DEVANO

DEVANO
59. Dugaan



"MAMAAAAAAAAA!!!"


"MAAAAAA!!!"


"Mama dimana si? Susah banget nyarinya, berasa kek nyari ubur-ubur di bikini bottom." gerutu Qia menggerutu selama berjalan menuruni tangga. Sejak dari lantai atas tadi, Qia terus saja memanggil-manggil mamanya tapi tak ada sahutan sama sekali.


"BERISIK!!" sembur suara berat yang sudah tak asing lagi bagi Qia.


Vano.


"Tiap hari berisik mulu! Ga capek lo?" tanya Vano lagi. Cowok itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana sambil berjalan santai mendekati Qia yang juga berjalan turun untuk mendekat. Udah kek kutub magnet beda sumbu ga tuh wkwk.


"Dih ngapain lo ke sini? Ga puas lu semaleman ngeliatin gue hah? Hiii modus lu ya?" tanya Qia bersidekap dada.


"Ga usah GR!!" sembur Vano menonyor kepala Qia, seperti biasa.


"Gue ga GR ya kak! Ini buktinya lo nemuin gue lagi, padahal baru empat jam kepisah tempat." sahut Qia ngegas karena jidat kesayangannya di serang Vano.


"Ssttt diem! Ada Raga, entar kita ketahuan."


"Lah mana anaknya?" tanya Qia celingukan. Komuk sebalnya tadi langsung hilang setelah Vano menyebut nama Raga.


"I'm here beb!" celetuk Raga yang muncul dari tangga belakang, pasti Raga baru kembali dari garasi bawah.


"Aaaaa abaaaanggg!!" pekik Qia langsung berlari melewati Vano dan menuju langsung ke arah Raga.


Raga memeluk adik kesayangan yang melompat ke gendongannya itu.


"Masih tengil aja." ledek Raga. Qia nyengir di dalam hangatnya pelukan penuh rindu antara mereka.


"Kangen abang pake banget!!" cicit Qia.


Vano tersenyum simpul melihat kedekatan dua kakak beradik ini. Belum pernah Vano melihat wajah sumringah Qia yang sangat antusias penuh bahagia seperti ini. Seistimewa itu hubungan mereka, sesayang itu Qia kepada kakaknya.


'Gue juga pengen jadi bagian istimewa dari hidup lo Qi, tunggu gue merjuangin semuanya ya.' batin Vano dengan sadar.


"Kamu ga nakal kan selama ga ada abang di rumah?" tanya Raga setelah pelukan mereka terlepas. Qia mengangguk bangga.


"Pasti dong!"


"Udah ga keseringan bolos?"


"Aman!!"


"Masih betah di SMA Airlangga kan?" tanya Raga memastikan lagi. Qia kembali mengangguk.


"Masih dong!"


"Masih sering ketemu sama biang kerok?"


Jleb.


Qia langsung bungkam, ia tau betul siapa biang kerok yang dimaksud oleh Raga. Qia menelan ludahnya kasar, sementara Vano berjalan mendekat dengan senyum jahil.


"Masih dong!!" jawab Vano rese mewakili Qia yang langsung melotot tajam. Raga geleng-geleng kepala.


"Masih susah dibilangin juga ternyata hmm." ucap Raga mencubit pipi Qia dengan gemas. Qia nyengir.


"Yah mana bisa jauhin temen sendiri!"


"Dih temen apa demen?" tanya Vano nyeletuk refleks. Duo Rollex menoleh bersamaan dengan alis yang sama-sama terangkat heran.


"Dih?"


"Ck. Ini maksudnya lo cemburu Van?" tanya Raga antusias. Vano sontak langsung memasang tampang cool nya lagi.


"Dih."


"Ahahaha lagian elu juga sih dek, ga peka amat sama perasaan terselubungnya Vano!" ucap Raga pada Qia. Raga menunjuk-nunjuk Vano menggunakan dagu tegasnya.


"Dih." cicit Vano dan Qia bersamaan tanpa sengaja. Mereka saling pandang, kemudian saling buang muka dengan malas.


"Dah dih dah dih mulu lu berdua. Gua sumpahin jodoh ya, aamiin!!" umpat Raga kesal sendiri.


'Aamiin.' sahut Vano dalam diam.


"Aamiin aamiin aamiin terossss!!" sungut Qia tanpa terduga. Raga tertawa.


"Van, di aminin Van! Lampu ijo tuh." ucap Raga menyenggol lengan berjas hitam di sebelahnya. Vano tersenyum miring.


"Adek lo emang suka modus sih Ga."


"Elu yang doyan modus!" bantah Qia ngamuk.


"Btw lu harus mulai latihan manggil gue abang! Yang sopan lu sama gue." sahut Raga sok galak. Vano menatapnya malas sementara Qia berdecak sebal.


