
tok tok
"permisi, Qia nya ada?" tanya Vano sopan kepada seorang wanita paruh baya yg membukakan pintu.
"oh ada den, aden silahkan masuk dulu... biar saya panggil non Qia nya" jawab orang itu. ternyata dia adalah salah satu ART di rumah Qia. Vano mengangguk lalu di persilahkan untuk duduk menunggu di ruang tamu.
sementara ART tadi naik ke lantai atas untuk memanggil anak majikan nya, Vano menikmati pemandangan deretan foto yg terpajang rapi di dinding dan meja tinggi di depan tembok nya.
mata Vano menelusuri setiap foto yg ada disana. ada foto lengkap keluarga kecil Qia, ada foto Raga berdua dengan Qia, ada foto orang tua nya juga. dan bahkan? ah foto siapa itu... ada sebuah foto anak kecil memakai seragam TK. Qia, ya pasti itu dia karena ada sebuah bando di kepala anak itu.
Vano pun beranjak berdiri dari sofa dan menuju ke meja yg ada banyak sekali jajaran foto disana. tangan kekar bergelang hitam itu meraih foto Qia kecil.
"imut banget" puji Vano refleks. ia bahkan sampai mengelus pipi Qia kecil di foto itu. ah apa-apaan ini? apa yg sedang di fikirkan oleh Vano hingga ia jadi senyum-senyum sendiri?
tap tap tap
suara derap langkah sepatu itu akhirnya membuat perhatian Vano teralih. ia pun meletakan kembali bingkai foto itu dan memutar arah pandangan nya ke arah tangga. tepat berada di sebelah kanan nya.
"wow!" cicit Vano tanpa sadar. ia terpesona dengan keanggunan Qia dengan balutan dress pendek selurut berwarna merah maroon yg senada dengan jas yg sedang ia kenakan saat ini.
Qia sendiri tampak speechless menatap outfit Vano yg warna nya senada dengan dirinya. sepatu high heels hitam dan tas selempang milik Qia senada dengan warna celana dan kemeja Vano. adaapa ini? hanya kebetulan atau suratan takdir?
'cantik!' batin Vano yg mulai sadar dan mengakui kecantikan Qia. masih hati nya yg mengakui, mulut judes nya sih belum wkwk.
"ekhemmm masih mau bengong atau berangkat sekarang?" deheman Qia sukses membuat Vano terhenyak seketika.
"eh ehmm berangkat langsung lah, lama amat!" sahut Vano yg malah mengomel. Qia mengeryitkan alis nya heran.
"yg lama itu elo kak! ngelamun mulu, gue tau gue cantik" celetuk Qia mengpede. kalian pasti tau apa yg di lakukan oleh Vano setelah itu? Yups! Vano menonyor kepala Qia.
"ga usah kepedean jadi cewek!!" omel Vano.
"ishh bisa ga sih kepala gue ga usah di pake adu tonyoran mulu" gerutu Qia sengit. Vano menggeleng polos.
"nggak bisa. soal nya udah kebiasaan" jawab Vano tanpa merasa bersalah sama sekali. Qia menggerutu tak jelas, bahkan suara nya yg terlalu pelan itu sampai tak bisa di dengar oleh Vano.
"ya udah kalo gitu mana bokap nyokap lo?" tanya Vano celingukan.
"ngapain nyari mereka?" tanya Qia dengan sangat polos nya. Vano hampir saja menonyor jidat Qia lagi, tapi tidak jadi karena melihat Qia yg juga seperti nya Refleks dan langsung memejamkan mata saat tangan Vano mulai terangkat tadi.
'ah sial!!! dia makin cantik aja kalo lagi merem, aura nya bikin gue sesek napas aja arghhh' batin Vano berdecak kesal.
merasa tak ada pergerakan dari Vano, Qia pun perlahan membuka kelopak mata nya dan mendapati Vano masih menatap nya intens. Vano pun menghela napas nya kasar.
