DEVANO

DEVANO
48. Maybe



"Besok gue jemput!"


"Karena gue ga suka lo dianter jemput sama cowok selain Rizal dan Raga."


Ucap Qia mengulang setiap perkataan Vano tadi sore. Setelah mengitari mall, mereka mampir di salah satu kedai ice cream dan Vano mengatakan dua kalimat yang sangat sulit dicerna oleh Qia.


Vano baru mengantarkan Qia pulang sekitar pukul 7 malam karena mereka berdua muter-muter dulu setelah makan ice cream.


"Maksudnya kak Vano apaan ya ngomong gitu? Gilee otak gue susah amat connect." gerutu Qia kesal sendiri hingga tak sadar kalau tangannya sudah meremas habis kaleng bekas minumannya.


Drtt drtt


📞Abang Ragacu is calling....


Raga : Halo dek? Kamu dimana sekarang? Masih sama Vano?


Qia : Enggak kok Bang, ini baru aja dianter pulang.


Raga : Bagus deh kalo gitu. Mama sama papa udah pulang?


Qia : Belum, katanya sih besok siang.


Raga : Ya udah kamu langsung tidur! Jangan ngelayap!!


Qia : Tapi Qia pengen ke markas. Pengen ikut balapan.


Raga : Ga usah! Abang ga ngizinin.


Qia : Yahh pelit amat jadi abang.


Raga : Pokoknya malam ini ga boleh kesana!


Qia : Kalo gitu mau ke rumah kak Rizal deh.


Raga : Ga boleh!


Qia : Yahh Abang..... Qia bosen tau di rumah sendirian doang, ngomong sama tembok.


Raga : Pokoknya ga boleh! Besok aja ke rumah Rizal nya.


Qia : Lah besok kan mama papa udah pulang.


Raga : Kalo gitu minta Vano dateng aja ke rumah. Pokoknya kamu fa boleh keluar ke markas ataupun ke rumah Rizal!!


Qia : Heh sebenernya Abang tuh kenapa sih? Aneh banget.


Raga : Gapapa si tapi kalo kamu mau temen ngobrol, abang bisa minta Vano ke rumah terus suruh dia pulang nanti jam 11 an.


Qia : Nggak deh nggak, udah capek seharian bareng tuh anak mulu. Berantem mulu kerjaan.


Raga : Jangan keseringan ribut, entar jatuh cinta loh haha.


Qia : Ye rese! Dahlah mending Qia tidur aja, Bye!!


Tut tut....


"Punya abang cuma satu, moodyan nya masyallah banget!!" gerutu Qia heran.


...****************...


"Kalian semua oke kan?" tanya Rizal dengan mata menelusuri tiap sudut yang ditempati oleh anak buahnya. Mereka semua mengangguk.


"No problem Zal!!" ucap beberapa dari mereka serempak. Rizal menghela nafas lega.


Anak-anak DS Boys sedang duduk dan tiduran terkapar karena lelah karena perkelahian mereka tadi sore di lapangan kosong di dekat markas. Mereka semua belum memasuki markas, bagi mereka lebih enak tiduran di luar dulu untuk menghirup udara segar malam.


"Emang sialan si Rayhan. Dia ngadu domba geng motor lain lagi buat jadi sekutu mereka." sungut Rizal mengepalkan tangan geram.


Tap tap tap


Terdengar suara langkah seseorang yang mendekat. Seluruh anak DS Boys menoleh ke sumber suara, minimnya penerangan di sudut teras itu membuat sepasang mata Rizal memicing ekstra untuk melihat sosok misterius itu.


"Lagian kenapa lo ga minta bantuan gue aja?" tanya suara familiar itu. Dia adalah Vano yang datang dengan setelan andalan, celana jeans sobek dengan kaos hitam berjaket Ghosterion kebanggannya.


"Sejak kapan lo di situ?" tanya Rizal aneh. Vano menunjuk motornya yang terparkir rapi di sebelah motor hitam berplat R 1 ZAL.


"Sebelum lo jalan ke sini, gue lebih dulu duduk di pojok sana tuh." tunjuk Vano ke arah kursi sofa di sudut teras. Rizal menatapnya malas.


"Terus kenapa ga bantuin?"


"Karena pas gue dateng, BB sama Classio udah pergi. Salah lo sendiri kenapa pas mereka datang, lo ga hubungin Oster?" tanya Vano tak kalah sengit.


