DEVANO

DEVANO
45. Gercep



Bugh


"Sial gue di blokir?!" pekik Valdo membanting Hp nya kesal di atas meja. Rino yang berada di meja tak jauh dengan ketos itu pun menoleh.


"Shin, gue nyamperin tuh bapak dulu ya?" pamit Rino kepada pacarnya yang sekaligus adalah wakil ketua osis satu, yang berada satu tingkat di atas jabatan Rino di osis. Namanya Shinta.


"Hm... Jangan lama-lama, nih tugas masih numpuk loh." jawab Shinta tanpa mengalihkan pandangannya dari monitor laptop. Rino mengangguk lalu pergi menghampiri Valdo yang tampak sangat sebal.


"Kenapa sih lu? Uring-uringan mulu dari tadi. Heran gue!" tanya Rino yang baru saja sampai. Valdo tak menjawab tapi menunjuk Hp nya dengan mata seolah menyuruh Rino langsung melihatnya saja.


"Qianne? Gue Val........Waduhh langsung di blokir dong!!! Cihh ini sih udah pasti dia beneran ceweknya Vano." ucap Rino kompor. Valdo menghela nafas panjang, rasanya seperti masih mengganjal.


"Cewek cantik ga cuma dia bro, cari yang lain masih banyak kali ah!! Udah lo lupain aja si Qia." saran Rino lagi.


"Gue ga yakin." jawab Valdo mengelak.


"Ga yakin apa?" tanya Rino tak mengerti.


"Gue ga yakin Vano orangnya." jawab Valdo lagi.


"Terus siapa lagi kalo bukan Vano coba? Udah jelas-jelas tuh tiap hari deketnya sama Vano, sering dihukum bareng pula." tutur Rino menjelaskan berdasarkan fakta yang memang benar adanya.


Valdo menghembuskan nafas kasar. Benar juga apa yang dibilang oleh Rino.


"Woii masih aja gibahin cewek! Nih kerjaan masih banyak astaga!!" keluh Shinta mengomel menunjukkan laptopnya. Valdo mendengus malas.


"Ntar aja deh Shin, gue lagi males. Ga bisa konsen!" tolak Valdo menjauhkan laptop yang disodorkan oleh Shinta.


Shinta memutar bola matanya malas.


"Hadehh si ambisius malah jadi si plinplan gegara cewek. Tadi pagi maksa orang buat nyelesaiin secepatnya, sekarang elu sendiri yang nunda-nunda!!" omel Shinta sebal.


"Ah cerewet mulu! Rin cewek lu nih ah, bikin gue makin puyeng aja." gerutu Valdo kesal. Rino menghembuskan nafasnya pasrah. Selalu seperti ini, si ketos dan waketos 1 yang tak pernah akur dan selalu Rino sebagai waketos 2 yang jadi samsak mereka. Rino mengcape!


"Beb udahlah jangan ngamuk.... Mending kamu bantuin nih pak ketua, cari tau kek si Qia itu pacarnya siapa. Kan kelas kalian sebelahan?" lerai Rino mengusulkan. Shinta mengeryit.


"Lah kok jadi aku?"


"Ya kan kamu temenan baik sama geng dia? Cari tau dikit sabi lah." jawab Rino enteng. Shinta terdiam sebentar mengingat cewek bernama Qia, ia tak mengenal anak baru itu.


"Aku emang kenal baik sama Ratu dan geng nya, tapi aku belum kenal sama anak baru itu. Ogah lah kalo harus SKSD sama dia!" tolak Shinta malas.


"SKSD?" tanya Valdo dan Rino bersamaan.


"Sok kenal sok dekat. Masa iya enggak kenal tapi langsung nanya-nanya dia pacarnya siapa? Itu bukan aku banget sumpah ogah!!" jelas Shinta tegas. Valdo dan Rino menghembuskan nafasnya pasrah, karena mereka berdua sudah hafal perangai dari Shinta yang sekali bilang tidak maka jawabannya akan tetap tidak.


...****************...


