
Drtt drtt
📩message from Dekadal
"Ngapain ni anak pagi-pagi." gerutu Qia setengah sadar. Deringan di handphonenya ini menganggu tidur lelapnya di minggu pagi yang cerah.
📩Dekadal : Weekend ini mau jalan g?
"Ga ada angin ga ada ujan ni cowok satu."
^^^📤Qianne : Gak. Mending gue turu!^^^
📩Dekadal : Oh yodah, gw jg g bisa ngajak jalan soalnya.
"Sumpah ni anak random banget pagi-pagi." heran Qia menggaruk kepalanya yang tak gatal. Sesekali ia juga menguap.
📩Dekadal : Gw mau jadi anak berbakti.
"Sumpah demi apapun gue ga nanya woi." cicit Qia makin bingung membaca chat Vano yang baru saja terkirim.
^^^📤Qianne : Gua nanya kak?^^^
📩Dekadal : Ya ngasih tau aja, biar lo g nyariin. Ntar lo pasti kangen.
^^^📤Qianne : Dih GR bgt najis!☺️^^^
📩Dekadal : Jgn keluar sama Rehan, inget lu pernah hampir diapain!
📩Dekadal : Kalo bosen ntar VC gue aja, gue temenin via virtual🤣
^^^📤Qianne : BODOAMAT GUA MAU TIDOR😾^^^
^^^Read.^^^
"Emang paling bener matiin aja hp pas weekend, biar ga ada yang ganggu." gerutu Qia sambil mematikan daya ponsel. Setelah itu ia mulai memejamkan matanya lagi.
Brak
"QIAK QIAK QIAAAAAAAAKKKK!!!!" teriak keras suara berat yang membuka pintu kamarnya dengan paksa. Rizal! Dari dulu hanya dia yang berani menganggu tidurnya selain Raga.
"Ralat! Selain harus off hp, gue juga harus kunci pintu kalo mau turu." gerutu Qia mendengus malas. Ia membenamkan wajahnya di guling, tak berminat merespond kakak sepupunya yang riweh itu.
"Qiak!" panggil Rizal namun tak ada sahutan.
"Yang pura-pura budeg, gue doain budeg beneran!" sindir Rizal menyumpah serapah. Qia membalingkan gulingnya karena sebal.
"Diem lo marmut!!"
"Kenapa sih lu lemes amat aelah.... Muka masih muda, masa jiwa udah jompo." ledek Rizal setelah menangkap guling dari Qia kemudian duduk di tepian kasur. Sementara Qia masih rebahan dengan malas dan nyaman.
"Ngantuk gue."
"Jalan yuk! Ke cafe atau kemana gitu.... Bosen banget gue di rumah sendirian." ajak Rizal, si paling anak tongkrongan.
"Sama kak Dita aja sono, eh kak Anin deh."
"Anindita btw."
"Nah itu!"
"Ku sebut dia gadis cantik yang pemberani."
"Berani malakin kas! Kata kak Vano, ahahaha."
"Berani nolak gue juga." tambah Rizal ketus. Tawa Qia makin menjadi-jadi karenanya.
"Jiakh kasian banget ga laku HAHAHAHAHHA."
"Kayak lu laku aja!"
"Dih dih... Asal lo tau aja ya kak, gua tu selama ini ga pacaran karena ga enak sama lo. Masa iya gua ngelangkahin yang lebih tua si?" bela Qia.
"Ngomong-ngomong tua, Raga lebih tua ya. Dia juga belum punya pacar!" sahut Rizal tak mau terpojok sendiri.
"Siapa bilang? Bang Aga udah punya cewek kok."
"Serius lo?"
"He em, lagi PDKT dia sama anak kedokteran."
"Bule New York?" tebak Rizal melongo tak percaya. Bisa-bisanya ia ketinggalan info seperti ini.
"Enggak, cewek Jaksel tapi kuliahnya di Bandung."
"Oh neng neng geulis."
"Hm."
"Yaudah ih ayo jalan Qi!! Muter-muter Jakarta mumpung libur gini. Mana tau gue dapet cewek juga biar bisa dobel date." rengek Rizal menarik-narik satu persatu rambut Qia yang lumayan acak-acakan.
"Mager gue, ngantuk!"
"Ga ada mager mager! Gue udah kesini dan lo harus mau."
"Nggak!"
"Qia! Come on."
"Nggak mau!"
"Atau gue aduin ke Raga kalo lo demen keluar malem tanpa sepengetahuan dia nih! Gua ga mau lagi jadi tameng pelindung lo, mampus." ancam Rizal beranjak dari kasur Qia. Qia berdecak bangun.
"Ck. Ngancem mulu kerjaan lu!"
