DEVANO

DEVANO
114. Seratus empat belas



"Dan setelah tim Fisika yang sudah saya sebutkan tadi, sekaraang terakhir. Daftar nama siswa yang terpilih untuk mewakili sekolah dalam olimpiade kimia adalah Valdo ketua osis Airlangga, Rino sebastian wakil ketua osis dan Queensha Qianne dari kelas 11 Mipa 5." pungkas pesan terakhir bu Titin selaku wakil kepala sekolah.


Pembacaan nama-nama siswa yang akan mewakili sekolah dalam ajang olimpiade sains se-DKI Jakarta ini mengakhiri upacara senin hari ini. Meliputi olimpiade matematika - kimia dan matematika - fisika yang tentunya diwakili tim lain selain tim Valdo.


...****************...


"Daebak!!! Temen gue nyantol di tim olimpiade sains gilaaaaa." pekik Ratu bertepuk tangan heboh untuk Qia yang masuk tim olimpiade Kimia tahun ini.


"Baru masuk sekolah dan langsung masuk tim njir!" cicit Deeva menambahi.


"Akhirnya gue keturutan punya temen pinter." tambah Manda.


"Sa ae lu bertiga, ngerayu gini mau minta apaan lu pada hah?!" respond Qia curiga. Ia memicingkan mata dengan menatap satu persatu dari ketiga temannya.


"Quqi cafe asik keknya." celetuk Ratu.


"Bener tuh! Ntar pulang sekolah bisa kali gas kesana Qi." seru Deeva mengangguk semangat.


"Oke, tapi nanti ada jin yang ngintilin gue. Lo pada ga papa?" tanya Qia memastikan, karena sampai hari ini ia masih terikat perjanjian dengan Vano untuk berangkat dan pulang sekolah bersama.


"Jin apaan?" tanya Ratu mengeryit.


"Itu-"


"Jin BTS?" tanya Manda nyengir tiba-tiba. Entah angin apa yang membuat matanya berbinar penuh semangat.


"Hah?" heran Qia celingukan.


"Dih apaan lo bawa bawa bapak kim?" sahut Deeva ngegas.


"Dih apaan lu ceweknya Jamal hah? Ga terima lo?!!" balas Manda tak kalah ngegas.


"Dih kaka army kok nyolot?!"


"Heh elo yang mulai duluan sijeni!!"


"Sijeuni tolol."


"Kan kan kan mulai lagi debatin kipop kipop." keluh Ratu memijat pelipisnya. Hal paling menyebalkan dalam pertemanannya dengan Manda dan Deeva adalah ketika keduanya sedang berdebat soal idol, tidak akan ada ujungnya.


"Ini pada bahas apaan si?" bisik Qia masih memperhatikan keributan yang diciptakan oleh Manda dan Deeva.


"Ck. Itu fandom janda lumutan, biasalah kalo nggak akur ya pasti senggol-senggolan mulu." jawab Ratu jengah.


Qia yang sama sekali tak mengerti seluk beluk dunia Kpop dan semacamnya makin bingung dengan penjelasan Ratu.


"Rat sumpah lo ngomongin apaan sih hah? Janda lumutan tuh apaan lagi?"


"Lo tau idol korea kan?"


"Tau."


"Ya itu!"


"Apanya?"


"Maksud gue fandom janda lumutan tuh si army sama nctzen noh, warna kebangsaan mereka kan ungu sama ijo."


"Ohhhh...."


"Udah ngerti lo?"


"Enggak juga sih, hehe." jawab Qia nyengir.


"Dahlah capek gu-"


"DEBATIN PLASTIK TEROSSSS!!!!" teriak Aldi, si ketua kelas rusuh dari ujung ruangan. Entah bagaimana caranya ia bisa tau tentang apa yang sedang diperdebatkan oleh kedua anak buahnya.


"Lu mending kemari aja Al daripada berdiri toxic disitu!" respond Deeva galak. Manda berdiri dengan berkacak pinggang setelahnya, salah satu tangannya yang lain menunjuk Aldi dari tempat duduknya.


"Heh mata lo kek bekasan platik! Cowok gue pure ganteng dari orok ye, elu muka pas-pasan lemes amat busetttt."


"Nah betul! Muka lu dibandingin sama keteknya Jaehyun juga kebanting." tambah Deeva.


"Kalaupun plastik juga paling nggak merk LV sama Prada bro, elu plastik dua rebuan di pasar senen doang songong ye Al."


"Passwordnya apa Mandut?" kode Deeva.


"Kalo iri, minimal nyaingin!!" jawab Manda mengejek Aldi. Aldi si oknum pencipta anarki langsung pamit kabur sebelum benar-benar ditelan nantinya.


