
"kelamaan" sahut Vano singkat.
"dih ya gimana lagi coba? kan kata lo tadi mau ngajak nongki di cafe biasa bos" jawab Adam lagi. Vano menghembuskan nafas nya kasar lalu kembali memakai Helm hitam nya.
"gue udah ga mood! lo kesana aja sama yg lain" jawab Vano cuek lalu pergi melesat dengan motor nya begitu saja. Ketiga kawan nya itu sampai heran kenapa Vano jadi moodyan seperti ini.
"Vano beneran cemburu ya?" tanya Bintang heran.
"jangan-jangan dia beneran naksir sama Qia?" tambah Gabby.
"cinta pandangan pertama itu beneran ada ya?" sahut Bintang lagi.
"mungkin kali ya siapa tau aja dari suka lempar masalah, nantinya jadi lempar cinta ye kan haha" celetuk Adam tertawa.
"wahh masih ga percaya gue akhirnya gunung es meleleh" ucap Bintang menatap motor Vano yg sudah melesat hilang.
...****************...
ting tong
seorang cowok tampan berjaket hitam dengan gambar logo kepala naga dengan pedang di tengah nya di tambah tulisan aesthetic 'Dragon Swort Boys' yg melengkung di atas mengelilingi logo tadi. di tambah dengan tulisan 'since 2018'.
"eh kamu Rizal, nyari Qia ya?" tanya Andinne Axeland Rollex, mama nya Qia.
"Assalamualaikum mama Andin, hehe iya nih.. Qia ada kan?" tanya Rizal sambil menyalami tangan Andin. fyi, Rizal adalah anak tunggal dari adik nya Antonni Rollex yaitu Alexxio Rollex. keluarga Rollex adalah keturunan jawa X paris. sedangkan keluarga Axeland adalah betawi X thailand.
"kalo gitu ngapain ketok pintu segala? langsung masuk aja lah seperti biasa nya... itu Qia masih di kamar nya dari tadi sore. langsung samperin aja anak nya, palingan juga dia tidur" suruh Andin.
"hehe lagi mood jadi anak baik dan sopan kok hahha" sahut Rizal tertawa lalu langsung berjalan naik ke arah tangga. kamar Qia ada di lantai tiga.
tok tok tok
"QIAAAAAAK HAYUK MAIN YUK!!!" teriak Rizal menggedor pintu kayu itu dengan keras. tapi nihil tak ada sahutan.
"pasti molor nih anak, ahha kebetulan ga di kunci" ucap Rizal berniat masuk langsung ke kamar sepupu nya. tapi bersamaan dengan pintu yg terbuka, kepala Qia yg menyembul di balik pintu.
"BAAAAAAAA!!!" pekik Qia memasang tampang menakutkan di tambah lagi dengan diri nya yg sedang memakai sebuah masker sejenis peel off berwarna putih susu.
"WAAAAA SETTTTAAAANN!!" pekik Rizal refleks menonyor kepala Qia sampai seleyoran ke belakang. tapi secepat nya juga Rizal buru-buru menangkap tubuh Qia sebelum jatuh ke lantai.
"huh untung aja ga jatoh, bisa di banting sama Raga gue" lirih Rizal menghembuskan nafas nya lega. Raga memang sudah menitipkan adik kesayangan nya itu kepada Rizal sementara diri nya tinggal di New York.
"kasar banget si jadi cowo!!" gerutu Qia kesal. Qia sudah berdiri dengan baik lagi.
"lagian elo juga monyet!! ngapain ngagetin pake tepung begituan" gerutu Rizal balik.
"mata lu tepung? ini peel off mask izaaaallll" pekik Qia mendengus malas.
"ah ya udah lah terserah apa nama nya.... sekarang buruan siap-siap! ayok ngopi berdua lah yuk" ajak Rizal bersemangat lagi.
"boleh, tapi gue bawa motor sendiri" ucap Qia menawarkan. Rizal mengangguk setuju lalu menjabat tangan Qia.
"oke deal!!" ucap Rizal yg setuju, tak masalah naik apapun yg penting ngopi aja lah.
"ya udah buruan cuci muka sama ganti baju gih" suruh Rizal mengusir Qia untuk masuk ke kamar mandi, sementara Rizal malah melompat rebahan di kasur Queen size milik Qia.
"heh kadal!! terus kenapa lo malah merem di situ woeee" omel Qia berkacak pinggang di tengah-tengah pintu kamar mandi nya.
"berisik ah! sono buruan, entar tinggal bangunin aja repot amat" sahut Rizal dengan mata terpejam. Qia menghembuskan nafas nya pasrah lalu berjalan keluar dari kamar mandi karena lupa kalau jaket milik nya yg sama dengan milik Rizal itu ada di lemari utama yg terletak di luar kamar mandi.
