DEVANO

DEVANO
113. Seratus tiga belas



PLAK


"Jaga bicara lo sebelum gue bikin lo ga bisa bicara lagi!" dingin Qia setelah memberi tamparan keras di pipi kiri Sarah.


Semua orang yang menyaksikan aksi labrak- melabrak ini dibuat terkejut apalagi Manda, Deeva, Dewi dan juga Wulan. Entah darimana Qia datang, tak ada yang menyadari kedatangannya hingga tiba-tiba gadis itu menampar Sarah dengan sadis.


"Ini balasan yang pantes buat lo karena udah berani nyenggol gue, apalagi bikin fitnah busuk." tegas Qia lagi.


"****!" umpat Sarah mengusap pipinya yang panas, sedikit perih seperti tergores. Mungkin karena cincin yang dipakai Qia tak sengaja merobek sedikit inci dari pipi mulusnya.


"Mamp*s lu jamet!" maki Deeva puas menatap muka kesal Sarah dengan pipinya yang memerah bekas tamparan Qia. Sementara Manda masih melongo dengan sat-set ala Qia.


"Berani lo nampar gue bit-"


PLAK


Satu lagi tamparan keras mendarat di pipi mulus Sarah sebelum ia menyelesaikan ucapannya, dan kali ini di sebelah kanan.


"Dan ini buat lo yang udah berani ngehina temen-temen gue!" ucap Qia dingin. Sedikit ujung bibirnya tertarik membentuk simrik menyeramkan.


Deeva dan Manda saling tatap, merasa takut sendiri dengan aura kuat Qia saat ini. Mereka menelan salivanya susah payah di atas ketakutannya.


Melihat temannya diserang tanpa jeda, Dewi maju dengan marah.


"Eh lo jangan main tangan kasar gitu dong! Udah ga punya otak lo ya?"


"TEMEN LO YANG GA PUNYA OTAK!" sentak Qia mengalihkan tatapan tajamnya ke Dewi, tanpa sadar Dewi mundur seketika.


"Sar!" panggil Qia menatap Sarah lagi. Sarah juga masih menatapnya dengan tatapan kesal penuh amarah yang seperti tidak bisa ia luapkan.


"Gua bukan tipe cewek yang suka menye-menye kayak lu. Jadi lain kali kalo lo mau nyenggol gue atau nyerang gue, siapin mental sama fisik lo dulu! Baru lo boleh nyari gue." sambung Qia lagi. Sarah mendengus sementara Qia tertawa remeh.


"Lo mau ngehancurin gue cuma make foto ini?" tanya Qia menunjukkan dua lembar foto yang ia ambil dari mading. Sarah menatapnya masih tanpa suara.


"Ga bakal mempan! Gue enggak selemah elu, anak manja." tambahnya. Sarah mengepalkan tangan geram, ingin sekali membalas tamparan panas Qia.


"Ohhooo lo mau bales gue? Sini ayo." ucap Qia menawarkan diri. Nafas Sarah makin naik turun tak teratur sesuai emosinya.


"Ck udah gue duga lu ga punya nyali segede itu."


"Hoam.... Gue ngantuk, mending tidur di UKS dari pada ngurusin anak manja yang pendek akal." ucap Qia setelah menguap, ini bukan mengejek! Ia benar-benar mengantuk saat ini, semalam ia tak bisa tidur nyenyak karena pap sialan yang dikirim oleh Sarah.


"Btw soal foto semalem, gue ga peduli. Lo mau jungkir balik atau salto sampe monas juga bodoamat!!" ketus Qia sebelum berbalik dengan remeh.


"Lo mau kemana weh?" tanya Deeva.


"Turu." jawab Qia singkat. Baru saja ia melangkahkan kakinya, ia kembali berbalik.


"Btw kalo mau lapor ke BK soal ini, laporin aja gih. Gue kebetulan udah bosen juga sekolah disini, toh lo juga udah tau sekolah ini punya siapa dan siapa gue disini, lo pasti tau dong om Ethan bakal ngebela siapa kalau terjadi skandal dari sini?" tanya Qia menatap Sarah miris, setengah meledek.


"Lo tau kan Sar?" tanya Qia sekali lagi namun masih tak ada jawaban.


"Ah sombong lu! Diajak ngomong ga nyaut. Ya udahlah cabut aja gue, yuk Man Deev!" ajak Qia sebelum akhirnya melemparkan dua foto tadi hingga tepar mengenai muka Sarah.


