
Tok..Tokk....
"Masuk!" Arsya menampakkan diri dengan membawa nampan berisi Sandwich dan segelas susu.
"Tuan, ini sarapanya" Arsya menyodorkan nampanya ke Vano, namun ia enggan menerimanya.
"Apa kau tidak tau bahwa saya sedang sakit! Kenapa diberi makan seperti ini!" Vano mulai emosi, sebenarnya ia tidak masalah dengan makananya namun dengan kenanganya bersama Arash, Arash lah yang mengenalkan sandwich padanya hingga menjadi makan pokoknya.
"B..baik Tuan" Arsya merutuki kebodohanya bagimana bisa orang sakit diberi makanan sandwich.
Dasar gadis bodoh! Umpat Vano saat Arsya berlalu dari hadapanya.
Vano bersandar dikepala ranjang, ia mengedarkan ke seluruh penjuru kamarnya. Dia mulai mengingat kenanganya bersama Arash dikamar.
Flasbackk On!
"Venus, sebaiknya kamarmu dicat dengan warna pink saja!" komplain Arash melihat kamar kekasihnya yang dicat putih polos itu.
"Kamu pikir aku ini anak gadis!" Vano terkekeh lalu menghambur memeluk belahan hatinya itu.
"Cat putih ini terlalu formal dan polos! gantilah warna pink Venus biar kamu slalu ingat aku!" Arash merengek manja.
"Baik Heci aku akan menggantinya dengan warna pink" Vano sebenarnya tidak menyukai saran dari kekasihnya tapi apa boleh buat.
"Jangan pink semua, dikombinasi saja dengan putih itu akan lebih baik. Mari kita cat berdua" Arash begitu bersemangat, Ia hanya ingin menghabiskan beberapa waktu yang tersisa untuknya.
"Laksanakan Komandan!" Vano memberi hormat.
Arash dan Vano mulai mengecat sesekali mereka bercanda hingga tak terasa mereka selesai. Arash menjatuhkan badanya kekasur Vano dan disusul Vano.
"Kamu lelah?" Vano melirik Arash, Arash menggeleng.
"Aku tidak pernah lelah Venus saat bersamamu! Mau seberat apapun pekerjaanya jika dilakukan bersamamu tidak akan melelahkan!" Arash tersenyum, ia berbalik menghapa Vano, dibelainya pipi Vano.
"Heci kenapa kamu menangis hm?" Vano terlihat khawatir, kenapa Arash menangis dipeluknya Arash berharap bisa menenangkanya.
"Aku menyayangimu Venus, jangan pernah meninggalkan aku" Vano tersenyum ditatapnya mata hazel Arash lalu dikecupnya dikening Arash cukup lama.
"Aku tidak akan meninggalkan kamu apapun alasanya!Kamu adalah separuh hidupku Heci!"
Flashback Off..
Cklek..
"Tuan ini buburn..." Arsya kaget melihat majikanya menangis, didekatinya Vano yang menatap lurus kedepan tanpa mempedulikan kehadiranya.
Arash menyodorkan sapu tangan ke Vano namun Vano menarik tangan Arsya hingga jatuh dipelukanya. Arsya terkejut,namun ia enggan melawan ia tau bahwa majikanya butuh penenang saat ini.
Cukup lama mereka berpelukan, Vano melepaskanya kini ia menatap wajah Arsya lekat, entah dorongan darimana Vano mulai mencium bibir Arsya. Lagi lagi Arsya dibuat kaget dengan sikap Vano ia berusaha memberontak namun tenaga Vano lebih kuat darinya, lama-lama kelamaan Arsya mulai menikmati. Hingga akhirnya Arsya menyudahinya.
"Tuan makan dulu" Arsya berusaha berbicara selancar mungkin untuk menutupi kegugupanya.
"Apa kau tidak melihat kondisiku Arsya?" Vano pura-pura melemaskan tanganya, mengerjai Arsya.
Apa-apaan ini! Apa ia tidak mempunyai tenaga untuk mengangkat sendok seringan ini! menahanku yang berat saja ia kuat!
"Aaaaaa" Vano mulai membuka mulutnya. Arsya menyuapinya dengan telaten dan sabar.
"Aku sudah kenyang!" Tolak Vano saat Arsya menyodorkan sendoknya.
"Tuan baru 5 suapan, satu lagi ya!" Namun Vano menolak, Arsya tidak kehabisan akal.
"Kalau Tuan tidak mau makan, biar Mang Ujang mencarikan kecoa sebanyak mungkin untuk menemani Tuan dikamar, sepertinya Tuan kesepian" Arsya berpura pura berfikir.
"Tidak Tuan aku hanya ingin menghilangkan rasa jenuh Tuan" Arsya tersenyum semanis mungkin.
"Saya tidak menyuruhmu senyum!" Vano merasa jengkel dipermainkan oleh asisten barunya itu.
"Tuan tinggal memilih saja menghabiskan buburnya atau ditemani kecoa sepanjang waktu"
"Iya iya saya habiskan buburnya!" Vano pasrah,sedangkan Arsya tersenyum penuh kemenangan.
\*
Vano telah bersiap untuk pergi ke kantor begitu pula Arsya yang ikut serta denganya.
"Silahkan Tuan" Laks mempersilahkan Vano masuk mobil begitu pula Arsya.
"Kenapa kau memakai masker?" Selidik Vano, Lalu Arsya berpura pura batuk agar Vano dan Laks tidak curiga.
"Saya hanya batuk Tuan" Ucapnya.
"Laks nanti tolong belikan dia obat! saya tidak mau tertular"
"Baik Tuan"
"Tidak usah Tuan saya tidak papa kok" Cegah Arsya.
"Saya tidak menerima penolakan! kamu mau saya tertular penyakitmu itu!" Arsya hanya menghela nafas pasrah.
"Baik Tuan"
Sesampainya dikantor ia segera turun, banyak sapaan dari karyawan karyawan namun hanya dibalas senyuman olehnya.
"Tuan, Pak Rahadian sudah menunggu anda diruang tamu" Lapor salah satu karyawanya.
Vano segera bergegas kesana, Arsya sedikit khawatir bagaimana jika ia dikenali ayahnya. Pikiranya berkecamuk membayangkan apa jadinya ia nanti.
"Selamat Pagi Pak Vano!" Sapa Rahadian seraya mengulurkan tanganya.
"Baik, anda sendiri bagaimana?"
"Baik"Rahadian melihat kearah ke Arsya.
"Apa dia asistenmu Pak?" Vano mengangguk Arsya hanya menganggukan kepala memberi hormat.
"Saya jadi teringat putri saya" Ucap Rahadian, Hati Arsya menjadi sesak.
"Seandainya putri saya tidak kabur" tambahnya.
"kenapa bisa kabur?" Tanya Vano nampak antusias.
"Saya tidak tau pasti Pak bahkan saya mengutus beberapa anak buah saya untuk mencarinya namun nihil" Rahadian bercerita seraya menatap Arsya, pandanganya turun ke tangan Arsya ia tidak sengaja melihat tanda lahirnya.
"Tanda lahir itu" Gumam Rahadian.
"Siapa namamu Nona?" Belum sempat menjawab Laks masuk memberi beberapa berkas.
"Nona, minumlah obat dulu" Ucap Laks, tanpa aba aba Arsya keluar dari ruangan itu. sungguh lega perasaanya. untung saja.