
Dua orang anak laki-laki dengan badge sama dan tinggi badan yang juga sama berjalan beriringan di lorong koridor menuju kelas mereka. Gabby dan Bintang.
Mereka tadi berpisah dengan Sammuel, Bagas dan Adam di persimpangan tangga karena kelas 12 MIPA berada di lantai tiga sedangkan kelas Gabby dan Bintang berada di lantai dua, kelas paling pojok.
"Kita ada kerjaan habis ini Nyet." celetuk Gabby memulai topik.
"Apaan?" tanya Bintang dengan siulan santai.
"Nyelidikin anak baru yang mau gabung ke geng kita."
"Anak baru? Kelas sepuluh?"
"Hm. Sebenernya ini tugas gue dapet dari kemarin sih, tapi karena semalem kita di arena balap gue jadi lupa." terang Gabby lagi. Bintang manggut-manggut.
"Btw siapa si yang mau diselidikin hah? Orangnya yang mana satu?"
"Anak kelas 10 IPS, tas hitam zipper putih, gaya rambutnya bad gitu acak-acakan, terus kulit kuning bangs*t." jawab Gabby menerawang kejadian waktu rapat saat ia dan Vano menemui anak-anak kelas sepuluh yang akan bergabung dengan Ghosterion.
"Btw itu kuning langsat By, bukan kuning bangs*t." koreksi Bintang memutar bola mata malas. Gabby ini memang tipe pelit bicara tapi sekalinya bicara suka asal njeplak.
"Lo manggil gue by sekali lagi, gue injek leher lu!" ancam Gabby kesal. Geli sendiri rasanya tiap Bintang memanggilnya menggunakan kata dari nama terakhirnya.
"Emang siapa si namanya? Langsung sebut aja ngapa. Ga usah nyebutin ciri-cirinya, bingung gue." keluh Bintang kembali ke topik utama daripada kena semprot mulut yang pedesnya 11 13 sama Sammuel.
"Nanti gue kasih tau di rumah."
"Rumah siapa?"
"Rumah bu Yuyun!" ketus Gabby ngawur karena kesal. Selain Adam, juga ada Bintang yang suka bertele-tele. Pantas saja kalau mereka disebut adik kakak.
"Seriusan? Kerjain sekarang aja yok!" ajak Bintang hendak menarik lengan Gabby untuk putar balik, Gabby menahannya lalu menginjak kaki si pecinta guru muda itu.
Jleb
"Arghh duh sakit nj*ng!"
"Biar waras otak lo! Nanti ya ke rumah gue nj*ng, ngapain ke rumahnya bu Yuyun." ketus Gabby tak merasa bersalah sama sekali.
"Kok jadi lu yang sensi? Perasaan elu sendiri yang bilang tadi."
"Lo dipancing doang langsung kepancing bego!"
"Inyinyinyinyiii." menye Bintang menyebalkan.
"Tobat gue punya temen kek lo!" setelah menggerutu, Gabby memainkan iPhonenya yang tadi sempat bergetar beberapa kali. Rupanya ada beberapa notice chat dari mamanya Deeva.
Hanya tinggal melewati 3 kelas ditambah dengan satu toilet dan ruang UKS, maka mereka berdua akan segera sampai ke kelasnya. 12 MIPA 5.
📩Tante
Gabby nanti Deeva pulang bareng kamu ya?
Sopir lagi nganterin tante sama mamamu ke Bandung.
📤GabbyAlvero
Loh jadi ke Bandung sama mamaku tan?
📩Tante
Jadi, mungkin pulang malam.
Makanya tante nitip Deeva ya?
📤GabbyAlvero
Siap.
Read.
'Yes! Akhirnya gue dapet bahan buat nyomblangin algojo galak ke buayawati.' batin Gabby punya sebuah rencana cemerlang.
"By?" panggil Bintang menyenggol lengan Gabby. Gabby yang kesal tiap dipanggil seperti itu hanya berdehem malas tanpa menoleh, ia masih fokus ke Hp nya.
"Hm."
"Anak kelas sepuluh IPS itu, rambutnya acak-acakan agak cokelat terus hidungnya mancung nggak?" tanya Bintang.
"......"
