DEVANO

DEVANO
102. Seratus dua



"Aduh kemana sih anak bandelku ini? Otw dari tadi tapi lama sekali sampainya." gerutu suara lembut yang mengomel di balik rak tempat Deeva berdiri.


Deeva mengeryit, tangannya yang hendak meraih minuman dingin itu refleks berhenti dan melayang di udara saat mendengar suara familiar itu.


Seperti tak asing.


"Suaranya siapa ya? Kayak ga asing deh." lirih Deeva bermonolog. Yap! Gadis berkuncir panjang itu sedang berada di sebuah minimarket yang dekat dengan tempat les privatnya.


Pukul 18.30 tepat, seperti biasa Deeva baru pulang les dan akan sesekali menyempatkan diri untuk mampir ke minimarket saat gabut menunggu jemputan abangnya, David.


"Samperin aja deh, daripada gue mati penasaran nanti." ucap Deeva yang kemudian mengambil minuman jeruk, menutup kembali pintu lemari pendingin dan segera putar balik menuju sumber suara tadi.


"Ish awas aja kalo nanti dateng-dateng mukanya pada bonyok kayak kemarin, aku sita beneran semua motornya!!" gerutu orang itu lagi. Wanita berumur empat puluhan itu menunduk, fokus pada sebuah layar chating.


Tak terlihat jelas tapi dari segi kemiripannya dengan seseorang, Deeva yakin siapa orang itu.


"Dokter Sasa?" sapa Deeva yakin. Wanita itu menoleh.


"Mm iya?" balasnya mengangguk kecil. Wanita itu tampak menatap Deeva dari ujung kepala hingga ujung kaki.


'Manis dan tidak asing. Tapi siapa? Ah aku selalu saja melupakan hal-hal disaat yang tidak tepat.' gerutu dokter spesialis di salah satu rumah sakit terbesar di Jakarta itu.


"Dokter Sasa lupa ya sama aku?"


"Duh anak manis, saya memang gampang lupa sama wajah seseorang. Apalagi yang baru beberapa kali saya temui, kamu siapa? Saya rasa kita tidak asing tapi saya lupa." jelasnya panjang lebar.


Deeva tersenyum tipis lalu menjabat tangan wanita bernama lengkap Sasaraya itu. Deeva mengecup punggung tangannya dengan tulus.


"Nama saya Deeva dok, anaknya Sonny Anderson yang-"


"Ah iya iya saya ingat!! Kamu yang waktu itu datang dengan anak tante kan?" potong Sasa semangat. Deeva terkekeh dengan anggukan.


"Iya dok."


"Haisss panggil aja tante ya, biar ga terlalu kaku. Atau kamu mau sekalian manggil bunda aja?" protes Sasa karena gadis dihadapannya ini terus saja memanggilnya dengan namanya di rumah sakit.


"Eh?"


"Kamu kan deket sama Sammuel, jadi ga papa kalo mau pemanasan manggil bunda dari sekarang."


"Tante dulu aja deh tan hehe, ga enak ah."


"Loh ga papa loh. Bunda malah seneng."


"Mmm ini tante lagi nunggu siapa? Belanja banyak gini kok sendirian aja? Udah malem loh tan." cerocos Deeva mulai menunjukan dirinya yang asli cerewet dan banyak bicara.


Bunda Sammuel itu tersenyum tipis.


'Dia gadis yang baik dan tulus, sepertinya dia anak yang sabar dan akan bisa menghadapi Sammuel yang emosinya suka naik turun ga jelas itu. Aku harus bisa membuat Sammuel dan Deeva dekat satu sama lain, agar aku tak kewalahan juga kan?' batin Sasa penuh rencana.


"Ini lagi nunggu Sammuel ngejemput, katanya sih tadi otw tapi ga nyampe-nyampe Deeva." jawab Sasa. Deeva manggut-manggut.


"Kak Sam otw dari markas kan? Agak jauh sih tan, wajar aja kalo lama."


"Loh emang iya? Dia di markas motornya itu?"


"Iya tan."


"Hayooo kok bisa tau gitu kamu?" tanya Sasa menaikturunkan alisnya, menggoda Deeva yang memang sudah salting.


"Hehe tadi Deeva dikasih tau Gabby tan, sepupuku yang juga temennya kak Sammuel." jawab Deeva apa adanya.