...****************...
"huffftttt"
satu hembusan nafas berat bersamaan dengan kepulan asap rokok keluar dari bibir seorang cowok tampan yg sedang duduk santai di tepian kolam renang. Vano, ya sudah sejak satu jam yg lalu dia duduk dalam keheningan yg di ciptakan oleh suasana kolam di malam hari.
sebenarnya Vano bukan perokok berat, tapi dia juga tidak bisa di katakan tidak doyan rokok. karena dia hanya menikmati benda bernikotin itu saat otak nya terasa pening dengan beban pikiran saja.
"tapi gue kenapa ya? kek aneh sejak tadi" ucap Vano lirih pada diri nya sendiri.
drtt drtt
📞Adam is calling....
Vano : paan?
Adam : dimana pak? gua tungguin di markas dari tadi subuh kagak muncul juga
Vano : tol*l! ini aja baru selesai isya
Adam : hehe majas doang pak... lo kemana si? kesini lah kuy
Vano : yg lain ada?
Adam : ada tuh pada maen kartu
Vano : terus lo ngapain nelpon gue?
Adam : lo sensi amat si hari ini? kenapa? lo jealous ya gegara Qia tadi
Vano : ngawur!!
Adam : ya elah pak ga usah di pikirin kali... itu cowok yg tadi siang bukan cowok nya Qia kok
Vano : hah?
Adam : cieee kepo ahahah
Vano : B aja
Adam : tadi Bagas nanya ke si Amanda pak... kata nya sih sepupu nya Qia, anak Rollex School
Vano : oh
Adam : dih gitu doang?
Vano : ya terus?
Adam : makasih kek udah di kasih tau juga
Vano : ga penting dahlah samlekom
Adam : lah pak-
tut tut....
"jadi cuma sepupu" ucap Vano refleks. tanpa di sadari oleh nya sendiri, sudut bibi nya tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman tipis yg hampir tak terlihat sama sekali.
...****************...
"lo seriusan ga ikut ke markas aja? ntar pulang agak maleman ga papa, kan yg penting lo pulang nya sama gue Qi" tanya Rizal sekali lagi sebelum memakai helm nya. Rizal dan Qia sudah selesai ngopi dan berencana pergi dari sana. Rizal ada urusan ke markas yg mengharuskan dia segera datang, sedangkan Qia bersikukuh ingin langsung pulang saja karena mengantuk.
"nggak usah, santai aja kali... gue bisa! ga usah lebay lu" sungut Qia kesal.
"oke tapi nanti kalo ada apa-apa langsung call gue oke? awas aja lu sampe kenapa-napa nanti" ucap Rizal sebelum tancap gas dan pergi. Qia menghembuskan nafas nya lega.
"cepetan lulus aja lu rijal.... buruan nyusul abang gue di New York aja sono! biar bebas hidup gue astaga" keluh Qia lalu memakai helm nya dan pergi dari area cafe. jalan Rizal dan Qia berlawanan arah karena markas ada di belokan kanan sedangkan jalan ke rumah Qia maupun Rizal ada di sebelah kiri.
"eh eh apaan tuh? begal ya?" tanya Qia pada diri nya sendiri. kedua bola mata nya menangkap pemandangan jahat di depan sana, dimana ada sebuah mobil BMW berwarna putih berhadapan dengan dua motor yg menghalangi jalan nya. melihat itu Qia pun menancap gas nya lebih kencang agar segera sampai karena ingin membantu orang di dalam mobil.
brum brumm
Qia menghentikan motor nya tepat di depan tiga orang preman bertubuh tinggi besar + gempal yg masing-masing membawa pisau berujung lancip di tangan.
"hey siapa kamu?! jangan ikut campur!!" bentak salah satu dari mereka. Qia tak menjawab dan langsung melepas helm full face yg ia pakai. tiap kali naik motor dan memakai helm, Qia selalu memasukkan rambut nya ke dalam jaket maupun helm, jadi dia tak terlihat seperti seorang perempuan meskipun kalau di lihat dari postur tubuh yg ramping itu jelas terlihat kalau dia adalah seorang wanita. Rambut Qia langsung terjuntai panjang yg menandakan dia adalah seorang perempuan, keuntungan nya disini adalah karena Qia memakai masker penutup mulut.
"wah cewek bos... besar juga nyalimu?" tanya salah seorang lagi. Qia tak menjawab orang itu, ia menoleh pada mobil BMW itu dan menerawang masuk ke dalam. ternyata yg ada di dalam mobil itu adalah seorang ibu-ibu yg terlihat seperti seusia mama nya di rumah.