"gue mau izin dulu ke orang tua lo... ya kali gue bawa anak orang tapi ga izin" ucap Vano dengan berbesar hati. seperti nya memang ia harus bisa bersabar untuk bisa menghadapi adik kelas rese nya ini.
"oooohhhhhh mau izin toh" ucap Qia manggut-manggut.
"ya udah mereka dimana?" tanya Vano. Qia menggeleng.
'aku menyebutnya tampan dan pemberani. bertanggung jawab juga ya meskipun mulut nya pedes asal njeplak' batin Qia mulai kagum dengan sifat dan kepribadian Vano yg perlahan mulai terkuliti hingga akar. satu persatu fakta mulai di dapatkan oleh Qia.
"enggak usah" jawab Qia.
"hah? kenapa enggak?" tanya Vano tak mengerti.
"bonyok lagi di ada acara bisnis di Bandung, lo mau nyusulin dulu kesana?" tanya balik Qia. Vano mendelik lalu buru-buru menggelenh.
"ya udah ga usah kalo gitu" ucap Vano acuh lalu hendak berjalan mendahului Qia. tapi Qia memanggil nya.
"eh kak!"
"apaan lagi?" tanya Vano menoleh dengan malas.
"ga peka banget sih jadi cowok?!" sungut Qia kesal.
"kenapa emang?"
"gandengin kek!! ga ada romantis nya ya jadi anak" omel Qia makin kesal menatap wajah tanpa dosa Vano.
"ohh minta di gandeng" ucap Vano manggut-manggut lalu menyodorkan lengan kekar nya untuk di gandeng oleh Qia. Qia tersenyum puas lalu menyelipkan tangan nya di lengan Vano.
"oke, yuk!" ajak Qia. Vano merasa diri nya agak aneh! rasa nya berbeda dan tidak seperti biasa nya. tapi ah sudahlah! Vano tak mau ambil pusing untuk saat ini.
...****************...
"lo ga salah lihat kan don?" tanya Rayhan sekali lagi. Doni mengangguk malas.
"lo ga percayaan banget sih sama gue?! jelas-jelas tadi mobil plat B V4N0 P keluar dari pagar rumah Qia ray.... yakali mata gue katarak ga bisa liat" gerutu Doni kesal karena Rayhan sangat sulit percaya.
brak
Rayhan memukul kasar meja di depan nya.
"sial! Vano bener-bener ga bisa di suruh pake cara baik ya? awas aja... bakal gue bikin tuh cowok keliatan buruk di mata Qia sampek Qia ga mau lagi ketemu sama dia" ucap Rayhan penuh dendam.
...****************...
"ternyata lo beneran anak nya tante irma... gue kira lo asal bunyi doang waktu itu" cicit Qia mengangguk-anggukan kepala nya.
"ngapain juga gue ngaku-ngaku dih" sahut Vano sebal. ia lalu meraih tangan Qia untuk segera masuk.
"MAMAAAAAA!!" teriak Vano begitu ia dan Qia memasuki ruang tengah. sudah ada meja makan besar dengan jamuan lengkap di atas nya.
"kak ga usah teriak-teriak juga kali!!" omel Qia kesal.
"eh anak mama udah dateng" celetuk irma yg muncul dari arah tangga bersama suami nya, Ethan Axellio. Vano dan Qia pun menoleh bersamaan.
"hai tante hai om... tante irma apa kabar?" sapa Qia membalas pelukan irma. Ethan hanya mengangguk sebagai jawaban nya. bapak sama anak nya memang 11 12, suka diem.
"alhamdulillah tante baik kok.. yuk duduk dulu" jawab irma yg langsung merangkul Qia untuk duduk di kursi meja makan. sementara Vano dan Ethan mengikuti dua wanita itu dari belakang.
'sepertinya aku tidak asing dengan gadis yg di bawa Vano... tapi siapa ya dia?' batin Ethan bertanya-tanya.