"Ada cewek kipop, RUNNNNNN!!!" cicitnya lari meninggalkan kelas. Deeva dan Manda tertawa dan saling tepuk, kemudian duduk kembali di kursinya. Sebenarnya mereka sudah biasa dibercandai seperti itu oleh Aldi, tapi rasanya kurang asik kalau mereka tidak meladeninya.


"Udah akur lagi?" cicit Qia melongo. Baru beberapa detik yang lalu mereka saling baku hantam, dan sekarang jadi bersekutu?


"Nah tau kan lo sekarang apa yang gua maksud tadi? Pemersatu fandom janda lumut adalah haters macam Aldi."


"Mmm agak membagongkan tapi ya udah lah ya."


"Btw kapan lo mulai bimbel? Gabby udah berangkat tuh tadi." tanya Deeva menoleh kembali ke belakang.


"Gabby kan di fisika Dep." jawab Qia.


"Terus kimia enggak bimbel gitu?"


"Bimbel sih tapi mulainya nanti habis istirahat."


"Tapi lo kan kepisah tim sama kak Vano ya?" celetuk Manda.


"Dih? Ya terus?"


"Alah ngomong aja lu sebenernya ngarep bisa se tim sama doi kan?"


"Enggak samsek Mandaaaaa." bantah Qia menggeleng kuat padahal hatinya berkata iya, sedikit.


"Ngaku aja sih Qi."


"Tapi its oke kawanku. Cewek yang satu tim sama kak Vano itu tipe cewek yang aman kok, ga keganjenan kek Sarah and the jamet geng. Cowok lu aman ga bakal disenggol!" tutur Ratu merangkul pundak Qia di sampingnya. Qia menjatuhkan tangan Ratu dari pundaknya.


"Sok tau lo!"


"Dih emang gue tau."


...****************...


Sementara di dalam laboratorium Fisika yang masih senyap karena bu Friska, guru pembimbing olimpiade mereka belum datang bernafaslah tiga insan duniawi di satu meja panjang.


"Qia masuk tim Kimia kan ya?" tanya Vano pada Gabby di sisi kirinya. Gabby mengangguk.


"Hm. Bareng saingan lo, haha." jawab Gabby menggoda Vano yang langsung cemberut malas tanpa minat.


"Sialan lo Geb."


"Menyelami lautan fakta bro!" tutur Gabby menepuk-nepuk pundak Vano. Vano mendengus lalu menyenggol perempuan yang tadinya duduk anteng dengan mencoret-coret kertas di depannya.


"Shin tukeran sono lu!"


"Coretan kecoret tuh gimana konsep?" lirih Gabby linglung.


"Tukeran kursi sono!" kekeuh Vano.


"Tukeran gimana si?"


"Ya elu masuk timnya Valdo gih, biar Qia aja yang masuk tim fisika bareng gue sama Gabby."


"Heh oncom toge! Gue juga maunya gitu biar setim sama Rino cowok gue ya, tapi mau gimana lagi? otak gue cutel kalo sama Kimia." celoteh Shinta ngamuk. Galaknya tidak hanya berlaku untuk Rino, dan anak-anak badung di sekolah tapi juga berlaku untuk Vano karena mereka teman sekelas dan sudah terbiasa.


"Ck. Ah kalo gue tau gedenya bakal suka Qia yang pinter kimia, gue bakal nyicil belajar kimia dari TK Geb." alih Vano mengacak rambutnya frustasi.


"Salah lu pake segala bego."


"Sial."


Drtt drtt


"Hp lo tuh!" tunjuk Shinta pada benda pipih hitam yang tergeletak di depan Vano. Vano mengambilnya dengan lemah lesu namun segera berseri semangat seketika setelah membaca nickname yang tertera di layar.


Senyumnya mengembang lebar.


"Dari ibu negara nih pasti." tebak Gabby. Vano mengendikkan alis tanda jawaban 'iya'.


"Kalo jodoh emang ga bakal kemana, baru diomongin juga langsung notice."


📩Qiaa🐣


Kak Van


Gua ntar pulang sekolah mau main sama anak2


Gua biar bareng Ratu/sm lo?


^^^📤Devano^^^


^^^Anak2 siapa? kita?^^^


📩Qiaa🐣


Begonya natural😇


Mksd gua temen2 gue woi kadal.


^^^📩Devano^^^


^^^Makanya ngomong yg jls^^^


^^^Ntar gua anter^^^


^^^Read.^^^


"Dih? Pake emot anak ayam segala.... Sejak kapan lu ada bakat jadi anak alay pak?" pekik Gabby dengan ekspresi jijik. Sedikit menyesal rasanya karena ia mengintip layar ponsel Vano tadi.


