DEVANO

DEVANO
49. Basket



"Ah mager banget gue jam penjas siang bolong gini." gerutu Qia meregangkan otot pinggangnya setelah berganti pakaian di ruang ganti.


"Lah elu masih mending Qi! Kalo gue sih di semua jam juga gue males, kecuali kalo ada kak Sammuel di gor haha." sahut Deeva diakhiri dengan tawa ngakaknya.


"Yee kalo itu sih lo mau enaknya doang Depa!!" semprot Ratu protes.


"Gue juga sama, gue semangat pas ada ayang Bagas doang tuh." sahut Manda yang malah membenarkan modus Deeva. Ratu memutar bola matanya malas.


"Yaelah Rat Rat... Elu kan juga bisa tuh ikutan modus." celetuk Qia menggoda Ratu. Ratu mengeryit.


"Hah? Modusin siapa?" tanya Ratu polos.


"Modusin kak Adam lah haha." jawab Qia enteng.


"Hiyaaaa bener tuh bener banget!!" seru Deeva heboh. Sementara Manda hanya tertawa ngakak sejak tadi.


Ratu mendengus sebal.


"Elu aja sono sama kak Vano!" suruh Ratu ketus. Qia tertawa menye.


"Wle wleee bodoamat ahaha."


"Heh woii malah ghibah!! Ayo ke GOR woi!!" lerai teriakan ngegas dari seorang Bintang. Keempat cewek-cewek dengan seragam olahraga biru putih pendek itu menoleh bersamaan.


"Bapak Star ga usah sok galak!!" ketus Deeva nyolot. Bintang mengacungkan jari tengahnya. Kedua manusia ini memang sering terlibat cekcok ga jelas, kadang emang suka kelewatan tapi aslinya cuma bercanda sih.


"Ngebantah mulu! Gue aduin ke Sammuel, baru mau diem lu Dev!" ancam Bintang skakmat. Kini gantian Deeva yang mengacungkan jari tengahnya kepada Bintang yang berdiri diseberang bangku Deeva bersama Gabby karena dua cowok itu juga baru saja selesai ganti baju.


"Ga seru ah bercandanya bawa-bawa tameng." sungut Deeva.


"WOYYY KADAL BIN KADALUN!! BURUAN KE GOR KAMPRET UDAH DI TUNGGU SAMA PAK MUNIR!!" teriak Jonathan, si pak ketua kelas. Keenam anak di dalam kelas pun menoleh bersamaan.


"Yeee Jono!! Berisik aje lu." sungut Bintang yang jadi orang paling kaget akibat teriakan Jonathan.


"Nama gue Jonathan Tang, bukan Jono. Tolong!!" protes Jonathan berkacak pinggang.


"Halah sama aja sama-sama J. Lebay lu gitu aja dipermasalahin." balas Bintang tanpa dosa.


"Ah tau ah serah lo aja. Nama gue emang ga pernah ada harga dirinya di depan lu!!" ketus Jonathan kesal. Mereka semua malah tertawa melihat tampang sebal dari si ketua kelas.


"Nyengir lu pada! Gue aduin ke pak Munir mamp-"


"Kaborrrr Bapak Jono ngamuk!!!" pekik Gabby malah ikutan usil menistakan nama Jonathan. Ia lari terbirit-birit bersama Bintang dan Qia CS dan langsung lari keluar kelas melewati Jonathan yang masih ngedumel di depan pintu.


"Emang penyakit banget dah punya anak buah kek mereka." gerutu Jonathan sebal.


...****************...


"Hari ini materi olahraga saya bebaskan! Terserah kalian mau main bola apa, yang penting jangan bola bekel!" ucap pak Munir mengintruksi anak-anak 11 MIPA 5.


"Bola basket kuy!!" pekik Bintang bersemangat. Gabby, Jonathan dan anak laki-laki lainnya mengangguk serempak karena setuju dengan usul Bintang.


"Bintang Geonne!! Jangan biasakan motong saya terus dong. Saya belum selesai bicara tau!" omel pak Munir berkacak pinggang. Bintang nyengir tanpa dosa.


"Sorry pak, mangga dilanjut atuh!" sahut Bintang.


Siang, Qia buru-buru nyari Vano karena dapet pesan aneh dari nomor ga di kenal. tanya ke sammuel. Sedangkan yang Sammuel tau, Vano mencari Qia.


