DEVANO

DEVANO
53. Promosi ig



"Qia!" panggil Vano. Qia yang awalnya sedang memperhatikan seseorang yang familiar di sebelah mejanya pun menoleh.


"Ap-"


Cekrek.


"Heh! Komuk gue jelek parah nih pasti." omel Qia mencoba merebut Hp yang digunakan oleh Vano untuk memfoto dirinya tadi. Tentu saja tak akan berhasil! Tangan gesit Qia kelas kalah panjang dengan tangan kekar Vano. Vano berhasil mendapatkan satu foto candid Qia yang sangat lucu menurutnya, tampang polos setengah melongo yang kaget kena cekrek tiba-tiba pula haha.


"Dih dih emang lo pernah cantik?"


"Dih dih lupa diri mas? Baru juga tadi di mobil lu muji gue cantik sampek tiga kali." jawab Qia mencibir Vano. Vano berdehem ngasal.


"Ga usah GR!"


"Nggak boleh nggak. Foto ulang cepet!!" suruh Qia. Vano mengeryit heran.


"Apanya?"


"Foto gue lagi lah, yang cakep! Ga mau candid-candid an lagi gue." ucap Qia berdecak.


"Ya udah ayo!"


"Ayo kemana?"


"Ayo ke KUA!"


"Ya udah ayo!!" ajak Qia ngawur. Vano langsung berdiri dengan semangat.


"Oke sekarang kita gas!!"


Sret


Qia menarik kembali lengan Vano agar kembali duduk.


"Eitsss bercanda doang sayang, eh kuyang eh ah dahlah." cicit Qia salah bicara. Vano terkekeh tiba-tiba dan menoel hidung Qia dengan gemas.


"Panggil sayang aja juga ga papa." ucap Vano menggoda Qia.


Blush


Pipi putih bersih itu pasti kini sedang memerah padam.


"Cieeee salting hm?" goda Vano lagi.


"Ah udah godain gue mulu! Buruan foto gue, mumpung si cantik lagi baik hati dan murah foto nih." ucap Qia mengalihkan pembicaraan. Vano membuka kembali fitur kamera di iPhone barunya. iPhone yang baru ia beli kemarin malam dan pertama kali menggunakan kameranya untuk mengambil potret Qia tadi.


"Ya udah ayo."


"Pose gih!"


"Iya iya bawel banget!"


"Udah, langsung cekrak-cekrek aja kak buruan. Keburu masa baik gue habis nih." suruh Qia karena Vano tak kunjung mengambil gambar dirinya. Padahal sudah dari beberapa detik yang lalu Qia memposisikan diri.


"Lah apanya yang mau di foto heh?"


"Dengkul gue! Ya muka gue sama setengah badan gini lah." sahut Qia memutar bola matanya malas. Vano berdecak malas.


"Muka lu datar kek triplek kantin Qiaaaaa!! Bagusan juga komuk lo yang tadi, ngowoh lucu kek sapi ompong." sahut Vano nyerocos protes.


"Sialan makhluk cantik kek gini di samain kek sapi." sembur Qia ngamuk.


"Ya udah jadi foto ga nih? Kalo enggak ya udah, gue posting yang candid tadi aja deh biar nilai aesthetic nya lebih dapet!" tawar Vano bertanya. Qia menggeleng cepat.


"No way!! Foto ulang. Harus foto ulang." kekeuh Qia. Vano menghel nafas. Bawel banget!


"Ya udah buruan."


"Ya ayo! Elu tinggal nyekrek aja lama banget." gerutu Qia kesal. Lagi-lagi ini karena masalah Qia yang tak segera melebarkan senyum.


"Ya senyumnya mana dulu dong cantik? Kesel gue lama-lama bisa setress ngadepin elu Qi." omel Vano. Seterpesona apapun Vano kepada Qia, tetap saja Qia ini adalah manusia paling absurd yang sangat menyebalkan bagi Vano.


"Gue fotonya gini. Datar is my passion!"


Vano melongo mendengar alasan itu. Singkat, padat dan bangs*t eh enggak deh, cuma agak nyebelin aja.


"Kenapa si kek gitu? Senyum dikit kek biar kelihatan aura ceweknya." protes Vano. Qia menggeleng masih dengan pose datarnya.


"Gini aja, biar orang-orang tau betapa tertekannya gue dinner sama lo kak!" jawab Qia ngasal.


"Gue telen juga nih Hp!" sembur Vano sebal bin ngasal.