"Ck. Karena Qia cerewet dan ga bisa diem, makanya gue kasih emot. Biar keliatan ada spesial-spesialnya gitu!" jawab Vano enteng, ia malah tersenyum bangga menatap nickname baru Qia di handphonenya.


"Ngeri amat orang jatuh cinta bisa ampe alay ngejamet gini." cicit Gabby bergidik ngeri. Sejenak ia semakin yakin kalau 'sendiri memang tidak terlalu buruk'.


"Jomblo akut, iri lu ya?" celetuk Shinta mengejek santai, ia memang lumayan kenal dekat dengan Gabby karena sering bertemu di ruang kedisiplinan.


"Gue pemilih Shin, bukan sembarang jomblo akut." bantah Gabby menyangkal.


"Alah bilang aja ga laku sih."


...****************...


"Lo ngapain kesini bang?" tanya Rizal mengeryit heran. Sangat tidak wajar terjadi karena tanpa angin tanpa hujan, tiba-tiba Raga datang menemuinya di RISHS di siang bolong seperti ini.


Raga bahkan masih memakai setelan rapi ala-ala kantor, hal ini membuat Rizal agak curiga dengan tujuan dari sepupunya menjemputnya ini.


"Kalo lo mau ngajak gue bolos atau nongki, nggak dulu deh bang! Gua lagi mood belajar soalnya." tolak Rizal bahkan sebelum Raga mengucapkan apapun.


"Gua baru pulang dari Bogor nyet." ucap Raga yang akhirnya buka suara.


"Terus apa hubungannya sama lo kesini?"


"Yang semalem lo bilangin ke gue itu maksudnya apaan? Itu serius Rayhan seberani itu? Ke adek gue?!" tanya Raga serius.


"Emang menurut lu gua bakal boong pake bawa-bawa harga dirinya Qia hah?" tanya Rizal balik. Mendengar dan melihat raut wajah Rizal, Raga tau betul kalau saudara sepupunya ini tidak mungkin berbohong.


Dugh


Raga meninju pintu kayu di depannya dengan refleks.


"****!" umpat Raga yang langsung berbalik pergi tanpa pamit dan basa-basi.


"EH WOY MAU KEMANA LO?!" teriak Rizal membelalakkan mata, pergerakan Raga memang seperti itu. Selalu mendadak dan sulit terbaca.


"Ke SMA Garuda." jawab Raga yang hanya menoleh tipis, memperlihatkan siluet wajah serta hidungnya yang penuh pesona sempurna.


"Duh gawat nih si Raga, bisa-bisa dia mutusin denyut nadinya Rehan kalo gue biarin dia kesana sendirian. Jiwa sikopatnya pasti lagi mengebu tuh kebakar emosi!"


"Arghhh padahal gue udah niat ga bakal bolos hari ini gegara mapelnya pak Rudi." pekik Rizal frustasi. Sampai punggung Raga hilang di balik koridor tangga, ia masih bingung harus menyikapinya seperti apa.


"Ya udahlah mending di skors sama pak Rudi daripada muka sikopat Raga masuk koran gegara mutilasi anak orang." pungkas Rizal mengambil keputusan. Niatnya untuk tidak bolos akhirnya kembali digagalkan oleh semesta hari ini.


"Bro tadi ada-" Devan yang baru saja muncul dari balik pintu dan menepuk Rizal pun langsung di tarik masuk lagi ke dalam kelas oleh Rizal untuk mengambil jaket dan tas mereka.


Karena prinsip hidup Rizal adalah simpel 'apapun, kapanpun, kemanapun dan bagaimanapun itu terserah apa kata tuhan, yang penting ia harus bersama Devan.' Menurutnya ia bisa dihukum dan melakukan apapun hanya saat ia melakukannya dengan Devan, sahabat sehidup sepaketnya.


"Ikut gue lo!" ucap Rizal.


"Mau kemana?"


"Nyusulin Raga ke Garuda."


"Dia bukannya di Bogor ya Zal?"


"Udah pulang. Baru aja tadi."


"Terus ngapain pulangnya ke Garuda?"


"Mau mukul otaknya Rehan biar lurus dikit."


"APA?!! Waduh bisa jadi hari terakhirnya Rehan hidup nih."


"Ya makanya gue ngajakin elu, mana sanggup gue misahin Raga sendirian nanti."


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🤙🏻😗


Btw buat partnya Deeva sama Manda jangan ada yang tersinggung ya! Itu cuma bercandaan kok, soalnya author kebetulan nih nctzen yang dulu sempet oleng ke army wkwk. So, just have fun guys!