Pak Munir pun melanjutkan apa yang ingin ia sampaikan kepada anak-anak muridnya di jam pelajaran olahraga pada minggu ini.


"Saya awasi kalian semua dari tepi lapangan, awas saja kalau ada anak-anak cewek yang malah santai duduk ghibah! Semuanya harus punya aktivitas hari ini." tutur pak Munir menatap sekitar 20an anak perempuan di kelas itu secara bergantian.


"Ya elah baru aja gue keinget ada bahan ghibah Man." bisik Deeva di telinga Manda. Manda menoleh, telinga dan otaknya selalu 4G dalam mencerna kata berbau ghibah.


"Soal apaan Dev?" tanya Manda antusias.


"Soal kak Valdo." jawab Deeva dengan raut wajah yang sangat antusias.


"Lo balikan? Terus kak Sam gimana?" tanya Manda kaget. Deeva berdecak, bukan itu yang ia maksud!


"Ck. Bukan gue, tapi Qia. Kak Valdo naksir Qia tau!!" elak Deeva hendak menulai perghibahan ini, tapi keburu ketahuan.


"Ekhemm!!! Amanda sama Deeva kebiasaan kalian ya, baru saja saya minta jangan ghibah. Ini udah ada bahan lagi!" lerai pak Munir menatap tajam ke arah dua manusia yang jiwanya hanya diisi penuh oleh ghibah dan bucin.


Keduanya nyengir.


"Hehe maaf Pak Munir."


Setelah itu barisan 4 saf kebelakang itu dibubarkan oleh pak Munir sebagai komando. Anak-anak perempuan dan laki-laki berpencar. Kecuali Qia yang malah mengejar gerombolan anak laki-laki yang sudah berjalan ke arah tengah lapangan.


"Qia mau kemana?!" tanya Deeva mengeraskan suara.


"Mau ikut basket!!" jawab Qia membuat beberapa yang lain ikut menoleh.


"Mau kemana mbaknya?" tanya Gabby menaikkan sebelah alis.


"Mau ikut basket lah! Yakali main dakon." sahut Qia nyolot. Gabby memutar bola matanya malas.


"Serah Qi serah!!"


"Nah mantep tuh Qia cantik mau ikut kita drible bola!" seru Jonathan heboh sendiri. Ia langsung ngibrit mendekat dan merangkul pundak Qia. Interaksi antara Qia dan si ketua kelas itu memang sudah lumayan dekat dan akrab selama dua minggu ini.


Plak


Bintang menabok tangan Jonathan di pundak Qia. Jonathan pun menjatuhkan tangannya dari pundak Qia.


"Tangan lu ngelunjak amat Jonooo!!! Yang ada kepala lu entar di drible sama Vano." semprot Bintang galak. Cowok itu sudah seperti body guard saja yang siap menjauhkan semua laki-laki dari Qia-nya Vano. Qia-nya, catat!


"Berisik lu Tang! Gue coret dari kelas gue mampus kepala lu." balas Jonathan tak kalah nyolot.


"Berisik lu berdua ah!!" ketus Gabby sebal.


"Tau nih Gab, temen lu berdua emang banyak cincong." sahut Qia.


"Temen gue, temen lo juga lol."


"Ah udah udah, ayo buruan main!! Tuh anak-anak yang lain udah nunggu." lerai Qia sudah tak sabar ingin main Basket.


"Emang lo bisa?" tanya Bintang tak yakin. Qia menatapnya datar. Bintang adalah orang pertama yang meremehkan kemampuannya.


"Gua nonjok lu sekarang juga bisa loh tang, ngeremehin banget lu!" sungut Qia kesal menarik-narik lengan kaosnya ke atas, seolah ingin menunjukkan otot tangannya.


Bintang auto bergidik ngeri.


"Gue dibesarin bareng dua abang gue ya, jangan maen-maen lu!!" ketus Qia lagi.


"Widih ampun ampun!! Ceweknya pak bos emang ga ada obeng." cicit Bintang. Gabby tertawa.


"Cemen amat lu!" cibir Gabby.


"Dahlah Ayok!!" pungkas Qia. Mereka mengangguk setuju kalau Qia ikut. Sepuluh pemain dari dua kubu itu mulai berebut bola. Meskipun ini hanya sekedar permainan ringan tanpa persaingan, mereka tetap menikmatinya dengan asik. sembilan cowok dan Qia sebagai satu-satunya cewek di lapangan itu.