"jadi gimana Qia?" tanya irma tiba-tiba setelah mereka berempat sama-sama duduk.
"gimana apa nya tan?" tanya Qia balik.
"ya kamu sama Vano" ulang irma. Vano hanya menatap mama nya saja tanpa menjawab.
"oh itu... kak Vano kakak kelas aku sih tan hehe" jawab Qia.
"gimana ketemu nya?" tanya irma lagi.
"gara-gara dia rese ma!" celetuk Vano tiba-tiba. irma mengeryitkan alis nya heran.
"kok gitu?" tanya irma kepo.
"eh eh enggak deh tante... salah kak Vano itu mah bukan aku" elak Qia tak mau di salahkan oleh Vano.
"heh kenapa malah jadi berantem?" tanya irma geleng-geleng kepala.
"jadi tuh gini tante.... waktu hari pertama Qia sekolah, kak Vano itu bolos sama temen-temen nya juga. awalnya sih Qia iseng bilang mau ngaduin mereka, eh malah kak Vano nya nantang Qia dong tan... ya udah Qia lakuin aja sekalian" jelas Qia nyerocos.
"dan gara-gara lo gue di hukum seharian!" sahut Vano mendengus malas. mama dan papa Vano justru malah memberi oplos tepuk tangan pada Qia.
"wow! hebat juga kamu Qi berani melawan si anak keras kepala ini" puji papa Vano.
"iya Qia, ah seperti nya kamu memang cocok kalau di sandingkan dengan Vano" celetuk irma dengan yakin nya.
"kamu itu cantik dan pemberani, sangat cocoklah pokok nya kalau jadi pasangan Vano yg anak nya keras kepala plus bandel ini" sambung irma lagi.
'ini mama gue ngomongin apaan si? malah jadi kemana-mana aja buset' gerutu Vano dalam hati nya.
"emang bandel banget sih tan, udah suka bertingkah di sekolah, judes banget lagi super ngeri deh. Qia aja kadang ngerasa gemes sampek pengen nyubit ginjal nya kak Vano ahahhaha" akhir kata Qia itu membuat tawa renyah bersahutan antara mereka, tentunya kecuali Vano yg merasa sebal dengan Qia.
'ini cewek juga, malah bukain satu persatu kartu AS gue' batin Vano lagi.
"lain kali kalau Vano masih bandel, laporin ke om aja ya Qia? biar om tambah hukuman nya di rumah" request Ethan yg diangguki patuh oleh Qia. Qia kaget setelah ia memperhatikan lebih dalam wajah dari papa Vano ini. ia tidak asing!
"kenapa?" tanya Ethan. Qia menggeleng kecil sedangkan Vano dan irma menyimak dan memperhatikan wajah saling terkejut itu.
"nggak papa om, tapi kok kek pernah lihat ya.. tapi dimana?" jawab Qia dengan lirihan kecil. Ethan mendengarnya dan sekarang dia sudah ingat siapa gadis bernama Qia yg ada di depan nya ini.
"nama panjang mu siapa kalo om boleh tau?" tanya Ethan to the point.
"Queensha Qianne Rollex" potong Vano sebelum Qia mengeluarkan suara nya. baru saja Qia mangap, eh Vano udah main serobot.
"kok kamu tau Van? wah mama jadi makin curiga sama kamu" bisik irma kepada putra nya.
"ishh mama apaan si" sungut Vano kesal.
oke back to Ethan dan Qia...
Ethan menepuk jidat nya sendiri saat mendengar nama marga dari Qia. benar saja Ethan merasa tak asing, ternyata Qia adalah putri nya tuan Rollex.
"astaga... pantas saja om ngerasa tidak asing sama kamu, ternyata kamu putri nya Antonni sama Andinne kan?" tanya Ethan yg membuat Qia terkejut. kok bisa papa nya Vano tau?
