
"Deev?!" panggil Qia saat memasuki rumah duka, orang pertama yang ia cari tentu saja adalah Deeva. Seperti yang dibicarakan bersama Vano di dalam mobil tadi, Qia hanya menambahkan jaket hitam Vano saja sebagai penutup dress maroonnya yang tak berbahu. Tanpa jilbab atau penutup kepala yang lain, mana sempat!
Vano menghampiri Sammuel dan Gabby yang berdiri di sudut ruangan. Bintang, Adam, Bagas, Ratu dan Manda belum datang. Mungkin masih di jalan.
Seorang perempuan yang dipanggil Deeva itu pun menoleh.
"Qia?" mendengar suara lirih, sesak penuh duka itu membuat sepasang kaki Qia langsung refleks mendekat ke pada Deeva. Memeluk tubuh rapuh perempuan seusianya dengan sangat erat. Qia ingin membuat sahabatnya ini tenang dan nyaman.
Greb.
"Qiaaaaaaa hiks hiks." cicit Deeva langsung menyambut pelukan hangat sahabatnya. Qia sampai sedikit terhuyung ke belakang karena Deeva memeluknya dengan terlampau erat.
Qia mengelus-elus punggung rapuh Deeva dengan penuh sayang. Tak tega? Tentu saja.
"Deev lo yang sabar ya? Ikhlasin kepergian-Nya. Lo mau papa lo tenang di sana kan? Lo ga mau papa lo sedih di sana kan?"
"Tapi gue ga bisa kehilangan papa Qi, hiks gue ga mau sendirian."
"Seenggaknya papa lo udah ga ngerasain sakit lagi, dan lo harus inget! Gue sama anak-anak, akan selalu ada buat lo. Lo ga sendirian Deev!!"
"Hiks hiks tapi-"
"Heyyy udah dong... Deeva cantik ga boleh nangis terus!! Gue emang belum pernah tau seberapa sedihnya kehilangan seorang ayah, cinta pertama anak perempuannya. Tapi gue tau lo kuat, lo pasti bisa!! Lo ga akan pernah sendirian."
Qia terus memeluk Deeva dan menenangkan tangis pilunya agar segera reda. Matanya sudah merah dan membengkak tapi Deeva masih terus terisak. Wajar sih, kehilangan orang yang tersayang memang sakit.
"Assalamualaikum!!" ucap salam beberapa suara berat dan juga ada yang lembut di antara gerombolan yang baru datang. Geng Adam dan Ratu juga Amanda akhirnya datang.
"Lah sejak kapan oster punya anggota cewek?" tanya Adam heran saat memasuki ruang depan dan melihat punggung seorang perempuan yang mengenakan jaket kebanggaan milik Ghosterion.
Qia menoleh. Bagas dan Bintang lebih dulu bergabung dengan Vano dan yang lain karena Adam masih sibuk dengan Qia yang memakai jaket kebanggaan mereka.
"Oalah calon bu bos kita toh!!" cicit Adam manggut-manggut. Ratu dan Manda ikut mendekat ke arah Deeva dan Qia. Menenangkan Deeva dan juga tante Dira karena mereka sudah sering main ke rumah Deeva, dan akrab dengan orang tua Deeva pula.
"Deev lo yang sabar ya? Lo kuat dan lo bisa." ucap Manda.
"Iya Deev, kita semua ada di sini buat nemenin lo kok. Jangan nangis, ntar gue ikutan mewek nih." sahut Ratu yang memang selalu baperan, selalu ikut menangis kalau ada temannya yang menangis.
...****************...
Tok tok
"Dek? Woyyyy!!"
Tok tok tok
Cklek
"Lah ga dikunci?" gumam Raga yang langsung masuk ke dalam kamar Qia karena pintu tidak dikunci. Raga melihat ke sekitar, matanya menyusuri tiap jengkal kamar yang tampak rapi namun kosong. Kemana adiknya di larut malam seperti ini?
"Malem-malem gini kemana dia? Awas aja kalo Qia jadi makin liar, suka keluar sampek larut malam semenjak gue tinggal pergi." ucap Raga bermonolog. Hp Qia tak ada di kamar ini, berarti bisa dipastikan dia sedang keluar.
📞Calling Rizal.....
Rizal : Widiiih brader gua nelpon!! Kenapa lu kangen gua?
Raga : Najis Zal!! Adek gua mana?