"Oh ya udah ayo sini gue bantu cekokin biar enak." ucap Qia menawarkan diri kemudian tertawa sendiri.


"Lo diem atau gue cium?" ancam Vano. Ajaib! Qia si bawel langsung diam seribu bahasa. Oke, sekarang Vano sudah tau kelemahan Qia dan bisa menggunakannya sebagai senjata untuk melawan Qia kalau dia berulah nantinya.


"Ck. Makanya buruan foto dong!" suruh Qia tak sabaran.


"Iya iya bawel!!"


Cekrek.



"Nah cakep!"


"Thanks, tapi gue udah tau sejak lama kalo gue emang cakep. Super cakep!" celetuk Qia menyahut.


"Tapi bisa kali ah senyum dikit aja! Datar amat nih muka, triplek aja pasti bakalan minder kalo di sandingin sama muka elu Qi." cerocos Vano.


"Woeee ngaca brader!! Muka lu juga kek gini kali. Lagian juga gue gini-gini tetep cakep. wleee!!"


Setelah ajang saling ejek, ribut, dan perdebatan itu. Kedua manusia ini kembali diam sementara waktu, Vano mengotak-atik instagram sedangkan Qia fokus pada seorang laki-laki yang sejak tadi masih saja mencurigakan.


"Udah gue post." ucap Vano menunjukan layar Hp pada Qia.



Baru juga post, udah diramein biang rusuh SMA Airlangga.


Drtt drtt


drtt


drtt


drtt


Hp Vano berdering entah sudah keberapa kalinya sejak ia memposting foto Qia di insta story.


"Dih ada emot love nya? Ga salah kak? Sakit lu?" tanya Qia meraih kening Vano dan menempelkan punggung tangannya.


"Lo diem atau gue cium?" ancam Vano yang sepertinya punya hobi baru untuk mengancam Qia agar dia bisa diam dan kalah. Qia buru-buru menarik tangannya dari Vano.


"Ngancemnya gitu mulu!" semprot Qia sebal.


"Lo mau gue serius?"


"Mmmmm gue repost ah, biar followers cap buaya gue pada mamp*s." ucap Qia mengalihkan perhatian. Kalau ia menjawab kembali ucapan menyebalkan Vano, maka tidak akan ada habisnya.



"Dih GR amat! Cewek galak plus rese kek elu mana ada yang mau deketin?" tanya Vano rese.


"Lo ngeledek gue? Wah belum tau aja lu penampakan DM para buaya online gue." sahut Qia menggerutu. Vano tertawa.


"Oh berarti lo antek-anteknya Deeva ya?"


"Ngawur!"


Drtt drtt


Drtt


"Komentator?" tanya Vano menebak. Gea mengangguk.


"Biasalah."


"Ga di buka?" tanya Vano lagi saat Qia malah meletakkan hp nya di meja. Qia menggeleng.


"Enggak. Mager!"


"Ya udah gue buka punya gue aja."


Vano pun membuka menu pesan DM di instagramnya satu persatu.


"Dan isinya orang-orang setress semua." ucap Vano menghela nafas pasrah. Dosa apa sih yang pernah diperbuat oleh Vano sampai harus mempunyai teman-teman yang sangat minim akhlak dan kewarasan ini hah?


"Gue tebak pasti kak Adam dkk." celetuk Qia. Vano mengangguk. Lalu membukanya satu persatu, dimulai dari yang paling setrees. Adam bin Kodam.



"Oke ini agak setress tapi its oke lah." ucap Vano memberi respond tapi ia lupa membalas DM itu, hanya diucapkan di lisan tanpa di ketik.


DM kedua dari Sam.


@sammuel.atm



"King of 2 yang ga ada duanya."


Ketiga dari duplikatnya Adam, alias Bintang.


@geonne.alhakim



"Oke kalo ini si Bintang lebih setress dari pada kakaknya." Vano membalas reply Bintang karena efek buruk yang di timbulkan sangat wow!


Keempat dari Si bucin, Bagas.


@bagas.sbastian



"Oke, si bocil tiktok keracunan salam dari Binjay. Bagas Setress!!"


Terakhir dari duplikat Vano dan Sam, Gabby.


@gabbyalvero



"Makan terossss!!"


Dari lima temannya, kenapa tidak ada satupun reply yang lurus si? Hah!


"Udah selesai frustasinya?" tanya Qia yang sudah heran sedari tadi menatap Vano yang membalas DM lewat bibirnya doang. Definisi monolog goblok ga si?