"kok om bisa tau?" tanya Qia heran. Ethan lantas tertawa.
"ahahaha ya tentu saja om tau... Antonni itu teman om dari jaman kuliah di London sampai terjun di dunia bisnis saat ini. kalau tidak salah, di salah satu meeting kamu pernah datang menemui papa mu kan?" tanya Ethan lagi. Qia melongo dengan mulut terbuka. Ya ya ya!! pantas juga kalau Qia merasa tak asing, ternyata ia memang sudah pernah bertemu dengan Ethan sebelum nya.
"ah iya... iya iya Qia inget om, yg waktu itu sama kakak saya juga kan ya?" tanya Qia ingat. Ethan mengangguk pasti.
"wah ternyata kamu putri kecil nya Andin ya? pantas saja cantikmu 11 12 sama mamamu Qia" sahut irma takjub.
"ah tante bisa aja hehe" ucap Qia salting.
"bentar bentar... ini ada apaan si? gue doang nih yg ga faham?!" tanya Vano tak sabaran. pasal nya ia tak mengerti arah bicara mama dan papa nya dengan Qia ini.
"kamu lupa ya? dulu waktu kamu masih umur 14 bulan, mama tuh sering loh ngajak kamu main ke rumah nya Qia. waktu itu Qia masih umur 3 bulanan gitu, dulu tuh kamu suka banget loh nyiumin Qia sampek ikutan tidur di samping nya padahal kamu sebenernya bisa aja main-main sama kakak nya Qia yg udah umur 2 tahun lebih" ucap irma mengenang masa kecil Vano dan Qia dulu. Vano dan Qia sama-sama melongo tak percaya dan saling pandang. benarkah seperti itu?
"mama pasti ngarang nih" celetuk Vano.
"hei mana ada mamamu ngarang? dulu papa sama Antonni, ayah nya Qia. itu bikin bisnis joinan yg sampai sekarang masih jadi aset bersama papa sama papa nya Qia... nah karena itu tuh mama kamu sering banget ikut kesana, gara-gara mama mu gemesh banget tiap ngeliat Qia kecil. apalagi fakta kalau kamu dulu suka banget sama Qia itu memang bener adanya!" sangkal Ethan membenarkan ucapan mama nya yg malah di anggap sebuah hayalan semata oleh Vano.
"jadi sebenernya dari kecil Qia udah ketemu sama kak Vano?" tanya Qia geleng-geleng kepala. Ethan mengangguk pasti.
"iya Qia, kamu mau tau sedeket apa Qia kecil dengan Vano kecil?" tanya balik Ethan.
"sedeket apa?" tanya Vano dan Qia serempak.
"dulu ya, selain suka tidur bareng Qia... Vano itu juga dulu suka banget gendongin Qia tapi di atas kasur juga sih soal nya kan takut jatuh karena masih sama-sama kecil. dan Qia juga sama aja. tiap Vano nya mau pulang, Qia pasti nangis kayak ga mau di tinggal" jelas Ethan membuat kedua remaja di hadapan nya itu geleng-geleng kepala antara heran, takjub dan tidak percaya.
"definisi jodoh ga akan kemana.. pertama ketemu nya pas Qia baru lahir karena orang tua. eh pas udah sama-sama gede baru kalian di pertemukan lagi secara mandiri" salut irma menaik turunkan alis nya kepada kedua anak-anak di depan nya itu. Qia dan Vano saling pandang dan salting.
"Antonni harus tau ini nih" celetuk Ethan.
"Andin juga harus mama kasih tau dong.... kayaknya rencanaku sama dia untuk jadi besan akan segera terwujud tanpa repot. soalnya anak-anak nya udah pada nemuin jalan sendiri ahahaha" sahut irma setuju. Qia dan Vano hanya bisa menghela nafas nya pasrah.
'apa memang?' batin kedua nya yg kebetulan sama dalam hati masing-masing.
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN🥰🥰