DEVANO

DEVANO
46. percouplean



"Ekhem!!! Cielah nungguin gue ya?" ledek sebuah suara berat dari arah belakang. Suara derap langkah kaki ikut mengiringi kedatangan suara itu.


"Lama banget si?!" sungut Ratu sebal. Ia masih memaku duduk di kursi kayu, hanya kepalanya saja yang menoleh menghadap Adam yang datang dengan gaya sok coolnya.


"Jadi gimana rasanya?" tanya Adam berdiri di sebelah Ratu dengan kedua telapak tangan dimasukkan kedalam saku celana. Ratu mengeryit tak mengerti.


"Rasanya apa?"


"Rasanya nunggu orang yang udah pasti datang! Ga kayak cowok berengsek berkedok mantan lo itu. Percuma nunggu orang yang pada kenyataannya ga akan pernah kembali." jawab Adam panjang lebar. Ratu masih belum bisa connect. Cewek cantik yang biasanya super aktif bicara itu kini malah tampang cengoh dan polos di depan Adam.


"Maksudnya?"


Adam berdecak kesal lalu berlutut di depan Ratu untuk mengetuk jidatnya dengan gemas. Cewek toa super galak ini, kenapa tiba-tiba jadi selemot ini sih?


"Gue cuma mau lo mulai ngerti dan belajar, udah cukup. STOP! Buang waktu buat nunggu orang di masalalu yang udah jelas ga bakal kembali. Percaya deh sama gue, kalo dia beneran cinta sama lo. Dia ga akan pergi dan bikin lo nangis Rat. Sesuatu yang terlanjur pergi, meskipun kembali, rasanya ga akan sama. Dan lo harus mulai membiasakan diri dong!" ucap Adam panjang lebar.


Ratu terpaku mencerna setiap kata yang terlontar dari bibi Adam.


"Menjebak diri lo di kenangan masa lalu cuma bakal bikin lo susah ngeraih masa depan. Dimas udah bikin lo jatuh dan hancur! dan lo masih mau nunggu dia sampai sekarang? Sorry kalo gue kasar, tapi lo bodoh! Bodoh banget." ucap Adam lagi. Ia masih berlutut di depan Ratu.


satu tetes air mata Ratu jatuh. Memang benar apa yang di kara oleh Adam, Ratu bodoh karena masih berharap dimas kembali!


Adam menyeka lelehan air mata di pipi kiri Ratu dengan lembut. Tumben juga ia bisa bersikap kalem dan manis kepada Ratu, biasanya ngegas terus.


"Seperti kaca yang udah pecah, itulah hati lo! Kalaupun nanti Dimas kembali, hati lo tetep ga akan sembuh dan kembali membaik. Dia terlalu brengsek buat lo tunggu." sambung Adam menghembuskan nafasnya lega. Akhirnya apa yang telah ingin ia sampaikan kepada Ratu telah terealisasi. Sedangkan Ratu mulai terisak, ia cukup tertampar oleh tutur kata Adam yang benar-benar menusuk ini.


Greb


Ratu memeluk Adam, ia menangis terisak di dalam dekapan Adam. Adam membalas pelukannya dengan mengelus-elus punggung Ratu, berusaha memberikannya kenyamanan dan ketenangan. Lebih baik membuat Ratu menangis hari ini dengan tamparan darinya, dari pada suatu hari nanti ia harus melihat Ratu menangis lagi karena Dimas. Seperti tempo hari lalu.


Hiks hiks


cukup lama hanya tersisa sepi dan hembusan angin di antara kedua manusia ini. Hingga sampai pada akhirnya isakan Ratu mulai mereda dan tak terdengar, Adam yang pertama kali bersuara lagi.


"Udah tenang?" tanya Adam. Ratu mengangguk.


"Thanks."


Adam mengeryit mendengar cicitan kecil dari Ratu. Bagaimana bisa suara cemprengnya yang super keras itu jadi seperti ini?


"Thanks buat apa? Gue diem aja dari tadi." tanya Adam.


"Thanks udah nampar gue pake kenyataan." sahut Ratu bersungut. Adam terkekeh.