"Ish nyaut dong bego! Lo mau nyaingin Sam apa gimana hah? Bisu lu?" gerutu Bintang kesal. Gabby menoleh dengan malas.
"Makanya panggil nama gue yang bener Nyet!! Geli gue!!" maki Gabby sarkas. Mendengar keluhan Gabby, Bintang auto tersenyum manja dan bergelayut di lengan Gabby.
"Gabby sayang, aa Bintang mau nanya dong itu orang yang kamu maksud tadi-"
"Dih jijik anj*ng! Lo mau cosplay jadi uke?" cicit Gabby mendorong Bintang hingga menghantam pembatas teras kelas. Untungnya tidak ada yang tertabrak meskipun lumayan ramai anak-anak lain yang berseliweran, maklum lah ini adalah jam masuk kelas.
"Salah mulu gue." keluh Bintang sok polos.
"Btw lo tau darimana? Gue kan belum ngasih lihat fotonya ke elu?" tanya Gabby menaikkan sebelah alus, heran.
"Tuh di depan tuh." tunjuk Bintang ke lorong berjarak dua kelas dari mereka, tepatnya di depan toilet yang bersebelahan langsung dengan UKS.
"Raja? Ngapain dia dari UKS?" lirih Gabby penuh kecurigaan. Dari awal ia dan Vano sudah mencurigai anak itu.
"Ya mana gue tau! Gue bukan emaknya." sahut Bintang yang ternyata mendengar lirihan Gabby.
"Gue ga nanya elu Nyet!"
"Oh."
Bersamaan dengan itu, Raja telah sampai di tempat mereka berdiri. Tepatnya melewati mereka, Gabby mengikuti arah jalan anak itu dengan lirikan tajamnya.
"Padahal kelas sepuluh ada dibawah? Kenapa ada disini? Gerak-geriknya agak mencurigakan. Ah tau ah." lirih Gabby menatap punggung Raja yang sudah berjalan semakin menjauh.
"Beneran dia orangnya By?" tanya Bintang yang sudah yakin dengan jawaban dari pertanyaannya meskipun Gabby belum menjawabnya.
"Lo bisa nggak jangan bikin gue geli pagi-pagi! Panggil nama gue yang bener Nyet." gerutu Gabby entah untuk yang keberapa kali.
"Lah kok ngamok? Nama lu kan Gabby, Gab sama By. Salah gue dimana? Lo manggil gue juga nyat nyet nyat nyet ga pernah pake nama, gue biasa aja tuh." cerocos Bintang ngamuk. Gabby menghela nafas berat.
"Bodoamat!!" ketus Gabby pergi mendahului Bintang menuju kelas. Bintang tertawa, membuat Gabby emosi sepagi ini adalah sebuah kebahagiaan tersendiri baginya.
...****************...
'Kok jadi Rizal ikut dibawa-bawa? Ini yang dimaksud Rizal mantan gue atau siapa dah? Perasaan ga ada yang namanya Rizal dikelas ini.' batin Dita ketar-ketir.
"Ditanya dijawab kali, diem mulu! Patung lo?" celetuk Sammuel, si paling ga punya kaca.
"Apaan yang musti gue jawab? Gue aja ga ngerti Bagas ngomongin apaan." sahut Dita sok telmi.
Adam menonyor kepalanya, hanya Adam yang berani main tangan dengan perempuan satu itu. Alasannya karena prinsip utama Oster adalah anti kasar kepada cewek, tapi ini tak berlaku untuk Adam dan Dita karena cewek itu adalah keluarganya sendiri.
"Halah ngalasan mulu lo!"
"Apaan si? Gaje lu semua!" ketus Dita sebal karena rambutnya jadi berantakan. Ia menata kembali rambutnya yang amburadul itu.
"Btw gue baru tau lo pernah pacaran sama Rizal DS Boys, sepupu macam apa lo ga pernah cerita hah?" tanya Adam masih kepo. Dita memicingkan mata.
'Tuhkan beneran Rizal ex yang dimaksud mereka. Ini kenapa jadi pada tau si?' batin Dita merutuki semua ini.
"Iya Dit, lu backstreet ya?" tebak Bagas. Sammuel tim nyimak.
