DEVANO

DEVANO
Asisten?



"Tuan" Laks menoleh, dilihatnya gadis itu lalu berjalan kearahnya.


"Ada apa Nona?" Arsya tersenyum tipis, ia ragu untuk bertanya.


"Apa pekerjaan saya Tuan?" Laks terdiam sejenak lalu kemudian dia menatap Arsya.


"Tuan Vano meminta anda menjadi asisten pribadinya" Arsya terperanjat, Asisten? apa mempunyai satu asisten tidak cukup baginya. gumam Arsya.


"Apa ada hal yang perlu ditanyakan lagi Nona?"


"Siapa namanya?"


"Tuan Devano Rega Pratama, saya permisi Nona. Kamarmu disebelah kanan kamar Tuan Vano" Arsya mengangguk lalu pergi ke kamarnya.


"Tuan Laks bilang kamarku disebelah kamar lelaki bunglon itu! tapi dimana kamarnya" Arsya mengedarkan pandanganya, dihadapanya sekarang ada empat kamar lalu dimana kamarnya.


Kalau aku membuka kamar itu mana mungkin karna sudah dipaling ujung, em apa aku buka satu persatu saja untuk memastikan. aku akan memulainya dari kanan.Finalnya.


"Mari pemirsa kita lihat! Apakah ini adalah kamar saya!" Lagaknya seperti *Youtuber.


Cklek*....


"Yah! ternyata kosong tidak ada apapun disini! Jangan kecewa dulu pemirsa! karna kita masih mempunyai 2 kemungkinan" Arsya masih berlagak seperti Youtuber dengan gaya konyolnya itu, terkesan Norak! meskipun ia berasal dari keluarga kaya juga.


"Oke mari kita buka yang mana dulu ini Guys? kanan apa kiri nih? Karna hari ini aku sangat lelah tanpa basa basi aku akan membuka pintu sebelah kiri dulu mungkin ini pilihan yang tepat!"


"Dibantu ya dibantu. 1...2....3.."


Cklek....


"Aaaaaaaaaaaaaaaa.....aaaaaaa" Arsya berteriak lalu menutup telinganya. kalian bisa lihat betapa konyolnya Arsya.


"Tu..tuan sedang apa kau!" Arsya bertanya dengan mata masih melotot ke arah Vano, kemudian Vano berjalan ke arahnya.


"Tu..tuan jangan mendekat tutup badanmu! Kasihan mataku" Vano acuh dia tetap mendekat.


"Matamu menyukainya" Tanyanya dingin menatap mata Arsya dengan sorot mata mengerikan.


"Apa kau tidak tau cara menutup matamu?" Arsya terkejut, ternyata yang ia tutupi bukan matanya melainkan kedua telinganya.


"Ma..maaf Tuan" Arsya tersenyum malu, lalu pergi dari hadapan Vano tanpa hormat.


Dasar gadis gila! umpat Vano.


Cklek...


"Ternyata disini kamarku! Kenapa kamar pelayan begitu mewah? Apa dia mengistimewakan semua pelayan dengan memberi fasilitas bak anak sultan?" Arsya merebahkan tubuhnya sejenak, meregangkan otot ototnya.


tok..tok...


"Nona Arash? apa ini anda?" Arsya kembali dibuat keheranan, kenapa semua menyebutnya dengan nama Arash.


"Maaf, nama saya Arsya bukan Arash" Arsya menjelaskan, wanita paruh baya itu tersenyum lalu kemudian menunduk dan menangis.


"Mari masuk, saya ingin bertanya" Arsya menggandeng tanganya dan mendudukan dikursi.


"Anda ini siapa? Kenapa memanggilku Arash? Siapa Arash?" Cecar Arsya, sejak tadi pikiranya dipenuhi pertanyaan 'Arash'.


"Saya Ningsih Non, pelayan disini, Saya pikir Nona adalah Nona Arash wajah nona sangat mirip denganya" Jelas Ningsih.


"Lalu? siapa sebenarnya Arash?" Belum sempat menjawab Ningsih beranjak dari dudknya.


"Maaf Nona, saya masih banyak pekerjaan kalau nona ada keperluan panggil saya saja" Dia berlalu dari hadapan Arsya, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Tuhan, kenapa semua orang memanggilku arash! siapa dia?


 


\*


 


Vano masih berkutat dengan laptopnya sedikit-sedikit ia memijat pelipisnya. Dia memikirkan Arsya gadis yang ia temui didepan kantornya.


Kenapa wajahnya mirip sekali dengan Arash, Heci apakah dia reinkarnasimu? untuk menemaniku? Oh Tidak! dia hanya memiliki wajah sepertimu namun tidak dengan sifatmu. gumam Vano.


tok..tokk...


"Masuk!" Pintu terbuka dan menampakan Arsya dengan nampan ditanganya.


"Apa kau kesini ingin melihat dada ku lagi?" Tanyanya ketus, Arsya menelan ludahnya bagaimana ia berfikir akan melihat dada bidang tuanya itu.


"Saya hanya mengantarkan kopi untuk Tuan, karna kata Bi Ningsih Tuan suka sekali kopi makanya saya buatkan agar Tuan tidak.."


"Cerewet sekali kau!" Sarkasnya ketus, Vano mengambil kopi itu dan meminumnya.


"Aku memintamu sebagai Asisten bukan Pelayan! kembalikan nampan itu dan kembalilah kesini!"


"Baik Tuan" Arsya keluar dan setengah berlari kedapur. Dasar majikan bunglon! bukanya berterima kasih malah memaki! Tau akhirnya seperti ini lebih baik aku mau dijodohkan!


"Ada apa tuan?"


"Kemarilah dan pijat kakiku!" Arsya mendekat kearah sofa dimana majikanya duduk.


"Kalau pekerjaanya seperti ini sama saja pelayan! pake sok keren disebut asisten!" gumam Arsya.


"Kau mengatakan sesuatu."


"Tidak Tuan saya hanya bersenandung" Arsya membual, bila ketahuan bisa mati muda dia.


Arsya mengedarkan pandanganya keseluruh penjuru ruangan, ia heran kenapa cat temboknya berwarna pink dan putih biasanya pria identik dengan warna gelap. Ia berhenti menatap ke arah pojok dekat jendela sebuah lukisan perempuan.


"Apa dia adalah Arash? perempuan yang mirip denganku? padahal dari lukisan saja sudah berbeda jelas aslinya jauh berbeda! apa orang orang mulai sakit mata sampai tidak bisa membedakan orang satu dengan yang lain" gumam Arsya.