
"Tuan Vano, Air hangatnya sudah siap." Ucap Ningsih, Vano hanya mengangguk tanpa menoleh sedikitpun.
"Tuan mau sarapan apa?" Ningsih sedikit ragu dengan pertanyaan yang ia lontarkan, ia takut bahwa Tuanya akan marah dan memakinya.
"Apa saja asal jangan seafood" Ningsih tersenyum lega.
"Baik Tuan" Ningsih meminta izin untuk pergi.
Derap kaki Laks membuyarkan lamunan Vano, namun ia enggan untuk menoleh kearahnya,dia sudah menebak bahwa dia adalah Laks.
"Laporan apa yang kau bawa Laks" Tanyanya angkuh.
"Ibu dari Nona Arash ingin bertemu anda nanti siang Tuan" Vano melemparkan buku bacaan ke meja, pikiranya berkecamuk.
2 hari yang lalu ia baru saja ditinggal kekasihnya untuk selama-lamanya saking terpuruknya dan kehilangan ia sampai jatuh sakit, bahkan setiap tengah malam ia slalu berteriak nama Arash. Iren, Ibu Vano merasa takut bahwa kejiwaan anaknya terganggu.
"Siapkan jadwal pertemuanya dan pastikan tidak ada acara lain yang mengganggu!" titahnya.
"Baik Tuan" Vano beranjak dari duduknya lalu pergi ke kamar, Laks memastikan bahwa Tuan nya tidak memberi perintah tambahan.
Vano berjalan terburu tanpa sarapan terlebih dahulu, pelayan dirumah sudah hafal bahwa Tuanya akan makan jika suasana hatinya baik bila tidak sekedar mampir meja makan pun tidak bahkan menatapnya enggan.
"Mari Tuan" Laks membukakan pintu mobil untuknya. Laks segera masuk dan duduk santai dalam mobilnya seraya memeriksa berkas-berkas penting.
\*
Vano memasuki Private Room tempat dimana ia akan bertemu dengan Mantan Calon Mertua alias Ibu Arash.
"Vano" Panggilnya lirih Vano mendekat dan duduk dibawah didekat kaki Ibu Arash seraya meletakan kepala dipangkuanya. Ia hanya ingin meluapkan segala rasa sedihnya.
"Vano, lihat Ibu Nak" Vano mengangkat wajahnya dan menatap Ibu Arash terdapat tatapan penuh harap.
"Ikhlaskan Arash ya Nak" Kata-kata itu ibarat ribuan panah yang menghujam tubuhnya, Ia hanya menunduk.
"Vano masih mencintainya dan akan tetap mencintainya Bu" Vano meloloskan kalimatnya.
"Ibu mohon Nak, Ibu yakin kamu akan mendapatkan wanita yang lebih baik dari Arash" Ibu Arash tak mampu membendung air matanya, Ia sangat tau bagaimana perasaan Vano kepada putrinya.
"Vano, ini surat terakhir dari Arash untukmu" Vano mengambil sebuah amplop berwarna pink muda, warna kesukaan Arash.
Dear Pacarku..
*Hallo Venus kau sedang apa? Apa kau sudah minum susu dan sandwich setiap pagi? apa kau masih melakukan kegiatan rutinmu berenang dimalam hari_- Aku mohon berhentilah Venus kau akan sakit perapuhan tulang nantinya, Venus aku sangat menyayangimu sangat dan sangatt menyayangimu aku berharap kau akan mendapatkan wanita penggantiku yang lebih baik dariku.
Jika amplop ini sudah berada ditanganmu itu artinya aku sudah tidak ada lagi disampingmu, tidak lagi menasehatimu dan tidak lagi merepotkanmu. terima kasih telah membuat aku menjadi wanita yang paling dicintai, Terima kasih telah menemaniku melewati hari-hari yang menyakitkan, hingga akhirnya ragaku tidak sanggup menyangga rasa sakit yang kurasakan. Venus, hanya satu pintaku tetaplah menjadi venus yang kukenal dan carilah penggantiku. I love you Venus
from.Heci*
Vano terisak membaca surat dari Arash, Venus? Panggilan kesayangan Arash untuknya.
