
"JANGAN BILANG LO CERITA KE ABANG GUE?!"
"Wadoh bisa mamp*s gue kalo abang tau kejadian semalem kak....." cicit Qia lagi. Muka paniknya mendominasi suasana.
"Gue belum kelar cerita Qianneeee!!" keluh Vano malas. Qia nyengir.
"Emang belum?"
"Belum."
"Ehehehe yaudah iya sorry, sok atuh dilanjut!" suruh Qia tanpa dosa.
Back to flashback.
"Btw lo kenapa bisa dikeroyok gini? Lo ada masalah sama mereka?" tanya Raga.
"Ya biasa lah Ga, kan emang udah kerjaan mereka kek gini." jawab Vano santai.
"Percaya sih gue. BB kan ga nyari ribut, ga bisa idup!" sahut Rizal.
"Lebih tepatnya nggak nyari ribut, ga tenar."
"AHAHAHHAHA."
Flashback off.
"Jadi gitu ceritanya Qi... Gegara BESTIE lo tuh punggung gue kumat lagi!" pungkas Vano mengakhiri cerita. Qia mengeryit dengan bibir mleyot julid.
"Dih? Salah sendiri! Kenapa lo ga kabur aja? Udah bener tuh harusnya masuk ke komplek perumahan kan aman ga bakal kenapa-napa." sahut Qia balik mengomel.
"Nggak! Gila kali gue mau ngerelain motor kesayangan gue disita bokap." elak Vano cepat. Qia geleng-geleng tak habis pikir.
"Jadi intinya lo lebih mentingin motor daripada keselamatan lo sendiri?"
"Heem. Nyawa emang nomor satu, tapi motor gue tetep prioritas tiada tanding." jawab Vano dengan sangat bangga penuh tekad. Qia berdecak.
"Udah setress lu kak! Berobat sono."
"Makanya obatin." suruh Vano enteng.
"Ogah. Minta diobatin aja sama motor kesayangan lo itu! Ngapain nyuruh gua dih." cicit Qia ogah-ogahan. Vano mengeryit, ada sesuatu yang ganjal di pengucapan Qia barusan.
"Lo cemburu sama motor gua?"
"Hah?"
"Lo cemburu? Tenang aja, posisi manusia sama motor itu beda kok."
"Eh eng-enggak. Ga usah GR deh!" ucap Qia menonyor Vano untuk menetralkan kegugupannya. Vano tertawa renyah.
"Ahahhaha padahal kalaupun iya juga ga papa." ucap Vano disela senyum manisnya. Qia telmi is back!
"Hah? Maksudnya?"
"Ga jadi."
"Ya udah!"
Dan inilah yang akan terjadi kalau si gengsi + signal 2G bertemu dengan si irit bicara yang males mengulangi kata, bertemu.
Cekrek
Satu jepretan foto berhasil diambil oleh seseorang di balik pintu UKS yang sedikit terbuka.
"Oke, tugas pertama gue clear." lirih manusia misterius berseragam SMA Airlangga yang kemudian pergi setelah mengambil foto Qia dan Vano yang sedang duduk berhadapan di ranjang dan kursi.
...****************...
"Vano kemana ya? Perasaan tadi mobilnya ada deh, ngapa orangnya ga nongol?" tanya Adam heran. Ia, Sammuel dan Bagas sudah duduk di kursinya masing-masing.
Sammuel mengendikkan bahu acuh, biasalah.
"Gas woy diem bae lu udah nyamain Sam aja dah!" senggol Adam pada lengan tertekuk loyo di meja sampingnya.
"Galau brutal." jawab Bagas malas berdebat panjang meski Adam menganggunya. Hidup Adam makin hampa hari ini karena partner ngocehnya diam seperti batu sejak tadi.
"Masih gara-gara Manda?" tebak Adam. Bagas menghela nafas.
"Ya elah gitu aja ribet lu! Tinggal susulin noh di kelasnya, rayu dia minta maaf sono."
"Gitu aja ribet banget, ya kan pak?" sambung Adam mencari bala bantuan ke belakang tempat duduknya, Sammuel.
"Halah bac*t! Lo aja tadi ga jadi ngejemput Ratu." ketus Sammuel ngegas.
Diam seperti batu, bergerak langsung ngegas.
"Itu mah Ratunya yang main cancel Sam! Tetiba mau dianterin sama bokapnya." jawab Adam membela diri, awalnya tadi pagi memang Adam ingin menjemput Ratu dan sudah diiyakan pula oleh Ratu. Tapi karena tiba-tiba papanya pulang dari Bandung dan ingin langsung mengantar anak kesayangannya.
Jadilah modus Adam untuk pdkt GAGAL!!
"Kalo gitu sama aja kek gue nj*ng!" ketus Bagas.
"Lah?"
"Gue bisa aja ke kelasnya sekarang, tapi dia juga bisa aja ngusir gue." gerutu Bagas sebal sendiri. Adam ber-oh ria.
"Lo takut diusir Manda?" tanya Sammuel, Bagas mengangguk.
"Ya udah ntar kalo Vano balik, ajak dia aja."
"Buat apaan?"
"Buntu banget otak lu Gas!" sungut Sammuel kebakaran jenggot tapi dia ga punya jenggot. Lah?
"Emang lo ngerti?"
"Ngerti."
"Gimana coba tuh?"
"Ini sekolah punya bokapnya Vano kalo lo lupa!" jawab Sammuel singkat, padat tapi kurang jelas untuk kapasitas otak Bagas yang sedang tidak stabil.
"Ya apa hubungannya ege!! Manda kan bukan anak bokap Vano. Kok lo jadi dongo banget sih Sam?!!" sembur Bagas nyolot bin ngegas.