"Ya makanya jangan nolak gue."
"Ya udah!!"
"Ya udah apaan dulu?"
"Ya udah iya gue mandi, tungguin!!" ketus Qia berjalan malas ke arah kamar mandi. Rizal tersenyum miring penuh kemenangan.
"Nah gitu dong!! Ini baru sepupu rasa bestie."
...****************...
"Udah selesai pa. Mana lagi yang perlu Vano kerjain?" tanya Vano meletakan tiga map lumayan tebal di meja bernama tag 'Ethan Axellio'.
"Masih ada beberapa yang harus kamu pelajari buat materi meeting nanti malam." jawab papanya tanpa menoleh, laki-laki separuh baya itu masih fokus pada laptopnya.
Ini memang weekend, tapi pekerjaannya di hotel pusat tetaplah berjalan. Karena Ethan terlalu sibuk bekerja di kantornya daripada mengawasi jalannya hotel, maka banyak sekali deadline menumpuk hingga saat ini. Karena Vano libur, Ethan memintanya untuk membantu. Lagipula semua ini juga akan menjadi milik Vano suatu hari nanti kan?
"Nanti malem? Papa yang bener aja dong!" protes Vano. Ethan melirik putranya dengan satu alis terangkat.
"Kenapa memang?"
"Biasalah anak muda, papa kek ga pernah ngapelin mama aja waktu dulu!" jawab Vano enteng. Ia menyandarkan kepalanya di sandaran kursi yang berhadapan dengan papanya.
"Kamu udah janjian sama Qia?"
"Ya udah ga usah. Besok kan kalian ketemu juga! Nanti malem ini meeting urgent Van, kamu harus ikut karena klien papa ini adalah investor tetap sejak hotel kita dibangun puluhan tahun yang lalu." tutur Ethan sambil sesekali kembali fokus ke laptopnya.
Vano berdecak.
"Ck. Gangguin anak muda mulu ni bapak-bapak satu!"
"Ya udah kalo gitu pergi aja ntar malem sama Qia, biar papa meeting sendiri." pungkas Ethan mempersilahkan Vano dengan senyum tipis.
'Mukanya mencurigakan banget nih bapak gue, kenapa dia?' batin Vano menebak.
"Papa serius kan?" tanya Vano memastikan, Ethan mengangguk enteng.
"Tapi papa ogah bantuin kamu buat ngerebut restu dari papanya Qia."
"PA!"
"Apa lagi?"
"Ck. Ah papa mah ga seru ah, dikit-dikit pake ngancem mulu!!" gerutu Vano mendengus kesal. Ethan tertawa renyah.
"Ahahahaha ya pilihannya ada di tangan kamu Van."
...****************...
"Lagian gue heran, tiap hari kerjaan lo berantem mulu!" ucap Ratu geleng-geleng sambil meminum milkshake cokelatnya. Adam yang sedang memperhatikan Ratu hanya terkekeh kecil.
"Ini tuh namanya olahraga Rat, dan bonyok-bonyok seksi ini namanya seni." jawab Adam enteng, ia dan Ratu sedang berada di sebuah cafe dan duduk berhadapan satu sama lain.
"Mana ada luka bentukannya seksi ogeb!" sembur Ratu. Adam menunjuk dirinya sendiri dengan bangga.
"Ada kok, ini gue buktinya."
"Najis banget."
"Najis-najis gini juga ampuh buat bikin lo ngelupain mantan." sindir Adam menaik turunkan alis saat Ratu menatapnya sengit.
"Kan kan kan mulai lagi kan lu...."
"Cielah mak lampir udah gede." ledek Rizal yang tiba-tiba muncul dan langsung duduk di kursi kosong tanpa permisi.
"Lah kak Rizal? Lo disini sama siapa?" tanya Ratu heran kenapa tiba-tiba sepupu dari sepupunya ini nimbrung mendadak.
"Sama gue." celetuk Qia yang kemudian duduk di kursi kosong yang berhadapan dengan Rizal. Rizal mengangguk sambil menunjuk Qia.
"Nah sama dia."
"Ganggu mulu lu berdua!" omel Adam menatap Qia dan Rizal secara bergantian. Butuh usaha lebih baginya untuk berhasil mengajak Ratu pergi, tapi dua bocah minus akhlak ini malah dengan entengnya menganggu kencan perdana mereka.
"Aelah join doang Dam." sahut Rizal.
"Ah lu ga tau aja Ri. Ngajakin Ratu keluar rumah tuh susahnya udah kek ngajak santri ponpes keluar dari asrama tau gak?!"