"Paan si lu, sok tua!" sahut Vano malas.


"Emang dia udah tua sih kak." jawab Qia meledek kakaknya sendiri.


"Ye baru juga kangen-kangenan tadi, udah melaknat lagi aja." gerutu Raga memutar bola matanya malas.


Drtt drtt.


📞Rayhanesse is calling...


Vano mengintip nama yang menyebabkan nyala dan deringan keras di iPhone Qia.


"Siapa?" tanya Raga tanpa suara.


"Rehan." jawab Vano dengan komat-kamit. Raga manggut-manggut.


"Mau angkat telpon dulu, bye!!" pamit Qia berjalan agak menjauh untuk mengangkat telepon, ia sadar kalau dirinya sedang dikelilingi oleh dua manusia super kepo.


Rayhan : Qi lo dimana?


Qia : Di rumah. Kenapa?


Rayhan : Enggak sekolah kan?


Qia : Enggak Re, gue bolos. Kenapa sih lo?


Rayhan : Ga papa, di rumah aja ya! Jangan kemana-mana.


Qia : Ada apaan? Lo mau apa?


Rayhan : Ga papa, pokoknya lo di rumah aja.


Tut tut...


"Dih ga jelas amat nih anak?"


...****************...


"Oke anak-anak, maaf tadi saya lumayan lama keluar menemui kepsek. Mari Kita lanjut lagi ya pelajarannya." ucap pak Mamat setelah kembali duduk di kursi guru di kelas 11 MIPA 5. Beliau baru saja kembali dari ruang kepala sekolah.


Waktu hanya tinggal 10 menit saja menuju bel pergantian jam pelajaran berikutnya.


"Ck. Ga usah masuk sampek bel pulang juga ga papa pak." gerutu Adam lirih. Adam and the gengnya tadi nyerobot masuk ke dalam kelas ini saat kelas kosong. Pak Mamat langsung mencari sumber suara, suara yang tidak asing di telinganya.


"Ssttt berisik Kodam!!" omel Ratu menyenggol lengan Adam di sebelah mejanya. Ralat! Lebih tepatnya duduk di kursi Qia. Bagas duduk di kursi Deeva yang kosong, bersebelahan dengan Manda. Sementara Sammuel dan Bintang duduk di kursi belakang Ratu dan Adam. Harusnya memang letak duduk Bintang dan Gabby ada di seberang, tapi khusus hari ini untuk melancarkan aksi mereka jadilah mereka menggusur tempat dibelakang Ratu.


Kata mereka, ini semua dilakukan atas dasar gabut. Kelasnya sedang banyak jam kosong hari ini.


"Eh loh?! Ngapain kalian bertiga disini? Kalian nyasar atau gimana?" tanya pak Mamat terkejut melihat tiga manusia perusuh kelas 12 itu berada di kelas ini.


"Salah masuk kelas pak." jawab Adam ngawur.


"Emang lagi pengen nyasar pak." jawab Bagas jujur.


"Salah belok di pertigaan kayaknya pak!" celetuk Bintang polos.


"Keluar sana! Ini jam seni budaya kelas sebelas, bukan jatah kalian." usir pak Mamat mengibaskan tangan. Bagas dan Adam kompak menggeleng, sementara Sammuel memilih untuk diam saja menyimak.


Biasalah!


"Saya kan mau belajar pak, masa di usir si?" cicit Adam drama.


"Tau tuh, bersyukur dong pak kita mau belajar kek gini!" sahut Bagas mendengarkan.


"Halah alasan! Kalian selalu kabur di jam saya, sekarang malah sok serius sekolah. Saya yakin kalian pasti cuma modus kan di sini? Terkhusus kamu, Bagas!"


"Lah kok saya doang pak? Saya sama Sam itu sebenarnya diajakin sama Adam pak. Dia mau PDKT sama Ratu." elak Bagas. Adam menggeplak kepalanya dari belakang. Ratu berdecak malas.


'Kenapa jadi gue lagi sih yang dikenain?' batin Ratu pasrah.


Plak


"Cepu amat lu nyet!"


"Ya kan emang gitu kenyataannya monyet!!" sembur Bagas galak.


"HEH SUDAH HEYY!! Ayo cepat keluar." usir pak Mamat lagi. Dua manusia itu kembali menggeleng.


"Nggak mau!"


Pak Mamat mendengus malas, sesusah ini bicara dengan Adam dan Bagas. Jam pelajarannya makin lama makin habis kalau terus seperti ini.


"Sammuel!" panggil pak Mamat. Sammuel menaikkan sebelah alisnya.


"Paan pak?"


"Kamu kan yang paling waras di geng mu itu, coba tolong bawa dua kurcaci ini keluar ya? Saya mau lanjut ngajar ini." pinta pak Mamat berharap besar kepada satu-satunya murid yang dianggap paling waras itu.