Plak
Sammuel sudah kehabisan kesabarannya atas kelemotan otak Bagas yang melewati batas. Ia melemparkan tas sekolahnya dan menghantam wajah nyolot di depannya itu.
"Pfffttt ahahahhaha rasain! Siapa suruh lu berani maki-maki algojo kebanggaan gue ahahahha." bukannya prihatin, Adam malah tertawa terbahak-bahak di atas penderitaan Bagas itu.
"****** ni anak." gerutu Bagas mengelus-elus mukanya yang terkena resleting.
Asal kalian tau, Sammuel adalah tipe orang yang tidak akan diam saja saat sahabatnya dilukai orang lain tapi di sisi lain Sammuel juga tidak segan untuk 'main tangan' kepada mereka kalau ia dibuat kesal seperti saat ini. Contoh korban dari gemas berujung kekerasan dari Sammuel adalah Bagas dan Adam, yap! Dua manusia pengoceh yang paling sering memancing letusan emosi dari seorang Sammuel.
"Dahlah Dam lu jelasin sendiri noh ke abang lo! Emosi gua." ucap Sammuel lempar tangan. Adam manggut-manggut.
"Maksud gue tuh gini loh bodoh!" sungut Adam beralih ke Bagas.
"Gimana? Apa hubungannya minta maaf ke Manda sama ngajak Vano?"
"Lo takut diusir karena ini sekolah bukan punya lo kan?"
"Hm. Terus?"
"Lo ajak Vano biar lo ga diusir bodoh! Ini sekolah kan punya bokapnya." jawab Adam menonyor kepala Bagas dari samping.
Bagas baru connect mengerti.
"Oh..... Ah iya iya ide bagus! Tumben otak lo encer." puji Bagas tersenyum miring.
"Lo aja yang buntu!" ketus Sammuel jengah. Bagas nyengir.
"Sorry pak, namanya juga signal jelek."
"Muka lo juga jelek!" semprot Sammuel. Adam auto ngakak.
Memang cuma Sammuel yang selalu menganggap teman-temannya jelek, padahal di mata orang lain mereka berenam adalah ikon tampan sekolah. Sammuel memang berbeda.
"Jelek-jelek gini juga udah laku Sam, daripada elu?" ledek Bagas. Sammuel menatap Bagas dengan tatapan aneh.
"Weh jangan ngatain algojo gue lu! Ada kok yang mau sama kulkas model beginian." bela Adam. Sammuel memutar bola matanya malas, ia sudah bisa menebak siapa orang yang dimaksud oleh Adam.
"Maksud lo Deeva?" tanya Bagas. Adam mengangguk.
"Si peternak buaya yang meskipun banyak cowok ngantri buat macarin dia, dianya tetep stay nungguin Sammuel yang songong setengah mati." jelas Adam geleng-geleng menatap Sammuel dari atas sampai bawah. Yang ditatap hanya bisa menghela nafas malas.
"Cantik gitu dianggurin mulu pak! Pepet seriusan kek." goda Bagas menaik turunkan alis.
"Ya minimal Sammuel udah diiket sama janjinya ke almarhum bokap Deeva. Tinggal nunggu ni anak nurunin gengsinya aja deh." sahut Adam teringat kejadiam itu. Saat Ayah Deeva mempercayakan anak gadisnya ke Sammuel dan Sammuel menyanggupinya. Adam tau cerita itu dari Gabby yang ada ditempat.
"Uhuyyyy diam seperti cupu, bergerak menjadi menantu mamanya Deeva."
"Selain Deeva berhasil dapetin Sam, si Gabby juga berhasil ngewujudin cita-citanya buat sodaraan sama Sammuel." celetuk Adam bertepuk tangan heboh.
"Ga kebayang kulkas sepupuan sama kulkas ahahaha." sahut Bagas ikutan heboh. Meledek Sammuel memang menjadi makanan favorit mereka setiap hari, hanya dua manusia saja sudah seheboh ini apalagi kalau full member?
"Bac*t lo pada!" ketus Sammuel malas.
"Ssstt udah-udah jangan pada adu bac*tan! Mending sini bayar uang kas." potong Dita yang muncul di tengah mereka, entah sejak kapan.
"Lah emang Aisyah kemana?" tanya Adam mencari keberadaan si bendahara yang asli, bukan Dita yang sebenarnya adalah sekertaris kelas.
"Ga masuk, katanya udah trauma narikin uang ke kalian." jawab Dita ngawur.
"Lo ga ikutan takut sama kita?" tanya Adam polos. Padahal tanpa dijawab pun ia sudah pasti tau jawabannya.
"Gak! Lo pada cuma tanjakan kecil di mata gua."
"Aku menyebutnya si kecil mungil yang pemberani." puji Adam bangga pada sepupunya. Dita memang kecil mungil saat berada diantara mereka, tingginya hanya sekitar 160 cm saja.
"Ah udah ah cerewet! Sini bayar." ucap Dita membuka buku catatan kas kelas. Tangannya sudah bersiap meminta uang ke tiga manusia itu.
"Oalah Zal Rizal." sindir Bagas menyindir seseorang.
Mendengar nama itu, Dita membeku. Matanya menoleh ke sumber suara, sungguh bola mata hitam yang tak bisa menyembunyikan perasaan.
"Kenapa lu diem? Emang Rizal siapa?" tanya Bagas menaik turunkan alis dengan senyum mencurigakan.
Selain bucin dan mendzolimi Sammuel, Bagas juga sangat suka menggoda Dita dan Aisyah. Dua makluk berjenis perempuan di 12 MIPA 2 yang punya nyali berhadapan dengan gengnya.
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