
"HEH BOCIL?!" panggil Sarah kasar. Gerombolan cewek berbadge kelas sebelas itu menoleh sambil menunjuk diri mereka sendiri.
"Iya elo pada!" sahut Dewi.
"Ada apa ya kak?" tanya salah satu yang paling berani diantara mereka. Mereka tau siapa yang sedang berhadapan dengan mereka saat ini, siapa lagi kalau bukan geng cewek-cewek pembuat onar.
"Lo barusan ngomongin siapa tadi hah?!" hardik Sarah.
"Kak Vano."
"Gosip apaan?"
"Kak Vano tadi berangkat bareng Qia anak baru itu tuh, oh ya btw ini bukan gosip. Tapi real moment! Banyak kok saksinya tadi."
"Riil cuy!!" seru salah satu yang lain.
"Heh diem ya lo!" sentak Dewi songong saat melihat raut wajah Sarah yang langsung berubah dan memerah saat tau apa gosip hangat pagi ini.
"Lah orang tadi dia yang nanya." sahut si adik kelas yang tak punya takut itu.
"Sar sabar Sar!" ucap Dewi panik.
"Ish ga bisa dibiarin! Gue harus ngelakuin sesuatu buat bikin Vano ilfeel secepatnya." sungut Sarah mengepalkan tangan geram.
"Pake foto semalam aja Sar." usul Wulan.
"Setuju! Kita cetak fotonya terus kita sebarin ke mading dan kantin. Biar tau rasa dia!" sahut Dewi menimpali.
"Hm, setelah sekarang sekolah heboh karena Vano bareng sama Qia. Besok gue bakal bikin sekolah ini gempar karena foto Qia!"
Sementara di tempat lain.
"Jadi Qia tadi berangkat bareng Vano?" lirih Valdo di ruang ketua osis. Cowok itu memang selalu masuk ke dalam ruang osis terlebih dahulu sebelum pergi ke kelasnya.
"Masa iya mereka udah jadian?"
"Ga bisa! Gue udah terlanjur suka sama Qia, gue harus berusaha ngedapetin cintanya juga seperti dia yang udah ngedapetin hati gue."
"Gue ga akan nyerah sebelum berjuang!"
"Gue harus cari tau dulu kebenarannya. Kalau emang Qia udah milih Vano, baru gue bakal mundur perlahan." ucap Valdo bermonolog.
...****************...
Tap tap tap
"Kak Vano ngapain?" tanya Qia menoleh ke samping kirinya. Vano juga sama, menoleh ke kanan ketempat dimana Qia berada.
"Lagi jalan, lo ga liat Qi?" tanya Vano balik. Qia berdecak.
"Bukan gitu maksudnya Jamal!!!"
"Gue jamal kualitas premium btw, jamal bukan sembarang jamal." celetuk Vano membanggakan diri.
'Lah kenapa jadi ngomongin Jamal?' batin Qia terheran-heran.
"Ssstt maksud gue tuh, ngapain masih ngikutin gue?" tanya Qia ulang, kali ini dengan kalimat yang jelas dan benar. Maksud Qia adalah mengapa Vano malah mengikutinya, padahal harusnya Vano bisa langsung naik ke tangga lagi menuju lantai tiga dimana koridor barisan kelas dua belas berada.
"Emang ga boleh? Sekolah ini kan punya bapak gue, kalo lo lupa!" jawab Vano polos tanpa dosa. Qia memutar bola matanya malas.
"Gue santet lu lama-lama!!"
"Kanibal magang ya mba?" tanya Vano makin ngelantur.
"Wah sumpah ni anak minta dibacem kepalanya dah." cicit Qia menarik nafas dalam lalu menghembuskannya kasar.
"Udah ayo jalan! Kelas lo dikit lagi nyampe tuh." suruh Vano sambil mendorong tubuh Qia dari belakang. Qia yang berjalan maju atas dorongan Vano hanya bisa pasrah.
"Gue bisa jalan sendiri btw, kaki gue masih sehat." gerutu Qia.
"Gue anter sampe depan kelas. Gue mau mastiin lo aman aja, mana tau nanti tiba-tiba tante Andin nanyain keadaan lo ke gue!" jawab Vano enteng.
"Gue bukan anak kecil kali."
"Masih tanggal tua mak, belum waktunya narik iuran kos. Jadi diem! Jangan bawel." gerutu Vano. Qia.
"Enyenyenyeee."
"QIAAAAAAAAAA!!!!" pekik Deeva dengan suara cempreng andalannya begitu Qia memasuki ambang pintu kelas bersama Vano di belakangnya.
Qia reflkes menyumpal telinganya, begitu juga dengan Vano.
