DEVANO

DEVANO
100. SERATUS



"Lo ga capek?" tanya Vano memperhatikan wajah Qia yang masih ditekuk sebal. Qia menatapnya tajam, kekesalannya belum memudar karena ulah Vano yang membawa petaka menyebalkan ini.


"Ya menurut lo aja gimana kak."


"Marah mulu si! Udah dong, sorry deh gue salah. Iseng doang tadi!"


"Hm, iya."


"Lo ga haus apa? Ga mau nyari minum dulu?" tanya Vano lagi.


"Tanggung kak tinggal dikit lagi tuh udah selesai. Emang lo haus ya? Kalo haus ya udah lo beli minum aja duluan." suruh Qia pengertian. Entah angin apa yang membuat gengsinya turun tiba-tiba.


"Ga ah, gue mau sama lo!"


"Ya nanti gue nyusul."


"Nggak ah." tolak Vano menggeleng ngeyel. Qia berdecak, kenapa cowok satu ini jadi keras kepala seperti dirinya sih?


"Lo bisa dehidrasi kalo nahan haus kak!!"


"Tapi gue ga haus Qiaaaaak."


"Ya terus kenapa nanya mulu?"


"Mulut gue pahit, pengen sebat." jawab Vano lupa filter. Qia menoleh, satu alisnya terangkat heran.


"Lo doyan rokok juga kak?"


"Iya. Emang kenapa? Lo ga suka cowo perokok ya?" tanya Vano balik. Qia mengeryit, Vano hari ini sangat aneh. Dia jadi sangat sensitif dan terlalu peka terhadap hal-hal disekitarnya.


"Lah kok?"


"Ya kalo lo ga suka, gue bisa berhenti rokok kok. Tapi ya dikit-dikit dulu, udah candu soalnya hehe."


"Dih siapa juga yang nyuruh berhenti?"


"Ya tadi lo bilang ga suka."


"Kapan gue bilangnya heh?!!"


"Yang tadi itu? Lo kek aneh gitu denger gue pengen sebat."


"Ck. Enggak! Nggak usah serepot itu kak. Gue bukan tipe cewek yang ribet kek gitu kali!"


Melihat Vano menyimaknya dengan serius, Qia melanjutkan ucapannya.


"Ga perlu jadi orang lain cuma buat bikin gue jatuh hati, cukup jadi diri lo sendiri aja." sambung Qia santai. Vano manggut-manggut, sedikit banyak ia cukup bisa menangkap apa inti dari penjelasan Qia tadi.


"Singkatnya, lo udah jatuh hati. That right?" tebak Vano kepedean mode on.


"Ga usah GR!!" ucap Qia menonyor kepala Vano. Vano terkekeh.


"Maksud gue, gue lebih suka cowok yang apa adanya dari pada yang ada apa-apanya!!" cicit Qia lagi. Vano tertawa lepas.


"Oh ahahahha, kirain."


Qia hanya bisa menahan tawa sambil geleng-geleng melihat tingkah salting cowok yang beberapa menit yang lalu entah sadar atau tidak sadar telah mengungkapkan perasaan padanya itu.


'Rasanya pengen banget gue teriak di telinga lu kalo gue udah jatuh hati sama kepribadian lo yang kuat itu kak. Tapi ga dulu deh, gue masih mau liat sejauh apa usaha lo buat dapetin gue kak!' batin Qia gemas.


...****************...


Dugh


"Masih bandel aja dia! Adam yang kolot aja bisa langsung tobat tiap kali gue katain pedes, lah ini Deeva bisa gitu? Masih aja bisa berkutik, apa sih obat mujarab buat bikin dia anteng diem." gerutu Sammuel memukul dinding yang ada disampingnya.


Telah lebih dari sepuluh menit lamanya ia berdiri tanpa berkutik di balik dinding yang hanya berjarak beberapa meter saja dari Deeva dan Kevin yang sedang berbicara di kursi taman belakang. Dari raut wajah keduanya, sepertinya mereka sedang membicarakan sesuatu yang serius. Suara gesekan daun-daun rindang oleh angin menyebabkan Sammuel sulit mendengarkan apa yang sedang mereka bicarakan.


"Pengen banget gue samperin tapi- eh? Ngapain gue disini bangs*t! Sam lo sadar anj*ng!! Lo ngapain buang-buang waktu disini? Mending makan nasi daripada makan angin panas disini." ucap Sammuel bermonolog seolah ia sedang berbicara dengan bagian dari dirinya yang lain.


Tak ingin menunggu apapun lagi, Sammuel segera berbalik dan pergi meninggalkan taman belakang. Jalan paling aman dan jauh dari keramaian anak-anak Airlangga yang sedang menikmati jam istirahat adalah dengan melewati Lapangan belakang. Ya! Karena Sammuel benci keramaian, maka ia memilih jalan sepi itu sebagai arah menuju ke kantin.