"Ibu pamit ya Nak, ibu akan pergi beberapa hari ke Bandung jaga kesehatanmu Nak" Ibu Arash menepuk bahu Vano tegar.
"Terima kasih bu, Terima kasih telah melahirkan gadis sekuat Arash" Vano menetralisir emosinya hingga stabil. Ibu Arash mengangguk lalu beranjak pergi.
BRUGHHH!!!!!
"Tuan tolong saya tolong saya" Gadis itu mencengkram kuat tangan Vano berharap lelaki dihadapanya memberikan pertolongan.
"Masuk Mobil!"
"B..Baik tuan!"
"Ada apa Tuan?" Laks curiga dengan Tuan nya karna ia mendengar tangisan dari dalam kantor.
"Tuan apakah kau melihat gadis cantik rambut bergelombang, berwarna coklat, bergaun hitam tingginya 165,kulitnya putih dan..."
"Tidak!"
"Baik Tuan terima kasih" Dua pria berpakaian hitam lalu berlari pergi, Laks semakin dibuatnya bingung.
"Tu..tuan siapa wanita ini?" Tanya Laks terkejut saat membuka mobil, Tanpa menjawab Vano langsung masuk mobil. Laks tidak mau memancing amarah Tuanya.
"Tu..Tuan terima kasih telah menolong saya" Ia mendongakan kepala dan tatapan mereka bertemu.
"Arash? Kau masih hidup?" Vano memeluk wanita dihadapanya tanpa rasa malu sedikitpun.
Ada apa dengan lelaki ini baru bertemu saja sudah main peluk! Siapa Arash kenapa ia begitu histeris ketika menatapku
"Tuu..Tuan lepaskan saya, saya tidak bisa bernafas!" Vano masih memeluknya erat.
*Siapa gadis ini? Kenapa sangat mirip dengan Nona Arash. Aku harus mencari tau siapa gadis i*ni. Laks bergumam.
"Lihat Laks! Arash masih hidup dia belum mati" Vano tertawa pelan, kesadaranya masih belum pulih.
"I..Iya tuan"
"Tuan, nama saya Arsya bukan Arash" Wanita itu memperkenalkan dirinya.
"Kau pasti bohong, Kau Heci ku!" Gertaknya.
"Tuan saya Arsya bukan Hecimu! atau Arash yang kau sebut itu!" Arsya mulai jengkel ia sudah berulang kali menjelaskan siapa dirinya namun pria didepanya tidak mau mendengarkan.Vano memejamkan matanya dan mulai tersadar.
"Maaf!"
Apa orang ini mempunyai gangguan jiwa? Dikit-dikit menangis, lalu tertawa lalu dingin! Dasar bunglon! cepat sekali ia merubah sifatnya dalam sekejap!
"Mengapa kau bersembunyi? Nona? apa kau yang dicari dua pria itu?" Tanya Laks, Vano masih enggan angkat bicara atas kejadian memalukan yang ia lakukan.
Aku tidak mungkin menceritakan siapa diriku sebenarnya, Kalau aku mengaku pasti ayah akan cepat sekali menemukanku!
"A.. aku dikejar karna aku banyak hutang Tuan, dan saya bingung harus bekerja dimana saya takut untuk pulang sebelum melunasi hutangku" Laks mengamati raut wajah Rasya dari spion mencoba mencari kebohongan disana, Nihil! tidak ada raut kebohongan diwajahnya.
"Tolong berikan saya pekerjaan Tuan" Ucapnya memohon, berharap dua lelaki itu memberikanya pekerjaan.
"Bagaimana tuan?" Laks meminta jawaban Vano.
"Berikan dia pekerjaan!" Rasya berbinar.
"Terima kasih tuan" ucapnya.