"Karena Raga bilang Qia ada sama lo. Gua cuma mau Qia aman doang." jawab Rizal.


"Ck. Kan gue bisa minta Sammuel sama yang lain bantu lo! Lain kali kalo BB berulah lagi, ga usah sungkan buat minta bantuan dari Oster."


"Ini berlaku juga buat kalian semua!! Jangan lupa kalau leader pertama kalian itu udah bikin kesepakatan sama gue untuk DS Boys dan Ghosterion agar saling support tanpa menjatuhkan! Kita emang dari kubu berbeda, tapi tujuan dan misi kita sama brother!!" ucap Vano tegas di depan semua anak DS Boys. Mereka semua mengangguk.


"Bener juga ya. Ah elu sih Zal, kenapa ga minta tolong ke Oster aja coba?" tanya Devan.


"Iya, harusnya kita ga perlu sebonyok ini nih kalo ada bala bantuan." sahut salah satu yang lain.


"Ah Rizal parah lu Zal!!"


"Enak nih tadi kalau ada anak Oster juga."


Sssttttt


"Lu bikin gue makin pusing, gue geplak kepala lu satu-satu ye!!" omel Rizal kesal. Mereka semua bukannya takut, malah tertawa ngakak melihat raut sebal Ketua mereka.


"Sabar Pak sabar!!" tutur Vano menepuk-nepuk pundak Rizal. Rizal menggeplak tangan kekar Vano di punggungnya.


Plak


"Heh tolol!! Punggung gue sakit anj!" omel Rizal menggerutu. Vano tertawa.


"Sorry ah lebay lu haha." sahut Vano terkekeh.


"Eh lo udah di sini, Qia aman kan?" tanya Rizal teringat dengan adik sepupu rasa adik kandungnya itu.


Vano mengangguk.


"Udah aman gue anter sampek depan teras rumah." jawab Vano. Rizal menghembuskan nafasnya lega.


"Bagus deh kalo gitu." ucap Rizal lega. Vano mengangguk, Devan berdiri mendekat ke arah Vano dan Rizal.


"Lo sendirian aja Van?" tanya Devan.


"Iya Van, yang lain pada di markas. Mereka ga tau soal penyerangan kalian." jawab Vano.


"Eh Van!" panggil Rizal setelah sekian detik terdiam. Vano menoleh dengan satu alis terangkat. Devan juga ikut menoleh.


"Apaan Zal?" tanya Devan yang mengira kalau Rizal memanggilnya. Rizal menonyor kepala Devan.


"Bukan elu lol! Gue ngomong sama Vano!!" semprot Rizal garang. Devan memutar bola matanya malas.


"Manggil nama lengkapnya dong!!" ketus Devan lalu pergi masuk karena ada salah satu anak DS Boys yang menarik lengannya.


"Ada apa?" tanya Vano setelah hanya tinggal mereka berdua di teras. Anak-anak DS Boys sudah masuk ke dalam markas untuk membersihkan diri mereka yang tampak kacau.


"Gue titip Qia ya?" jawab Rizal setelah satu hembusan nafas panjang.


Vano mengeryit tak mengerti.


"Ya kan lo satu sekolah sama dia, terus gue lihat-lihat juga lo udah kenal akrab sama dia. Gue mau lo jagain Qia, ya minimal buat gue sama Raga lah. Gue sadar gue ga bisa selalu awasin dia di SMA Airlangga, karena lo orang yang paling gue percaya, gue titipin dia ke elu!" tutur Rizal menjelaskan. Vano manggut-manggut mengerti.


"Kalo bisa, jauhin aja tuh Rayhan dari sepupu gue. Gue ga mau suatu hari nanti Qia kena imbasnya." lanjut Rizal lagi. Sudut bibir Vano tertarik melengkung ke atas.


"Lo tenang aja Zal, tanpa lo minta pun gue juga bakal jagain Qia kok. Dia cewek yang layak buat gue jaga! Tanpa lo minta pun gue emang udah ga suka Qia deket-deket sama Rayhan." jawab Vano mengangguk pasti.


"Gue bakal jauhin mereka karena gue ga suka." sambung Vano dengan senyum tipis di akhir kata. Rizal sepertinya mulai bisa membaca fikiran Vano yang mulai terQia-Qia.


"Dih lo naksir sama sepupu gue ya?" goda Rizal.


"Maybe." jawab Vano pelan.