"Persetan sama cewek, cinta dan semacamnya! Hidup lebih tenang tanpa mereka." ucapnya lagi. Ia mengepalkan tangannya geram, lalu memukul-mukulkannya pada tangannya yang lain. Meski mulut dan logikanya terus mengatakan berhenti dan tenang, tapi hatinya seolah punya jalan pikirnya sendiri. Ada kesal dan marah yang terpendam di dalam sana.


Tap tap tap


Sammuel menoleh. Ia mendengar suara derap kaki yang kian mendekat dari arah belakang. Seperti ada sesuatu yang membuatnya ingin mencari tau siapa orang yang mengunjungi lapangan belakang di saat seperti ini?


Sammuel segera mencari tempat bersembunyi di balik pepohonan rindang yang terletak tak jauh dari tempatnya berdiri. Tempat yang sangat pas untuk mengintip dan menguping.


Sementara disudut lain....


"Ya Deev? Please kasih gue kesempatan sekali lagi." cicit Kevin meraih telapak tangan Deeva. Menggenggamnya erat, ia telah mencurahkan segala isi hati yang selama ini belum sempat tersampaikan kepada sang pujaan hati. Deeva.


Deeva menghela nafas berat.


"Sorry Vin, i can't do it."


"Tapi kenapa? Karena anak dua belas ipa itu?" tanya Kevin mengerutkan dahi seperti orang yang sedang menahan emosi.


"Maksud lo siapa?"


"Sammuel. Iya kan? Gue udah tau."


"Tau apaan? Udah deh ga usah sok tau." omel Deeva menarik tangannya dari genggaman Kevin. Kevin tertawa sumbang.


"Yaelah dari awal juga udah ketebak kali kalo lo tergila-gila banget sama si Sammuel itu." ucapnya remeh. Deeva menatapya tak suka.


"Jangan pake nada rendah saat lo nyebut nama kak Sam!"


"Kenapa? Lo ga suka?"


"Jelas lah gue ga suka! Dia laki-laki pilihan mendiang papa, dan gue juga-"


"Suka? Lo sendiri udah suka sama dia kan?"


"Huffft Vin ayolah please! Come on man. Berhenti bersikap kayak bocah gini ya? Gue ga mau ribut." keluh Deeva memelas. Kevin tersenyum miring.


"Asal lo tau Deev, gue ga akan bersikap baik kepasa siapapun orang yang ngerebut lo dari gue!" ucap Kevin penuh penekanan.


Back to Sammuel.


"Sial! Kok bisa Rayhan lolos masuk kesini?" decak Sammuel memukul pohon mangga tak berdosa itu. Api panas yang tadi ditahan dan hampir meledak saat melihat Deeva bersama laki-laki lain, kini seolah kembali tersulut lebih besar saat melihat musuh bebuyutannya memasuki area Airlangga.


Seperti biasa tanpa basa-basi dan tak mau mengulur waktu, Sammuel langsung menghampiri Rayhan yang tampak sedang berbicara dengan anak murid Airlangga sendiri. Sammuel tak bisa melihatnya dengan jelas karena posisi cowok itu membelakanginya.


"REHAN!" panggil Sammuel keras. Rayhan mendelik melihat Sammuel berjalan mendekat ke arahnya dari belakang Raja.


"Ja, lo cepet kabur sekarang!" suruh Rayhan mengintruksi.


"Tapi lo gimana?"


"Gue bisa ngalihin Sammuel, yang terpenting adalah penyamaran lo jangan sampe terbongkar!" ucap Rayhan mendorong Raja agar segera berlari pergi. Raja pun segera berlari pergi menjauh, meninggalkan Rayhan yang semakin dekat dengan Sammuel.


"Ngapain lo disini?" tanya Sammuel menaikkan sebelah alis. Ia kini telah berhadapan langsung dengan Rayhan, anak Garuda yang bisa-bisanya menyusup masuk ke wilayah Airlangga.


"bukan urusan lo!" sentak Rayhan, mata Sammuel memicing curiga saat menatap seragam yang dikenakan oleh Rayhan. bagaimana bisa Rayhan memakai almamater Airlangga yang jelas-jelas tidak diperjual belikan di pasar?


"Lo punya orang dalem? Ada anak BB disini?" tanya Sammuel ngeyel.


Rayhan enggan menjawab, ia hanya bersimrik tipis.


"JAWAB GUE. LO BISU APA GIMANA HAH?!!" bentak Samnuel hampir melayangkan tinju karena ledakan emosinya.


"Ga usah nyari ribut!" potong Rayhan sebelum kepalan tangan kasar itu mengenai wajahnya. Rayhan kemudian menjatuhkan paksa kepalan tangan Sammuel yang memanas itu.


"Gue kesini bukan karena Oster, ga usah nyari pekara lo!" ketus Rayhan kemudian kabur begitu saja. Ia berlari dan memanjat pagar dengan sangat cepat.


"Sial! Dia punya almet Airlangga lengkap, berarti dia punya orang dalam disini."