"Ya udah kita ke kasir sekarang aja yuk tan? Biar Deeva bantu bawa." ajak Deeva menawarkan diri.


"Eh ga usah kok, ini banyak banget nanti kamu keberatan."


"Ga papa tan-"


"Biar gue aja!" potong deep voice yang langsung nyerobot dari samping Deeva. Deeva melongo, kapan Sammuel datang?


"Bunda kalo mau marah nanti aja." ketusnya datar. Sepertinya mood dari anak manja berkedok fighter geng motor itu masih berada di ujung tanduk.


'Ini crush gue masih ngambek soal yang dibilang Manda sama Ratu ga si?' batin Deeva bertanya-tanya.


"Lo niat bantuin apa cuma mau bengong doang hah?" sergah Sammuel menyenggol lengan Deeva yang auto clingak-clinguk bingung.


"Eh, hah?!" cicitnya.


"Nih bawain tas gue!!" ketus Sammuel langsung berlalu begitu saja setelah mengoper tas sekolahnya ke Deeva. Tanpa basa-basi ia langsung mendorong sebuah troli dan menenteng sebuah keranjang full buah-buahan menuju kasir.


Meninggalkan Deeva yang masih low connection dan ibundanya yang hanya bisa geleng-geleng melihat interaksi dua manusia berbeda tipe ini. Yang satu gampang darah tinggi, yang satu polos campur lemot.


...****************...


"Nih orangnya bos!" ucap Raja menunjukan foto seorang lelaki dengan alis sedikit tebal dengan bibir sama porsi.


Rayhan mengeryit heran menatap Jendra yang tiba-tiba masuk ke markas dan langsung menunjukan foto orang tanpa intro terlebih dahulu.


"Siapa dia?"


"Ketos Airlangga." jawab Jendra dengan santai. Rayhan berdecak malas.


"Terus ngapain lo tunjukin ke gue Jen? Dia ketos di sekolahan lo, bukan di Garuda. Jadi ga ada hubungannya sama gue!!" gerutu Rayhan setengah kesal.


Kekesalannya karena gagal menemui Qia dan malah melihatnya bersama Vano saja masih membakar emosi, ini pula Jendra tiba-tiba datang dengan info tak penting.


"Ck. Bukan gitu bos!!"


"Terus apaan nj*ng! Lu to the point aja deh sekarang. Gue lagi males!" sembur Rayhan.


"Jendra Jendra... Udah tau bos kita itu pemarah, masih aja mancing." celetuk Dika yang akhirnya bersuara setelah sejak tadi hanya menyimak saja dengan Marvel.


"Tau tuh! Ngadi-ngadi banget."


"Gara-gara gagal nemuin pujaan hati ya gini nih." ledek Dika mode rese. Rayhan menatapnya datar.


"Lagian si Rehan juga kepala batu! Udah gue kasih tau berulang-ulang, suruh nyari gebetan baru, masih aja ngeyel ngejar orang yang ga mau dikejar." sahut Marvel geleng-geleng. Si paling logis itu langsung mendapat hadiah hantaman bungkus rokok dari orang yang diejek kepala batu tadi.


"Diem lu Vel!" ketus Rayhan.


"Gue ngasih saran biar lo ga makan ati terus! Kalo lo ga mau nerima, ya udah gue mending mabar sama Dika."


"OKE GAS LOGIN VEL!!" ajak Dika semangat 45. Mereka berdua pun masuk ke dalam dunia gamers mereka.


"Gue malah jadi nonton orang debat, padahal gue bawa info anj." keluh Jendra sebal.


"Info apaan soal ketos lo, buruan sebelum gue beneran ga mau dengerin apapun nan-"


"Nih cowok ngincer Qia juga." potong Jendra.


"Apa?!" pekik Rayhan hampir terlonjak dari sofa.


"Hm, beberapa kali gue ngeliat dia ngebuntutin Qia gitu. Dan yang terbaru, tadi siang gue liat dia ngikutin Qia yang lagi kejar-kejaran sama Vano." jelas Jendra menceritakan apa yang ia lihat tadi siang.


"Plus tadi pas gue mau kesini, gue liat mobil dia keluar dari blok perumahan cewek lu bos!"


"Dia tau rumah Qia juga?" tanya Rayhan. Jendra mengendikkan bahu.


"Ga tau gue."


Tangan kekar Rayhan terkepal geram.


"Sialan. Musti dikasih paham dia!"


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