"diem mulu! cantik-cantik bisu?" tanya yg lain lagi. Qia melirik sinis ke arah ketiga preman itu.
"badan doang gede! nyali nya cuma berani buat lawan ibu-ibu?" tanya Qia remeh. harga diri preman itu jelas ternoda oleh ucapan pedas Qia.
"apa kau bilang?" tanya satu orang yg punya badan paling gede sambil menodongkan pisau nya tepat di depan Qia. terdengar jeritan khawatir dari dalam mobil, ibu-ibu itu jelas mengkhawatirkan orang yg sudah menolong nya dari kejahatan.
"ga usah banyak bac*t lo mau gua bantai?" tanya Qia datar.
"apa? bantai? haha memang nya gadis cantik kecil mungil sepertimu ini bisa apa hm?" tanya preman itu memandang Qia remeh.
bughh
"arghhhh" pekik preman paling songong yg langsung mendapat bogeman hangat dari Qia. jangan main-main! tangan halus mulus milik Qia juga bisa berubah jadi tangan keras dan kasar di saat-saat tertentu.
"wah berani sekali dia" ucap teman nya yg lain. mereka berdua pun menyerang Qia dengan bersamaan dan saling menghunuskan pisau ke arah Qia. berusaha ingin melukai wajah cantik Qia yg mulus tanpa jerawat sedikitpun.
bugh bugh
cringg krak arghh
dua lagi preman berhasil di robohkan oleh Qia. dua pisau juga berhasil di rebut oleh Qia dan di lempar sembarang ke arah danau yg ada di samping jalan. Qia lalu mendekat ke arah dua orang yg sudah roboh di aspal.
"udah? cuma segitu doang skill nya?" tanya Qia remeh. satu bos preman yg jatuh di awalan tadi langsung bangkit dari belakang. Untunglah Qia sudah tau gerakan itu dan langsung menghindar.
"udah kek mantan gue aja, nusuk nya dari belakang" ucap Qia dingin sambil melirik lurus dan dalam ke arah preman yg menyerang nya itu.
"ayo kita selesaikan anak cantik" ucap preman itu menyerang Qia. Qia yg tidak fokus karena sempat melirik ke dalam mobil BMW yg penghuni nya histeris pun jadi kena imbas nya. pisau dari preman itu berhasil mengenai tangan atas nya. punggung tangan Qia yg putih mulus itu kini mengeluarkan cairan merah kental yg membuat siapapun akan ngeri melihat nya.
"wah dalem nih, bisa mamp*s kalo bang Raga atau kak Rizal tau" lirih Qia yg dengan santai nya membolak-balikkan tangan dan melihat darah yg makin mengucur deras.
"haha rasakan! lain kali jangan ikut campur urusan orang tua kalau tidak mau kena batu nya!" pekik preman tadi. Qia memicingkan mata nya dingin. sebenarnya preman itu tak terlalu tua, mungkin usia nya masih di kisaran 30.
"mati aja lu pak tua!" ucap Qia datar lalu menyerang preman itu dengan membabi buta. ia bahkan tak memberikan jeda atau sedikitpun waktu untuk orang itu menyerang balik. Qia merebut alih pisau dan menyabetkan nya tepat di punggung tangan dan juga menyabetkan nya di pipi kiri preman itu. luka nya jelas cukup dalam karena sekali tebas, di bekas itu langsung mengucur darah segar.
"bos bos kabur aja bos!!" ajak yg lain. preman berwajahkan penuh darah itu di bonceng oleh satu yg lain lalu pergi.
"cih pecundang!" ketus Qia berdecih. Qia pun langsung mengalihkan perhatian nya ke mobil, ia harus memastikan wanita separuh baya yg ia tolong itu baik-baik saja.
baru saja Qia hendak mengetuk pintu, seorang wanita cantik bergaya elegan dan manis itu keluar dari mobil. usia nya jelas sudah sekitar hampir kepala empat sama seperti Andin, tapi sama seperti Andin pula, wanita di depan Qia ini masih terlihat awet muda dengan pembawaan wajah yg menolak tua.
"tante ga papa kan tante?" tanya Qia spontan. wanita itu menggeleng lalu meraih tangan kanan Qia yg masih mengeluarkan darah.
"tante ga papa cantik, tapi kamu yg terluka.. sebentar ya tante obati dulu" ucap wanita itu lembut.
"ini nggak papa kok tan" jawab Qia sekena nya.
"ini tuh bisa infeksi... sebentar ya tante punya kotak obat kok di dalam" ucap Wanita itu lalu mengeluarkan sebuah kotak P3K dari dalam mobil.