"Widih dikawal ayang nih bestie!!" pekik Deeva lagi. Manda bertepuk tangan sambil berdiri.
"Waduh waduh makin nyolot aja nih pdktannya.... Sejak kapan punya bodyguard ganteng Qi?" tanya Manda menaik turunkan alis.
Qia memutar bola matanya malas.
"Mininal akur dululah sama pacarnya, baru boleh ngejulidin orang lain." sindir Vano yang sudah tau kalau Bagas dan Manda sedang perang dingin.
Manda auto diam seribu bahasa diiringi dengusan sebal.
"Ppffftt.." desis Qia berusaha menahan tawa. Manda melotot garang saat Qia berjalan mendekat dengan ekspresi menyebalkan itu.
"Qia awas lu!"
"Btw Ratu belum dateng?" tanya Qia sembari melemparkan tasnya diatas meja. Deeva menggeleng.
"Belum, macet di jalan pangsud katanya." jawab Deeva membuat Qia manggut-manggut.
"Terus lo Man, kok lo udah ada disini? Perasaan tadi belum ada motornya kak Bagas deh di parkiran." tanya Qia polos. Entah ia lupa atau memang tak mengerti dengan ledekan Vano tadi.
"Tau ah." sahut Manda ogah-ogahan.
"Kenapa sih lu?" tanya Qia heran.
"Kan udah gue bilang tadi, Manda lagi ngambek sama Bagas." celetuk Vano yang ternyata masih berada di kelas itu. Cowok tampan itu melepas dasi yang ia pakai tadi sambil duduk santai di atas meja.
"Kok lo masih disini kak?"
"Ya terserah gue lah."
"Gue udah selamat kan nyampe kelas? Ya udah sana gih ke kelas lo, ganggu orang ghibah tau ga!" gerutu Qia mengusir Vano. Ia mendorong-dorong Vano yang masih enggan bergerak dari tempatnya.
"Temen gue belum ada yang dateng. Lo mau gue ngomong sama siapa nanti? Sama tembok?"
"Sama Sarah." celetuk Qia yang entah kenapa teringat nama Sarah. Vano menatapnya malas kemudian menarik lengan putih mulus itu untuk keluar.
"Eh eh mau kemana lagi?" tanya Qia panik.
"Ke UKS."
"EH KAK VANO!! TEMEN GUE MAU DIBAWA KEMANA?" teriak Deeva mengejar mereka hingga di depan pintu kelas.
"Gue pinjem bentar." jawab Vano menoleh singkat.
"Ga tau Man... Ketumpahan lem kali."
...****************...
*Brum brum
Brumm*
"Lah ini mobilnya Vano kan ya?" tanya Adam yang pertama membuka helm dan memperhatikan mobil hitam yang parkir tepat disebelah tempat mereka.
"Iya tuh, pantesan dia bilang nyuruh kita duluan tadi. Ternyata dia bawa mobil bray!!" sahut Bintang mengiyakan pertanyaan Adam.
"Nyuruh duluan tapi dia yang nyampe duluan." tambah Bagas geleng-geleng.
"Kesurupan setan mana tu anak, bawa mobil ke sekolah." celetuk Gabby garuk-garuk belakang kepala.
"Kesurupan setan di garis finish semalem kali, ahahahha." celetuk Adam ngelantur. Mereka tertawa ricuh, kecuali Sammuel. Jokes Adam sedang tidak mempan pada cowok dingin itu.
"Gobl*k banget lu pada! Udah jelas-jelas ini karena Vano menang taruhan semalem. Dia bawa mobil soalnya ada Qia!" ucap Sammuel si pintar logika.
"Lah iya juga bener tuh!" sahut Bintang mengangguk.
"Adam pikun! Gitu aja lupa lo." ledek Bagas.
"Heh lo juga sama aja tololl!!" maki Adam ngegas.
"Lah lo juga lol." sahut Bagas.
"Lah kok jadi tolol teriak tolol." ucap Bintang nimbrung. Sammuel memutar bola matanya malas, gini amat pagi-pagi ngedengerin mesin toa nyerocos tiap hari.
"Udah udah woi! Sesama tolol ya udah sih ga usah rebutan gitu." lerai Gabby mendengus malas.
"Halah lo juga sama aja tol-"
"Dahlah lo kalo mau berisik, berisik aja berempat. Gue ngantuk, mau tidur ke kelas." potong Sammuel turun dari motor terlebih dahulu lalu pergi. Matanya sudah mengantuk dan telinganya panas, suasana yang bagus untuk tidur bukan?
"Lah si Jamal malah pindah tempat molor doang."
...****************...
Sesampainya di UKS.
"Kita ngapain sih disini pagi-pagi?"