"Tapi lo enak kan dapet pelukan gratis dari gue?" tanya Adam malah bercanda. Ia ingin mengembalikan mood Ratu. Begitulah laki-laki! Suka tarik ulur mood. Dia yang menjatuhkan, dia juga yang ingin membuatnya kembali naik.


"Rese lu Dam!" ketus Ratu sebal. Adam tertawa sambil menaikkan dirinya dan duduk di sebelah Ratu.


"Coba jalanin aja sama yang ada di deket lo sekarang. Jangan Dimas mulu yang lu tunggu, tolol! Gue capek ye ngeliat lu mewek mulu mewek mulu." celetuk Adam dengan tatapan lurus ke depan sana.


"Siapa? Elo?"


"Ya misal sih bisa aja. Kan gue ganteng, mantan lo kalo dibandingin sama tumit kaki gue juga masih gantengan kaki gue kali!" sahut Adam enteng. Ia sudah mengalihkan pandangannya kepada Ratu lagi.


"Dih buaya huu!" ledek Ratu tersenyum meledek.


Adam tertawa karena akhirnya melihat Ratu tersenyum kembali. Sudut hatinya merasa ada lega dan bahagia tersendiri. Sejenak dua pandangan mereka bertemu di satu titik lurus dan saling terpaut rapat.


"Eh itu gitar masih bunyi?" tanya Ratu mengalihkan pandangannya pada gitar yang tadi di bawa oleh Adam. Anak musik lewat bos!


Adam menggeleng.


"Kalo sekarang ya enggak bunyi, kan nggak di petik." jawab Adam polos seolah tak mengerti arti pertanyaan Ratu tadi. Ratu berdecak.


"Maksudnya enggak rusak kan?"


"Ya enggak lah. Ini gitar baru di ruang musik, makanya gue bawa." sahut Adam meraih gitar itu dan meletakannya di pangkuannya.


"Kok lo bisa bawa?"


"Lah kan gue ketua musik, ya terserah gue lah! Mau gue bawa ke sini, gue bawa ke sana, kemana-mana hatiku senang juga ga masalah." jawab Adam songong. Ratu menatapnya malas.


"Dam ga usah ngajak gue ribut deh sumpah pengen gue telen aja muka songong lu nih." gerutu Ratu datar. Adam tertawa lagi.


"Ahahaha lo kenapa nanya gitu? Lo mau nyanyi biar gue iringin pake gitar?" tanya Adam to the point. Ratu mengangguk.


"Mau!! Pake lagu pilihan gue ya tapi?" tawar Ratu mengimut. Adam mengangguk lalu mulai memetik ngasal senar gitarnya untuk pemanasan.


"Lo mau lagu apa?"


...****************...


"Qia?" panggil Valdo.


"Hah?"


"Lo ceweknya Vano?"


"Hah?" tanya cengoh dari Qia lagi. Dirinya saja masih belum tau siapa cowok ini, dan lagi pertanyaannya membuat Qia makin tak mengerti.


"Hah heh hoh! Cakep-cakep telinganya error." celetuk Rino tanpa dosa. Qia memutar bola matanya malas.


"Gue denger kak! Tapi gue ga paham." bantah Qia.


"Maksud lo apaan sih?" tanya Qia lagi.


"Ya tadi. Elo ceweknya Vano apa bukan?" tanya Valdo mengulangi pertanyaannya lagi.


"Lo siapa sih baru dateng nanya aneh-aneh? Gue aja ga kenal, main tanya sembarangan!" ketus Qia tak sabaran. Kenal saja tidak, sekali sapa langsung nanya yang berbau privasi.


"Pssttt Qia, dia itu kak Valdo. Ketos disini." bisik Deeva. Qia mengeryit.


"Plus, mantan TMMan Deeva." celetuk Manda tanpa dosa. Valdo menatap Manda malas. Bisa-bisanya cewek ini membahas hubungan di masa lalu itu.


"Ga usah diungkit lagi sia!!" ketus Deeva melempar sebuah camilannya pada Manda yang malah tertawa meledek.


"Heh lu berdua malah ribut! Nih biarin temen gue ngomong lah anying." gerutu Rino kesal.


"Dih baperan!" cibir Manda malas.


