DEVANO

DEVANO
85. Ribut teros



"Kenapa lo nyariin gua? Gua ga ilang."


"Itu si tante sama mama lagi ke Bandung, Lo-"


"Seriusan? Yah payah! Sopir gue kan lagi pulkam, terus sopir satu lagi pasti dibawa sama mama ya? Gue pulang nanti kek gimana anjrit." potong Deeva panik duluan. Gabby menghela nafas malas.


"Dengerin gue dulu Anderson girl!!" cicit Gabby. Deeva mengangguk-angguk nurut mempersilahkan Gabby melanjutkan penjelasannya yang terpotong tadi.


"Jadi Tante nyuruh gue bawa lo pulang-"


"Oke gue nebeng lo fix valid no debat!" potong Deeva lagi. Gabby benar-benar kehabisan kesabaran tiap berkomunikasi dengan sepupunya ini.


"Tapi gue ga mau nganter lo pulang!" pungkas Gabby. Deeva memasang raut wajah aneh.


"Are you maksud?"


"Gue maunya bukan gue yang nganter lo pulang."


"Maksud lo gimana? Makin muter. Otak gue ga bisa connect."


"Lo sih emang ga pernah bisa connect! Lemot sih lu." sahut Bintang nyeletuk setelah sekian lama ia dan Qia hanya menjadi penonton. Deeva mendengus malas.


"Kampret!"


"Gini loh Deev maksud gue, nanti lo pulangnya bareng-" jawab Gabby terpotong oleh suara bising yang cetar dari arah belakangnya.


"WOY WOY AWAS MINGGIR DULU WOY!!!' teriak suara cempreng dengan nakas ditangannya.


"NGGER RA MINGGER TABRAK!!" sambungnya.


"Air panas lewat air panas lewat!!" kembali keluar lagi kata-kata legend andalan Ratu tiap kali ia ingin membelah keramaian. Gabby dan Deeva menoleh, ternyata duo toa.


"Berisik lu berdua!" ketus Gabby.


"Dih? Ini meja kita ya bro, lo berdua aja yang ngikut mulu!" sembur Manda galak sambil menyerahkan pesanan makanan dan minuman untuk Qia dan Deeva.


"Astaga mulut lo Man, kenceng banget." keluh Bintang bergidik.


"Nyaingin toa sekolah."


"Ye biarin aja wleeee." sahut Manda memeletkan lidahnya bodoamat.


"Belum aja gue bawa Bagas biar lu mingkem." sindir Bintang menaik turunkan alis. Manda auto diam, senyum jahilnya tadi menghilang seketika.


"Kenapa lu diem? Ga sabar nih pasti mau ketemu ayang." ledek Bintang lagi. Gabby tertawa sumbang.


"Ayang apaan Tang? Lagi berantem kan mereka. Bentar lagi juga putus tuh!" kompor Gabby. Bintang geleng-geleng dengan gerakan tangan.


"Tenang By, habis putus juga pasti bakal balikan lagi kok."


"Berisik banget kalian ini ya Tuhan!!!" keluh Deeva sebal.


****************


"Secantik itu sampe lo ngebatu gini bro?" celetuk Rino memperhatikan arah mata Valdo yang stuck di tempat. Valdo melirik Rino lalu mengangguk-angguk kecil.


"Gue makin ga percaya kalau cewek dingin kek gitu bisa berduaan di UKS sama Vano." ucapnya lirih. Rino berdecak, Valdo ini bodoh atau bucin?


"Lo masih mikir gue bohong? Gue serius woi emang gitu kenyataannya."


"Gue ga bilang lo bohong Rin, tapi gue ga bisa percaya aja."


"Ck. Emang apa sih yang bikin lo ga bisa percaya hah? Emang lo sendiri udah kenal sama dia? Lo udah tau luar dalamnya kek gimana?"


"Aura orang itu bisa dibaca Rin."


"Tapi ga semua aura orang bisa dibaca dengan mudah. Yang keliatan baik belum tentu baik! Udahlah realistis aja, mending lo ngerespond Gita aja tuh yang udah jelas-jelas suka sama lo. Baik buruknya dia juga lo udah tau kan? Jadi apalagi yang lo cari." ceramah Rino panjang lebar. Valdo memutar bola matanya malas.


Entah apa yang Rino dapat kalau ia mau menerima Gita, karena sejak kelas sebelas dulu Rino suka menjodoh-jodohkannya dengan Gita. Yang tak lain adalah wakil sekertaris osis sekaligus ketua tim basket sekolah.


"Hidup gue pilihan gue, dan Gita bukan orangnya!"


"Lagian juga Qia udah deket sama Vano kali, lo mau saingan lagi sama Vano? Kali ini dalam hal cewek gitu?" cerocos Rino lagi. Valdo mengendikkan bahu.