Rizal : Hah?
Raga : Hah heh hoh!! Adek gua mana nyet? Ada di markas kah?
Rizal : Enggak, ini gua sama Devan masih di markas dari tadi sore, ga ada Qia sekali.
Raga : Lah?
Rizal : Di rumah tuh pasti.
Raga : Ini gua di kamarnya nyet!! Anaknya ga ada.
Rizal : Kok bisa? Lo punya pintu kemana saja? Lo sekarang udah jadi antek-anteknya doraemon kah?
Raga : Kan kan ngawur mulu!!
Rizal : Ya terus?
Raga : Gue pulang gobl*k!!
Rizal : Beneran? Bagus tuh lo pulanh! Kebetulan DS Boys udah bikin plan mau sunmori gabungan sama anak Ghosterion.
Raga : Ga nanya!
Rizal : Ye songong lu ye!!
Raga : Lo ga becus! Kan gua nitipin Qia ke elu, kok bisa-bisanya lo ga tau dia kemana? Semalam ini pula.
Rizal : Yah biasanya gue jaga beneran Ga, sumpah deh!! Cuman tadi gue ga jadi ngajak dia ke markas, soalnya tadi ada mobil Vano keluar ke gerbang rumah lo. Eh-
Raga : Siapa lo bilang? Vano?
Rizal : Ah iya gue lupa!! Tadi gue mampir kan nemuin tante Andin, terus nyokap lo bilang si Vano ngajak Qia dinner gitu.
"Wah udah mulai kenal kata bucin nih si bocil." lirih Raga manggut-manggut kecil.
Rizal : Coba aja lo nelpon Vano Ga.
Raga : Oke.
Tut tut tut.
Dan begitulah Raga, dia selalu menyebalkan dan bertingkah seenaknya kalau ia sudah mendapatkan apa yang ia cari dan inginkan. Bagi Rizal, Devan dan Qia, Raga adalah si pak bos yang kadang galak, kadang asik, tapi selalu ngeselin!
📞Calling Vano GST.....
Tut tut tut.
Tidak dapat memanggil nomor ini.
"Awas aja lu Vano, gua tandain muka lu kalo sampek bener adek gua belum pulang gegara digondol sama elu!!" monolog Raga dengan nada mengancam. Dia mengancam Vano, tapi secara virtual.
"Ekspetasi pulang pengen dipeluk sama Qia, eh realita jadi meluk guling." gerutu Raga lagi.
Tap tap tap.
"Sayang kamu ngapain di sini? Bukannya istirahat dulu di kamarmu, kan kamu baru aja sampai. Pasti capek kan?" tutur Andin lembut. Ia baru saja masuk. Raga menunjuk ranjang Qia yang kosong.
"Qia kemana ma? Selarut ini dan dia belum ada di rumah?" tanya Raga hampir ngamuk. Andin buru-buru berusaha menenangkan putra sulungnya sebelum duplikat dari suaminya ini jadi benar-benar emosi.
"Hey tenang dulu dong sayang, adikmu-"
"Tenang gimana si mamaaaa?? Qia itu perempuan, dan belum pulang sampai jam segini? Mama lihat tuh udah jam berapa!" tunjuk Raga pada jam dinding di tengah ruangan. Sudah menunjukkan pukul 23.20 malam.
Antoni menitipkan Qia, putri bungsunya yang cantik tapi bandel itu kepada anak sulungnya untuk di jaga dengan baik. Raga menyanggupinya karena ia memang berlibur pulang ke Jakarta karena dapat liburan kuliah, tapi sekarang? Yang diminta untuk dijaga, sudah lebih dulu lepas dari pengawasannya.
"Ah iya. Kata Rizal tadi Qia dibawa sama Vano? Bener?" tanya Raga membuat Andin sedikit kalang kabut. Anak lelakinya ini punya sifat sikap yang sangat mirip dengan suaminya, definisi buah jatuh tak jauh dari pohonnya.
"Itu Qia ke-"
"Dan sampai jam segini belum diantar pulang sama Vano? Dan mama diem aja gitu?" potong Raga tak sabaran.
"Bukan gitu Ragaaaa... Dengerin mama dulu dong!!"
"Apa? Qia kemana coba? Dimana kemana dia sampe ga pulang-pulang gini? Ah dahlah biar Raga aja yang nyari dia." cerocos Raga tanpa henti. Raga hendak pergi, tapi dicekal oleh Andin.