"Bisa makin depresi gua punya mereka berlima." sahut Vano.


"Tanpa lo sadari juga si mereka berlima itu juga pasti tertekan punya temen kek elu kak. Eh ups deh keceplosan haha." ledek Qia tertawa mengejek. Vano menatapnya lurus, pandangannya jatuh pada bibir tipis berwarna merah soft itu. Tampak menggoda dan Vano adalah laki-laki normal, tapi dia masih bisa mengontrol diri.


"Lo diem atau gue cium?"


Dan lagi-lagi Qia langsung diam seribu bahasa dengan bibir tertutup rapat.


...****************...


"Hati-hati ga usah lari! Nanti jatuh." tutur Sammuel mencekal lengan Deeva yang kakinya terus saja gatal ingin segera berlari. Deeva menurut.


"Ya kan gue khawatir kak." cicit Deeva. Sammuel menghela nafas.


"Iya gue tau, tapi lo bakal bikin nyokap lo makin khawatir kalo lo jatuh nanti."


"Iya deh iya."


"Dimana letak kamarnya?" tanya Sammuel. Ia dan Deeva sudah berada di lantai dua rumah sakit Angkasa. Sammuel tentu tak asing lagi dengan rumah sakit ini, ia sering antar jemput bundanya tiap kali ibunya itu punya jatah shift malam.


"Itu kak di depan sana, pas samping belokan."


Sammuel manggut-manggut ia sudah melepaskan tangam Deeva dan berjalan mengikuti Deeva di belakangnya.


"Mama?!!" seseorang yang di panggil mama oleh Deeva itu menoleh. Dan seorang dokter yang sedang berbincang dengan mamanya Deeva juga ikut menoleh. Sammuel tak asing dengan wajah dokter yang sebagian wajahnya tertutup oleh masker biru itu.


"Abang sama kakak mana?" tanya Deeva mencari keberadaan kakak dan kakak iparnya. Sammuel juga ikut celingukan mencari keberadaan Sherly, kakak kandung Gabby. Tentu saja Sammuel kenal, kan sering join ke rumah Gabby bareng yang lain juga.


"Ke kantin sayang, kasihan abangmu dari pagi belum makan." jawab Mama.


"Loh! Sammuel?" cicit dokter itu. Ia perlahan membuka masker yang ia pakai. Dan benar saja! Pantaslah Sammuel seperti mengenalinya, ternyata wanita itu adalah bunda nya sendiri.


"Bunda?" sahut Sammuel langsung mencium punggung tangan bundanya.


"Kamu temennya anaknya pasien bunda ya?"


"Iya bund." Bunda Sammuel geleng-geleng kepala melihat penampilan putra semata wayangnya ini. Apa-apaan ini? Sudah lebih dari jam tujuh malam, dan Sammuel masih memakai seragam putih abu-abu lengkap dengan jaket yang sudah tak asing bagi bunda. Memang dasar anak bandel! Untung saja dia adalah anak kesayangan ayah dan bundanya, kalau Sammuel punya saudara pasti anak itu akan sesekali dihukum oleh ayahnya.


Sammuel be like : Untung aja enggak punya sodara haha.


"Oh kadi kamu yang nganter anak tante ya? Aduh makasih ya anak ganteng, baik banget." ucap mama Deeva. Sammuel mengangguk dengan senyum tipis, percayalah hanya untuk sekedar senyum dengan orang asing saja rasanya sangat sulit bagi seorang Sammuel yang terbiasa dengan sifat cuek dingin dan angkuh.


"Iya tan, sama-sama."


'Manis banget si kak? Bikin jantung gue deg-deg aja. Heh husss Deeva!! Kelewatan jiwa lu Dev, papa lagi sakit ini bisa-bisanya nyempetin terpesona sama kak Sam.'


"Eummm ya sudah kalau begitu Bu Dira, saya pamit undur diri dulu ya. Kalau ada apa-apa panggil saya atau suster saja." ucap Bunda Sasa, eh dokter deh.


"Iya dok, terimakasih." setelah mengangguk, dokter pun beralih pada anak lelakinya. Bunda Sasa menarik lengan Sammuel agar sedikit menjauh dari Deeva dan mamanya.


"Kamu masih mau di sini sayang?"


"Iya ma, nanti bentar lagi Sam pulang."