"Maklum lah, cewek kalo habis patah hati pasti bakal gitu. Ratu kan trauma gegara cowok sialan itu!" sahut Qia membela saudara sepupunya. Ratu mengangguk setuju.
"Dikira bangkit dari hancur tuh gampang kali ye." tambah Ratu merasa terbela.
"Tapi kalo elu emang kebangetan sih Rat! Buset pekara cowok modelan kumis lele doang lu gamon jatuh bangun sampe berpuluh-puluh kali. Lu usaha move on atau lompat jauh?" ucap Qia membalikkan keadaan. Dari yang seolah-olah ia membela Ratu, malah jadi memojokkan Ratu.
"Nah suka bener lo Qi!" puji Adam. Qia tersenyum bangga.
"Tenang aja kak! Gua ada di pihak lo brodi." jawab Qia menepuk-nepuk pundak Adam yang berada tak jauh darinya. Adam mengacungkan jempol.
"Gue jamin aman sepupu lo."
"Emang sialan lu Qiak!" gerutu Ratu menampol kepala Qia yang cengengesan.
"Ah bodoamat lu bertiga mau berantem sampe besok juga. Gue mau pesen minum!" pungkas Rizal berdiri.
"Sekalian gue kak, kek biasa ya?"
"Hm."
Setelah Rizal kembali bersama 2 americano di tangannya, Qia membuka topik baru yang ia rasa harus diketahui oleh Rizal.
"Eh btw lu tau ga sih kak?"
"Tau apaan?" sahut Rizal setelan meneguk americano 4 shoot nya. Bukan hanya Rizal, tapi Ratu dan Adam juga memperhatikan Qia karena kepo.
"Kemarin kak Adam hampir kena tusuk tau!" seru Qia heboh. Adam meliriknya panik, harusnya jangan memberitahu Rizal saat ada Ratu kan? Tujuan Adam membawa Ratu keluar adalah untuk refreshing sekaligus membuatnya lepas dari lukanya di masa lalu. Tapi sekarang ini Qia malah mungkin tanpa sengaja memberi luka kekhawatiran lain untuk sepupunya sendiri.
"Qi-" cicit Adam.
"Lo kena tusuk kak?! GILA! Kok lo ga bilang si?" pekik Ratu panik, ia hendak berdiri tapi Adam menghentikannya dengan kode tangan.
"Gue ga papa Rat, lo tenang aja oke? Cuma hampir doang, Vano lebih dulu nolongin gue."
"Yaudah syukur deh."
"Sama si Rehan kan?" tebak Rizal setelah perdebatan Adam dan Ratu berakhir.
"Kok tau?" tanya Qia melongo. Ia kira Rizal akan terkejut mendengar info darinya, tapi diluar nalar malah ia sendiri yang terkejut.
"Ya tau lah!"
"Tapi kok lo bisa tau? Emang lo ada di tkp ya? Lo ngebantuin anak Oster?" cerocos Qia panjang lebar.
"Enggak sih, kemarin gue anteng diem di sekolah sampe jam pulang."
"Terus?"
"Ya nebak aja.... Emang siapa lagi yang bakal gila nekat sampe kek begitu selain temen lo hah?!" jawab Rizal tersenyum sinis. Qia memutar bola matanya jengah, diungkit teross!!
"Ish gue mulu yang kena."
"Ya emang iya. Elu tuh bebel banget jadi orang! Udah dari dulu ngeyel mulu mau deket-deket padahal udah dikasih tau buruknya tuh anak ada banyak." sungut Rizal. Sekarang gantian Adam dan Ratu yang jadi penonton.
"Ya kan sama gue enggak, dia baik tuh selama ini."
"Itu karena dia suka sama lo!"
"Eh enggak jadi deng, bener kata lo kak! Dia emang ga baik, ngeri gue." ralat Qia geleng-geleng ngeri. Rizal menatap Qia dengan heran.
"Dih?"
"Ish iya loh kak! Masa nih ya parah banget tuh anak emang nekat banget jadi orang. Untung aja ada kak Vano yang dateng waktu itu. Kalo enggak beuh udah ga ori lagi bibir gu- eh?" cicit Qia sadar kalau ia keceplosan menceritakan sesuatu yang tidak seharusnya diketahui oleh orang lain selain ia dan Vano sendiri.
"Apaan lanjutin!"
"Ng-anjir pahit banget kopi gue." keluh Qia berusaha mengambil alih fokus Rizal.
"Itu americano tiga shoot, udah takaran lo dan ga mungkin lo kepahitan! Lanjutin tadi lo mau bilang apa? Bibir lo kenapa?" kekeuh Rizal. Qia menggeleng kikuk.
'Mamp*s gue.' batinnya.
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK😻