"Lo ga liat muka gue bonyok gini hah? Ini gue dapetnya juga gara-gara lo, kalo lo lupa." jawab Vano sambil merebahkan dirinya di atas kasur, sementara Qia masih berdiri mematung disebelah ranjang itu.
"Lah kan tadi katanya udah diobatin sama tante irma? Gimana si?" tanya Qia mengeryit. Vano agak kewalahan menjawab, sebenarnya ia hanya ingin menghabiskan lebih banyak waktu untuk membuat Qia terbiasa bersamanya.
"Ga tau, tiba-tiba perih lagi nih." tunjuk Vano ke sudut bibirnya. Dan Qia percaya begitu saja.
"Ya udah tunggu bentar!" ucap Qia yang berbalik menuju lemari di pojok ruangan, ia mengambil kotak P3K dan kembali kepada Vano lagi.
"Sini duduk dulu, gue obatin." ucap Qia dengan kotak P3K di tangannya. Vano menggeleng manja, entah darimana sifat itu datang.
"Nggak mau."
"Lah?"
"Gue udah ga sakit lagi kok." tutur Vano mengambil alih kotak obat itu dan meletakannya di atas meja. Ia kini sudah duduk menghadap Qia di depannya.
"Tadi katanya sakit? Sekarang bilangnya enggak. Gimana si?"
"Rasa sakitnya ilang tiba-tiba." jawab Vano enteng bin nyeleneh. Qia memutar bola matanya malas.
"Ya terus kalo gitu ngapain ngajak kesini DEVANO!!! Tau gini mending gue ngeghibah sama Manda sama Deeva aja tadi." gerutu Qia sebal. Bibirnya sudah manyun karena ulah menyebalkan Vano.
Berbeda dengan Qia yang ngamuk, Vano justru gemas melihat wajah cantik Qia yang jadi super imut saat manyun seperti ini.
"Ghibah mulu dosa lo!" tutur Vano sok suci.
"Ya kan emang ghibah itu udah jadi kerjaan cewek, kalo kerjaannya boong itu cowok namanya!" ketus Qia.
"Dih? Gue nggak pernah bohong." elak Vano membela diri.
"Semalem lo ngebohongin abang gue, kalo lo lupa." sindir Qia mode julid. Vano menggaruk puncak kepalanya yang tak gatal.
"Itu juga demi lo kali!"
"Ah cakaman!!! Iy iya demi gue, gue inget mau nanya apaan tadi."
"Apaan?"
"Itu tadi semalem lo berantem kan? Gimana ceritanya? Spill dong kaka." ucap Qia yang antusias langsumg menarik kursi untuk duduk. Jaraknya jadi lebih dekat dengan Vano yang masih santai duduk di atas ranjang.
Vano melongo lemot.
"Hah?"
"Kejadian semalem lo berantem itu loh kak!! Cepetan ceritain kejadiannya dari awal sampe akhir, dari A sampai Z dengan singkat tapi harus teraktual dan lengkap! Gue butuh kejelasan ceritanya nih, emang brengs*k banget si Rehan sekarang. Gue aja hampir ga percaya yang semalem itu beneran Rehan!"
"Ini lo nyuruh gue cerita?" tanya Vano. Qia mengangguk cepat.
"Iya, buruan ceritain! Gue siap jadi pendengar dan perespond yang baik."
"Lah ni anak baru aja dibilangin ngeghibah dosa, ini malah ngajakin gue?" keluh Vano tak habis pikir dengan kebiasaan perempuan yang satu itu.
"Jadi lo ga mau?"
"Panjang ceritanya Qi. Males ah!"
"Lo milih cerita atau gue tinggal nih? Kalo ga mau yaudah, gue ga maksa. Gue mau balik aj-" ucap Qia mengancam Vano, ia hendak berdiri tapi Vano mencegahnya dengan menarik lengannya.
"Eitsss iya iya gue cerita. Dari A sampe Z, buat lo doang gue mau ngomong banyak setelah ini nih!"
"Nah good boy. Anak baik, anak pintar, ututututuutuuu." puji Qia mencubit pipi Vano dengan gemas. Entah sadar atau tidak.
Vano tidak bisa tidak salting karena ulah Qia barusan. Senyum tipis yang ingin ia sembunyikan malah melebar sendiri tanpa izin.
"Dih salting mas?" goda Qia.
"Mau ngeledek atau gue kasih cerita?" tanya Vano gantian mengancam. Qia nyengir.
"Mweheee ya cerita aja atuh, jangan ngambekan."
"Oke, jadi gini nih ceritanya...."
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰
Wajib rame komen nih!!
See u in the next chapter, tomorrow guys!!🖤💚