"Nggak mau!"


"LHOH?!!"


"Udahlah pak, tanggung tinggal tujuh menit doang! Biarin aja. Makin bapak ngusir, makin buang-buang waktu!" jawab Sammuel santai dan berbobot. Memang benar apa katanya barusan.


"Masalahmya itu saya aja udah pusing punya Bintang sama Gabby di kelas ini, apalagi ini ada kalian semua hah? Untung saja Gabby tidak masuk. Temanmu yang paling tebel telinganya itu juga untung aja ga ada. Huh!!" gerutu pak Mamat menghela nafas pasrah. Yang dimaksud telinga tebal ini adalah Vano.


Vano disebut sebagai si telinga tebal karena ia tak pernah mau mendengarkan nasihat dan omelan orang lain. Seolah telinganya bebal tak memperdulikan semuanya, tak ada satupun kata-kata omelan yang berhasil menembus masuk ke dalam telinga anak itu.


"Kita ga bakal rese pak hari ini, tenang aja." ucap Bagas meyakinkan guru seni budaya itu.


"Kita mode silent nih." sahut Adam mengangguk sok serius dan mengunci mulutnya.


"Huh memang harus berbesar hati punya murid-murid super menjengkelkan seperti kalian ini." keluh pak Mamat mengelus dada.


"Sabar pak! hidup emang banyak cobaannya." celetuk Sammuel padat, singkat, dan yang pasti tepat.


"Kalo banyak bebannya kan Adam." celetuk Bagas menunjuk Adam di belakangnya. Manda, Ratu dan Bintang tertawa ngakak.


"Gue mulu anying!" sembur Adam menonyor kepala Bagas lagi. Bagas ikut tertawa.


"Katanya mau diam. Ini belum apa-apa udah berisik lagi!" lerai pak Mamat sontak membuat ketiga murid itu diam, daripada nanti benar-benar di usir.


"Hehe iya pak maaf, sok atuh di lanjut!"


...****************...


"Loh loh Rayhan ngapain on the way ke Airlangga?" pekik Qia kaget. Tadinya cewek ini santai-santai saja memantau arah jalannya GPS iPhone Rayhan yang memang tak pernah di matikan. Cowok itu memang selalu ceroboh!


Tapi punya efek bagus juga untuk Qia yang diam-diam selalu memantau arah perginya laki-laki yang selalu dianggap sebagai sahabatnya itu. Takut-takut kalau dia berulah, nanti Qia juga yang kena semprot oleh Rizal maupun Raga.


Qia memang tidak memiliki rasa lebih kepada Rayhan, tapi Qia selalu merasa nyaman dan baik-baik saja saat bersama Rayhan. Maka dari itu, Qia sangat sulit mengikuti larangan dari Raga dan Rizal untuk menjauh dari Rayhan. Gimana mau menjauh kalau ia sudah terlanjur nyaman dalam pertemanannya?


Vano dan Raga yang duduk di sofa, berseberangan dengan Qia pun sontak menoleh bersamaan.


"Apa?" sahut Vano cepat.


"Gue iseng ngelacak GPS Hp nya Rayhan, nih arahnya ke Airlangga ga si?" jawab Qia menunjukkan layar iPhone nya pada Vano. Vano dan Raga memajukan wajahnya untuk mengamati arah jalan GPS itu.


"Ini cuma kebetulan lewat atau gimana?" tanya Qia heran melihat perubahan raut wajah menyeramkan dari Vano maupun Raga.


"Sial!!" umpat Vano langsung berdiri untuk pergi tapi di tarik oleh Raga.


"Di serang?" tanya Raga ikut berdiri. Qia yang masih loading, juga ikut berdiri


"Maybe. Gue harus pastiin ke sana!" jawab Vano. Raga mengangguk lalu menawarkan diri.


"Biar gue bantu!"


"Oke, ayo!!"


Mendengar sepatah dua kata yang jelas menjerumus kepada 'tawuran' ini membuat otak Qia langsung connect dengan kecepatan jaringan mencapai 5G.


"Gue ikuttttt!!" pekik Qia antusias.


"Nggak!!" tolak Vano dan Raga bersamaan.


"Ikut!" kekeuh Qia. Vano mendengus sebal, Qia benar-benar gadis bawel dan keras kepala yang susah sekali di atur.


"Enggak!"


"Ikut!"


"Nggak!"


"Gue bilang ikut ya ikut."


"Enggak berarti enggak Qia sayang!!!" lerai Raga malas melihat Vano dan Qia yang saling melotot tajam. Tak ada tanda-tanda mau mengalah di antara mereka.


"Aaaa abang!! Ikut, ajak Qia ya? Qia bisa bantu kok. Qia janji ga bakal jadi beban buat kalian." rengek Qia mendekati lengan abangnya.