"Itu karena dia belum ketemu bola basket. Kalo udah ketemu kek gini, ya beda lagi ceritanya." celetuk Ratu enteng. Memang dari kecil, sepupunya itu paling suka basket karena ia sudah sering ikut berlatih bersama papa, om, Raga dan Rizal.


"Emang ajaib temen gue satu itu tuh." decak Manda terpukau bertepuk tangan.


"Lo berdua sama Deeva tadi mau ghibah apaan Man? Join lah, ya kali gue ketinggalan info sendiri." tanya Ratu teringat sesuatu. Manda menunjuk Deeva yang duduk di sebelah Ratu.


"Soal kak Valdo, tapi belum kelar sih. Tuh tanyain lagi tuh sama biang infonya!" suruh Manda. Ratu lalu menoleh pada Deeva yang matanya entah mengarah kemana, tatapan yang menerawang jauh.


"Woy Dep kesambet lu?" tanya Ratu mengibaskan tangannya di depan wajah polos Deeva yang sangat jelas sedang menatap sesuatu. Manda yang posisi duduknya paling jauh dari Deeva pun sampai harus turun dan duduk jongkok di depan Ratu untuk memperhatikan wajah Deeva.


Deeva menggeleng kecil tanpa mengalihkan perhatiannya.


"Matanya nakal Rat, pasti lagi ngeliatin cogan nih." ucap Manda curiga. Ia sudah sangat hafal dengan semua tipe tatapan mata Deeva. Dari mulai tatapan polos, lemot, ngantuk, malas hingga jelalatan. Manda hafal semua logatnya. Ratu mengangguk.


Keduanya lalu mengikuti arah tatapan Deeva bersamaan. Dan benar saja! Tepat di ujung sana, ada Sammuel dan gerombolan kejahatannya yang berjalan masuk ke dalam GOR.


"Masyaallah, kak Sammuel ganteng banget gitu di kasih makan apa sama mamanya?" ucap Deeva geleng-geleng takjub. Ratu menepuk jidatnya sendiri.


"Tobat lu Dev!"


Prok prok prok


"WOY JOIN WOY!!" teriak Adam melengking dari tepi lapangan yang dekat dengan pintu keluar GOR. Semua orang menoleh ke arah itu.


Di ujung sana, berdiri empat pentolan Ghosterion yang kepopularitasannya tak bisa di anggap remeh di SMA Airlangga. Beberapa anak perempuan di tepi lapangan langsung saling membicarakan ketampanan dari empat cowok tampan itu. Qia berdecak malas, kalau ada Vano pasti kuha akan ada kejadian aneh yang akan mengobrak-abrik harinya.


Berbeda dengan Qia yang menggerutu dalam hatinya, Vano justru tersenyum simpul melihat cewek itu bisa dengan lihainya bermain basket. Dengan anak-anak cowok pula.


"KUY FRIENDLY MATCH DAM!!" teriak Bintang bersemangat. Adam, Bagas, Sammuel dan Vano berjalan mendekat.


"Gue mundur, bye!!" ucap Qia pada Bintang di sampingnya.


"Lah kenapa?" tanya Bintang tak dihiraukan oleh Qia karena ia sudah berbalik badan dan pergi menuju Ratu and the geng.


Melihat hal itu sontak membuat kedua kaki Vano refleks berlari mengejar pujaan hatinya.


"Eitssss mau kemana lu?" tanya Vano setelah berhasil mencekal pergelangan tangan Qia hingga berbalik menghadapnya.


"Dakon!"


Vano tertawa renyah.


"Ngejokes?" tanya Vano dengan satu alis terangkat. Qia menghela nafas pasrah.


"Mau balik ke temen-temen gue, kenapa? Lo mau ikut geng cewek ghibah?" jawab Qia balik bertanya. Vano tersenyum miring.


"Ga boleh! Lo ikut tim gue main." ucap Vano mengambil keputusan seenak jidat. Kalau tidak bertindak sesuka hati, maka bukan Vano namanya. Jangan sebut dia Devano kalau dia tidak suka memaksakan semua kehendaknya.


"Dih?" pekik Qia bergidik.


"Dam gimana Dam?" tanya Vano menoleh ke gerombolannya yang baru datang. Mereka sudah berhadapan dengan Bintang, Gabby dan anak kelasnya.


"Setuju gue. Dede Qia ikut tim kita." ucap Adam diangguki setuju oleh Bagas. Kalau respond Sammuel? Biasalah.