"Ahahaha kalo gitu pepet aja terus!! Gue dukung lu 1000% dengan syarat lo harus bisa jaga dia sebaik mungkin." Rizal merangkul Vano. Vano mengeryit.


"Dih dih yang gue butuhin tuh restu bokap nyokapnya. Bukan restu dari elu!" sahut Vano remeh. Rizal mendelik.


"Oh jadi lo mau lihat gimana aksi dan koneksi gue dalam menggagalkan restu dari om Antoni sama tante Andin?" tanya Rizal dengan nada mengancamnya. Vano tertawa sambil balik merangkul Rizal dengan gentle.


"Wehheeee canda doang brader!! Baperan amat!"


...****************...


Kamu begitu berarti


Dan istimewa di hati


Selamanya rasa ini-


*Drtt dr*


Qia yang sedang asyik bernyanyi random sambil memakai sepatunya di teras rumah pun mengalihkan perhatiannya pada Hp nya yang bergetar di atas meja.


📞Rayhan is calling...


Qia : Halo Ray? Kenapa?


Rayhan : Udah siap belum? Gue jemput ya.


Qia : Eh eh ga usah dulu deh.


Rayhan : Lah kenapa? Udah dijemput sama Rizal?


Qia : Enggak juga sih.


Rayhan : Ya terus?


Qia : Ini nih gue berang-


Brum brum


"Rentenir kontrakan. Ayok buruan udah siang nih!!" teriak Vano yang sudah menghentikan laju motornya di bawah teras. Ingat ya, teras rumah Qia ada di lantai dua tepat di ujung tangga dari halaman bawah.


Rayhan : Kek ada suara cowok?


Qia : Iya Ray, kak Vano udah jemput nih. Gue berangkat sekolah duluan ya? Take care Rayhanesse. Bye!!


Rayhan : Oh, oke.


tut tut...


Qia langsung memasukan kembali iPhone ke saku seragamnya dan bergegas turun mendekat ke arah Vano yang sudah nangkring di atas motor dengan helm full face yang masih ia pakai.


"BURUAN YA CANTIK!! Modal tampang lo doang ga bisa buat ngerayu pak Bambang biar ga dihukum!" cerocos Vano tanpa henti. Qia berdecak.


"Iya iya sabar napa sih bawel amat!!" ketus Qia kesal.


Setelah Qia berada tepat di sampingnya, Vano langsung saja memakaikan helm untuk Qia.


"Udah puas ngeliatin bidadari pagi-pagi?" sindir Qia yang melihat Vano tak kunjung mengalihkan pandangan dari wajahnya, padahal Vano sudah selesai memasang pengaman helm sejak tadi.


Vano mengerjap kaget lalu berdehem untuk menetralkan detak jantungnya. Definisi melamun dan menikmati pemandangan indah di saat yang kurang tepat!


"Ya udah ayo naik!" suruh Vano.


Brum brum


Baru saja Qia memegang pundak Vano untuk naik ke jok belakang motor, sebuah motor sport hitam melaju mendekat ke arah mereka.


Cowok berhelm hitam itu adalah Rizal.


"Yah kena tikung sama Vano." ucap Rizal berhenti di depan Motor Vano dan membuka kaca helmnya.


"Makanya bikin janji dulu dong!!" omel Qia.


"Lupa! Gue ketiduran semalem haha." jawab Rizal dengan mata menyipit karena tertawa. Dan di sinilah Qia curiga dengan mata memicing, ada yang aneh dengan sudut mata Rizal. Seperti bekas memar.


"Ya udah kalo gitu jaga Qia baek-baek!! Dan selamat pacaran!!" ucap Rizal langsung tancap gas dan pergi menjauh lagi.


"EH WOY KAK RIZAL!! MUKA LU KENAPA BONYOK GITU HEY!!" teriak Qia yang sadarnya telat. Rizal sudah mencapai gerbang saat ini.


"Teriak mulu buset masih pagi juga!" gerutu Vano malas. Qia menatapnya sinis.


"Siapa suruh lu pagi-pagi udah nemuin gue!" gerutu Qia tak kalah malas.


"Ya disuruh hati gue lah, siapa lagi coba." jawab Vano lirih. Qia yang sudah duduk manis di jok belakang pun memajukan wajahnya ke samping pundak Vano untuk menjangkau wajah laki-laki itu.


"Apa lo bilang?" tanya Qia kurang jelas mendengar ucapan Vano. Vano berdehem dan malah menghidupkan motornya.


"Udah siang, takut telat!"


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