"Jadi gimana Qi?" tanya Valdo memotong perdebatan menyebalkan Deeva dan Manda.


"Emang iya Qi lo udah jadian sama kak Vano?" tanya Deeva ikutan kepo.


"Kok lo ga cerita ke kita sih?" sahut Manda juga. Qia menghembuskan nafasnya kasar.


"Jadi bukan pacarnya?"


"Hm."


"Terus kenapa lo blokir wa gue?" tanya Valdo lagi.


"Hah?" sahut Qia cengoh lagi.


"Kok lo kek kaget gitu? Elo kan yang ngeblokir chating dari Valdo?" celetuk Rino gemas. Sepertinya ada yang tidak beres di sini, Qia seperti tidak tau apa-apa.


"Chating apanya sih? Gue ga ngerti." jawab Qia mengendikkan bahunya acuh.


"Gue ngechat lo tadi, terus lo blokir setelah bilang lo punya cowok." sahut Valdo.


"Hah?"


'Apa jangan-jangan ini ulah si kuyang ya?' batin Qia bertanya-tanya.


"Gue dari tadi pagi belum buka sosmed selain tiktok. Ngayal kali lu! Lagian juga lo dapet nomor gue dari mana coba?" elak Qia yang memang sejak pagi hanya scroll tiktok di saat gabut melanda.


"Terus siapa yang bales ta-"


"Gue yang bales chat lo tadi." celetuk Vano yang baru saja datang dan langsung join duduk di samping Qia.


"Elo?!!" desis Valdo menunjuk Vano. Vano berdiri lago menghadap Valdo dengan simrikan tipis di wajah dingin nya, sementara Qia melongo.


Apa Vano bilang? Dia yang membalas chatingnya? Tapi kapan? Kok bisa?


"Iya. Kenapa? Lo ga terima hah?" tanya Vano tersenyum miring. Posisinya jelas berada beberapa langkah lebih maju daripada Valdo. Tangan Valdo terkepal memendam benci.


"Pak ketos, mending jangan ribut sama bapak gue lu. Ga malu sama jabatan?" celetuk Bagas yang sudah duduk di sebelah pacarnya. berhadapan dengan Gabby yang duduk bersebelahan di dekat Deeva, Qia dan Vano. Sammuel dan Bintang duduk satu kursi dengan duo bucin dan tepat berhadapan dengan Deeva. Benar-benar posisi paling terkutuk bagi seorang Deeva yang kini jadi mati gaya karena berhadapan dengan crush kesayangannya.


'Duh mati gaya gue sekarang. Jangan sampek mulutnya Manda lemes lagi kek tadi deh.' batin Deeva panik apalagi saat Sammuel terang-terangan menatapnya dalam.


"Val udahlah lupain aja lah, jangan ribut di sini! Malu sama almamater lo." lerai Rino.


"Nah bener tuh kata Rino, udah lo mundur aja. Qia bukan jalan lo!" ucap Vano menepuk-nepuk pundak Valdo yang sama tinggi dengan dirinya. Valdo menepis tangan kekar itu dengan kasar.


"Kita belum selesai di sini!" ucap Valdo dingin lalu pergi di ikuti oleh Rino.


"Rin lo ga ikut gue?" tanya Bagas. Bagas adalah yang paling dekat dengan Rino. Rino menggeleng.


"Next time aja bray!!" sahut Rino sambil berjalan mengejar langkah Valdo.


Setelah Valdo dan Rino pergi, Vano duduk kembali dan menoleh kembali pada Qia yang menatapnya dengan sangat datar.


"Kenapa muka lo gitu?" tanya Vano heran.


"Emang muka gue ini item ada garis-garis putih gitu? Bisa-bisanya nyebut gue jalan!" ketus Qia. Mereka semua tertawa mendengar celetukan Qia barusan.


"Haha jokesnya lumayan juga nih bu bos." ledek Bintang yang tawanya terdengar paling nyaring dan puas.


"Dih." decih Qia malas. Vano hanya tertawa cool.


"HEH KUYANG!!" teriak Qia ngegas saat Vano mencomot jajannya. Vano sampai berjingkat kaget karena ulah cewek bar-bar ini.


Tapi bukan karena comotan jajan itu Qia berteriak di telinga Vano, melainkan karena hal lain.