Qia di dudukkan di mobil yg terbuka pintu nya, sedangkan wanita itu berjongkok di depan Qia. dengan telaten ia mengobati luka Qia, dari mulai membersihkan darah lalu mengolesi nya dengan obat lalu memberi nya sebuah plester putih.
"nah sudah siap... besok pagi plester nya di ganti ya cantik? terimakasih sudah menolong tante irma ya" ucap wanita itu tulus dengan senyuman yg sama sekali tak hilang di wajah manis nya. Qia mengangguk sopan. cewek bar-bar banyak tingkah itu juga adalah cewek yg beratittude baik di depan orang yg di anggap nya lebih tua dari nya.
"iya tante sama-sama... makasih juga udah ngobatin luka ini nih, padahal mah ga papa aku bisa sendiri" ucap Qia sopan. wanita bernama irma itu tersenyum lagi lalu mengusap-usap rambut Qia.
"anak baik anak cantik.... seperti nya kamu ini seumuran dengan putra tante, nama mu siapa cantik?" tanya irma.
"saya Qi-"
drtt drtt
Qia menghentikkan ucapan nya lalu mengeluarkan iPhone di jaket hitam nya.
📞Mama is calling.....
"eh sebentar ya tante irma, mama saya telpon" ucap Qia pamit berdiri sopan. irma mengangguk lalu membereskan kotak obat milik nya.
Qia : halo ma?
Andin : sayang kamu dimana? sudah hampir jam 12 dan kenapa kamu belum pulang?
Qia : ini lagi otw ma
Andin : coba mana kakakmu Rizal
Qia : kak Rizal ke markas motor ma, ini Qia udah deket kok.. palingan sepuluh menit sampe
Andin : ya sudah cepat pulang!! papa mu sudah mengomel sejak tadi
Qia : iya mama cantik
Andin : hati-hati jangan ngebut
Qia : siap!!
tutt tutt....
"tante, saya udah di suruh pulang sama mama... btw tante ini mau pulang atau kemana?" tanya Qia mendekat kembali ke arah irma. irma mengangguk.
"iya cantik, tante juga mau pulang kok" jawab irma.
"oh ya udah tante kalo gitu sekalian aja saya ikutin dari belakang ya sampe tante sampe di rumah nanti? kelihatan nya kita satu arah" ucap Qia memberi ide.
"eh enggak usah repot-repot kok, ini sudah larut juga kamu ga usah-"
"ga papa tante... takut nya nanti preman nya balik lagi loh" ucap Qia kekeuh ingin mengantarkan irma pulang sampai ke rumah. irma menghembuskan nafas nya pasrah lalu mengangguk. Qia adalah tipikal anak yg paling tidak tega dengan yg nama nya ibu-ibu dan orang yg sudah tua renta. maka dari itu ia tak bisa meninggalkan irma begitu saja di jalanan sepi selarut ini.
"ya sudah kalau begitu, sekali lagi terima kasih ya" ucap irma memeluk Qia sejenak. Qia mengangguk.
"iya tan"
akhir nya irma pun menjalankan mobil putih nya kembali dengan di ikuti oleh Qia di belakang nya. ternyata memang benar arah rumah irma sejalan dengan Qia. beda nya hanya saat di tikungan tadi, kalau rumah Qia seharus nya belok ke kiri di daerah kompleks perumahan berpagar tinggi hijau putih. tapi kalau rumah irma masih lurus ke depan, agak jauh. berjarak sekitar 15 kilometer dari arah rumah Qia.
tin tinnn
irma membunyikan klakson sebagai ucapan terimakasih pada Qia yg mengangguk. sementara itu Qia yg merasa irma sudah selamat sampai rumah pun langsung memutar balikkan motor nya untuk juga segera pulang ke rumah, atau kalau tidak papa dan mama nya akan marah besar karena Qia sudah mengulur waktu selama lebih dari 20 menit. padahal di telepon tadi ia bilang hanya butuh 10 menit saja. Qia langsung buru-buru tancap gas pol meninggalkan area kompleks perumahan wanita paruh baya yg ia tolong tadi.
srekk
seorang cowok muda yg tampan berkaus putih polo membuka tirai gorden di kamar nya saat mendengar suara bising yg di hasilkan oleh knalpot motor sport yg jelas tak mungkin berasal dari keluarga nya. karena di rumah sebesar itu hanya ada satu orang yg suka dengan motor, yaitu dia. dan dia saat ini ada di kamar nya.
"mama di anter sama siapa?" tanya cowok itu mengeryit heran saat melihat mobil BMW putih milik mama nya memasuki halaman rumah dan bersamaan dengan itu juga sebuah motor sport merah melaju menjauh.
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