"Rapet banget nyimpennya busettt." sahut Adam lagi.
"Apaan si lu bedua!" ketus Dita hendak berbalik. Adam menahan lengannya.
"Btw gue dikasih tau Rizal semalem pas balapan, lo pasti lagi mikir gimana caranya kita-kita tau hubungan lo kan?" ucap Adam, Dita berdiri tepat disampingnya.
"Dari sumber terpercaya dan tervalid, ahahaha." tambah Bagas.
'Sialan si Rizal. Gue udah nutup rapat-rapat hubungan itu dari tahun lalu, malah di spill sembarangan sekarang huh.' gerutu Dita mengutuk Rizal.
Sepertinya manusia itu memang tidak akan puas kalau hanya menganggunya saja, sampai ia harus membuka lebar informasi tentang hubungan mereka di masa lalu.
Tuhan menyimpan rapat masa lalumu, tapi mantanmu adalah Rizal.
"Tau ah!" ketus Dita yang langsung ngibrit kabur.
"Lah lah malah kabur ni anak?"
"WOY DIT LO GA JADI NARIK KAS?" tanya Bagas ngegas. Dia sudah mengeluarkan selembar uang merah dari casing iPhonenya.
"Ogah!!" ketus Dita tanpa menoleh, ia pergi keluar kelas. Mungkin agar tidak ketahuan salting.
"Jadi gini caranya biar Dita ga galakin kita lagi bro." tutur Bagas manggut-manggut. Adam dan Sammuel tertawa, rupanya perempuan galak itu juga punya kelemahan.
"Ahahaha niat ngeledekin malah dapet senjata pamungkas kita." sahut Adam.
"Setan lu pada." cibir Sammuel geleng-geleng.
"Dan elu temennya setan!" pungkas Adam. Tapi bukan Sammuel namanya kalau ia tak bisa menyerang balik.
"Kata siapa lo temen gue? Ogah!" ketus Sammuel yang kemudian berdiri dan berjalan pergi. Bagas dan Adam yang kena savage hanya bisa melongo saling pandang.
"Kita ga dianggep temen njir." cicit Adam.
"Dikira kita biri-biri peliharaan doang kali?"
"Tuh dia mau kemana?"
"Entah."
"WOY PAK MAU KEMANA LO?!!" teriak Adam nyaring.
"Nyetor." jawab Sammuel tanpa menoleh. Adam ber-oh ria dan tak jadi ikut, sama halnya dengan Bagas karena mereka sudah tau apa yang dimaksud 'nyetor' oleh Sammuel.
"Dia minum air berapa galon si tiap hari? Perasaan sipip mulu." celetuk Adam.
"Sipip? Apaan sipip?" tanya Bagas melirik Adam dengan aneh. Adam berdecak malas.
"Dibalik gobl*k!!"
...****************...
Di dalam UKS.
📞Raga : Jadi lo tadi jadi dijemput sama Vano de?
Qia : Jadi bang, janji tetap janji. Gara-gara lo sih!
Raga : Dih ngapa jadi gue? Siapa suruh main taruhan.
Qia : Enyenyenye.
Raga : Ya udah kalo gitu gue tutup, mau lanjut tidur lagi.
Qia : Dih cuma nanya gitu doang?
Raga : Hm... Biar nanti kalo mama papa telfon gue bisa jawab.
Qia : Dasar kebo laknat!
Raga : Iya deh yang adeknya kebo, ahahahah.
Qia : Dahlah bang, bye!!
Tut tut tut.....
"Memang agak lain otaknya ni anak." gerutu Qia geleng-geleng.
"Qi." panggil Vano setelah Qia memutuskan sambungan teleponnya dengan Raga.
"Hm."
"Lo ga mau ngajak balik ke kelas? Sebetah itu ya lo berduaan sama gue disini?" tanya Vano menaik turunkan alis. Ia masih duduk di atas ranjang sementara Qia duduk di kursi, tepat di sampingnya.
Sepasang mata hitam Qia langsung membulat sempurna.
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰
Yang mungkin lupa sama tokoh Raja, kalian bisa cek lagi di part 68 (tercyduk) ya guys!!
Happy reading my fav readers🖤💚