"Bahaya. Udahlah lo di rumah aja ya?" tutur Raga masih dalam mode lembut.


"Nanti resiko Qi." celetuk Vano


"Pokoknya ga mau tau! Gue mau ikut. Tunggu bentar ya, gue ganti celana sama ambil jaket dulu. Bye!!" pungkas Qia yang tak nau menunggu jawaban dari Vano maupun Raga, ia langsung berlari menaiki tangga menuju kamarnya.


"Kok lo diem aja ngebiarin dia? larang kek." omel Vano setelah Qia pergi. Raga berdecak.


"Percuma. Dia kalo udah minta sesuatu, ya harus dapet. Makin buang-buang waktu juga kalo kita ladenin mulut bawelnya tuh!" jawab Raga pasrah. Vano geleng-geleng kepala.


"TUNGGUIN!!! KALO DITINGGAL, GUE NYUSUL SENDIRI PAKE MOTOR!!" teriak Qia dari lantai atas. Raga dan Vano mendongak ke arah tangga. Cewek itu sudah tak terlihat, tapi suaranya sangat jelas terdengar.


"Tuh kan! Denger sendiri kan lu? Percuma juga kita ngelarang, dia bakal pergi sendiri."


"Iya sih, makin resiko kalo dia diluar pengawasan kita." sahut Vano mengangguk pasrah. Tak ada pilihan lagi.


Raga mengeryit menatap Vano penuh tanda tanya. Ada salah satu kata dari Vano yang membuatnya berfikir keras.


"Kita? Sejak kapan lo ikut ambil tanggung jawab buat jagain adek gue?" tanya Raga. Vano membatu.


"Mmm itu-"


"Jiaaakhhh lu beneran naksir ya Van? Ahahaha tenang aja bro ga usah nervous sama gue! Gue dukung. Paling enggak gue lebih percaya Qia sama lo daripada Qia sama Rayhan."


"Ya udah sana lo ga sekalian bawa jaket?" tanya Vano mengalihkan. Raga tertawa. Ia tau kalau Vano salting tapi ya sudahlah, yang jelas ia sudah tau bagaimana Vano terhadap Qia.


Bisa dipercaya!


"Iya juga. Bentar ya tunggu! Kita berangkat barengan aja pake pajero gue." ucap Raga. Vano manggut-manggut saja, lagipula ia tadi memakai mobil sportnya. Tak mungkin muat untuk bertiga, kursinya saja cuma ada dua.


"Iya bawel!! Enggak Qia enggak elu, sama aja cerewetnya!" ketus Vano.


"Yeee adik ipar sialan!" setelah memaki Vano, Raga pun pergi menuju kamarnya.


'Restu dari Raga udah gue kantongin, dari om Antoni sama tante Andin juga udah, sekarang gue cuma perlu membuat Qia jatuh ke gue doang! Setelah itu, misi tuntas. Dan Devano selalu bisa mendapatkan apa yang dia mau! Termasuk cintanya Qia.' batin Vano tersenyum miring sendirian di ruang tamu sambil menunggu Qia dan Raga.


📤Devano


Sam!


Lo jaga2 di sekolah.


Ada yg g beres!


📩Sammbel


H?


Emg knp?


Lihatlah si bapak sesepuh batu es ini, sangat singkat sekali bukan? Hampir tak ada huruf vokal dalam penulisan pesannya. Padahal memakai huruf vokal dalam chating itu gratis. Catat! Gratis.


📤Devano


BB otw ke Airlangga.


Pasti mau nyerang kita!


Lo cari anak oster lain dikelas IPS sama 11.


Buat jaga2!


Anak-anak geng Ghosterion yang bernaung di bawah SMA Airlangga sebenarnya bukan hanya mereka berenam saja. Sebenarnya ada lumayan banyak, sekitar 20an. Dan sisanya ada di sekolah lain.


📩Sammbel


Hm.


Bgs! Gw suka ribut.


📤Devano


Bagus matamu!


Masalahnya ini ribut di sekolah nyet.


📩Sammbel


Y


Ank2 luar dikbrin g?


📤Devano


Jgn dulu. Kita liat aja nanti.


📩Sammbel


👍🏻


Read.


"Tau ah gue udah trauma sama typing elu Sam! Kalo aja ga karena butuh, udah ga bakal gue ngechat elu lagi. Pelitnya kebangetan jadi batu jejadian!" gerutu Vano kesal sendiri.


Vano memang tak pernah menghubungi Sammuel kalau tak ada hal mendesak. Bukannya sombong atau gimana, tapi Vano mau menjaga diri agar tak keseringan darah tinggi karena pelitnya Sammuel dalam hal typing maupun bicara selalu berhasil memancing emosi teman-temannya.


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