"Kantin kuy makan!!" seru Deeva memegangi perutnya.


"Laper terosss!!" ledek Manda. Deeva terkekeh.


"Kan gue laper Mandut!! Ya harus makan lah." sanggah Deeva membela diri.


"Lah gue kalo haus. Pengen ngisep darah orang, bukan minum Dev." celetuk Qia ngawur.


"Widih ceweknya kak Vano kelasnya emang beda sist hahahah." ledek Manda tertawa. Qia menatap Manda dengan sangat amat datar, sementara Deeva melipat bibirnya kedalam untuk menahan tawanya.


"Ga lucu Mandut!!" ketus Qia kesal.


"Hahahah Ya udah yuk kantin. Ayang Bagas juga bentar lagi pasti keluar kelas." ajak Manda menggandeng tangan Deeva dan Qia di kedua lengannya.


"Rat? Woi malah ngelamun!!" pekik Qia sambil melambaikan tangan di depan wajah Ratu yang aneh tidak seperti biasanya.


"Eh hah apaan?" latah Ratu kaget.


"Lo kenapa sih Rat tumben dari tadi diem mulu kek banyak pikiran gitu heh?" tanya Manda kepo.


"Gue ga papa." jawab Ratu singkat.


"Ya udah kalo gitu ke kantin ayok!! Cacing kremi di perut gue udah demo nih minta makan." keluh Deeva memelas. Manda dan Qia spontan tertawa mendengar pengakuan Deeva soal cacing kremi.


Biasanya Adam dan Bintang adalah orang yang membully Deeva dengan mengatainya punya peliharaan cacing kremi karena ia doyan makan banyak tapi tak bisa gendut. Alias kurus terus seolah tubuhnya menolak untuk gendut. Lemaknya hanya mampir di pipi Deeva saja yang menjadikan pipinya gemoy.


"Kalian duluan aja deh, nanti gue nyusul." tolak Ratu membuat ketiga cewek itu mengeryit bersamaan.


"Lo mau kemana? Gue temenin ya?" tawar Manda. Ratu menggeleng.


"Enggak usah. Gue ada perlu dikit, kalian ke kantin aja gih kasian tuh Deeva udah kelaperan!" suruh Ratu mengalihkan. Manda mengangguk.


"Ya udah kita duluan, lo kalo ada apa-apa hubungin kita aja." usul Manda lalu ketiga cewek itu pergi meninggalkan Ratu. Ratu hendak keluar kelas saat Hp nya berdering.


Drtt drtt


📞Kodam is calling.....


Adam : Dimana?


Ratu : Ini on the way.


Adam : Oh ya udah, gue juga otw.


Ratu : Hm.


...****************...


"Wuhuyyyy bang jago! Yok kantin. Laper gue!" ajak Bintang setengah berteriak di depan pintu kelas 12 MIPA 2. Seperti biasa, Bintang bersama dengan Gabby.


"Kuylah! Kalo lu berdua udah keluar, berarti bebeb Manda gue juga udah keluar." sahut Bagas bersemangat. Vano memutar bola matanya malas.


"Pacaran mulu, nikah kagak!" semprot Gabby ketus.


"Ya nanti nyet nunggu Bebeb gue lulus, baru gue lamar." jawab Bagas enteng tanpa beban.


"Lo ga kuliah dulu? Mau lo kasih makan apa si Manda nanti? Rumput sama kayu?" celetuk Bintang.


"Jangan lupa Gas, good looking butuh modal banyak loh." tambah Gabby.


"Bokap gue kan pengusaha, gue tinggal lanjutin usahanya sambil kuliah dan nikah. Selesai kan urusan?" tanya Bagas enteng.


"Jadi ke kantin atau mau nyocros?" tanya Sammuel kesal dengan perbasa-basian ini.


"Kantin lah. Ayok gas buruan! Manda udah jalan ke kantin dari tadi tuh sama geng nya." ajak Bintang menarik tangan Bagas yang langsung bersemangat kalau sudah menyangkut tentang Manda.


"Ayok lah!"