"Baru deket, belum jadian." jawabnya santai. Rino melotot tak percaya. Ternyata selain ambisius dalam organisasi dan prestasi, sahabatnya ini juga ambisius dalam mendapatkan hati seseorang.


"Maksud lo, lo seriusan??"


"Hm, selagi mereka belum punya status. Berarti gue masih bisa maju!" jawabnya tenang namun punya arti yang sangat dalam. Meninggalkan Rino yang geleng-geleng kepala, Valdo kembali memperhatikan sang target incaran hatinya.


Sementara di ujung tempat yang lain, di meja kantin yang penuh oleh canda tawa itu terdapat sepasang bola mata hitam tajam yang memperhatikan gerak-gerik sepasang ketos-waketos itu sejak tadi.


Gabby.


"Mmm enak juga njir, pinter juga lu milih jajan." ucap Bintang menikmati comotan kentang goreng milik Deeva.


"Makanan gue emang enak-enak." jawab Deeva santai.


"Lo sih semua makanan juga doyan!" sahut Ratu meledek si tukang makan. Deeva menye-menye menirukan ucapan Ratu tanpa suara.


"Daripada makan ati galau setengah mati ditinggalin mantan, mending makan banyak yagesya." serang Deeva balik. Ratu tersedak.


Uhuk uhuk


"Anak durhaka!"


"AHAHAHAHAH."


"Mamp*s langsung di ulti njir!!" cicit Qia tertawa ngakak. Saling menistakan adalah sebuah kebahagiaan abadi milik mereka.


"Sialan kalian."


"Udah paling bener lo sama Adam aja sih Rat, dijamin hidup lo bakal tenang aman dari sakit hati." celetuk Bintang sambil melahap jajanan tadi.


Ratu mengeryit.


"Tau darimana lo kak Adam ga bakal bikin sakit hati hah?" tanya Manda intens.


"Karena Adam itu yang gesrek otaknya, jadi dia tuh bakal jadi beban pikiran buat Ratu, bukan beban hati." jawab Bintang polos.


"Karena Adam itu yang gesrek otaknya, jadi dia tuh bakal jadi beban pikiran buat Ratu, bukan beban hati." jawab Bintang polos.


"Ahahahha."


"Bisa-bisanya kepikiran njir."


"Anjir rugi banget gue ngedengerin lu!!"


"Mana udah serius banget gue nyimak."


"Hidup jangan terlalu dibawa serius breee." ucap Bintang santai, masih dengan lahapan kentang gorengnya.


"Bintang ih beli sendiri ngapa si? Habis nih jajan gue." pekik Deeva merebut paksa piring kentang gorengnya dari depan Bintang. Bintang merengut.


"Aelah pelit banget si! Berapa coba harganya? Gue borongin lo ntar." gerutunya sebal.


"Bukan masalah murahnya ya, tapi masalah berdirinya woe. Ribet tau antri!!" sungut Deeva.


"Perasaan itu tadi gue sama Manda deh yang antri beli." celetuk Ratu mengeryit heran. Deeva nyengir.


"Ya justru itu Atuuuuu, ini kan upaya gue dalam menghargai pengorbanan kalian bestie."


"Ah Deeva banyak ngomong! Mending gue makan bareng Gabby aja." pungkas Bintang malah merebut kembali piring itu, kemudian dibawanya ke hadapannya dan Gabby.


"Gab jajan Gab!!" panggil Bintang sambil menyodorkan piring itu.


"Sialan si Bintang." gerutu Deeva manyun.


"Nih makan aja punya gue Deev." ucap Qia yang pesanannya tadi sama dengan Deeva.


"Lo udah kenyang? Ini baru kemakan dikit loh."


Qia hanya menjawab dengan anggukan. Sebenarnya bukan kenyang tapi lebih ke malas.


"Gab?" Bintang yang rupanya masih berupaya memanggil Gabby yang melamun dan tak menghiraukannya.


"By?"


"Ni anak kesambet apaan dah?"


"By gab by gab?!!" masih nihil tanpa sahutan.


Bintang yang sebal karena Gabby tak merespondnya pun menatap mata Gabby yang anehnya sedang mengarah ke arah yang berbeda dengan posisinya. Tempatnya di sebelah samping agak belakang.


Bintang pun mengikuti arah pandangan Gabby dan ternyata, Tepat di belakang sana ada Valdo si ketua osis yang sedang menatap Qia, sangat jelas dan tidak mungkin ia salah membaca arah mata itu.


"Oh Valdo ngincer Qia." lirihnya pelan. Qia yang sedikit mendengar ucapan itu hanya melirik sekilas.


"QIA UDAH PUNYANYA TEMEN GUA BRO! LU GA DIAJAK, GA USAH IKUT-IKUT NGINCER!!!" teriak Bintang tiba-tiba.


Refleks Qia langsung menoleh.


"Apaan kok gua?"


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