Qia melongo sedangkan Vano tersenyum miring penuh kemenangan.


"Eh woy apa-apaan nih?! Barang bagus aja lu embat semua pak. Itu Qia kan asetnya kelas gue dong mana boleh lu ambil!!" protes Bintang ngegas.


"Parah sih emang." sahut Jonathan.


"Protes mulu lo Star!! Lu juga, bang Jono berisik lu." omel Bagas. Jonathan memutar bola matanya malas.


"Sekate-kate lu Gas." semprot Jonathan.


"Semena-mena lu enggak manggil kakak Bagas!" semprot Bagas balik. Jonathan memeletkan lidahnya.


"Bodoamat!"


"Dahlah Jon, kita waras kita ngalah aja udah." lerai Gabby yang memang 11-12 nya sama dengan Sammuel, malas berdebat.


Jono eh Jonathan mendengus pasrah.


"Tim dari kelas gue kan cuma empat, jadi lo jadi pelengkap kelima. Deal?" tanya Vano mengulurkan tangan untuk berjabat dengan tangan mulus Qia.


Qia baru akan membuka mulutnya, tapi Vano lebih dulu menyelanya.


"DEAL!!!" pungkas Vano menjawab pertanyaannya sendiri sambil meraih paksa tangan Qia agar menjabat tangannya. Qia menatapnya datar.


"Kelewatan lu Kak!" sungut Qia kesal tapi tetap pasrah saja.


"Eh Qi kok lo setuju aja sih? Lo pemain emas dari kelas kita dong!! Wah penghiatan lu parah!!" pekik Bintang masih tak terima dengan keputusan ngelantur bin ngawur dari Vano.


"Bac*t lo Bin!" ketus Vano.


"Heh elu yang bac*t No! Ga sopan lu main nyerobot pemain gue." balas Bintang tak kalah ketus.


Prriiiiiiiitttttttttttt


Perdebatan itu langsung berhenti seketika kala suara tiupan peluit berdecit kencang memenuhi ruang telinga masing-masing siswa-siswi.


"Berisik banget anj*ng!!" umpat Sammuel refleks. Ya, selalu refleks dalam berkata kasar. Memang buka mulut Versi Sammuel adalah yang paling aesthetic dan berdamage parah.


"Sabar Pak sabar!!" ucap Gabby menepuk-nepuk pundak Sammuel. Cowok yang benci kebisingan. Mendengar ocehan teman-temannya saja sudah hampir membuatnya mengamuk, eh apalagi ini suara dengungan peluit tak berakhlak.


Siapa orang yang berani menciptakan polusi telinga seperti ini?


Pak Munir be like : I did! What you gonna do about it? Wkwk.


"BINTANG DEVANO SUDAH BERHENTI BERTENGKAR DAN MULAI SAJA PERTANDINGAN KALIAN!!" teriak suara keras dari kursi tepi lapangan. Rupanya memang si guru olahraga yang menjadi dalang di balik semua ini.


"Tapi Vano ngambil pemain dari kelas saya pak!" protes Bintang yang jelas tak mau asal menyerahkan Qia yang jago basket kepada tim lawan. Sekalipun ini cuma pertandingan suka-suka tanpa winner, tapi tetap saja tidak adil! Ada empat pemain 'Airlangga Basket Ball' di tim Vano, di tambah lagi dengan Qia. Sedangkan di timnya hanya ada tiga pemain inti sekolah yaitu Bintang, Gabby, dan Jonathan.


"Kamu ngalah dong! Tim Vano kan memang kekurangan pemain, jadi biarkan saja." jawab pak Munir enteng tanpa beban.


"Ya tapi kenapa harus Qia pak!!" sungut Bintang lagi. Pak Munir mendelik garang.


"Kamu tidak usah membantah saya ya!! Cepat mulai saja pertandingannya." omel pak Munir membuat Bintang berdecak malas sedangkan Vano dan timnya tertawa puas karena mereka bisa mendapatkan Qia untuk masuk kedalam timnya.


"Woalah Nir Munir!!" gerutu Bintang kesal.


"SAYA TIDAK TULI YA BINTANG GEONNE!!!!" teriak pak Munir melengking memenuhi antero GOR. Beberapa siswa sampai harus menutup daun telinga mereka.


Bintang nyengir tengil dengan dua jari terangkat.


"Hehe peace bos!!"


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