
"Mana orangnya?" celetuk suara berat dari belakang kursi tempat Qia duduk bertiga bersama Bintang dan Ratu. Manda, Gabby dan Deeva sudah tau siapa orang itu tapi tiga yang lain belum, mereka menoleh bersamaan.
Vano.
"Dih baru juga dateng udah nanya-nanya mulu!" gerutu Qia. Vano seperti biasa mengulurkan tangan ke kepala Qia, kali ini bukan untuk menonyor tapi untuk mengacak-acak rambut hitam Qia.
"Gue nanya ke Bintang mak! Diem lu." omel Vano.
"Udah pergi, telat lu!" jawab Bintang. Vano berdecak.
"Padahal mau gue ajak duel biar panas otaknya." keluh Vano sambil menepuk-nepuk pundak Bintang lalu mengibaskan tangan sebagai isyarat agar Bintang segera bergeser.
Bintang pun bergeser dengan menyenggol Ratu, Ratu yang faham langsung ikut bergeser.
"Lagian lo juga ke kantin ga ngajak!" ketus Vano sambil mendudukkan pantatnya tepat di sebelah Qia. Qia hanya bisa pasrah saja saat manusia pemaksa itu duduk di sebelahnya. Ada rasa ingin mengusir, tapi Qia masih ingat kalau sekolah ini adalah sekolah milik keluarga Vano.
"Di kelas lo ada bu Yuyun, malu lah gue kalo ketahuan bolos." jawab Bintang enteng. Vano berdecak malas.
"YUYUN TEROSSSSS!!"
"Tumben lo diem aja?" tanya Vano beralih ke perempuan di samping kirinya. Qia menatap manik matanya dengan sangat datar.
"Emang gue harus gimana? Teriak-teriak naik ke genteng kantin hah?" tanya Qia balik. Vano terkekeh kecil.
"Kalo lo mau ya ayo, gue temenin."
"Ga mau!"
"Kenapa?"
"Karena ada lo kak."
EKHEM EKHEM
"BUCIN!!!"
"Mesrain terossss.... Yang lain cuma numpang disini."
"Berasa ngontrak gue hidup di Bumi." ucap Ratu mendengus.
"Pindah ke Mars aja sono!" suruh Qia seolah ia mengusir sepupunya sendiri.
"Sialan Qiak."
"Lo cuma sendiri Van? Yang lain ga ikut bolos?" tanya Bintang, Vano menoleh lalu menggeleng.
"Gue tadi lupa bilang ke mereka kalo mau bolos, jadi gue duluan." jawabnya santai. Bintang manggut-manggut.
"Tuh kakak lo dateng Tang!" celetuk Gabby menunjuk arah belakang Bintang dan Vano. Keduanya sontak menoleh bersamaan dengan Qia dan Ratu yang kepo.
Adam.
"YO BRADER!!!" seru Adam heboh. Baru juga sampai, udah ngerusuh.
"Dicariin adik lo nih Dam." ucap Vano menepuk-nepuk kepala Bintang seolah itu adalah anaknya sendiri.
"Ulululuuuu lo kangen gua Tang? Its ok, but gua lagi want duduk di beside Ratu biutipul. Bye!!" ucap Adam bertanya dan dijawab sendiri. Bintang memasang raut wajah aneh.
"Setress ni orang!" ketus Bintang.
"Udah lama kalo lupa." sahut Vano. Sedangkan yang jadi bahan pembicaraan nyelonong duduk di sebelah Ratu yang juga duduk di sebelah Bintang.
"Ratu ular sanca!"
"Ntar pulang bareng gue."
"Gue belajar dari Vano, ga nerima penolakan!
"Dih maksa. Setress lu berobat sono!!"
"Iya nanti sekalian mampir berobat, asal sama lo aja.
"Dih?"
"Iyain aja sih Rat, dari pada Adam kumat terus nggerogotin kursi kantin kan bahaya." celetuk Bintang memperlancar aksi. Ratu menghela nafas pasrah.
"Ya udah iya. Serah lo Kodam!!"
"Nah pinter!!"
Prok prok prok
"Waduh makin lancar aja si bestie-bestieku ini." pekik Manda bertepuk tangan heboh. Siapa sangka? Ia hanya meminta salah satu dari temannya kecantol dengan anak Ghosterion agar bisa double date, dan tuhan malah mengirimkan dua pasangan sekaligus.
Triple date, triple kill!!
'Ini bau-baunya gue bakal diroasting sebagai buaya noob yang gagal memangsa kak Sam nih.' batin Deeva menebak nasib buruk.
"tinggal lo doang Deev yang masih jalan ditempat. Kapan mepetnya weh?" tanya Manda beralih menaik turunkan alis pada Deeva di sebelah Gabby, Deeva mendengus malas. Baru juga ditebak, dan udah benar terbukti kan?
"Gue santai dulu, lo pada duluan aja bertiga." jawab Deeva santai.
"Kalo kata orang jawa tuh, lakon menang mburi bray! Lo pada duluan aja bertiga ga papa, ntar gue sama kak Sam belakangan aja tapi sekalinya nyusul langsung sebar undangan. Simple!" ucap Deeva tersenyum miring, seolah mengejek mereka semua yang tadi menatapnya dengan tatapan meroasting.
"Peh ku kira cupu ternyata suhu njir!"
"Wehheeeeee suhu kita nih bos!!"
"Ada lawan?"
"Ga ada sih yang sanggup ngalahin jalan pikirnya buayawati ini yagesya."