"Nih ambil aja, siapa tau lo butuh tutorialnya kan?" ucap Qia enteng. Padahal ia juga tau sendiri kalau foto itulah yang membuatnya trauma setengah mati dengan manusia bernama Rayhan. Btw lirik viral 'begitu syulit lupakan Rehan, apalagi Rehan baik' can't relate di hidup Qia wkwk.


Sarah menggertakan giginya marah, tangannya terkepal kuat karena merasa dipermalukan oleh Qia yang notabene masih anak bau kencur di sekolahnya.


"Ngapain lo pungut anjir?" bisik Manda setelah Deeva dengan watadosnya mengambil dua lembar foto yang jatuh di lantai.


"Ya gue pengen tau lah sebabnya apaan." jawab Deeva santai. Sementara mereka berdebat karena lembaran foto, Qia sudah berjalan beberapa langkah di depan meninggalkan Sarah and the geng and the rasa malu yang jelas luar biasa mereka dapatkan.


Sementara di sudut lain....


"Buset lo malah bengong doang disini Van!" decak Bagas geleng-geleng.


"Lo juga diem disini sat!" balas Vano ikut geleng-geleng.


"Ya gimana mau kesana, gue aja selalu takut liat ayang Manda ngamuk gitu." lirih Bagas bergidik. Baginya, Manda itu menyenangkan tapi juga kadang menakutkan di waktu yang sama.


"Ck. Lu berdua bukannya bantuin cewek-cewek lu, malah adu nasib disini." omel Gabby mendengus malas.


"Qia aja lebih sangar gitu dari pada gue Gab... Ga usah dibantuin juga bisa menang sendiri dia." jawab Vano masih geleng-geleng takjub. Ia tak pernah menyangka Qia akan seberani itu di area sekolah.


"Sama. Ayang Manda juga ga butuh gue kalo culanya udah keluar gitu." tambah Bagas.


"Aneh lu berdua!"


Mengikuti Qia yang berjalan di depan mereka, Deeva dan Manda kembali berhenti pula karena mengikuti langkah Qia yang berhenti tepat di depan gerombolan orang-orang yang mereka kenal.


Ratu dan pentolan Oster.


"Lah kalian disini?" tanya Deeva melongo. Qia yang berdiri di depannya hanya menatap ke depan tanpa minat, moodnya semakin hancur karena Sarah memajang foto tak pantasnya dengan Rayhan malam itu.


"Dari tadi malah." jawab Ratu manggut-manggut. Ia kemudian memberikan dua jempolnya untuk Qia yang hanya tersenyum tipis dengan anggukan kecil.


"Terus lu ngape diem bae Rat? Ni juga cowok-cowok bukannya misahin malah nontonin doang." omel Deeva berkacak pinggang.


"Gua takut duluan ngeliat Qia." cicit Ratu, sebenarnya dari kecilpun ia sudah takut tiap kali melihat Qia marah. Dan kali ini adalah yang benar-benar menakutkan.


"Qia, lo brutal banget gila!!!" seru Bintang heboh. Qia kembali merespond dengan ulasan senyum tipis.


"Lagian ngapain juga kan dipisah? Qia keren woi Dev! Kapan lagi gue bisa ngeliat pertunjukan begini, gratis juga." tambah Adam.


"Nah bener ya Dam ya. Seru banget asli!!"


"Lebih seru daripada berantemnya cowok."


"Mata lu seru!" ketus Manda hampir ngamuk kalau Bagas tak segera merangkulnya. Singa betina yang hampir terbakar jenggot kembali diam anteng setelah ditenangkan oleh sang pawang.


"Gue cabut duluan." pungkas Qia yang malah makin uring-uringan karena Vano terus menatapnya tanpa sepatah kata pun. Hanya ada senyum tipis misterius tanpa kata.


"Kantin. Haus gue, habis makan orang kan harus minum biar ga keselek." jawab Qia ngawur.


"Nahha bener... IKUTTTT!!!"


"Hm."


"URUS TUH CEWEK LO!" ketus Qia saat melewati Vano. Vano mundur refleks karena kaget, senyum misteriusnya tadi sempat hilang karena keterkejutannya namun sepersekian detik setelahnya senyum tipisnya kembali terbit.