"Eitsss biarin aja ga usah dicari!" cegah Andin.
"Anaknya hilang dibawa cowok malah dibiarin. Gimana si ma? Jangan-jangan selama Raga sama papa ga ada di rumah, mama congkalicong ya sama Qia biar bisa bebas main?"
"Ck. Qia itu tadi sempet nelpon mama, dia bilang pas Vano mau nganter pulang tiba-tiba mereka dapet kabar kalau papanya salah satu teman mereka meninggal. Ya jadinya mereka sekarang takziah Ragaaaaa!!" jelas Andin teringat kalau Vano sempat meneleponnya tadi. Bisa untuk alasan bukan?
"Izin takziahnya jam berapa?"
"Sekitar kurang lebih dua jam yang lalu."
"Dan sampek sekarang belum kelar?"
'Duh. Gimana ini? Kalo Raga ngamuk, dia bisa ga ngerestuin rencanaku untuk ngejodohin Qia sama Devano. Ga deh ga boleh, Raga ga boleh tau ini.' batin Andin panik.
"Oyy mam?" decak Raga membangunkan Andin dari pertikaian batinnya.
"Eh emmm iya itu loh sayang.... Qia nginep sekalian di rumah Deeva. Sama Ratu sama Amanda juga kok. Kan mereka sahabatan tuh berempat! Katanya sih ga enak kalo ga nemenin Deeva dulu buat nenangin dia malam ini." ucap Andin beralasan. Padahal sebenarnya tidak! Vano dan Qia bahkan belum ada kabar sejak pamit ke rumah duka Deeva tadi.
"Ohh nginep, oke deh. Kalo gitu Raga balik ke kamar dulu ya ma? Mama juga buruan masuk kamar gih tidur. Entar kalo papa tau mama bergadang, Raga yang kena omel sama bapak-bapak galak itu tuh." ucap Raga mencium pipi mamanya lalu pergi keluar dari kamar Qia.
Andin menghela nafas lega.
"Hufftt untung aja aman! Oke, sekarang aku harus ngabarin Vano biar Qia ga usah di bawa pulang dulu malam ini." lirih Andin buru-buru kembali ke kamarnya untuk menghubungi Vano.
...****************...
"Tapi musibah wafatnya ayah Deeva ada hikmahnya juga sih woy." bisik Adam pada Ratu yang berdiri di sebelahnya. Oster girl dan anak-anak inti Ghosterion berdiri mengelilingi pusara ayah Deeva. Sementara Deeva, kakak ipar, abang, Sammuel dan mamanya duduk berjongkok di tepi pusara mendiang Sonny Anderson.
"Hah?" sahut Ratu mendongak tak mengerti.
"Si kulkas jadi leleh euy, jadi nempel terus tuh ke si Deeva. Ada bagusnya dong berarti?" sahut Adam polos sambil menunjuk Sammuel yang mendekap Deeva dari samping.
Ratu menggeplak lengan Adam di sebelahnya.
Plak
"Kak, elu ngadi-ngadi sekali lagi gue gampar lo sampek terbang!"
"Tau tuh! Jokesnya ga pandang tempat banget." sahut Qia sebal.
"Adam idblis emang." semprot Ratu lagi. Adam nyengir. Suasana pemakaman sudah mulai sepi karena sudah larut malam dan peziarah tetangga dan beberapa kerabat mulai meninggalkan tempat. Hanya tinggal keluarga dekat Deeva dan teman-temannya saja yang masih tetap berada di tempat.
Di perjalanan pulang dari makam, menuju parkir motor. Adam berjalan beriringan dengan Ratu di barisan paling belakang, sementara keluarga Deeva di paling depan.
"Btw gue ga mau kalah dari Sam nih." bisik Adam kepada Ratu, lagi. Ratu kembali mendongak.
"Ga mau kalah dari apa?"
"Gue sebagai cowok yang lebih ganteng dari Sam, jelas ga mau kalah cepet buat ngelepas status jones dong!!" sahut Adam. Ratu memutar bola matanya malas. Lihatlah, si buaya darat ini mulai kepedean lagi. Adam adalah Deeva versi cowok, semua orang tau itu.
"Siapa emangnya cewek ga waras yang mau sama buaya narsis kek elu heh?" tanya Ratu meledek.
"Lu ngeremehin gua nih? Kena karma beneran lu ntar!"
