DEVANO

DEVANO
71. Balapan (2)



"berani taruhan?"


"Lo pikir gue takut?" tantang Qia balik. Vano mengangguk.


"Oke! Kalo gue menang, lo harus mau gue antar jemput sekolah selama satu minggu dan gue bebas minta apapun ke elo, satu permintaan yang wajib lo turutin. Berani?" ucap Vano memulai nego taruhan. Qia diam sejenak sebelum akhirnya mengangguk setuju.


"Mmmm oke! Tapi kalo lo kalah, lo harus bersedia jadi asisten pak Oyoy, bantuin dia jaga gerbang sekolah selama seminggu plus lo harus traktir gue sama temen-temen gue jajan selama seminggu kedepan. Deal?" sahut Qia mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.


Vano tersenyum miring, taruhan dari Qia tak seberapa besar daripada apa yang ia ajukan tadi.


"Deal!!" balas Vano menjabat tangan putih dengan jam tangan hitam dipergelangan tangan itu.


"Oke."


'Gue janjiin kemenangan kali ini buat bikin lo ga bisa jauh dari gue Qi. Gue pasti bisa bikin lo jatuh cinta dalam tujuh hari ini, Queensha Qianne!' batin Vano bersimrik.


"EKHEEMMMM!!!"


Kedua manusia saling jabat itu menoleh, tak terkecuali juga dengan lima cowok didekat mereka.


"Makin lengket aja cielah." ledek Rizal yang datang mendekat bersama dengan Raga. Raga hanya tersenyum tipis melihat interaksi adik kesayangannya dengan Vano. Raga termasuk overprotective brother, tapi sepertinya hal itu tak berlaku untuk Vano.


"Paan si lu." sungut Qia.


"Ghosterion udah siap besanan sama DS Boys Zal, haha." celetuk Adam. Rizal tertawa sambil menepuk-nepuk pundak sang lawan bicara, mereka memang connect frekuensi satu sama lain.


"Sama seperti Oster dan DSB, gue juga udah siap jadi ipar lo Dam." sahut Rizal bangga. Adam mengeryit menatap Rizal yang kini menyandarkan siku lengannya di pundak Adam.


"Ipar? Apaan? Gue anak tunggal bego!" sembur Adam menonyor Rizal.


"Keknya gue tau isi otaknya kucing garong satu ini nih." celetuk Sammuel yakin. Rizal tersenyum bangga.


"Nah pinter nih mas Sam."


"Emang siapa Sam?" tanya Adam kepo.


"Siapa lagi kalo bukan Dita? Kan ga mungkin sama adiknya." jawab Sam enteng. Rizal auto bertepuk tangan.


Prok prok prok


"Emang keterlaluan pinternya ni anak satu." puji Rizal.


"Hm." seperti biasa, singkat padat dan jelas.


"Ahahahaha."


"Oh jadi lo masih ngarepin Dita Zal?" tanya Adam wow.


"Masih lah, gamon parah gue. Peletnya Dita terlalu memikat." sahut Rizal dengan pandangan menerawang ke arah langit diiringi senyum lebar yang tak jelas artinya.


"Dih ngape lu senyum-senyum?"


"Karena peletnya Dita, atau emang lo yang ga laku?" tanya Raga tersenyum remeh. Raga tau soal kisah percintaan sepupunya setahun yang lalu itu. Sudah hampir satu tahun lamanya tapi Rizal masih tetap setia sendiri sejak Dita mengakhiri hubungan mereka.


"Karena cuma Dita yang mau sama lo ya Zal?" tanya Sammuel ceplas ceplos tanpa filter.


"Ahahaha double kill ga lu!" sembur Bagas tertawa ngakak.


"Sialan lu semua! Punya mulut satu, jebrak banget buset." gerutu Rizal malas. Padahal gamon dan setia ke mantan itu kan keren, begitulah kira-kira isi konsep otak Rizal.


Otak yang terlanjur buntu maksudnya.


"AHAHAHAHHAHA."


"Sialan." sungut Rizal memutar bola matanya malas.


"Wait wait!! Ini Dita siapa si yang dimaksud?" potong Qia tak mengerti. Ia tadi ikut menertawakan Rizal tapi otaknya telat connect, ia baru menyadari kalau ia tak tau siapa Dita yang sedang dibicarakan oleh mereka semua.


"Lah lo ga tau de?" tanya Raga. Qia menggeleng polos.


"Temen sekelas gue Qi kalo lo mau tau." sahut Bagas, Qia mengeryit bingung.


"Yang waktu itu gue pinjem buku fisikanya buat lo catet ulang di buku gue, Bagas, Adam sama Sam." sambung Vano.


"Yang congornya pedes kayak congornya Sammuel." tambah Adam. Sammuel yang tadinya diam langsung merespond dengan tatapan malas.


"Gue lagi diem loh Dam." keluh Sammuel, Adam nyengir.


"Yang mana satu si? gue lupa kak." tanya Qia makin bingung. Cowok-cowok itu menghela nafas berat, ternyata ingatan gadis diantara mereka ini tidak sekuat dan sebesar nyalinya.


"Dek lu seriusan ga kenal mantannya Rizal?" tanya Raga heran. Karena ia tau kalau Qia dan Rizal hampir tiap hari bersama, terlalu mustahil rasanya kalau Qia tak mengetahui hal sepenting ini.


"Mantan? Yang mana yang nama Dita? Bukannya kak Izal cuma pernah pacaran sekali ya bang?"