'Ni anak beneran cemburu fix! Makin semangat gue buat ngegoda dia.' batin Vano.


"Qia kenapa malah marah ke elu dah?" tanya Adam berbisik. Vano tertawa ganteng dengan kedua tangannya nangkring santai di saku celana.


"Iya ya, tumben dia sengit banget." tambah Bagas.


"Eh ralat Gas! Mungkin maksud lo tuh biasanya juga sengit sih tapi sengitnya ini beda kan? Kek lebih pedes gitu." potong Bintang membenarkan. Bagas mengangguk.


"Nah itu maksud gue!"


"Semalem gue meeting sama Sarah dan papanya." jawab Vano berhasil menyita seluruh perhatian teman-temannya. Dari yang paling tengil dan bacot sampai ke yang paling cool pun ikut kepo. Ketika cowok kulbet tertarik dengan sesuatu, maka dunia tidak akan biasa-biasa saja.


"APA?!!"


"Dan dia cemburu."


"ACIAHHHH PAK KETUA....."


"PEJE PEJE PEJE!!"


"PERCAYA DEH YANG MAKIN NEMPEL."


"UHUYYYY BAU-BAU STARBAK GRATISAN NIH."


"SUKA BANGET GUE NYIUM BAU-BAU TRAKTIRAN GINI."


"MANTULITY BETUL!!"


"Traktiran mah gampang, ayo-ayo aja gue mah." sahut Vano santai.


"NAHHA... Ini dia yang gua cari bray!!" seru Adam heboh.


"Lu juga musti bayar pajak ege! Lo kan juga jadian sama Ratu." ucap Bintang mengingatkan Adam agar tak lari dari kewajibannya. Memang sudah lama sekali mereka tidak menarik pajak dari anggota yang jadian selain Bagas, itupun sudah sejak tiga bulan yang lalu saat Bagas balikan dengan Manda. Maklum lah, Oster ini ganteng doang punya cewek kagak.


"Gue mah gampang, ntar pulang gue tinggal gadein sertifikat tanah bokap."


"AHAHHAHAHA."


Tiba-tiba di tengah tawa yang meledak, tanpa pamit Vano langsung nyelonong pergi tapi Adam lebih cepat menarik pundaknya.


"Mau kemana lo nyet? Arah Qia tadi ke belakang, bukan ke depan sono." tanya Adam bingung.


"Gua bukan mau nyusul Qia." jawab Vano menggeleng.


"Terus?"


"Nyari Sarah."


"Buat apaan?"


"Ya mau ng-"


KRING KRING KRING


"Noh bel frisian flag dah bunyi." ucap Adam setelah bel berbunyi.


"Frisian flag?" tanya Bagas ngebug.


"Upacara bendera tolol!"


"Itu flag ceremony loh bodoh!!" balas Bagas sengit.


"SSG." jawab Adam lagi.


"Apaan lagi SSG?"


"Suka suka gue."


"Emang tolol gue ngeladenin congor lu Dam." keluh Bagas. Adam tertawa menang.


"By ayo ke kelas dulu lah, ini tas belum kita taroh kan." ajak Bintang menarik ujung tas punggung Gabby. Gabby manut dan langsung berlari bersama Bintang menuju lantai dua, tempat kelas mereka.


"Ayo."


"Ck." decak Vano tiba-tiba. Ia dan teman-temannya sudah sempat melemparkan tas mereka masuk ke dalam kelas tadi sebelum naik ke rooftop, mereka juga sudah membawa topi abu-abunya, jadi mereka bisa langsung pergi ke lapangan tanpa perlu kembali ke kelas.


"Udah santai aja mas bro, ntar gue temenin nyamperin Sarah." tutur Adam menepuk-nepuk pundak lebar Vano.


"Lo pikir gua apaan minta ditemenin segala?!" ketusnya.


"Tau si Adam... Sarah kan sekelas sama kita ege!!" seru Bagas mendengus malas. Sammuel masih diam tanpa berminat untuk ikut campur di perdebatan unfaedah itu.


"Lah? Iya juga ya... Lupa gue njir."


"Udah gila emang."


"Lo pada mau masuk ke lapangan atau bolos? Gue capek nontonin drama." tanya Sammuel dengan tampang sangarnya. Kedua sejoli banyak bicara itu langsung diam.


"Upacara lah pak."


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK😗