"Dih emang adakah cewek yang mau sama buaya kek elu kak?"
"Ada lah."
"Sok-sokan lu belagu lu! Cewek lu aja tiap pengkolan ada, pake mau nyaingin kak Sam yang spek cowok setia? Ngimpi lu anying!!" sembur Ratu jahat. Memang mulutnya selalu jahat dan pedas tiap berhadapan dengan musuh abadinya, Adam.
"Gue udah punya satu bidikan pusat, tinggal gerak aja. Sekali gue gerak buat usaha dapetin orang itu, percaya deh sama gue! Dalam kurun waktu kurang dari seminggu aja, gue bakal bisa dapetin hatinya dia."
"Siapa coba cewek ga beruntung itu? Gue pengen ngasih ucapan bela sungkawa ke dia."
"Ck. Harusnya lo bilang beruntung dong!! Tuh cewek bisa ditaksir sama aa' Adam yang ganteng ini." protes Adam mendelik. Ratu terkekeh kecil lalu manggut-manggut sok serius.
"Ya udah oke, gue serius nanya nih. Siapa sih cewek BERUNTUNG itu hm?" tanya Ratu menekankan kata beruntung.
"Namanya Fellicia Ratu Agnessia, cewek yang nganggep gue musuh." jawab Adam santai. Ratu sepertinya tak sadar, ia malah manggut-manggut dengan sok asik.
"Oh nama cewek yang dikutuk itu Fellicia Rat- eh." cicit Ratu mulai mengartikan nama yang akan ia sebut. Fellicia Ratu Agnessia? Itukan namanya sendiri!!
"LAH?!!!" pekik Ratu yang sontak langsung menghentikan langkahnya. Adam ikut berhenti, satu langkah di depan Ratu.
"Kenapa lo? Kejang? Tremor? Step? Stroke? Ambien? Ayan?" tanya Adam masih sempat ngelantur.
"Lo? Pusat lo siapa tadi hah?" tanya Ratu mencerna maksud Adam tadi dengan susah payah. Tadi saat Adam nyerocos, Ratu tak terlalu mendengarkannya. Tapi setelah ia tau namanya lah yang jadi korban sasaran Adam, ia malah jadi berusaha susah payah untuk mengingat apa saja yang tadi dikatakan oleh si buaya jantan itu.
"Elu pusatnya!"
"Hah?"
"Hah heh hoh mulu!! Dah ah ayo balik, udah ketinggalan tuh sama anak-anak." tunjuk Adam pada gerombolan kawan-kawannya yang berada di depan sana. Ratu masih cengoh, ia sampai harus mengedip-ngedipkan matanya karena saking bingungnya.
"Ntar gue jelasin yang tadi di perjalanan pulang."
"Gue pulang dijemput sopir."
"Malam ini gue mau nganter lo pulang!"
"Tapi gue ga mau, takut sama buaya!"
"Tapi gue ga peduli lo mau apa enggak. Yang jelas, gue tetep bakal nganterin lo pulang!!"
"Nggak us-"
"Buaya atau enggak itu tergantung pencariannya Rat. Cowok mau sebuaya apapun, sebanyak apapun grepeannya di luar sana, sebanyak apapun cabang ceweknya, tapi kalo dia udah nemu satu cewek yang dia anggep sebagai pusat, kata 'tobat' itu bukan hal yang mustahil!" jelas Adam panjang lebar. Ratu menatap Adam dengan tatapan random.
Siapapun tolong Ratu!! Otaknya ngebug parah, ditambah dengan sinyal trouble yang sangat tidak mendukung kapasitas otaknya yang over lemot.
"Gue juga bisa jadi setia di tangan lo! Kalo lo ga percaya sama teori gue, kita praktekin aja mulai dari sekarang!" pungkas Adam lagi. Ia tau, tak akan mudah membuat Ratu percaya kepadanya yang jelas-jelas sudah terlanjur di cap sebagai playboy kelas kakap dI SMA Airlangga. Apalagi dengan masa lalu Ratu yang membuatnya trauma, tentu akan butuh perjuangan ekstra untuk Adam meyakinkan cewek cantik dan galak satu itu.
"Hah?"
"Argghhh lemot!!" omel Adam gemas, ia langsung menarik Ratu untuk menyusul temannya yang lain saja dari pada harus melihat otak Ratu yang ngebug parah. Takut khilap!
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