Raga mengangguk.


"Bukannya namanya Anin?" tanya Qia polos. Rizal dan Raga menepuk jidatnya bersamaan.


"Nyali doang yang gede, pengetahuannya minim parah." lirih Vano geleng-geleng. Qia melirik tajam.


"Apa lo bilang?!!" pekik Qia garang, Vano menggeleng gugup dengan cengiran.


"Nggak ada Qi, enggak."


"Ya Anin sama Dita itu satu orang de." lerai Raga. Qia melotot.


"Seriously?!!"


"Yeah, im seriously."


"Namanya itu Anindita cil, gue emang lebih sukanya manggil dan nyebut pake Anin." sahut Rizal membenarkan. Qia manggut-manggut.


"Gamon garis keras ahahaha." ledek Bagas seolah ia sangat bahagia diatas derita kisah Rizal dan Dita.


"Ga ngaca lo Gas? Lo juga pasukan gamon kali sama cewek lo itu." balas Rizal tak mau kalah.


"Lah tapi kan ujungnya gue berhasil ngajakin rujuk, lah elu?" makjreng!! Definisi jatuh dalam satu kali tembak.


"Sial!"


"WOY WOY WOY APAAN NIH MALAH GHIBAH!! Ayo butuan dimulai nyet, dah mau pagi nih." seru Devan membuyarkan kerumunan penuh ghibah ini.


Raga langsung sadar, niat awalnya tadi adalah untuk mengajak Vano untuk segera memulai balapan. Eh malah jadi banyak bicara bersama gengnya.


"Lah iya gue sampe lupa tujuan. Van ayo ke start aja langsung, anak-anak yang lain udah pada nungguin tuh!" ajak Raga. Vano mengangguk lalu menyalakan mesin motornya untuk dibawa ke garis start.


Disaat teman-temannya berjalan menjauh dan menuju garis start, Qia malah justru mendekati Vano. Menepuk-nepuk pundaknya pelan.


"Jangan terlalu capek ya kak, inget! Besok ada tugas sampingan jadi asistennya pak Oyoy." ucap Qia dengan senyum tipis yang sebenarnya hanya topeng mengejek.


Satu sudut bibir Vano tertarik keatas.


"Lo yang harus tidur cepet malam ini, karena besok gue bakal jemput lo pagi-pagi banget!" jawab Vano yakin kalau kemenangan dan keberuntungan akan berpihak kepadanya malam ini. Qia tertawa renyah.


"Coba aja kalo lo bisa ngelewatin abang gue!" setelahnya ia pun pergi mengikuti langkah Devan dan Rizal ke kubu DS Boys.


"Liat aja nanti, gue yang bakal turun pangkat minggu ini atau elo yang bakal jatuh cinta ke gue dalam tujuh hari ke depan." lirih Vano menatap punggung Qia yang semakin menjauh sebelum ia sendiri menancap gas menuju Raga yang telah menunggunya di garis start.


...****************...


"Buset Re makin nempel aja mereka tuh. Kalo lo ga buruan gercep, gue takutnya lo ngamuk ntar kalo kalah langkah sama Vano." ucap si kompor, Dika.


"S**t!!" maki Rayhan mengepalkan tangannya geram.


"Lah itu Qia sama Vano?" tanya Marvel tak percaya. Sejauh ini yang ia tau, Qia dan Vano tidak saling mengenal. Ya maklum lah kudet, namanya juga baru balik dari London.


Tiga orang lelaki tampan seumuran yang berjaket sama, BB Gang itu berdiri berjajar diujung tikungan tak jauh dari garis start balap. Mereka berdiri di sebelah pohon rindang diantara banyak penonton dari gang lain yang datang menonton pertandingan malam ini.


"Emang lo pikir siapa hah?" tanya Dika sebal.


"Kok bisa akrab gitu? Sejak kapan Qia doyan deketan sama cowok asing?"


"Bukan asing sih sebenernya."


"Lah kok?"


"Qia kan pindah ke sekolahnya Vano, makanya mereka jadi kenal deket sekarang!" jelas Dika secara singkat dan padat.


"Lah Qia udah pindah lagi?" salut Marvel. Satu hal yang dikaguminya dari Qia adalah cewek satu itu punya nyali yang benar-benar bisa diperhitungkan.


"Hm."


"Ke Airlangga? Buset! Gue kira dia masih di Arwana woi!!" pekik Marvel heboh. Rayhan berdecak.


"Ah berisik lu berdua! Mending gue nyamperin Qia aja langsung." sungut Rayhan langsung mundur dari barisan mereka dan berjalan menuju Qia lewat jalan belakang. Meninggalkan dua sahabatnya yang menatap punggung lebarnya yang kian menjauh.


"Lah lah lah???!!"


"Kita susulin ga nih?" tanya Dika. Marvel langsung menggeleng sambil kembali menolehkan kepalanya ke arah garis start dimana Vano dan Raga sudah mulai menyalakan motor masing-masing.


"Ga usah lah, yang ada lo disemprot kalo gangguin Rehan! Mending kita disini aja liatin Raga sama Vano adu kalah menang."


"Tapi ada Rizal sama Devan woi disebelah Qia, ntar kalo Rayhan ribut sama mereka gimana?" tanya Dika lagi. Marvel berdecak.


"Rehan bukan anak kecil Dik! Dia selalu bisa nyuri kesempatan. Lo diem dulu bisa ga? Gue mau nonton balap nih."


"Ye anak anjing Vel."


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