"Apaan si berisik!!" omel Vano masih melanjutkan comotannya.


"Beneran lo yang bales chatnya ketos?" tanya Qia. Vano mengangguk polos dengan menyeruput jusnya yang baru saja datang. Anak-anak Ghosterion memang tak perlu memesan tiap kali mereka datang, karena mang Ujang langganan mereka sudah hafal makanan dan minuman apa yang di inginkan oleh anak-anak itu.


"Kok bisa? Kapan?" tanya Qia yang terserang amnesia mendadak. Padahal dia sendiri yang memberikan umpan itu kepada Vano.


"Pendek akal! Orang lu sendiri yang tadi pagi ngasih Hp ke gue." jawab Vano enteng. Sementara dua manusia bar-bar ini berdebat, Bagas asyik suap-suapan bucin dengan Manda, Deeva masih kaku salting karena terus di tatap oleh si kulkas berjalan, dan Gabby Bintang yang asyik merecoki pasangan malu-malu itu.


"Pas di toilet?" tanya Qia. Vano mengangguk.


"Kan gue nitip bawa, bukan nyuruh lo buka kan?" tanya Qia lagi. Vano mengangguk lagi.


"Terus kenapa malah ngebales pesan?" tanya Qia lagi.


"Ya muncul notifnya, gue kan bukan orang sombong. Ya jadi gue bales lah." jawab Vano tanpa dosa. Qia memutar bola matanya malas.


"Masalahnya lo bales chat pake Hp gue kuyang!!" omel Qia. Vano tertawa garing.


"Ya udah sorry. Puas lo?"


"Cieee bapak Vano sampek segitunya ya jagain Calon bu bos dari jangkauan cowok lain." celetuk Bintang memancing percomblangan. Tak ada Adam, Bintang pun jadi.


"Ihirr udah jatuh cinta beneran keknya nih." sahut Bagas ikut kompor.


"Kutub mulai leleh nih yee." celetuk Manda menaik turunkan alisnya.


"Jangan kelamaan pak, nanti keburu Valdo makin nekat loh." ucap Gabby logis. Memang benar kan?


"Iya pak. Langsung tembak sekarang juga ga papa." tambah Bintang lagi. Vano dan Qia langsung menatap tajam ke arah Bintang dengan bersamaan.


"APAAN SIH LU!!" ketus Vano dan Qia bersamaan. Teman-temannya lalu saling pandang dan tertawa puas. Kecuali Deeva yang hanya ngakak sebentar karena Sammuel terus saja melihatnya.


"Cieee jodoh mah bareng terus!!"


Melihat Deeva yang sepertinya gerogi parah, Sammuel akhirnya merogoh saku Hp nya dan mengalihkan fokusnya pada benda pipih itu agar Deeva biasa saja.


"Tapi dia dapet nomor gue darimana ya?" tanya Qia masih bingung.


"Tuh tanyain ke temen sebelah lo." suruh Vano. Qia auto menoleh ke samping, tepatnya kepada Deeva yang juga memutar lehernya untuk saling berhadapan.


"Hehe dari gue." jawab Deeva dengan cengiran polosnya. Qia mendengus malas.


"Lain kali jangan sembarangan ngasih nomor gue ke cowok yang ga gue kenal Depaaaaa. Ngawur aja lu!" gerutu Qia.


"Hehe ya maap aihh.. Sorry ya ya ya??" pekik Deeva merayu Qia dengan memeluknya dari samping. Qia mengangguk pasrah, toh sudah terlanjur kan?


"Hmm ga papa, orang udah terlanjur juga." ucap Qia pasrah.


"Kebiasaan ngasih nomor sendiri ke semua cowok, sampek nomor temennya ikut jadi karmanya." celetuk Sammuel tiba-tiba. Semuanya langsung mengarahkan pandangan mereka kepada cowok tercuek yang masih fokus pada sesuatu di Hp nya. Deeva langsung mematung diam seribu bahasa mendengar ucapan yang jelas-jelas adalah cambuk yang ditujukan kepadanya.


"Kena lagi lo Dev." bisik Qia. Deeva menghela nafas panjang.


"Nasib banget."


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