"Ada Qia?" tanya Vano to the point. Bintang dan Bagas menghentikan candaan mereka dan langsung menoleh fokus ke arah Vano.


"Widihhh yang bener aja nih? Nyariin Qia terus sekarang bos?" tanya Bintang salut.


"Benih bucin udah tumbuh." celetuk Adam tertawa.


"Bacot lo semua! Sam ayo duluan." ajak Vano pada Sammuel yang langsung mengangguk dan duluan pergi keluar kelas bersama Vano. Tinggalah Gabby, Bintang, Bagas dan Adam di dalam kelas itu.


"Sial gue ditinggal! Eh Pak tunggu!!" pekik Gabby yang mengejar langkah lebar Vano dan Sammuel.


"Lo berdua juga sana pergi!" usir Adam.


"Lah kok ngamok?" tanya Bintang heran.


"Tadi yang telponan sama lo siapa Dam?" tanya Bagas kepo.


"Kepo! Udah sana lu berdua hussss jauh-jauh dari gue!" usir Adam kekeuh.


"Lo mau kemana sih? Kencan sama berondong mana lagi lu?" tanya Bintang makin penasaran.


"Sama Ratu sih gue yakin." celetuk Bagas curiga.


"Bacot banget emang 2B nih. Gue duluan yang pergi, atau lo yang pergi heh?" omel Adam sebal.


"Yaudah gue pergi cokk!!" semprot Bagas emosi sendiri lalu pergi.


Tak selang lama, Adam juga langsung on the way ke roof top karena Ratu pasti sudah lebih dulu sampai dan menunggu dirinya di atas sana.


...****************...


"Ratu kenapa aneh banget ya?" tanya Manda sambil melahap camilan nya. Qia mengendikkan bahu.


"Ga tau, dari tadi pagi galau. Tiap gue tanya, jawabannya ga nyambung." jawab Qia yang sama herannya dengan Manda.


"Apa mungkin dia masih kepikiran soal yang kemarin ya Qi?" tanya Manda curiga.


"Kak Adam?" tanya Qia. Manda mengangguk.


"Hmm bisa aja sih, siapa tau aja tuh mereka bedua fall in love." sambung Qia lagi.


"And plot twist, Ratu ga ikut kita karena dia ada janji sama kak Adam?" sahut Manda. Qia manggut-manggut.


"Maybe Man! Semua kemungkinan bisa aja terjadi kan?" jawab Qia setuju. Manda mengangguk sambil menyeruput jus strawberry.


Jangan tanyakan kemana perginya dialog Deeva. Tukang rusuh super cerewet itu akan diam seribu bahasa saat mulutnya menemukan pengganjal yang tepat, alias makanan.


"Lahap banget Dev sampek ga ada suara. Lo laper apa doyan?" celetuk Qia geleng-geleng kepala. Manda ikut mengalihkan perhatiannya kepada Deeva yang asyik memakan semangkok siomay.


"Ahahaha Deeva sih emang doyan! Semua makanan juga dia doyan." sahut Manda meledek.


"Ada kok yang gue ga doyan." elak Deeva.


"Apa coba?"


"Batu tumis kayu." jawab Deeva ngasal. Qia tertawa bersama Manda dengan terbahak-bahak. Bukan hanya jawaban Deeva yang lucu, tapi juga komuk wajahnya yang penuh dengan siomay saat berbicara.


Ekhemmm


Ketiga cewek yang duduk di kursi lebar memanjang itu menoleh ke sumber suara. Ada dua orang cowok dengan badge kelas 12 berdiri di belakang mereka.


"Lah?" cicit Deeva kaget melihat siapa yang mendekat. Manda hanya menatapnya biasa saja sedangkan Qia tampak acuh dan melanjutkan makan camilannya karena ia merasa tak kenal dengan dua cowok itu. Jadi tidak ada yang perlu ia perdebatkan.


"Qia?" panggil salah satu dari cowok itu. Qia yang masih memegang stik kentang pun mendongak dengan satu alis terangkat.


"Hah?"


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