang lain kemana?" tanya Sam lagi.
"Pada balas dendam ke Classio." jawab Budi apa ada nya. Sam membulatkan mata nya.
"Ada masalah apa?" tanya Sam lagi.
"Nih motor semua kempes sama rusak. Kata Vano ini gara-gara ulah Classio, terus Gabby berdelapan sama yang lain ikut Vano ke markas Classio pada boncengan pake motor yang enggak ikut di rusak." jelas Budi panjang lebar.
"Oh." sahut Sam manggut. Terlihat cuek dan acuh padahal otak nya kini sedang sibuk berfikir tentang masalah yang di katakan oleh Budi tadi. Budi yang sudah kebal dengan sifat es batu Sammuel hanya bisa mendengus malas.
"Elu darimana aja sih pak? Kok baru dateng?" celetuk Angga.
"Di suruh nyokap. Baru kelar terus gue kesini." jawab Sammuel sambil ngusel duduk di antara Riyan dan Dika yang berada di sofa panjang.
Brum brum
Suara deruman motor masal itu lantas membuat Sam kembali berdiri dengan tangan bersidekap dada. Tatapan mata yang tajam dan wajah datar, sangat mirip seperti psikopat yang menunggu mangsa nya datang.
"Kok lo nyerang ga ngajak gua? Kaki lo kejang ga bisa nunggu bentar?" tanya Sam datar. Tak mau menunggu sembilan orang itu duduk terlebih dahulu, baru saja mereka berjalan masuk bengkel tapi sudah mendapat sambutan super dingin.
"Baru aja sampek udah kena semprot aja sama Algojo galak." gerutu Adam.
"Kenapa ga ngajakin gue?" tanya Sam masih pertanyaan yang sama.
"Yaelah Sam Sam.... Orang normal tuh ya ngajakin nya main, nongki atau jalan-jalan gitu. Ini malah minta nya diajak berantem." sahut Bagas geleng-geleng kepala.
"Tau tuh.. Di kira berantem itu kek piknik kali ye, bisa janjian buat ngatur waktu nya." sahut Adam.
"Ngamok terosss!!" pekik Putra. Memang seperti itulah Sammuel, tukang pukul alias Algojo kebanggan Ghosterion itu paling suka gelut dan keributan. Ia juga akan marah-marah semalaman kalau sampai ada penyerangan yang di lakukan tanpa kehadiran dirinya.
"Hadeh Pak Pak ada aja ulah lo!" sahut Bintang pula. Mereka semua berangsur duduk dan ada pula yang masuk ke markas untuk mengambil kotak P3K untuk mengobati luka lebam di wajah mereka sendiri. Kecuali Vano! Cowok itu masih berdiri di depan Sammuel.
"Kita salah sasaran Sam." ucap Vano menatap Sammuel serius. Sammuel mengeryitkan alis.
"Maksud nya?"
"Bukan Classio pelaku nya. Ada adu domba dari geng motor lain."
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