"Kamu belum ganti baju gini pasti habis dari geng mu itu kan?" tebak Bunda. Sammuel mengangguk polos. Percayalah, jiwa cuek Sammuel ini tidak pandang bulu. Ia hanya menunjukan kasih sayang dan perhatian pada bundanya lewat perbuatan, bukan kecerewetan bicara seperti anak lain.


"Iya."


"Tuh kan dasar anak bandel!!" omel bunda Sasa menarik telinga Sammuel hingga cowok tinggi tegap itu membungkuk kesakitan. Ia sekarang jadi Sasa versi bunda bukan lagi dokter karena sedang berhadapan dengan anaknya sendiri.


"Ah ah auwww bund sakit bund!!" pekik Sammuel meronta pada tangan bunda di telinganya. Bunda tak menghiraukan.


"Biarin aja sampek putus sekalian! Daripada punya telinga normal juga ga pernah mau dengerin nasihat orang tua." omel bunda Sasa lagi.


Tanpa mereka sadari, Deeva serta mamanya sampai geleng-geleng melihat kedua orang itu.


'Berasa kek ngeliat gue dimasa depan kalo punya anak dari kak Sam yang bandelnya 11 12 sama bapaknya.' batin Deeva lupa situasi. Emang dasar si Deeva.


"Aaaaa bunda udah dong bund ngamuknya ah.. Kan ga lucu kalo cucu tunggalnya Atmajaya sama Sanjaya kupingnya copot satu! Apa kata dunia bund? Bunda ga malu apa?" cerocos Sammuel. Untuk pertama kalinya cowok kulkas ini nyerocos sebegitu panjang.


Sasa kemudian melepaskan siksaannya kepada telinga Sammuel.


"Dasar anak nakal! Untung aja kamu ini anak cucu satu-satunya ya... Kalau aja kamu punya adik atau kakak, udah bunda karungin kamu ke tukang loak!" gerutu bunda sebal. Sammuel mengelus telinganya yang masih panas.


"Dasar bunda kejam! Kalo aja bundanya Sam bukan cuma satu, pasti udah-"


"Udah apa hm?" potong bunda cepat. Sammuel menggeleng nyengir.


"Hehe becanda bunda."


"Hufftt ya sudah bunda pergi dulu, kamu temenin tuh temen kamu. Btw temenmu itu cantik juga loh Sam, itu temen kamu doang? Atau jangan-jangan temen rasa demen?" tanya bunda beralih melirik Deeva. Sammuel menatap bundanya dengan malas.


"Bunda apaan si... Udah ah sana sana husss pergi sana!!" usir Sammuel menuntun pundak bundanya agar segera berbalik badan dan pergi. Bunda tertawa.


"Kamu kan anti sama cewek, bunda itu udah hafal semua seluk beluk kamu! Kalo kamu mau deket-deket sama anak itu, berarti kalian pasti ada mmmm-" ucapan bunda terhenti seketika karena Sammuel menutup mulut bundanya dengan masker di tangan bundanya sendiri.


"Bunda berisik!!"


Bunda tertawa lalu pergi karena ada suster yang memanggilnya. Sammuel menghela nafas lega setelah bunda alias dokter Sasa itu pergi dengan dibuntuti oleh seorang suster yang tadi memanggilnya.


"Lah Sam?" panggil Gabby yang muncul dibelakang Sammuel. Anak itu baru diberi kabar oleh kakaknya, makanya dia datang.


"Lah dugong."


"Kok bisa di sini pak?" tanya Gabby lagi. Ia mulai berjalan bersama Gabby mendekat kembali ke arah Deeva.


"Tadi ketemu Deeva di taman, gue anter sekalian." jawab Sammuel jujur. Gabby menyenggol-nyenggol lengannya dengan jahil.


"Cieee bibit cinta ya?"


"Lo diem atau gue gampar?" ancam Sammuel mendengus malas. Deeva agak salting karena mendengar ucapan Gabby tadi.


"Wuihh sama calon adek ipar jangan kasar kek gitu dong pak!! Kualat lu nanti haha." sahut Gabby malah semakin gencar.


"Monyet kek elu mana ada kualat?"


"Jahat bener mulutnya pedes amat buset!!"


"Berisik Gabbyyyy!! Gue lempar juga lu ke BB." sungut Sammuel makin kesal.


"Nah enak tuh, gue bisa sekalian olahraga bela diri." sahut Gabby tak ada takutnya.


"Serah lu nyet!!"


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰


Btw visual Vano aku ganti ya guys, bisa cek episode 2 untuk lebih jelasnya.