"Sungkem dulu sama nyai Depah."
"Jangan lupa hastagnya, #Bukanmaen." udah tau lah ya siapa yang sering bilang gini. Si paling hastag.
"Bukan sepupu gueeee!! Darah keluarga keknya ga ada yang sepede elu dah." pekik Gabby menggeleng-nggeleng heran. Deeva hanya tertawa lalu diam mendadak saat teringat sesuatu.
"Oh iya Gab lu tadi mau ngomong apaan? Gue pulang sama siapa kalo nggak sama lo?" sahut Deeva teringat hal yang menjadi alasan Gabby mencarinya.
"Sammuel. Lo sama dia aja, baik kan gua? Udah ngasih jalan bagus buat elu-" jawab Gabby terpotong karena pemilik nama yang ia sebut tiba-tiba muncul di depannya.
Sammuel sudah stand by disana dengan sepasang alis tebal dan mata elangnya.
"Apa lo sebut-sebut?!!" tanya Sammuel dengan satu alis terangkat.
"Woehh ada bapak disini, kebetulan banget pak." sahut Gabby tersenyum penuh arti.
"Kebetulan apaan?"
"Deeva mau pulang bareng lo katanya." jawab Gabby tanpa beban. Deeva mendelik kaget, ini jelas adalah sebuat fitnah besar!!
'Lah si Geboy berani-beraninya ngumpanin gue. Padahal dia yang ngerekomend tadi.' batin Deeva mengutuk sepupunya agar menjadi kodok.
Satu alis Sammuel terangkat, ia menatap sepasang mata Deeva yang buru-buru buang muka karena gugup.
Jujur saja Deeva sudah sering diantar pulang oleh cowok-cowok gebetannya sebelum ini, tapi ia belum pernah diantar oleh Sammuel. Bahkan tak pernah terlintas di otaknya kalau ia akan bisa pulang bareng apalagi dibonceng oleh Sammuel? Its a amazing magic!
"Mau kan pak?" tanya Gabby lagi.
"Hm iya, serah dia aja mau gimana." jawab Sammuel mengangguk.
"Tumben iya-iya aja lo?" tanya Vano heran dengan perubahan sikap Sammuel. Yang biasanya selalu menolak hal-hal yang berurusan dengan perempuan, sekarang malah iya-iya aja.
"Males debat sama Gabby." jawab Sammuel enteng.
'Tuhkan kalo emang jodoh ya gini nih, gampang banget alur jalannya! Tanpa gue minta juga pasti dikasih sama tuhan.' batin Deeva tersenyum malu. Rencana tuhan tak pernah seindah ini sebelumnya.
"Tak perlu merencanakan kapan kita bertemu, biarkan semesta yang melakukan tugasnya." celetuk Deeva tiba-tiba, antara sadar dan tidak sadar.
"Duh keceplosannya bikin cinta." sindir Adam menggoda Deeva, Deeva auto menunduk malu. Bisa-bisanya hal yang harusnya diucapkan di hatinya saja, malah terspeak-up dengan begitu mudahnya.
'Cih malu-malu kucing dia.' batin Sammuel melirik tipis.
"Lampu ijo woi lampu ijo!!" pekik Bintang heboh.
Sammuel yang kebetulan berjalan tepat dibelakangnya pun menonyor kepala Bintang karena terlalu berisik.
"Ga usah teriak-teriak Monyet!!" maki Sammuel. Mau tau ga kenapa Bintang sering dipanggil 'Nyet' atau 'Monyet'? Alasannya adalah karena Bintang yang paling sering lompat pagar belakang karena telat tiap kali ia ketinggalan rombongan Ghosterion, dan satu lagi! Bintang punya kebiasaan aneh yang suka memanjat pohon mangga dan jambu yang tumbuh tinggi menjulang di depan markas motor Ghosterion.
Itulah alkisah nama panggilan legend Bintang.
"Lo ga mau duduk di sini aja Sam?" tawar Gabby. Tanpa menjawab, Sammuel langsung duduk di sebelah Adam. Dan Gabby sudah mendapatkan jawabannya.
"Haram duduk di samping cewek, bukan mukhrim!" ucap si paling suci.
Ada Qia, Vano, Bintang, Ratu dan Sammuel di kursi satu kursi yang sama. Sedangkan Gabby duduk bertiga dengan Deeva dan Manda di kursi yang berbeda.
Vibesnya seperti Gabby seorang sultan beristri dua. Wkwk.
"Sok suci lo! Itu juga lo duduk disamping Ratu. Lo pikir Ratu apaan hah? Bilang aja lo takut nervous yekan kalo sebelahan sama sepupu gue kan?" ledek Gabby mood.
"Bac*t, bodoamat!" ketus Sammuel jengah. Lagipula cuma masalah duduk doang, ribet banget.
"Bagas kemana? Kok ga ada?" tanya Bintang mencari keberadaan cowok bucin setengah random itu.
"Perasaan tadi ada di belakang gue, bareng lo kan Sam?" tanya Adam. Mereka tadi pergi bertiga, tapi karena Adam buru-buru menemui Ratu jadi dia berlari lebih dulu setelah sampai di ujung tangga.
"Tadi belok ke gerbang."
"Ngapain? Mau pulang dia?"
"Nyari bahan sogokan."
"Hah?"
"Buat nyogok Manda biar ga ngambek."
"Gue lagi yang kena. Padahal udah mencoba untuk diam." keluh Manda memutar bola matanya malas.